
Zoya mengukir senyum tipisnya saat ia membuka lemari pendingin pada pagi hari dan melihat sebuah plstik putih berisi dua kotak martabak. Ethan membawakannya sesuatu semalam, tapi karena perdebatan ringan mereka, Zoya tidak memedulikannya bahkan tidak tahu jika pria itu membawakannya martabak.
Wanita yang masih berbalut sleepwear itu kemudian menutup pintu kulkas saat hawa dingin mulai menyerang tubuhnya. Ia melangkah ke arah dispenser yang tak jauh dari kulkas lantas mengambil segelas air putih.
"Mbak Zoya,"
Spontan Zoya menoleh ke sumber suara, ia tersenyum melihat Naina yang muncul dari arah kamarnya.
"Hay," sapanya yang kemudian segera melegut segelas air putih. Naina hanya menatapnya, kilasan kejadian semalam melintasi kepalanya, bahkan ia masih mengingat dengan jelas bagaimana raut wajah tidak suka Ethan melihatnya berada di ruang rahasia lantai dua. Menyadari jika gadis itu terus menatapnya lantas Zoya tersenyum.
"Ada apa Naina? Ada yang salah?" tanyanya seraya meletakan gelas yang sudah tandas di atas meja.
"Mas Ethan nggak marah, 'kan sama Mbak Zoya? Kalian nggak berantem gara-gara saya, 'kan?" tanya Naina dengan nada khawatir. Sejak semalam ia memikirkan hal tersebut, ia takut jika kedua majikannya itu ribut karena Naina yang menerobos masuk ke lantai dua dan ruang rahasia. Mungkin seharusnya Naina tahu diri dan tahu batasan sehingga tidak perlu menerima tawaran Zoya untuk ikut bersama wanita itu ke sana dan mendapat masalah.
Zoya tersenyum melihat kekhawatiran di wajah Naina. "Tidak masalah, Ethan sama saya nggak berantem, dia juga nggak marah. Memangnya kenapa harus marah?" Zoya berbicara dengan nada yang tenang dan santai agar Naina tidak perlu memikirkan hal tersebut.
Ia dengan Ethan memang bertengkar, tapi tidak parah. Hanya perdebatan biasa dan Zoya terbiasa dengan hal itu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, meski belum ada yang meminta maaf di antara mereka. Semalam Zoya langsung tidur tanpa memerdulikan pria itu. Entahlah apa yang Ethan lakukan selanjutnya.
"Tapi saya merasa nggak enak, mungkin seharusnya saya nggak perlu ikut Mbak Zoya–"
"Udah. Semuanya udah beres, kamu nggak perlu mikirin masalah itu lagi." sela Zoya dengan cepat, enggan membahas hal tersebut.
"Oh, iya. Hari ini saya ada jadwal satu jam pemotretan. Karna kamu asisten saya, jadi kamu harus ikut." Zoya mengalihkan topik. Ia mengingat jika semalam Selin mengiriminya pesan dan ia memiliki pekerjaan.
Naina hanya mengangguk, setelahnya Zoya pamit untuk ke lantai atas karena ia belum mandi dan merapikan diri, sedangkan suaminya belum bangun dari tidurnya.
Naina menatap punggung Zoya hingga punggung wanita itu menghilang dari pandangannya. Ia terdiam mengingat lagi apa yang Zoya katakan padanya saat mereka berada di ruang rahasia.
"Arasy bilang kalau Ethan suka saya sejak SMA."
"Saya kaget waktu itu, saya nggak nyangka sama apa yang Arasy bilang ke saya."
"Rumah ini dibangun dua tahun sebelum saya menikah sama Ethan, dan ruangan ini beserta semua figuranya sudah ada jauh sebelum saya di sini."
"Mas Ethan hebat."
"Iya, Naina. Ethan hebat, 'kan?"
__ADS_1
Naina mendesah, mengingat lagi bagaimana cara Zoya menatapnya. Wanita itu seolah sedang menunjukan padanya jika cinta yang Ethan miliki untuk Zoya tidak akan membuat pria itu berpaling dari Zoya.
Naina mengerti, mungkin Zoya mulai khawatir jika Naina mendambakan pria itu. Mungkin Zoya takut jika Naina mengambil Ethan darinya.
Padahal, perkara tersebut adalah hal yang sangat mustahil untuk Naina lakukan. Jangan mengambil Ethan, bahkan membuat Ethan menatapnya sebagai seorang wanita saja rasanya sangat tidak mungkin.
***
Ethan masih tertidur pulas saat Zoya kembali ke kamar, wanita itu memutuskan untuk ke kamar mandi dan merapikan diri lebih dulu. Begitu usai, ia menyiapkan pakaian kerja suaminya lengkap dengan jam tangan yang nanti akan pria itu kenakan. Zoya spontan mematung saat mendapati tempat tidur yang kosong. Ethan sudah bangun tapi entahlah pria itu pergi ke mana.
**
Ethan terbangun saat Zoya memasuki walk in closet untuk berpakaian, pria itu melangkah menapaki anak tangga dan berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Ia melihat Naina yang sudah berada di sana dan tengah memasak untuk sarapan.
"Mas Ethan," ia sedikit terkejut melihat kehadiran Ethan di sana dengan tiba-tiba dan dalam keadaan muka bantal serta rambut yang sedikit berantakan, meski tidak bisa dipungkiri jika ketampanan tetap terjaga di sana, seolaj tak pernah sirna dalam setiap keadaan.
"Mas Ethan mau minum?" tanya Naina, dengan cekatan segera mengambilkan Ethan segelas air putih dan menyerahkannya pada pria itu. Ethan mengangguk samar sebagai ucapan terimakasih dan melegut segelas air tersebut, menandaskannya hingga tak tersisa barang setetespun.
"Mas Ethan," panggil Naina kemudian. Ethan mengalihkan perhatiannya tanpa mengeluarkan suara sepatah katapun.
Ethan masih hanya menatap gadis itu tanpa bersuara dan membuat Naina merasa risih hingga gadis itu kian gugup.
"Maaf– karena aku – udah lancang ikut Mbak Zoya ke ruang rahasia kalian–"
"Tidak masalah, semuanya udah terlanjur. Jangan dibahas!" Ethan menyahut cepat dengan nada tak ramah, membuat Naina merasa kian tidak enak.
"Mas Ethan marah?" tanya gadis itu dengan tatapan sendu. Ethan menatapnya sebentar, kemudian menggelengkan kepala.
"Nggak papa kalau Mas Ethan marah sama aku. Tapi Mas Ethan nggak perlu marah sama Mbak Zoya."
"Kenapa saya harus marah sama istri saya?" tanya Ethan. Spontan membuat Naina mematung, lantas ia hanya menunduk pasrah sampai pria itu meninggalkannya. Tanpa terasa, setetes air mata gadis itu jatuh membasahi pipi mulusnya.
Kenapa ia harus merasa terluka dengan perlakuan Ethan padanya?
Tanpa Naina ketahui, jika Ethan tengah berperang dengan isi kepalanya sendiri dalam perjalananya menuju kamar. Ia merasa sikapnya pada Naina terlalu kejam dan berlebihan. Apa yang ia lakukan tadi pasti sangat melukai perasaan gadis itu. Tapi Ethan tidak punya pilihan, karena hal itulah yang ia rasakan.
Ethan mendesah, mengacak rambutnya dan menghela napas sebelum kemudian membuka pintu kamar. Ia menemukan istrinya yang tengah duduk di tepi tempat tidur dan menoleh padanya saat ia membuka pintu dan masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Zoya tengah merenungkan bagaimana sikapnya semalam pada pria itu sehingga adalah hal yang wajar andai Ethan marah padanya, dan ia akan meminta maaf.
Zoya segera bangkit dari duduknya dan menghampiri sang suami. Berdiri di hadapan pria itu dengan sorot mata sendu.
"Maafin aku." dengan cepat ia berhambur memeluk tubuh sang suami, nyaris membuat Ethan kehilangan keseimbangan andai ia tak berusaha menopang tubuh Zoya.
"Aku salah, aku minta maaf. Aku udah lancang ngelakuin sesuatu hal tanpa izin dulu ke kamu." sahutnya lagi seraya mendongak menatap Ethan dengan mata berair. "Maafin aku, seharusnya ruang rahasia cuma jadi rahasia kota sama Arasy aja." sambungnya yang justru mengundang senyum terbit di bibir Ethan, perasaan pria itu mulai mencair.
Saat wanita itu kembali menenggelamkan wajahnya di dada Ethan, Ethan menaruh dagunya di atas kepala Zoya dengan tangan yang mengusap lembut punggung wanita itu.
"Maafin aku."
"Lagian kamu juga yang salah." sambungnya dengan nada manja, tetap tak terima jika dirinya yang bersalah. Sedangkan Ethan mengerutkan keningnya. Begitulah wanita saat meminta maaf, pada akhirnya ia tetap menyalahkan laki-lakinya.
"Saya sudah memaafkan kamu." akhirnya Ethan bersuara. "Maafin saya juga yah. Kamu benar, saya juga salah." sambungnya, Zoya dalam dekapannya mendongak sebentar, kemudian mengangguk polos.
"Janji jangan diulangi lagi?"
"Hmm."
"Kamu harus bilang ke saya dulu kalau mau ngelakuin sesuatu hal,"
Lagi, Zoya mengangguk dalam dekapan pria itu.
Usai drama di pagi hari mengenai permintaan maaf, Zoya dan Ethan yang sudah rapi turun ke lantai bawah. Langkah dua orang itu memelan saat mereka menuruni anak tangga dan melihat seorang wanita tengah duduk pada sofa di ruang utama.
Zoya menoleh pada Ethan, sedangkan pria itu hanya diam menatap Alexa yang kini bangkit dari duduknya.
"Hay," wanita itu menyapa dengan senyum manisnya.
"Aku datang untuk bertamu kemari."
TBC
Kita liat aja, siapa yang akan lebih terluka. Istri pertama, atau kedua? Haha ha ha ha (Ketawa Jahat).
Kira-kira si Alexa mau ngapain, yah?Hmn
__ADS_1