Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Komunikasi Terakhir


__ADS_3





Hari terus berganti. Minggu bergulir berganti bulan, waktu terus berjalan menghabiskan tahun. Semua terasa lambat bagi Agyan maupun Freya. Namun begitu, mereka tetap bersyukur, selama dua tahun ini, mampu mereka jalani meski dengan berbagai hambatan yang terjadi.


Ribut karena hal sepele sudah menjadi makanan sehari-hari yang lumrah untuk keduanya. Tapi, seiring berjalannya waktu, sifat dewasa mulai mendominasi sikap keduanya. Mulai sama-sama untuk benar-benar saling mengerti sedang mereka lakukan.


Tapi, komunikasi tetaplah selalu yang terpenting. Itulah mengapa Freya masih selalu marah jika Agyan telat memberinya kabar.


To : My Wife❤


Iya Sayang. Maaf, aku banyak tugas. Belum cek handphone.


Agyan menghela nafas setelah mengirim balasan pesan pada Freya. Gadis itu mengiriminya spam chat karena Agyan yang tak kunjung membalas pesan. Agyan baru saja pulang dari kampus setelah menyelesaikan tugasnya hari ini.


Ia mendesah begitu memasuki apartement. Ruang utama yang berantakan oleh kaleng minuman dan beberapa bungkus snack yang berserakan di atas meja dan matras. Juga siara-suara berisik yang tak pantas didengarnya berasal dari dua kamar tamu apartementnya.


Pagi tadi, Kevin dengan Lucas memang meminta izin padanya untuk datang ke apartement Agyan. Tapi Agyan tidak tau, jika mereka akan berbuat kekacauan yang begitu parah.


Dengan perasaan kesal, Agyan menaiki satu persatu anak tangga untuk ke lantai dua kamarnya. Ia butuh mandi dan merapihkan diri. Beruntung, Agyan tidak pernah mengikuti pergaulan Kevin dan Lucas, selain karena Agyan mengingat Freya. Ia juga mengingat kedua orangtuanya, terlebih, Grrycia selalu menelpon dan menasihatinya.


Pada dasaranya ia mematuhi nasihat sang Mami.


"Hay,"


Agyan mematung di depan pintu kamar mandinya begitu melihat seorang gadis tengah duduk di tepi tempat tidurnya, dengan segelas wine di tangan gadis itu.


Agyan melihat pintu, ia lupa menguncinya. Pemuda itu hanya bisa pasrah, kemudian berjalan ke arah pintu balkon. Hanya berdiri di sana sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


"Ngapain kamu ke sini?" tanyanya tanpa menatap gadis itu.


Gadis itu—Rachel melangkah menghampiri Agyan, berdiri di samping Agyan dengan santai. "Aku mau menemui kamu, tapi orang yang membukakan pintu, Kevin. Katanya kamu belum pulang dari kampus. Jadi aku ke kamarmu, ternyata kamu di sini!"


Agyan terkekeh geli. "Bagaimana kamu bisa masuk tanpa seizinku?"


"Gyan!"


"Sudah berapa kali ku katakan, jangan pernah menggangguku. Aku sudah bertunangan,"


"Tapi kalian berjauhan Agyan. Ayolah, apapun yang kita lakukan di sini. Tunanganmu tidak akan mengetahuinya!"


Jari jemari lentik itu mengetuk-ngetuk dada Agyan. Kemudian beralih pada bibir Agyan dan berhenti di sana.


Rachel, putri tunggal salah satu Dosen kampus yang menggilai Agyan. Sejak dua tahun lalu, ia terus berusaha meluluhkan hati Agyan. Berkali-kali mendapat penolakan, faktanya gadis itu tak kunjung jera.


Membuatnya nekad membuang jauh-jauh harga dirinya di depan Agyan agar pemuda itu mau kepadanya. Rachel yakin Agyan akan luluh. Memang, siapaa yang berani menolak pesonanya?


"Ayolah, Gyan. Aku tau kamu juga menginginkannya, kamu pria dewasa. Kamu membutuhkannya, aku siap melayani kamu."


Rachel mengalungkan lengannya pada leher Agyan. Postur tubuhnya yang tinggi dengan bantuan sepatu hak tingginya membuat wajah ia sejajar dengan Agyan.


Sebagai laki-laki normal, tentu saja Agyan merasa terganggu dengan tingkah Rachel padanya. Tapi ia juga tidak bisa bersikap kasar pada seorang wanita jika saat ini harus mendorong Rachel begitu saja.


"Pergilah, aku tidak ingin diganggu!" usirnya dengan halus.


"Gyan, ayolah!"

__ADS_1


"Pergi sebelum aku bersikap kasar. Rachel!" nada suara Agyan menjadi tegas dan penuh penekanan. Rachel mundur beberapa langkah, tapi tak kunjung pergi. Ia hanya menatap Agyan dengan tatapan tak terbaca.


Satu tahun yang lalu, Agyan harus masuk rumah sakit karena di serang orang tak dikenal di basemant apartementnya. Agyan yakin, jika orang yang menyerangnya adalah mantan pacar Rachel yang tidak terima karena gadis itu berpaling.


Bukan tanpa bukti Agyan mengatakannya, karena ia mengaku sendiri pada Agyan saat mereka sedang berada di perpustakaan kampus. Meski mantan pacar Rachel mengatakannya secara ambigu, tapi Agyan tidak ingin mendapat masalah, apalagi sampai membahayakan nyawanya.


Salah satu orang yang bisa saja mengancam nayawanya, adalah Rachel. Mantan pacar gadis itu adalah psikopat yang bisa menghabisi nyawa siapapun.


"Aku tidak mengerti, Gyan. Memang secantik apa tunangan kamu sampai kamu tidak tertarik denganku!"


Gadis itu melipat tangannya di dada. Agyan menatapnya. Rachel adalah princess di fakultas Agyan, pesonanya yang begitu charming dengan fashion high class dan stunning. Tapi nyatanya, apa yang melekat pada diri gadis itu tidak dapat menarik perhatian Agyan.


Agyan mengagumi pesonnanya, tapi ia tidak tertarik untuk berpaling dari Freya.


"Dia lebih cantik dari kamu, lebih seksi. Dan jauh lebih bisa memuaskanku!" ucap Agyan, sarkastik.


"Kamu—" Rachel tampak menahan kesal.


Agyan tersenyum meremehkan. "Kamu tidak ada apa-apanya dibandingkan dia!"


Rachel menghentakan kakinya, dengan kesal melangkah keluar dari kamar Agyan. "Jangan lupa tutup pintunya!" teriak Agyan, kemudian ia meringis begitu mendengar pintu yang dibanting dengan sangat keras.


Agyan terkekeh setelahnya. "Lebih bisa memuaskan. Apaan!" pemuda tampan itu menggeleng menyadari kalimat tak masuk akalnya.


Lima belas menit setelahnya, Agyan turun ke lantai bawah, ia mendapati Kevin dengan Lucas di sana. Duduk di sofa dengan bertelanjang dada.


"Sudah puas?" sindir Agyan begitu ia bergabung dengan mereka. Ia melihat pintu kamar Kevin yang terbuka. Sekilas melihat tempat tidur yang berantakan seperti kapal pecah.


"Lain kali, gue gak terima tamu perempuan!" sambungnya.


"Sans, Gyan. Loe itu kuper, udah biasa!" Lucas menyahut tenang.


"Sembarangan!"


Kevin melempar bantal sofa pada Agyan, pemuda itu hanya mengelak dan kemudian menyimpan bantal di pahanya.


"Biar ceweknya nggak berani macem-macem, Gyan!"


"Gak ada cara lain?" tanya Agyan dengan satu sudut bibir terangkat.


"Enggak ada!"


"Makannya loe harus nyoba!"


Kevin dan Lucas berhigh five ria, Agyan hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanpa mau perduli maksud kedua kawannya itu.


*


*


Restoran dengan privat room yang sering dipakai para petinggi perusahaan itu tampak ramai pengunjung. Warry baru saja keluar dari salah satu privat room bersamaan dengan Andreas yang keluar dari ruangan lain.


Keduanya hanya terdiam dengan senyum angkuh di wajah masing-masing. Ini adalah kali pertama mereka kembali bertemu setelah menyelesaikan proyek kerja sama satu tahun lalu yang tidak sengaja terjadi dan tidak bisa dibatalkan begitu saja.


"Sangat berkesan bertemu dengan anda Pak Andreas." basa-basi Warry.


"Benarkah, padahal saya sangat menghindari pertemuan ini!" Andreas menyahut santai.


Warry membuang tatapannya, sungguh Andreas yang maha angkuh benar-benar tidak dapat berubah.


"Sekalian kita terlanjur bertemu, saya meminta Pak Andreas untuk memperingatkan putra anda, tidak perlu lagi menghubungi putri saya!"

__ADS_1


"Saya sudah coba, dia tidak bisa dicegah. Mungkin nanti, saya akan turun tangan sendiri. Tolong minta putri anda juga agar tidak mengganggu putra saya!"


"Akan saya sampaikan!"


*


*


Dengan langkah perlahan, Freya memasuki galeri mini milik Agyan di apartement pemuda itu. Tiba-tiba saja ia merasa rindu dan ingin mendatangi apartemen Agyan.


Freya hanya tersenyum menatap salah satu mahakarya Agyan yang terpajang di dinding, ia melihat sofa di sudut ruangan yang pernah diduduki olehnya dengan Agyan.


"Udah dua tahun aja, yah, Gyan. Kita nggak ketemu, nggak ngobrol secara langsung." lirihnya dengan senyuman.


Fokus Freya teralihkan saat ia mendengar suara decitan pintu. Sepertinya ada orang yang memasuki kamar Agyan.


Siapa?


Apa Agyan sudah pulang? Tanpa memberitahu Freya karena pemuda itu sedang menyiapkan kejutan untuknya?


Dengan cepat Freya keluar dari galeri mini Agyan. Ia matung melihat orang yang baru saja masuk. "Om Andre,"


Andreas tersenyum samar, jujur ia merasa terkejut melihat kehadiran Freya di kamar Agyan. Namun begitu, ia mengerti. Sama seperti Grrycia yang dulu mengetahui passcode apartementnya dan bebas keluar masuk, barangkali Agyan dan Freya pun demikian.


"Apa kabar Om?" basa-basi gadis itu dengan sopan.


"Baik. Freya,"


Freya hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Lama ia tidak bertemu dengan Andreas. Terakhir, mungkin beberapa bulan yang lalu saat Freya menjenguk Tomy yang dilarikan ke rumah sakit. Setelahnya, ini adalah pertemuan pertama mereka.


Sedangkan dengan Grrycia, Freya sering bertemu. Meski mereka tidak seakrab dulu, tapi Freya mengerti dan ia tidak mempermasalahkannya.


"Apartement Agyan sudah saya investasikan, di masa depan, mungkin kamu tidak bisa masuk sesuka kamu ke sini."


"Saya juga baru saja mengganti passcodenya."


Freya diam. Memang dirinya siapa harus sakit hati karena pernyataan Andreas? Ia bukanlah siapa-siapa.


"Maaf, Om. Saya sudah lancang,"


"Tidak papa, saya mengerti!"


Andreas menjeda kalimatnya. "Saya minta kamu tidak lagi menghubungi Agyan,"


"Om—"


"Sebagai seorang anak, harusnya kalian mendengar apa yang orangtua kalian katakan."


"Sekalipun itu atas dasar keegoisan orangtuanya?" Freya bertanya dengan nada santai dan menerbitkan senyum samar di bibir Andreas.


"Sebelumnya maaf, Om. Tapi sebagai orangtua, harusnya kalian mengerti, apa yang terjadi di masa lalu, tidak ada hubungannya dengan kami."


"Saya permisi. Om,"


Andreas mengangguk, memijit pelipisnya dan merogoh ponsel dari balik jasnya. Ia mendial nomor dan menghubungi seseorang.


"Dharma. Siapkan tiket untuk ke Amerika!"


TBC


Siapa yang udah nggak sabar Freya sama Agyan ketemu? Wkwk aku juga gak sabar. Tapi likenya yang banyak, yah. Biar aku cemunguuut😂

__ADS_1


__ADS_2