Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Konferensi Pers (2)


__ADS_3

Zoya tahu, sangat sulit bagi orang tua Ethan maupun Rival menerima fakta rumit tersebut. Namun, begitulah takdir yang terjadi dan tidak bisa ditawar.


Freya tak sadarkan diri cukup lama. Sementara Agyan, Ethan, Rival dan Rayn berunding mengenai pemecahan masalah hingga mereka sampai pada sebuah kesepakatan jika Ethan harus menceraikan Naina.


Ethan setuju, begitu juga Naina, tidak ada lagi yang perlu mereka pertahankan, terlebih lagi Rival akan bertanggung jawab sepenuhnya pada Naina dan juga anak dalam kandungannya.


"Aku harus buru-buru ke agensi biar nggak telat." sahut Zoya pada sang suami ketika mereka masih memerhatikan Freya yang berbaring tidak sadarkan diri.


"Kamu berangkat saja diantar Ethan. Biar Tante yang urus Bunda kalian." Vina memberi saran dan menawarkan bantuan. Zoya sempat menoleh pada Ethan sebelum kemudian mengangguk mengiyakan.


"Tante Vina benar, kamu nggak perlu khawatir." Ethan meyakinkan. Lantas menggandeng istrinya tersebut. "Biar saya temani kamu bersiap." sahutnya yang kemudian menggendeng Zoya menuju kamar mereka.


"Mbak zoya."


Zoya dan Ethan menghentikan langkahnya di anak tangga. Melihat raut wajah Naina dan mengeri jika ada yang perlu gadis itu bicarakan dengan istrinya. Ethan pamit pada dua orang itu dan berlalu lebih dulu menapaki satu persatu anak tangga.


"Ada apa?" tanya Zoya dengan senyum tipis, tetapi Naina justru berkaca-kaca, perlahan pandangan Zoya di hadapannya kabur dan air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.


"Kenapa Naina?" tanya Zoya dengan senyum yang kian lebar dan membuat Naina kian merasa bersalah.


"Mbak Zoya," banyak yang ingin Naina katakan, tapi sepertinya ia tidak akan bisa, justru suaranya tercekat dan ia tak mampu mengatakan apa-apa.


"Saya nggak tau mau ngomong apa, saya sangat merasa bersalah sama Mbak Zoya. Mbak Zoya boleh nggak maafin saya, Mbak."


"Naina–"


"Saya jahat Mbak, saya sangat nggak tahu diri. Saya benar-benar tidak tahu terimakasih, saya–"


"Naina cukup!" nada bicara wanita itu meninggi guna membuat Naina berhenti. Tapi beberapa detik berikutnya, pandangannya melemah. Ia meraih tangan Naina dan menggenggamnya. Tangan gadis itu terasa dingin.


"Kamu nggak salah apapun Naina, jangan merasa bersalah. Sejak awal, saya yang terlalu memaksakan semuanya dan mengorbankan perasaan kalian tanpa saya tahu kalau kamu bisa saja jatuh cinta sama orang lain."


"Kamu nggak perlu merasa bersalah, Naina." Zoya menggelengkan kepalanya. "Kamu nggak salah apa-apa."


Naina diam, pandangannya ke bawah, ia dengan kuat mengigit bibirnya. "Saya mau jujur satu hal sama Mbak Zoya." sahutnya kemudian yang membuat Zoya diam sesaat.


"Saya tahu Mbak Zoya akan marah kalau tahu hal ini."


Gadis itu menengadah dan menatap Naina. "Saya ...., saya–"


"Kamu nggak perlu bilang apapun, saya tahu semuanya Naina." cegat Zoya dengan senyum tenang. Naina mematung menatap Zoya dengan sorot tak percaya.


"Mbak–"


"Saya tahu, kamu nggak perlu bilang apapun."


***


Usai pembicaraannya dengan Naina selesai, Zoya menyusul Ethan ke kamar. Pria itu rupanya sudah menyiapkannya pakaian. Tersenyum menyambut kedatangan Zoya begitu pintu terbuka.


Zoya hanya tersenyum tipis, pamit pada sang suami untuk merapikan diri. Tidak banyak obrolan yang terjadi di antara dua orang itu selama berada di dalam kamar.


Ethan lebih banyak diam begitu juga Zoya yang memilih untuk tak mengatakan apapun. Suaminya hanya memerhatikan saat ia berdandan dan Zoya hanya menatap pantulan pria itu dala cermin.


"Kamu mau bilang apa?" tanya Zoya kemudian. Menyadarkan lamunan pria itu. Zoya berbalik, menatap sang suami yang tampak ingin mengatakan sesuatu padanya.


Ethan tersenyum kecut menatap sang istri. Rupanya Zoya begitu peka dengan sikapnya. "Saya hanya ingin bertanya satu hal. saya merasa khawatir dengan hal itu, Zoya."


"Apa?"

__ADS_1


"Kamu tidak akan meninggalkan saya bukan?"


"Kenapa kamu mikir kalau aku bakal ninggalin kamu?"


"Perasaan saya tidak tenang. Kamu tidak akan meninggalkan saya, 'kan Zoya?" tatapan pria itu mulai tampak panik.


"Kamu tahu sendiri Zoya, saya tidak bisa tanpa kamu."


Zoya tersenyum mendengar penuturan suaminya. Mata wanita itu tampak berkaca kaca, namun Zoya juga tampak menahannya agar air matanya tidak tumpah.


"Katakan pada saya kamu tidak akan meninggalkan saya, 'kan Zoya?"


Zoya diam, tak lama ia tersenyum dan menyahut. "Alexa bilang, nggak ada yang perlu dipertahanian lagi dari rumah tangga kita–"


"Sayang–"


"Kalau bertahan sama-sama membuat kita terluka, untuk apa terus dilanjutkan?"


"Zoya, tolong jangan membuat saya cemas kali ini."


Zoya tetsenyum, air mata yang berhasil lolos dan menganak sungai di pipinya segera ia tepis. "Kamu siap-siap, jangan sampai media mempertanyakan keberadaan kamu dan nganggap kamu penakut. Aku nggak mau mereka berpikiran macem-macem dan jelek jelekin kamu lagi."


Ethan bangkit dari duduknya. "Itu nggak penting Zoya. Sekarang cukup katakan pada saya, kamu tidak akan meninggalkan saya l, 'kan Zoya?" Ethan menarik pergelangn tangan wanita itu.


Tatapan matanya sangat memohon pada Zoya. Zoya balik menatap pria itu, ia menganggukan kepala. Kemudian memeluk Ethan dan menyandarkan kepalanya di dada pria itu. "Bahkan aku nggak bisa ninggalin kamu, Ethan."


"Kalau aku ninggalin kamu, aku nggak akan nemuin yang seperti kamu lagi."


***


Kedatangan Zoya dan Ethan ke ruang konferensi pers mendapat atensi penuh dari para awak media yang sudah menunggu kehadiran mereka untuk klarifikasi mengenai skandal yang menimpa Zein Ethan Maheswarry dengan asisten Zoya Hardiswara.


"Kamu nggak apa-apa?" Selin sempat berbisik sebelum membiarkan Zoya berbicara. Wanita itu mengangguk meyakinkan manajernya.


"Mbak udah dapat alamat Somi, Mbak sendiri yang akan introgasi dia nanti." wanita itu kembali berbisik, lagi-lagi Zoya hanya menganggukan kepalanya sebelum kemudian menjauh dari Zoya.


Zoya menghela napas, saat ia sudah bersiap mengarahkan microfon, Randy menghampirinya dengan sebuah lembaran kertas. "Ini surat-surat yang diminta Pak Ethan." sahutnya, menaruhnya di atas meja kemudian berlalu pergi usai Zoya berterimakasih dan berdiri di pintu masuk dengan beberapa staf keamanan yang sedang bertugas mengamankan jalannya konferensi pers.


Para awak media sangat tidak sabar mendengar Zoya buka suara, begitu juga para publik yang menyaksikan siaran langsung konferensi pers tersebut melalui layar televisi maupun melalui akun instagram resmi agensi AE RCH.


"Selamat pagi semua." Zoya lebih dulu menyapa saat buka suara.


"Saya Zoya Hardsiswara, istri dari Ethan Maheswarry. Beberapa hari ini, saya berada di Luar Negri untuk kepentingan syuting."


"Di sini, saya akan mengonfirmasi kebenaran mengenai hubungan gelap yang terjadi antara suami dan juga asisten saya." panjang lebar wanita itu. Jujur ia merasa gugup dan tak dapat membayangkan bagaimana reaksi publik saat mendengar apa yang akan dikatakannya nanti.


Ethan menoleh pada wanita itu, lantas mengenggam tangan Zoya di bawah meja, membuat wanita itu juga menoleh dan mengukir senyum pada sang suami.


"Saya tahu jika pemberitaan tersebut cukup meresahkan karena kalian mengenal Ethan sebagai pria yang baik dan setia."


"Dan saya juga yakin kalian mengasihani saya karena saya dipermainkan." Zoya sempat terdiam beberapa saat. Kemudian ... "Benar, suami saya memang setia. Sangat setia, tapi fakta mengenai hubungannya dengan asisten saya–itu memang sebuah kebenaran."


Sontak pernyataan wanita itu membuat semua orang terkejut dan saling bertanya-tanya. Begigu juga para staf agensi yang ada di ruang konferensi.


"Apa maksud anda Ethan dengan asisten anda memang berpacaran?" salah satu awak media bertanya mewakilkan semua orang.


Zoya sesaat tersenyum sebelum kemudian menyahut. "Bukan berpacaran. Tapi hubungan yang lebih dari itu." Zoya lantas mengambil sebuah kertas yang tadi diserahkan Randy dan menunjukannya pada awak media yang langsung mendapat kehebohan dari mereka.


Kilatan blitz mengarah pada dokumen berisi surat pernikahan milik Ethan dan Naina.

__ADS_1


"Ini adalah surat pernikahan antara Ethan dan Naina, asisten saya." beritahu wanita itu yang membuat semua orang gempar. Kolom komentar juga memenuhi siaran langsung tersebut dalam akun instagram resmi agensi AE RCH sejak satu menit siaran berlangsung.


"Mungkin kalian akan sangat bingung, itulah kenapa saya akan memberitahukan hal ini secara detail."


"Tapi sebelumnya, saya minta kalian untuk berhenti berkomentar dan menjelek-jelekan suami saya. Saya tidak terima dengan hal itu." sahutnya dengan senyum smirk, Ethan di sampingnya hanya menatap wanita itu.


Begitu hening di ruangan tersebut, Zoya kembali berbicara setelah menarik napas dalam-dalam.


"Beberapa bulan yang lalu, saat saya mengandung calon anak saya dan Ethan, saya mengalami kecelakaan. Cukup parah bahkan sampai membuat saya harus kehilangan calon bayi kami dan bahkan kehilangan satu ovarium."


"Hal itu membuat saya sangat terluka karena kami akan sulit memiliki anak. Sebelumnya, saya juga sudah pernah mengalami keguguran."


"Kami kehilangan anak kami sebanyak dua kali."


"Saya dan Ethan sangat terpukul. Sedangkan saya tahu Ethan sangat menginginkan kehadiran seorang anak, begitu juga dengan saya." Zoya menjeda kalimatnya sesaat. Ternyata, ketika mengingat kembali masa masa tersebut, rasanya memang begitu sulit. Ethan di sampingnya kembali menggenggam tangan wanita itu dan tersenyum menguatkan Zoya.


"Ketika saya sudah merasa putus asa karena tak kunjung hamil, saya akhirnya menemukan solusi dimana saya membutuhkan seorang wanita yang harus mengandung anak suami saya."


"Itulah kenapa saya meminta suami saya untuk menikahi Naina."


Setiap pernyataan wanita itu membuat semua orang terkejut hingga tak bisa berkata-kata, hanya mampu nendengarkan pernyataan Zoya dengan rasa penasaran yang menggebu-gebu.


"Saya yang mengatur pernikahan tersebut di sini. Saya yang meminta suami saya untuk menjalin hubungan dengan wanita lain."


"Bahkan saya sendiri yang mengatur bulan madu mereka."


"Suami saya tidak berselingkuh, tidak bermain belakang dari saya. Semua kedekatan yang kalian lihat antara suami saya dan Naina, semuanya dibawah pengawasan saya."


"Jika ada orang yang perlu disalahkan atas insiden ini, maka orang tersebut adalah saya."


"Ethan dengan Naina hanyalah korban dari keegoisan saya yang sangat menginginkan seorang anak."


"Saya tidak meminta kalian untuk bersimpati, tetapi sebagai seorang wanita yang berumah tangga, gagal menjadi istri yang sempurna untuk seorang suami adalah luka."


"Saya sangat terluka karena tidak bisa melahirkan anak dari rahim saya." air mata yang Zoya tahan mati-matian nyatanya tetap menetes, Ethan yang melihat hal itu segera memberikan sebuah tissue pada Zoya.


Zoya menerima tissue dari sang suami dan menghapus air matanya. "Terlepas dari semua yang terjadi. Saya berharap kalian tetap mendukung saya. Apapun yang saya lakukan, kalian cukup melihat yang baik-baiknya saja."


"Saya tidak menyuruh kalian untuk tutup mata jika melihat keburukn yang saya lakukan. Saya hanya meminta agar kalian tak terpengaruh untuk hal itu."


"Sebagai seorang publik figure yang setiap gerak-geriknya diperhatikan dan dijadikan panutan, saya selalu berharap bahwa saya dapat menjadi contoh yang baik."


"Terimakasih." Zoya bangkit setelahnaya, ia hanya berniat memberikan pernyataan dengan sejelas-jelasnya tanpa menjawab satupun pertanyaan dari pihak media manapun.


Zoya merasa semuanya sudah jelas. Permasalahan sudah ia luruskan dan ia berharap masalah ini akan segera reda.


"Zoya, jadi bagaimana ke depannya?"


"Kalian masih akan sama-sama?"


"Kamu rela tetap menjalani pernikahan poligami?"


"Ethan tidak akan menceraikan Naina?"


Ethan dengan segera mengikuti wanita itu, sementara para awak media yang ingin mengajukan banyak pertanyaan segera dihadang pihak keamanan begitu mereka akan mengejar Zoya.


Zoya mempercepat langkahnya tak tentu arah, mengabaikan Ethan yang mengejar di belakangnya. Dadanya sesak, sesak sekali. Ternyata, semua yang sudah ia lalui benar-benar membebani hati dan pikirannya.


Zoya lelah. Sangat.

__ADS_1


TBC


__ADS_2