Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Permainan Cinta


__ADS_3

Rival tengah melajukan mobilnya menuju kediaman Ethan saat ponselnya berdering dan ternyata sang penelpon adalah orang yang akan ia kunjungi karena sudah cukup lama keduanya tidak bertemu.


Dengan raut ceria, Rival segera mengenakan airpods-nya. "Hallo, Naina." sapanya pada gadis itu dengan senyum manis yang mengembang.


"Hay Mas Rival. Mas lagi dimana?" Naina balas menyapa dan bertanya, nada bicaranya terdengar sedikit gugup bahkan membuat Rival menautkan alisnya.


"Hmm, saya sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat. Ada apa?" kerutan tercipta di dahi Rival, karena ia sangat ingin mengetahui alasan Naina menghubunginya mengingat jika hal tersebut sangat jarang terjadi.


"Hmm."


"Ada apa Naina?" Rival kian penasaran karena gadis itu tak kunjung memberikan jawabannya. Rival memelankan laju mobil guna mendengar suara Naina.


"Ada yang mau saya bahas."


"Hmm, okay. Saya mendengarkan. Apa?"


"Apa tawaran Mas Rival saat kita di gedung bioskop tempo lalu masih berlaku?"


Sesaat Rival terdiam. Ada dua kemungkinan yang bisa saja terjadi andai Naina sudah memiliki jawaban atas pilihan yang Rival ajukan berminggu yang lalu. Tapi anehnya, ia justru tersenyum karena Naina benar-benar memikirkan tawarannya.


"Tentu saja masih, kamu sudah punya jawaban?" Rival bertanya kemudian, tak ingin membuat gadis itu lama menunggu jawabannya.


"Hmm, sebentar lagi saya sampai ke tempat tujuan." beritahunya kemudian ketika ia memastikan jika mobil yang dikemudikannya sebentar lagi tiba di rumah Ethan. Dan mereka akan segera bertemu serta membahas hal ini secara langsung dengan saling bertatap muka.


"Sudah, Mas."


"Jadi apa jawaban kamu?" tanya Rival, ia menahan senyumnya menunggu jawaban Naina.


"Mm, saya bersedia–"


Rival yang semula sudah mengembangkan senyumnya harus mengernyitkan dahi begitu suara Naina menghilang dengab tiba-tiba.


"Hallo, Naina. Bersedia apa?"


"Naina, hallo. Apa terjadi sesuatu?"


Tak kunjung ada jawaban, beberapa detik selanjutnya bahkan panggilan terputus secara sepihak, sehingga Rival memilih melepas airpodsnya dan melemparnya ke dashboard mobil, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai ke tempat tujuan.


Ia merasa ada yang tidak beres, bisa saja Naina berada dalam bahaya saat ini mengingat jika Zoya sedang berada di luar kota, mungkin Ethan masih berada di perusahaan dan belum pulang sehingga gadis itu hanya sendirian di rumah. Hanya hal itu yang melintasi kepala Rival sehingga ia tak memedulikan apapun dan terus melajukan mobilnya.


Sementara keadaan di rumah Ethan, pria itu berniat untuk mengunjungi Zoya ke lokasi syuting dan pulang pada keesokan harinya di waktu sore karena besok adalah hari terakhir Zoya syuting di kawasan puncak.


Ethan ingin lebih dulu ke kamar Naina dan berpamitan pada gadis itu, namun apa yang ia dengar justru membuatnya kecewa saat Naina berbicara dengan Rival dan membahas sesuatu hal yang seharusnya gadis itu hindari.


Ethan marah, tentu saja, perjanjianya dengan Naina masihlah panjang. Gadis itu tidak bisa lepas begitu saja darinya. Namun tanpa Ethan sangka, respond yang Naina berikan justru membuat Ethan tercengang.


"Suatu saaf nanti, saat aku udah memenuhi keinginan Mas Ethan dan Mbak Zoya, kalian akan buang aku 'kan?"


"Kalian akan buat aku pergi jauh dari kehidupan kalian!"


"Tentunya aku harus punya rencana cadangan. Aku juga harus punya kehidupan!" Naina berteriak histeris. Ekspresi yang bahkan baru Ethan ketahui jika gadis itu memilikinya.


"Lalu apa yang kanu inginkan dari saya, Naina?" tanya Ethan, ia melangkah mendekat pada gadis itu yang sudah terduduk di tepi tempat tidur.


"Apa yang kamu inginkan dari saya?"


Saat tidak ada jawaban sama sekali dari Naina, tanpa aba-aba. Ethan menyerang gadis itu, sabarnya sudah habis, emosinya tersulut atas apa yang Naina terus katakan. Sangat tidak masuk akal bagi Ethan.


Ethan bahkan tidak perduli saat Naina terus memukuli dadanya dan sesekali berteriak saat Ethan menyerang tulang selangka gadis itu.

__ADS_1


Sementara di luar sana, Rival yang baru saja tiba di pelataran rumah Ethan memarkirkan mobilnya secara asal. Ia segera menerobos masuk, beruntung keadaan pintu tidak terkunci. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah dan mencari keberadaan Naina.


Sampai kemudian ia mendengar teriakan gadis itu dari arah kamarnya. Rival segera berlari ke kamar gadis itu, tanpa berpikir panjang ia segera mendobrak pintu karena berpikir jika pintu tersebut terkunci.


Namun, apa yang dilihatnya begitu pintu berhasil ia dobrak membuat Rival memaku di tempatnya. Ia melihat sekilas Naina yang beringsut menjauh dari Ethan setelah mendorong dada pria itu.


Lantas, Rival melayangkan tatapan tajamnya pada Ethan yang menatapnya dengan tatapan tidak terbaca. Tanpa aba-aba, Rival menghampiri pria itu, menarik kaos bagian depan Ethan dan melayangkan pukulan bertubi-tibi di wajah pria itu. Sementata Ethan tidak melakukan perlawanan.


Naina yang melihat hal itu beberapa waktu mematung. Ia senang Rival menyelamatkannya dari tindakan tidak menyenangkan yang Ethan lakukan. Namun, Naina juga tidak bisa membiarkan Rival terus memukuli suaminya.


"Mas Rival, udah, Mas." ia menciba melerai pria itu. Namun Rival menggila, dan terus memukuli Ethan dengan membabi buta.


"Mas Rival udah!"


Bugh.


Satu pukulan dari Rival berhasil menerjang wajah Naina dan membuat gadis itu tersungkur ke lantai.


"Naina!" Rival terkejut dan spontan berjongkok untuk memastikan kondisi gadis itu. Naina meringis merasakan perih di pipinya. Sementara Ethan yang hendak melihat kondisi gadus itu dengan cepat mendapat tepisan dari Rival.


Sehingga pria itu memilih mundur dan bangkit dari duduknya. Dalam sekejap mata, penampilan rapihnya menjadi berantakan dengan luka robek pada salah satu sudut bibirnya dan juga pelipis yang mengeluarkan darah segar.


"Naina kamu nggak papa, maafkan saya. Saya tidak sengaja."


Naina menggelengkan kepala. "Saya nggak papa, Mas."


Rival juga ikut bangkit setelah nemastikan keadaan Naina dan menarik lengan baju Ethan saat pria itu akan beranjak pergi. "Begini kelakuan kamu di belakang Zoya, Ethan?" tatapan mata yang Rival berikan begitu merendahkan.


Rival smirk. "Apa jadinya kalau Zoya tahu masalah ini, Ethan?" Rival angkat bicara lagi. Naina hanya diam dan memerhatikan dua orang itu, sementara Ethan juga hanya diam.


"Kita liat bagaimana reaksi Zoya saat tahu bagaimana kelakuan bejad suaminya." kali ini pria itu mengeluarkan ponsel dan mencari kontak Zoya. Mengingat bagaimana Ethan merendahkan Naina tadi, rasanya darah Rival mendidih, kepalanya terasa akan pecah dan amarahnya membuncah tanpa bisa dicegah.


Giliran Ethan yang smirk melihat tingkah pria itu. Hal tersebut tentu saja membuat Rival heran. Bagaimana mungkin Ethan tetap tenang saat istri tercintanya akan tahu bagaimana kelakuannya di belakang wanita itu.


"Beritahukan Zoya apa yang saat ini sedang terjadi." sambungnya. Melihat ada yang janggal, Rival mengalihkan tatapannya pada Naina. Namun, saat mendapati gadis itu yang hanya terdiam, Rival yang sudah menghubungi Zoya lantas memutus sambungan sebelum panggilan terhubung.


Rival menatap Ethan dan Naina secara bergantian dengan tatapan penuh tanya. Ia merasa sedang dipermainkan.


"Apa yang terjadi di antara kalian berdua?" tanya Rival dengan senyum miris di wajahnya. Ia merasa seperti orang bodoh andai pikirannya benar–tapi sebisa mungkin Rival berusaha menepisnya.


Ethan mengembuskan napas. Ia meringis saat merasakan perih di bibirnya. "Aku dengan Naina sudah menikah." sahut Ethan dengan nada pasrah.


Rival terpaku di tempatnya. Ia terduam seperti patung, bahkan ia menggelengkan kepalanya guna menepis apa yang Ethan katakan Karena sungguh, hal itu sangat tidak masuk akal. Jauh dari apa yang dipikirkannya.


Ethan dengan Naina hanya bertukar pandang. Lantas mengalihkan tatapannya pada Rival yang masih mencerna maksud perkataan Ethan.


Ethan lantas melanjutkan langkahnya untuk mencari barang bukti agar saudaranya tersebut percaya dengan apan yang ia katakan.


Foto pernikahan dan kontrak pernikahan menjadi bukti paling kuat dan akurat yang dapat Rival lihat.


Ia tidak bisa menghindari fakta jika Naina, gadis yang ingin dipersuntingnya adalah istri kedua dari saudaranya sendiri. Istri Ethan.


Rival memukul gagang stirnya berkali-kali, ia menepikan mobil dan bahkan membenturkan kepalanya pada gagang stir beberapa kali.


"Aku harap kamu tidak memberitahukan hal ini pada siapapun." ungkap Ethan setelah dirasa yakin jika Rival percaya bahwasannya ia dengan Naina sudah menikah.


"Aku sangat mengharapkan hal itu, Rival. Tolong."


"Kamu dan Zoya benar-benar gila, Ethan!"

__ADS_1


"Kami tidak punya pilihan lain. Kamu tidak akan mengerti Rival."


Rival berdecih mengingat hal itu. Sangat sulit untuk dipercaya jika Naina-nya terikat pernikahan dengan oria lain. Sangat sulit dipercaya jika Rival terlambat memilikinya.


Ponselnya yang berdering membuat pria itu meraih ponselnya yang berada di dashboard mobil. Id Zoya menghiasi layar ponselnya. Rival mengatur lebih dulu napasnya sebelum kemudian ia menggeser ikon hijau dan menempelkan benda pipih itu di telinganya.


"Hallo, Mas Rival. Ada apa menelpon?" suara wanita itu menyapanya dan bertanya. Rival sempat tersenyum smirk sebelum kemudian menjawab. "Oh, nggak apa-apa. Saya mau nanyain Ethan, saya lupa kalau kamu lagi syuting di luar kota." dustanya.


"Ohh, Mas Rival nyari Ethan. Ada apa?"


"Handphonenya nggak bisa dihubungin yah?"


"Iya. Tapi sekarang sudah bisa. Terimakasih yah, maaf mengganggu."


"Oh, gitu yah, Mas. Oke deh, nggak apa-apa."


Panggilan terputus setelahnya, Rival menyandarkan punggungnya ke belakang dengan mata terpejam. Ia seperti berada dalam mimpi buruk yang nyata.


Membayangkan lagi betapa janggal tiga orang itu Naina–Ethan dan Zoya saat ia kembali ke Indonesia.


Rival berdecih saat mengingat hari dimana ia bertemu dengan Naina di depan pusat perbelanjaan. Ketika gadis itu berkata jika ponselnya tertinggal di Bandara. Rival tidak salah dengar saat itu, Naina memang benar-benar ada di Bandara.


Di hari kepulangannya, ternyata gadis itu berbulan madu dengan Ethan. Naina tidak pernah ke luar kota atau pun pulang kampung saat itu. Zoya sudah membohonginya, Naina sudah membodohinya.


Mereka bersekongkol untuk membodohi Rival, mereka berhasil. Pantas saja respond Ethan sangat berbeda saat Rival meminta pendapatnya untuk melamar Naina. Rupanya ada rahasia besar yang mereka sembunyikan.


***


Usai kepergian Rival dengan raut penuh kekecewaan meninggalkan Naina dan Ethan, dua orang itu hanya saling terdiam di ruang utama rumah.


Sampai kemudian Naina beranjak dan kembali dengan sebuah kotak P3K dan juga semangkuk es batu. Tak lama, gadis itu pergi lagi dan kembali lagi dengan alas pengompres.


Bagaimanapun, ia tak bisa membiarkan luka pada wajah suaminya tidak diobati. Sehingga Naina sangat berbesar hati untuk mengobati luka pria itu sekalipun ia merasa kecewa atas penyerangan yang Ethan lakukan padanya.


Pria itu mengingatkannya pada Kevin Raharasja. Pria yang nyaris melecehkannya. Ethan benar-benar membuatnya trauma.


"Luka Mas Ethan harus diobatin," sahutnya yang kemudian duduk di hadapan Ethan. Ethan tidak menghindar saat Naina mengobati lukanya. Ia hanya sesekali meringis ketika Naina memberi obat merah pada lukanya.


"Maafin aku, yah." sahut Naina penuh sesal. Sekalipun tindakan Ethan padanya adalah salah, namun ia sendirilah yang memancing hal itu terjadi. Naina sadar jika dirinya yang mengundang masalah.


"Seharusnya aku nggak egois. Aku nggak berhak nuntut apapun dari Mas Ethan sama Mbak Zoya. Seharusnya aku ingat kalau aku punya hutang nyawa sama Mbak Zoya." sahut panjang lebar gadis itu. Tetapi Ethan hanya diam, tak bereaksi bahkan raut wajah pria itu datar, sama sekali tidak memberinya ekspresi, membuat Naina menyimpulkan jika pria itu marah padanya.


Pasti, Ethan pasti marah dan benci padanya.


"Mas Ethan bisa lupain apa yang aku omongin beberapa waktu lalu, Mas Ethan bisa anggap kalau ini semua nggak pernah terjadi." sambungnya sekalipun Ethan tidak merespond.


"Bagaimana?" Ethan bertanya. Naina menatap pria itu, kemudian dengan cepat menepiskannya saat perasaannya mulai tak karuan.


"Bagaimana saya bersikap seolah hal ini tidak pernah terjadi saat jelas-jelas, jejak kejadian ada di wajah saya." sambung pria itu yang akhirnya membuat Naina tak bisa berkata-kata.


Gadis itu kembali melanjutkan aktivitasnya mengobati luka Ethan. Hingga pada sentuhan akhir, ia menempelkan plester pada bagian luka di pelipis pria itu.


"Pokoknya anggap aja, aku nggak pernah ngomong apapun. Aku janji, setelah perjanjian kita selesai, aku bakal pergi jauh dari kehidupn kalian. Aku janji aku nggak akan macem-macem sampai perjanjian kita selesai." sahutnya lagi yang kemudian beranjak begitu saja dari hadapan Ethan dengan gerakan seribu bayangan–sangat cepat, tetapi Ethan menahan pergelangan tangan gadis itu tak kalah cepat dari geraikan menghindar Naina.


Naina menoleh ragu, ia tahu Ethan akan marah padanya. Pria itu tidak mungkin dengan begitu saja menganpuninya semudah itu. Naina menatap pria itu dengan raut penuh gugup.


"Luka kamu juga harus diobati. Atau besok lukanya akan membengkak." sahut Ethan seraya menarik tangan Naina agar gadis itu kembali duduk. Tapi Naina tahu, jika Ethan tampak menghindari kontak mata dengannya.


Ethan mengambil es batu dan menempelkannya pelan-pelan di pipi Naina. Ketika mata Ethan mengarah pada beberapa obat di atas meja yang sekiranya cocok untuk luka yang dimiliki Naina, mata gadis itu justru tertuju lekat pada Etgan.

__ADS_1


Kenapa sikap pria itu seringkali membuatnya salah paham?


TBC


__ADS_2