Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Prinsip Turun - Temurun


__ADS_3

"Baby - nya lucu banget." decak Zoya, tatapan kagumnya jelas terlihat saat seorang suster membawa malaikat kecil yang mungil itu ke ruang rawat sang istri general manejer AE RCH yang diketahui bernama Dimas. Suster tersebut meletakan sang bayi pada sebuah boks bayi di samping brankar ibunya.


Dimas yang sedang menyuapi anak pertamanya makan hanya tersenyum melihat raut penuh antusias Zoya saat melangkah menghampiri boks bayi dan menatap putri keduanya yang tengah terlelap.


"Cantiknya," decak Zoya dengan punggung jari telunjuk - nya yang mengusap pipi halus bayi yang tengah terlelap itu. Ia menoleh pada Dimas dan istrinya yang menanggapi pujiannya dengan tersenyum. Kemudian tatapannya beralih pada Ethan yang menatap bayi itu tak kalah penuh kagum dari dirinya.


"Cantik." Zoya melihat bibir suaminya berucap pelan dengan tangan yang mengelus pipi si bayi. Hal sama seperti yang Zoya lakukan sebelumnya. "Iya, cantik." Zoya menyahut yang membuat suaminya mendongak sehingga tatapan mereka bertemu. Baik Ethan mau pun Zoya hanya sama - sama saling melemparkan senyuman.


"Pak Ethan belum pengen punya lagi, nih?" tanya Dimas. Ia sudah selesai menyuapi anaknya makan. Sekarang, anak berumur lima tahun itu juga menghampiri boks bayi dan mencoba melihat adiknya.


Ethan tersenyun tipis mendengar pertanyaan Dimas. Ia menoleh pada Zoya dan menggandengnya. "Pengen, tapi belum dikasih lagi." sahutnya. Dimas tersenyum, sama halnya dengan Zoya namun perasaan wanita itu berbeda, ia merasa canggung. Kenapa rasanya seolah ia tak bisa memberi Ethan anak?


"Pak Ethan dan Ibu Zoya, 'kan baru menikah dan menjalani rumah tangga selama satu tahun. Masih baru, gak perlu buru - buru." istri Dimas buka suara.


"Saya sama Mas Dimas juga tidak langsung punya anak, bahkan setelah dua tahun menikah." sambungnya. Zoya mendengarkan antusias.


"Nah, setelah tiga tahun, barulah saya mengandung Ari." sambungnya panjang lebar, kemudian mengusap puncak kepala putra pertamanya yang sekarang berdiri di samping brankar, menjauhi boks bayi karena tak dapat menjangkau adik kecilnya, boks bayinya terlalu tinggi.


"Nah, benar itu. Tuhan sengaja ngasih waktu buat kami menghabiskan waktu berdua, saling mengenali diri masing - masing lebih jauh lagi."


Dimas juga menambahkan dan tersenyum penuh keramahan setelahnya.


Ethan dengan Zoya juga hanya tersenyum. Bersamaan dengan kedatangan beberapa para staf dan jajaran penting AE RCH yang datang mengunjungi ibu dan si bayi. Ethan dengan Zoya pamit pulang.


Mobil melaju di bawah terik mentari ibu kota. Wanita itu memaksanya untuk mampir di supermarket, padahal Ethan sudah mengatakan tidak. Namun Zoya tak bisa ducegah dan ia juga tak ingin berdebat, apalagi menolak keras keinginan istrinya.


"Gimana, aman gak?" tanyanya pada Ethan setelah membenarkan letak masker berwarna hitam yang dikenakannya. Beruntung, hari itu supermarket tidak terlalu ramai, namun Zoya tetap harus mengantisipasi beberapa kemungkinan yang bisa saja terjadi.


"Saya gak ngerti kenapa kamu mesti belanja." sahut Ethan, mengekor di belakang wanita itu yang tengah memasukan berbagai sayuran pada troli yang didorong olehnya.


Setelah memasukan beberapa ikat kangkung, Zoya menoleh. "Aku, tuh, mau nunjukin ke Bunda kalau sekarang udah bisa masak." sahutnya. Ethan mengernyit. "Mau pamer?" Ethan hampir tertawa saat bertanya. Wanita di depannya mengangguk polos sembari memasukan lagi beberapa sayuran yang ia butuhkan.

__ADS_1


Gemas, Ethan mengacak puncak kepala wanita itu saat Zoya berbalik padanya guna bertanya. "Kenapa beli banyak sayuran?" Ethan justru bertanya lebih dulu sebelum Zoya buka suara.


"Karna kamu harus sehat." dahutnya asal, kemudian tertawa. Sedangkan Ethan menggelengkan kepala.


Usai membeli bahan makanan yang dibutuhkan. Keduanya menuju kediaman Freya tanpa menghubungi sang bunda. Zoya bilang akan membuat kejutan dengan datang tiba - tiba. "Arasy di rumah nggak, yah?" Zoya seperti bertanya pada dirinya sendiri. Ethan yang tengah menyetir lantas menoleh.


"Ada."


"Taunya ada?" tanya Zoya dengan dahi berkerut.


"Semalem dia telpon."


"Oh."


Wanita itu hanya mengangguk - anggukan kepala. Pandangannya kembali fokus ke depan, jalanan didepannya tidak terlalu padat sehingga membuat matanya tenang. Ethan menoleh, tersenyum menatap istrinya.


Begitu Ethan memarkirkan mobil di pelataran rumah Agyan dan Freya. Zoya buru - buru turun, Ethan yang baru saja melepas seatbelt hanya menggeleng melihat wanita itu yang sudah menunggunya di teras sambil tersenyum. Ethan menyusul setelah mengambil bahan belanjaan yang wanita itu tinggalkan.


"Biar saya aja." cegah Ethan.


"Yaudah," alhasil, yang wanita itu lakukan adalah menggandeng lengan suaminya. Tanpa mengetuk pintu, Ethan melangkah masuk dengan Zoya, melewati ruang tamu. Dua orang itu saling menatap saat samar - samar mendengar keriuhan dari dalam rumah.


"Bunda ada tamu?" tanya Zoya, mendongak menatap suaminya.


"Di luar nggak ada mobil lain." gumam Ethan bagai pada dirinya sendiri. Ia mempercepat langkah dan melihat jika Freya tidak hanya berdua dengan Agyan di ruang utama.


Zoya spontan menghentikan langkah yang membuat Ethan juga otomatis menghentikan langkah, ia menatap wanita itu heran. "Ada apa?"


"Malu, kalau ada Mami Grryc sama Papi Andre. aku gak jadi masak deh."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Takut masakannya nggak enak." Ethan tersenyum. Melanjutkan langkah dan membuat wanita itu terseret mengikutinya tanpa persiapan. "Ethan, Zoya." Freya yang pertama kali menyadari keduanya. Membuat tatapan semua orang mengarah pada mereka.


"Wah, ada aktris, nih," Grrycia mendecak, membuat Zoya hanya tersenyum canggung menanggapinya. Terlebih, mereka jarang bertemu. Andreas dengan Grrycia maksudnya.


"Itu bawa apa?" tanya Freya, melihat dua plastik besar di tangan Ethan. Ethan mengangkat dua plastik itu dengan wajah riang gembira.


"Bahan masakan. Zoya mau nunjukin bakat masaknya, nih, Bun." sahut Ethan yang mendapat cubitan dari istrinya namun tak ia hiraukan, ia hanya meringis pelan. Zoya menahan kesal. Kenapa bisa di beberapa waktu suaminya ini jahat dan menjengkelkan?


"Wah, udah pinter masak sekarang?" tanya Freya, bangkit dan menghampiri keduanya. Ethan dengan Zoya menyalaminya setelah Freya mengambil alih plastik belanjaan tersebut. Begitu juga pada yang lain.


"Enggak Bunda, bukan. Zoya cuma belanjain Bunda doang." sahut Zoya. Ia tidak mau jika dalam percobaan pertama, rasa masakannya tidak beres.


Ethan yang sudah duduk bergabung dengan Agyan dan Andreas hanya tersenyum menanggapi apa yang dikatakan istrinya.


"Oh, ya. Kalau gitu, kita masak bareng - bareng sekarang, gimana? Nanti kita semua makan siang, kamu sama Ethan lama, 'kan di sini?" panjang lebar Freya, menatap menantunya penuh perhatian.


"Iya, Bunda. Zoya sama Ethan bakal lama di sini," sahutnya setelah melihat suaminya sekilas. "Yaudah, kita ke dapur gimana?" ajak Freya. Seketika Zoya mengangguk penuh antusias, setidaknya jika masak bersama maka ia tidak akan grogi atau pun takut hasil masakannya tidak enak.


Ketiga wanita berbeda generasi itu melangkah menuju dapur dengan Zoya yang diapit oleh Grrycia dan Freya. Sedangkan tiga pria yang ditinggalkan di ruang utama rumah itu hanya menatap punggung istrinya masing - masing sampai wanita tercinta mereka menghilang dari pandangan.


Kebiasaan Andreas sejak lama, lantas menurun pada Agyan dan terus berlanjut hingga sekarang. Kemudian Ethan mengikuti jejak ayah dengan kakeknya. Gen yang tak bisa dihindarkan.


Para pria tampan yang cukup hanya dengan satu wanita. Para pria tampan yang memiliki prinsip, jika cinta hanya satu. Dan wanita pilihannhlya adalah orang yang akan menemaninya hingga hari tua.


TBC.


Uhh, sweet banget sih mereka😍


Nggak kerasa yah, rasanya baru kemarin Marhaban ya Ramadhan, eh sekarang udah Marhaban ya Lebaran aja. Alhmdulillah, diberi kelancaran sampai ramadhan selesai.


Minalaidzinwalfaidzin. Mohon maaf lahir dan batin🙏 Manusia tak pernah luput dari kesalahan. Semoga kita semua dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan. Amin.

__ADS_1


Jangan lupa Al - fatihah untuk saudara - saudara kita di Palestina🙏


__ADS_2