
Zoya membuka matanya perlahan, ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kamar dengan tenang sekalipun dadanya berdebar. Ethan masih ada di sampingnya, membuat perasaannya melega, wanita itu mendesah. Dia kira pria itu sedang bersenang-senang dengan istri barunya. Namun ternyata itu hanyalah mimpi.
Mimpi lagi-lagi Zoya mendesah. Kenapa pula ia harus bermimpi hal seperti itu? Kenapa seperti nyata?
Tapi memikirkannya mungkin bukan solusi terbaik, toh mimpi hanyalah bunga tidur, sehingga Zoya lebih memilih untuk memiringkan tubuhnya dan menatap sang suami, tangannya terangkat untuk menyentuh wajah suaminya, menyentuh setiap inci kesempurnaan dalam paras pria tampan itu.
Zoya tidak bisa membayangkan, seandainya dia harus berbagi suami dengan siapapun rasanya pasti seperti mati.
Ethan menggeliat ketika Zoya menyentuh dagunya, pria itu masih melanjutkan tidur tetapi tangannya merengkuh Zoya ke dalam pelukan membuat wanita itu akhirnya menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang suami, kemudian membalas pelukan Ethan dengan erat. Seolah tak ingin kehilangan pria itu, seolah mimpi yang baru saja dialaminya adalah nyata dan ia tidak ingin siap untuk semuanya.
Ketika Zoya mulai memejamkan matanya kembali, Ethan justru mengukir senyum mendekap istrinya kian erat.
**
Ethan dengan saya baru saja akan turun ke lantai bawah untuk segera berangkat menuju Rumah Sakit untuk melakukan proses inseminasi buatan hari ini. Tapi mobil Freya yang terparkir di pelataran rumah membuat keduanya kelabakan.
"Bunda gak ngasih kabar ke kamu kalau mau ke sini?" tanya Zoya pada sang suami. Ethan menggelengkan kepala, mengendurkan dasinya yang tiba-tiba saja terasa mencekik. Padahal Zoya memasangkannya sebagaimana biasanya setiap hari wanita itu lakukan. Keduanya mendadak tak karuan, sedangkan di lantai bawah Naina pasti juga sudah bersiap-siap untuk segera ke Rumah Sakit karena mereka memiliki jadwal pagi.
"Terus bagaimana?" tanya Ethan, ia tak memiliki jalan keluar Sedangkan untuk memberitahukan kepada Freya mengenai masalah ini keduanya sama-sama tidak yakin untuk melakukannya.
Zoya menatap sang suami, kemudian menggelengkan kepala. Zoya juga tidak tahu harus melakukan apa, solusi belum ditemukan dan ia tidak tahu jika akan ada kejadian seperti ini.
Ia tidak tahu jika Freya akan datang mengunjungi rumah mereka tanpa pemberitahuan lebih dulu.
Zoya diam sesaat, sementara kepalanya berpikir keras memikirkan cara bagaimana mereka bisa keluar dari rumah menuju Rumah Sakit untuk segera melakukan proses inseminasi buatan.
Sampai kemudian, bagai mendapat bohlam lampu di kepalanya, Zoya menoleh ke arah Ethan.
"Gimana kalau kamu duluan aja sama Naina?"
"Biar Naina masuk ke mobil kamu, lewat pintu belakang terus kamu sama aku nemuin Bunda dulu. Terud abis itu kamu tinggal pamit ke gedung agensi?" usul Zoya dengan cerdik hal yang seharusnya sangat mudah, tetapi dalam keadaan seperti ini biasanya solusi seperti itu jarang terpikirkan.
Ethan mengangguk, lantas Zoya segera mengambil ponselnya dan menghubungi Naina agar gadis itu segera masuk ke dalam mobil Ethan dan keluar dari rumah melalui pintu samping agar tidak bertemu dengan Freya.
"Halo Naina. Kamu sudah siap?" tanya Zoya ketika panggilan sudah terhubung.
"Iya Mbak, saya sudah siap." Naina menyahut.
"Di depan ada Bunda, sekarang kamu diam-diam pergi ke pintu belakang terus langsung masuk ke mobilnya Ethan. Jangan sampai ketemu Bunda, oke." intruksinya yang langsung di iyakan oleh gadis itu, setelahnya panggilan terputus.
"Bagaimana?" tanya Ethan.
"Naina udah siap-siap." Ethan mengangguk samar.
__ADS_1
"Yaudah, biar aku atur. Sekarang, kita temuin Bunda dulu aja. Kalau sekiranya Bunda bakalan lama di sini, kamu aja yang ke Rumah Sakit sama Naina." panjang lebar Zoya setelah berusaha menenangkan dirinya.
Setelah keduanya sama-sama rileks, Ethan dengan Zoya lantas keluar dari kamar, menuruni anak tangga dan menyambut kedatangan sang Bunda.
"Bunda." Zoya bersorak begitu wanita itu melangkah masuk ke dalam rumahnya.
"Hai Sayang." Freya juga balas menyapa menantu kesayangannya.
"Bunda kenapa nggak ngasih kabar kalau mau ke sini?" tanya Zoya ketika keduanya saling berpelukan. Freya hanya tersenyum.
"Iya, maaf. Tadi bunda habis ngantarin Ayah dan ke perusahaan. Jadi pulangnya Bunda sekalian mampir ke sini," wanita itu menyahut setelah mengurai pelukan. Kemudian tangannya mengelus sisi wajah Ethan yang berdiri di samping Zoya. Sementara putranya tersenyum, berbeda dengan Zoya yang segera menggandeng Freya menuju ruang utama rumah.
"Bunda sudah sarapan?" tanyanya kemudian. Freya menganggukkan kepala, setiap pagi ia tak pernah melewatkan sarapan bersama dengan sang suami.
"Bunda lama di sini?" tanya Zoya lagi. Freya menatap menantunya. "Kamu ada acara syuting hari ini?" tanya Freya. Ia melupakan hal tersebut.
"Enggak Bunda,"
"Ya sudah, kalau begitu Bunda main aja di sini. Boleh?" Zoya, sekilas menatap suaminya. Ethan mengangkat bahu, memasrahkan semuanya kepada Zoya.
"Boleh, 'kan Sayang?" Freya meminta kepastian yang membuat Zoya segera menganggukan kepalanya. "Boleh Bunda. Tentu saja boleh, hari ini Zoya enggak ada syuting apapun." Zoya menyahut pasrah.
Freya tersenyum.
"Sudah mau berangkat Bunda." sahutnya mulai berpamitan, meraih tangan Freya dan mencium punggung tangan sang bunda, kemudian daratan kecupan di pipi wanita itu. Setelahnya ia beralih pada istrinya.
Ethan meraih kening wanita itu dan mengecupnya. "Saya berangkat dulu." pamitanya kemudian, Zoya mengangguk
"Hati-hati. Kalau udah sampe langsung kabarin, ya," pesannya yang segera mendapat anggukan kepala dari Ethan seraya mengelus pipi wanita itu, Freya menatapnya dengan senyuman.
Dia tentu saja merasa senang dan bersyukur karena Ethan dengan Zoya baik-baik saja setelah apa yang terjadi diantara mereka. Ia bersyukur masalah tersebut tidak berkelanjutan dan membuat rumah tangga anaknya berantakan.
Ethan mulai melangkahkan kakinya untuk pergi. Zoya hanya menatap langkah suaminya, sampai punggung pria itu menghilang di balik pintu keluar. Setelahnya ia beralih kepada Freya, mengajak sang mama mertua untuk duduk sambil menyuguhkannya camilan. Sepertinya Zoya hanya akan menunggu hasil yang dibawa Ethan dengan Naina nanti. Ia tidak bisa ikut ke Rumah Sakit.
Ssementara Ethan berjalan cepat menuju ke mobilnya.
Nina sudah menunggunya di sana, gadis tersenyum menyambut kedatangannya.
"Kita berangkat sekarang!" intruksi Ethan yang membuat Naina keheranan.
"Mbak tidak ikut Pak?" tanyanya ketika Ethan hendak membuka pintu kemudi. Ethan menggelengkan kepalanya, melihat pria itu yang sudah mendudukkan diri di dalam mobil akhirnya Naina-pun buru-buru melakukan yang sama. Ia membuka pintu belakang, Ethan menoleh ketika wanita duduk di sana.
"Di depan saja!" intruksi Ethan.
__ADS_1
Ayolah Ethan tidak mungkin membiarkan wanita itu duduk di belakang, bukan dalam artian ia tidak ingin disangka sebagai supir tapi rasanya menjadi lebih aneh ketika mereka duduk saling berjauhan sedangkan hanya ada mereka berdua di dalam mobil.
"Saya di sini saja Pak," tolak Naina dengan lembut, Ethan tidak bicara lagi membuat Naina segan, sampai ketika pria itu mulai menghidupkan mesin mobil ia memilih untuk turun, menutup pintu belakang dan duduk di samping kemudi. Tepatnya di samping Ethan.
Mobil melaju meninggalkan pelataran rumah, hanya ada Naina dengan Ethan di dalam mobil. Jujur Naina merasa canggung karena ia hanya berdua dengan Ethan, pun ia bertanya-tanya alasan mengapa Zoya tidak ikut. Sampai kemudian ia mengingat sesuatu hal jika Freya datang bertamu ke rumah. Pasti wanita itu sedang bersama dengan mama mertuanya.
"Zoya meminta untuk kita saja yang pergi ke Rumah Sakit." Ethan buka suara.
"Di rumah ada Bunda, kalau kita pergi bertiga pasti Bunda akan bertanya-tanya." ia memberitahukan Naina agar gadis itu tidak penasaran, yang akhirnya membuat Naina menganggukan kepala. Keduanya menikmati perjalanan dengan hanya saling terdiam, persis ketika hanya ada mereka berdua. Tidak pernah ada obrolan apapun.
Jakarta pagi itu terlihat begitu mendung, curah hujan memang sudah tinggi saat ini. Hawanya juga dingin, sebenarnya berdiam diri di dalam rumah adalah yang paling tepat andai Naina tidak memiliki urusan lain yang mengharuskannya datang ke Rumah Sakit.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Ethan. Naina yang tengah menatap keluar kaca jendela mobil menoleh padanya, kemudian menggelengkan kepala.
"Kalau begitu kita makan dulu."
"Memang proses inseminasi nggak akan lama, sih." sambung Ethan mengingat hal itu.
"Pak saya nggak masalah kalau belum sarapan. Nanti kalau kita makan di jalan, saya takut ada yang ngeliat kita dan mikir aneh-aneh kalau saya jalan sama Bapak." panjang lebar Naina. Mengantisipasi beberapa kemungkinan yang bisa saja terjadi, terlebih hanya ada mereka berdua di dalam mobil.
"Secara, semua orang kenal Pak Ethan. Pasti mereka bakalan bertanya-tanya, kenapa Pak Ethan bisa makan bersama dengan asisten istri Bapak."
Naina masih mengoceh, tetapi Ethan tak mendengarkan sama sekali, ia menepikan mobilnya tepat di depan sebuah toko roti.
"Kamu tunggu di sini!" intruksinya pada Naina, kemudian turun dari mobil dan meninggalkan gadis itu sendirian. Naina hanya terdiam menuruti perkataan Ethan, cukup lama pria itu menunggu, hingga Ethan kembali dengan sebuah plastik berlabel toko roti tersebut.
"Proses inseminasi-nya tidak lama mungkin hanya memakan waktu sepuluh sampai lima belas menit. Tapi kamu tetap harus sarapan," sahut Ethan seraya mengenakan seatbeltnya. Sedangkan Naina menatapnya terpaku. Hingga tak lama, Ethan yang sudah mengenakan seatbeltnya menoleh, membuat tatapan keduanya bertemu.
"Kalau Zoya di sini, dia juga pasti akan melakukan hal yang sama." sambung pria itu, memutus kontak mata mereka kemudian mulai menyalakan mesin mobil lagi, lagi mainan yang bisa mengangguk dan berterimakasih.
Ethan dengan Zoya memang pasangan yang sempurna. Mereka perfect, perpaduan klop dan mampu memperlakukan semua orang dengan baik.
Naina mengambil salah satu roti, mulai membukanya kemudian menikmati roti tersebut sekalipun ia tidak ingin. Ia tidak sarapan karena buru-buru mengingat jadwal paginya di Rumah Sakit, terlebih Zoya menyuruhnya untuk segera pergi melalui pintu belakang karena ada Freya yang datang bertamu tanpa pemberitahuan lebih dahulu.
Begitu tiba di Rumah Sakit, Ethan menepikan mobilnya dengan rapi di parkiran, ia sempat melihat sekitar sebelum akhirnya turun. Naina juga turun tepat saat Ethan menganggukan kepala mengajak wanita itu untuk segera berjalan memasuki pintu masuk rumah sakit.
Keduanya berjalan sedikit berjauhan, setidaknya hal itu Ethan lakukan untuk berjaga-jaga, bisa saja ada orang yang ia kenal dan melihatnya kemudian membuat berita yang tidak-tidak mengenai kedatangannya dengan seorang wanita.
Begitu juga Naina yang menjaga jarak dari pria itu. Ia tidak ingin terjadi kesalahpahaman.
Tapi tanpa dua orang itu sadar, dari kejauhan sebuah lensa kamera telah menangkap beberapa gambar mereka bahkan ketika keduanya baru saja turun dari mobil.
TBC
__ADS_1