
Selin bersyukur, acara akad nikahnya dengan Randy berjalan lancar meski pria itu harus gagal pada percobaan pertama saat pengucapan ijab kabul. Meski begitu, pada akhirnya Randy mampu menguasai diri dan menyelesaikan semuanya dengan baik.
Sedikit pun, Selin tak pernah berpikir jika ia akan menikah dengan Randy. Skretaris suami dari aktris yang di manejerinya. Ia tak pernah menyangka akan dengan mudah jatuh hati pada Randy bahkan langsung mengangguk mengiyakan saat pria itu menyatakan perasaan padanya di gedung bioskop dua bulan yang lalu. Waktu yang sangat singkat bagi keduanya untuk memantapkan diri dan hati.
Mulut Randy memang manis, sehingga ia dengan cepat dan begitu mudah jatuh ke pelukan seorang Randy dan sekarang sudah sah menyandang status sebagai istri dari pria itu.
"Kamu nunggu Pak Ethan sama Zoya?" tanya Randy saat melihat wanita – yang sekarang sudah resmi menjadi istrinya tersebut sesekali terus melihat pintu masuk. Selin menoleh, kemudian mengangguk. Ia tidak sabar untuk segera bertemu dengan Zoya.
Tepat sebelum akad nikah digelar, ia mendapat telpon dari Ethan jika Zoya masih tidur karena semalam bergadang merawatnya yang sedang sakit dan bisa dipastikan akan darang sangat terlambat ke acara pernikahannya. Jujur Selin kecewa karena wanita yang sudah ia anggap sebagai adik itu tidak hadir pada acara akad nikahnya. Tapi apa mau dikata, yang menelponnya adalah Zeinn Ethan dan ia tak bisa berbuat apa - apa.
"Itu mereka." tunjuk Randy saat Ethan dengan Zoya muncul, keduanya tampil begitu serasi dengan tangan Zoya yang melingkar di lengan pria itu. Zoya tampak melambaikan tangan pada Selin dengan wajah gembira.
"Mbak Selin cantik banget," decak Zoya pada Ethan dengan tatapan lurus ke pelaminan, menatap Selin dengan Randy yang tersenyum penuh kebahagiaan. Ethan justru menilik wajah Zoya. "Masih cantikan kamu." pujinya, seketika mendapati cubitan di pinggangnya dari Zoya yang kesal sekaligus berdebar dan berbunga - bunga.
Sejak memasuki area ballroom hotel, Zoya memang terpesona melihat dekorasi dan ornamen - ornamen yang dominan dengan warna putih tersebut. Mengingatkannya pada masa satu tahun silam saat ia menikah sengan Ethan.
Tamu undangan juga banyak yang hador. Selain dari kalangan keluarga pribadi Randy dan Selin, mereka juga berasal dari keluarga besar AE RCH, para artis dan juga kawan - kawan saat sekolah pasangan pengantin.
"Kita langsung ke Mbak Selin aja gimana?" Zoya bagai tidak sabaran hingga langsung melangkah, namun tangan Ethan menahan pinggang wanita itu dengan tatapan mata yang mengarah ke pelaminan. Di mana di sana ada Edrin yang tengah memberikan ucapan selamat untuk pasangan pengantin baru itu.
"Kamu mau minum?" mengalihkan perhatian sang istri dengan menawarinya untuk minum. Zoya menoleh, tersenyum kemudian mengangguk. Mengambil duduk pada salah satu kursi dan membawa Zoya duduk di sana, lantas ia juga duduk di samping wanita itu. Pandangan Zoya kembali menyapukan pandangan pada ballroom hotel yang menjadi saksi cinta antara Selin dan Randy.
Sesekali ia tersenyum saat ada rekan aktris yang menyapanya, selebihnya Ethan selalu bisa mengalihkan perhatian agar Zoya hanya fokus pada pria itu.
Zoya mengusap jari manisnya di mana cincin pernikahannya dengan Ethan ada di sana. Sejak beberapa hari lalu ia merasa tak nyaman dengan cincin tersebut yang mulai sempit di jari manisnya yang mungil. Karena berat badannya yang bertambah? Hell, Zoya tak ingin percaya.
"Ada apa?" tanya Ethan saat wanita itu hendak membuka cincin yang selama lebih dari satu tahun melingkari jari manisnya itu.
__ADS_1
"Cincinnya sempit banget, jari tanganku sakit." sahutnya, berusaha melepas cincin tersebut. "Jangan dilepas." cegah Ethan, menggenggam jari manis Zoya agar wanita itu tak berusaha melepas cincin pernikahan mereka.
"Jangan dilepas!" larang pria itu. Zoya mengernyitkan dahi. Pasalnya, ia tak pernah sadar jika cincin pernikahannya dengan pria tampan itu sudah tak muat karena jari tangannya yang jauh lebih berisi dari satu tahun yang lalu. Dan hari ini adalah puncaknya. ia merasa benar - benar tidak nyaman.
"Tapi sakit." sahut Zoya, Ethan konsisten menggeleng dan membuat wanita itu memberenggut kesal. Namun begitu, akhirnya ia menurut dan mengabaikan rasa tidak nyamannya demi menghormati sang suami yang melarang. Kembali mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru, ia menemukan Naina di kursi belakang yang tengah tersenyum dengan mata yang mengedar ke segala penjuru dengan tatapan penuh kagum melihat kemewahan dekorasi pesta.
"Cantik, yah?" tanya Zoya pada gadis itu, karena jujur ia pun terpesona. Naina mengalihkan perhatiannya, tersenyum dan mengangguk pada Zoya. "Cantik banget, Mbak." Zoya tersenyum mendengarnya.
"Nanti, kalau saya menikah, saya mau dekorasi yang megah seperti ini." ucap gadis itu. Ethan sempat menoleh, menatap Naina dan Zoya bergantian, setelahnya ia hanya memusatkan tagapan pada sang istri.
"Kenapa enggak pengen yang lebih mewah dari ini?" tanya Zoya saat mata gadis itu kembali mengedar. Kemudian tak lama. Ia menatap Zoya setelah menyiapkan jawaban atas pertanyaan Zoya padanya barusan.
"Karena dekorasi seperti ini sudah lebih dari cukup."
"Saya nggak mau mewah yang berlebihan."
Zoya kian memusatkan tatapannya pada gadis itu. "Kamu udah ada calon?"
"Kalau seandinya saya
cariin kamu calon suami. Kamu mau?" tanyanya. Sama seperti sebelumnya, mata gadus itu membulat dengan tatapan bingung, bingung sekaligus terkejut. Apa ia sedang salah demgar? Ia menatap Zoya dalam - dalam untuk memastikam jika dirinya tidaklah salah dengar. Anggukan kepala Zoya memyadarkannya jika ia memang benar - benar tidak salah dengar dan Zoya sedang butuh jawaban
.
"Gimana?" Zoya meminta jawaban. Naina mengangguk samar, Zoya tersenyum kemudian memperbaiki posisi duduknya, lurus ke depan dan menatap kebahagiaan Randy dan Selin. Sedangkan Naina di belakangnya mpertimbangkan tawaran Zoya barusan.
Kenapa ia harus mau dijodohkan?
__ADS_1
Mungkin karena selama ini ia tak permah tertarik pada pria manapun. Ia juga tak memiliki kriteria khusus. Toh jika orang yang Zoya jodohkan tidak cocok dengannya, ia bisa saja menolak. Karena hidupnya, adalah haknya. Zoya juga pasti tidak akan mengatur dan memaksa dirinya.
Naina ikut bangkit saat dua orang di hadapannya bangkit dan menoleh padanya. "Naina, saya ke toilet sebentar, yah." pamit Zoya. Naina yang sudah berdiri menganggukam kepala, ia pikir dua orang itu akan ke pelaminan untuk.mengucapkan selamat. Ia kembali duduk saat tangan Zoya mengapotit lengan Ethan dan keduanya mulai berjalan. Mungkin semua pasangan yang saling mencintai seperti itu, bahkan Ethan harus ikut ke toiler untuk mengantarkan Zoya. Setidaknya hal itulah yang sekarang berada dalam pikiran Naina.
"Padahal aku bisa sendiri." Zoya merasa kesal saat Ethan harus ikut dengannya ke toilet. Padahal ia hanya ingin mencuci tangan karena merasa tak nyaman.
"Bagaimana kalau ada yang mengganggu kamu?" Ethan bersikeras. Tak ingin membiarkan sang istri sendirian di tengah keramaian. "Aku malu sama temen - temen aktrisku yang lain" gerutunya. "Masa ke toilet aja harus dianterin Pak CEO, sih." Meski ia merasa lega. Ethan ada di sampingnya dan cewek - cewek yang ada di sana tidak akan ada yang berani mengedipkan mata pada sang suami.
"Ya tapi – Udah, tunggu di sini." sahut Zoya, pasrah. Menahan langkah kaki pria itu saat keduanya sudah berada di antara pintu toilet pria dan wanita. "Kenapa?" dahi pria itu berkerut. Membuat Zoya berdecak sebal? Suaminya ini lemot? Polos? Atau bagaimana kah?
"Kamhlu mau ikut ke dalem?" kesal Zoya. Kali ini Etham tersenyum.
"Memangnya boleh?"tanya pria itu, iseng dengan mata menyipit.
"ENGGAK!"
Ethan tertawa, hendak mengacak puncak kepala istrinya namun wanita itu menghindar. "Ini istrinya udah cantik begini malah mau di berantakin, gitu?"
"Enggak. Yasudah, sana. Biar saya tunggu di sini."
"Tapi –" Ethan menahaan pergelangan tangan wanita itu saat Zoya hendak beranjak, wanita itu menaikan alis. Kemudian menautkan alis saat jari tangan pria itu menunjuk bibir.
"Mau ditonjok?" tanya Zoya sambil tertawa, Ethan menggeleng dengan kesal pada istrinya. Zoya mendekatkan wajah pada sang suami, Ethan sudah kegirangan. Namun ternyata wanita itu bukan mau menciumnya.
"Ada cctv." sahut wanita itu dengan suara pelan. Lagi, Ethan berdecak kesal, melirik cctv yang berada pada salah satu sudut. Matanya mengedar mencari tempat yang aman, kemudian menarik gadulis itu pada tempat yang tak terpapar kamera cctv.
Mata Zoya membulat saat pria itu mendaratkan bibirnya. Zoya pasrah meski tak rela. Karena make upnya akan terganggu oleh pria itu, terutama pada bagian bibir..Hatinya menggerutu.
__ADS_1
"Dasar, nggak tau tempat!"
TBC