
Hari pun berganti pagi. Suasana rumah pengacara Syahdan masih terasa mencekam. Bukan karena tak ada penghuninya. Tapi semua yang ada disana, terdiam tanpa ada satu ceritapun. Termasuk juga para ART yang bekerja disana.
Mereka kemaren ikut menyaksikan pertengkaran Tuan muda mereka dengan Nyonya majikan. Belum pernah mereka melihat Tuan Syahdan sebegitu marahnya dan berteriak kepada Maminya. Meskipun selama ini mereka tau kalau Tuan Syahdan bukanlah orang yang banyak bicara, dan terkesan dingin. Tapi mereka belum pernah sekalipun melihatnya marah. Apalagi kepada Nyonya, Maminya Tuan Syahdan adalah anak yang penurut. Apapun keinginan Maminya itulah yang dilakukannya.
Luna sudah bangun dari tadi. Dia lagi duduk di meja makan menikmati sarapannya. Sarapan pagi ini terasa berbeda, padahal sudah biasa dia sarapan duluan sendirian.
Luna melihat Maminya baru keluar dari kamar. Sudah dengan pakaian rapi. Luna sudah bisa menebak Maminya mau kemana. Tapi Luna kesal karena ini masih sangat pagi. Baru jam 7 pagi.
"Mami beneran mau menemui Fiona ?" Tanya Fiona pada Rahma yang ikut sarapan. Dan Rahma hanya menjawab pertanyaan anaknya dengan anggukan kepala.
"Tapi ini masih pagi mi." Kata Luna jengkel.
" kamu jadi nemenin Mami tidak, emangnya kenapa kalau pagi."Sahut Rahma.
"Mami, sekrang tu lagi jam macet macetnya dijalan. Mami mau kita sampao se jam dua jam baru nyampe sana. bentar lagi aja ya mi. jam 9an kita perginya."Kata Luna membujuk.
Akhirnya Rahma pun mengalah, Ia juga tau kalau berangkat sekrang mereka akan terjebak macet dijalan. Tapi kekesalannya pada Fiona membuatnya tak tenang. Sampai sampai di tak tidur semalaman.
"Mas kamu sudah keluar belum" Tanya Rahma. Luna hanya menggelengkan kepala nya. Tak lama Syahdan terlihat menuruni tanngga. Dia baru keluar dari kamar. Dengan pakaian rapi seperti biasa. Syahdan mendekat memghampiri keduanya.
"Luna, minta nanti bik sum membersihkan kamar mas ya" Sahut Syahdan. Kemudian langsung balik badan hendak pergi.
"Mas nggk sarapan dulu" Tanya Luna.
Tapi Syahdan tak menjawabnya sama sekali dan tetap melangkah pergi. Rahma menarik nafas panjang, anaknya masih marah padanya. Jangankan menegurnya, melirik ke arahnya pun tidak.
__ADS_1
Setelah Syahdan pergi, Luna memanggil bik Sum. Menyampaikan perintah Syahdan untuk membersihkan kamarnya.
Tepat jam sembilan pagi Rahma dan Luna pun berangkat menemui Fiona. Mereka langsung ke Rumah Sakit saja. Bukan ke Rumah orangtuanya.
Sesampainya di Rumah Sakit, mereka langsung ke ruangan Fiona. Tapi Ada perawat yang mencegahnya. Karena Fiona lagi ada pasien. Rahma tidak menghiraukan larangan itu tetap langsung masuk. Rahma dan Luna terkejut melihat Fiona.
Dokter itu tengah berciuman mesra dengan seorang lelaki. Dengan posisi Fiona yang duduk dipangkuan lelaki itu. Bukan hanya Rahma dan Luna yang terkejut. Perawat asisten Fiona pun terkejut. Karena yang dia tau, lelaki itu tadinya masuk sebagai pasien Dokter Fiona.
"Ini yang kamu bilang ada pasien ?" Tanya Rahma pada perawat yang tadi mencegahnya masuk.. Perawat itu hanya tertunduk malu.
Sementara itu, Fiona yang terkejut karena kedatangan Rahma dan Luna yang tiba tiba itu, segera bangun dari pangkuan lelaki yang tadi bermesraan dengannya. Wajahnya keliatan sangat pucat karena rahasianya telah ketahuan Oleh Mami Syahdan.
"Tante, kenapa datang mendadak tidak kasih tau dulu." Ujar Fiona mendekati Rahma.
"Plaak" Refleks Rahma menampar pipi Fiona yang mulus. Fiona meringis kesakitan, dia menyentuh pipinya. Fiona mulai kesal dengan tingkah Rahma yang berani menamparnya.
"Pantas saja kamu tumbuh jadi wanita ngk benar karena orangtamu tak pernah mendidikmu dengan tegas" Balas Rahma.
"Jangan sembarangan ngomong tante ya.." Ujar Fiona sambil mengangkat tangannya berniat menampar Rahma. Tapi dengan sigap Luna maju dan langsung menangkap tangan Fiona.
"Jangan sekali kali kau menyentuh Mamiku. Kalau tidak mau tanganmu ini patah." Kata Luna dengan penuh penekanan dan tatapan tajam. Fiona sedkit menciut dengan ancaman Luna. Karena dia pernah dengar kalau Luna ini bisa karate. Fiona pun menarik tangannya dengan kasar.
"Apa yang kamu lihat, keluar dari sini." Fiona malah melampiaskan kemarahannya pada perawatnya. Dia tak ingin perawat itu mengetahuo lebih banyak lagi masalah pribadinya. Bisa bisa satu Rumah Sakit ini akan menggibahi nya.
"Aku menyesal sudah memaksa anakku untuk mau menikah denganmu, ternyata kau taklebi dari seorang wanita mur*han." Kata Rahma.
__ADS_1
"Jaga bicara tante ya, seharusnya tante bersyukur aku mau jadi calon menantu tante. daripada anak tante menikahi seorang janda mantan napi." Fiona pun tak tinggal diam dihina Rahma.
"Lebih baik menikah dengan janda yang sudah jelas statusnya, daripada wanita yang berstatus lajang tapi idak perawan. Lebih parah lagi tubuhnya sudah kotor disentuh banyak laki laki. Wanita yang tidak berharga." Luna yang membalas sekarang.
"Jaga bicaramu ya gadis tengil" Ujar Fiona sambil hendak menampar Luna. Tetapi dengan cepat Luna menangkap tangannya kemudian memutarnya ke belakang. Sehingga Fiona menjerit kesakitan.
"Sudah kubilang kan, jangan coba coba main tangan. Apa mau ku patahkan tanganmu ini. Biar sekalian kau berhenti jadi Dokter." Ujar Luna marah.
"Lepaskan tanganku sialan. Awas kau ya, akan kubalas perbuatan kalian ini." Sahut Fiona kesakitan.
Melihat kejadian itu, wajah lelaki yang tadinya bermesraan dengan Fiona menjadi pucat. Kemudian berlari meninggalkan ruangan.
"Hahahaha, nggak jantan cowo yang tadi kau manjakan Fio" Kata Luna tertawa. Kemudian melepaskan cengkraman tangannya sambil mendorong Fiona.Fiona meringis memegang tangannya yang nyeri.
"Brengsek kalian, liat saja. Aku akan membalas pebuatanmu ini" Kata Fiona.
"Coba saja kala kau berani" Jawab Luna balik menantangnya.
"Keluar kalian dari sini, sebelum aku panggil security untuk menyeret kalian keluar." Ujar Fiona.
"Kami juga tak sudi lama lama dekat dekat dengan wanita kotor sepertimu.. Aku bersyukur belangmu ketauan sebelum anakku menikahimu. Dasar Wanita pelac*r." Kata Rahma yang masih emosi dengan Fiona.
"KELUAAAARR..." Teriak Fiona. Dia melemparkan va bunga yang ada dimeja kearah Luna. Syukurlah Luna bisa mengelakannya. Kalau tidak mungkin keluar dari ruangan ini dia akan langsung ruang operasi untuk dijahit kepalanya...
Akhirnya Luna mengajak Maminya keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Fiona Sendiri. Fiona histeris. Dia sangat marah, dia tidak terima dipermalukan seperi ini. "aku bersumpah akan membalas semua ini. Kalian lihat saja nanti pembalasanku." Ujar Fiona Dalam hati.
__ADS_1
Kemudian dia memanggil asiten perawatnya tadi yang masih terdiam bengong di mejanya depan ruangan Fiiona. Fiona menyuruh untuk membatalkan semua jadwal pasiennya hari ini. Dia jadi kehilangan mood untuk bekerja hari ini. Tak lama Fiona keluar pei meninggalkan Rumah Sakit.