Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Terjerat Prostitusi


__ADS_3

"Seorang aktris berinisial, YN ditangkap kepolisian atas kasus prostitusi online. Ia ditangkap di sebuah hotel mewah di kawasan Jakarta dini hari tadi. Sosok YN langsung menjadi sorotan karena dia adalah seorang model, pesinetron dan pemain film."


"Santer terdengar, saat ini ia tengah memiliki project film dengan beberapa aktris dan aktor terkenal."


"Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya mengatakan jika sosok YN yang ditangkap adalah Yara Narasatya."


"Yara Narasatya adalah seorang publik figure berusia dua puluh empat tahun, ia adalah seorang model dan kerap bermain sinetron serta pernah membintangi beberapa film."


"Adapun barang bukti yang diamankan saat penangkapan berupa ponsel, kunci mobil, hingga atm dan bukti tranfer."


"Saat ini, aktris cantik tersebut tengah terlibat dalam sebuah film yang diproduseri oleh Arfat Nahlil dengan sutradara Irpan Afian."


Kicuan seorang presenter berita pagi itu membuat Zoya yang tengah bersantai sebelum berangkat ke lokasi syuting terdengar. Wanita itu hanya mematung, segera meraih ponsel saat benda pipih itu berdering. Segera menempelkan benda tersebut ke telinganya begitu menekan ikon hijau tanpa melihat siapa penelpon.


"Hallo,"


"Zoy, kamu udah liat berita?" suara Selin terdengar di ujung sana, Zoya mengangguk-anggukan kepala. "Iya, Mbak. Sekarang aku lagi liat beritanya di tv." sahutnya dengan mata yang masih mengarah ke layar televisi.


Suara sang presenter berita masih terdengar, foto-foto Yara Narasatya ditampilkan slide demi slide berikut foto saat penangkapan terjadi. Wanita itu mengenakan masker putih dengan rambut panjang yang digerai menutupi wajah, pandangannya tertunduk di bawah. Persis, setiap orang selalu melakukan hal yang sama jika dalam posisi Yara.


Kecuali mereka diliput karena prestasi atau sedang mencari sensasi, matanya pasti akan lurus menatap kamera.


"Terus gimana Mbak?" tanya Zoya kemudian.


"Syuting hari ini ditunda, kita ke studio Pak Arfat buat rapat. Semua orang udah kumpul di sana. Kamu udah siap?"


"Udah, Mbak."


"Yaudah, Mbak jemput sekarang, yah."


"Iya, Mbak. Iya."


Panggilan terputus setelahnya, Zoya melihat salah satu portal berita daring di ponselnya dimana para wartawan media sudah banyak menulis artikel mengenai kasus prostitusi yang melibatkan Yara Narasatya dengan headline hitam tebal Artis Sinetron YN Terjerat Kasus Porostitusi, Ditangkap di Hotel Mewah Kawasan Jakarta Pusat.


Zoya mendesah. Sejak awal akan memulai syuting, ia tak ingin ada sedikitpun masalah atau skandal apapun terutama mengenai dirinya. Tapi kenapa orang lain membuat ulah?


Yara Narasatya adalah salah satu pemain film My Beloved Wife, perannya sangat penting karena wanita itu memerankan tokoh Selia yang merupakan asisten Angkasa di Studio Foto sekaligus wanita yang akan Angkasa nikahi nantinya.


Zoya lagi-lagi kembali berdesah saat banyak sekali chat masuk ke beberapa media sosial miliknya dan menanyakan bagaimana kelanjutan My Beloved Wife karena salah satu pemainnya terjerat kasus.


Zoya mulai merasakan pusing di kepalanya. Tetapi ia terus memantau kondisi sosial media. Bahkan para netizen berkomentar di akun resmi milik Arfat dan Irpan selaku produser dan sutradara film yang tengah dibintangi Yara Narasatya.


***


"Berita kalau Yara Narasatya bergabung dalam film kita sudah bocor ke publik, tidak dapat kita tutupi." suara Arfat terdengar memulai pembicaraan ketika para pemain dan kru tengah berkumpul di studio Arfat untuk membahas kelanjutan syuting film mereka setelah Yara Narasatya terlibat kasus.


"Apa hal itu sangat berdampak?" salah seorang kru bertanya.


"Apa itu berarti membuat performa film kita nanti jadi buruk?" seorang pria dengan kacamatanya bertanya. Dia merupakan penulis naskah yang bahkan memilih sendiri Yara Narasatya untuk memerankan tokoh Selia karena menilai jika wanita itu cocok dengan karakter tokoh yang dibuatnya.


"Jelas berdampak, tapi pengaruhnya tidak akan begitu besar jika kita mampu menutupi kesalahan dengan usaha maksimal untuk mempertahankan kualitas film nantinya." sahut Arfat panjang lebar. Ia menjentikan jarinya dengan mata mengarah pada Zoya, Edrin dan juga yang lain.


"Terutama kerja keras para pemain, kalian jelas sangat diandalkan."

__ADS_1


Para pemain baik pemeran utama maupun pendukung sama-sama mengangguk.


"Artinya Yara Narasatya keluar dari film ini."


"Dia jelas harus keluar, bagaimanapun dia harus


menyelesaikan kasusnya. Secepatnya kita harus mencari pemeran tokoh Selia, saya yang akan urus itu secara langsung."


"Beruntung, Yara belum sempat syuting dan kita nggak perlu take ulang buat ambil adegan."


"Untuk hari ini, kita beristirahat saja. Kita semua butuh menenangkan pikiran. Kita siapkan energi untuk besok. Jangan terpancing oleh pemberitaan media, kita tetap fokus. Proses film kita masih panjang." panjang lebar Arfat mengakhiri pertemuan hari itu, tak lama setelahnya terdengar sorak sorai dari semua orang, saling menyemangati satu sama lain agar semua tetap kompak dan berjalan dengan lancar.


Zoya menyaksikan hal itu, rupanya kecemasan yang ia rasakan pagi tadi sama sekali tidak ada apa apanya melihat timnya yang begitu kompak dan bersemangat.


Senyum yang mereka tampilkan membuat Zoya ingin bekerja keras. Ia akan berperan sebaik mungkin dan membuat pencapaian besar untuk filmnya nanti. Agar kerja keras mereka terbayarkan.


***


Zoya cukup terkejut, saat ia dengan Selin dan juga Naina akan memasuki mobil, seseorang tiba-tiba saja menarik tangannya dan membuat gerakan tangan Zoya yang akan membuka pintu mobil terhenti.


"Somi," Zoya mengerutkan kening melihat gadis itu. Setelah menyelesaikan filmnya dengan Edrin berbulan yang lalu, Somj yang juga terlibat dalam fim tersebut tak pernah menampakkan batang hidungnya, sesekali Zoya hanya melihat gadis itu di layar televisi. Dan hari ini tiba-tiba saja gadis itu mendatanginya.


Naina yang baru pertama kali melihat Somi terdiam heran memerhatikan gadis itu, takut jika ia melakukan hal macam-macam pada Zoya. Namun melihat reaksi Selin yang tampak biasa saja, Naina merasa yakin jika gadis itu tidak berbahaya untuk Zoya.


"Hay Mbak Zoya, apa kabar?" sapanya dengan raut cerianya yang khas.


"Hay, baik. Ada apa?" Zoya membalas sapaan gadis itu dengan wajah yang masih kebingungan dengan sikap Somi.


"Aku boleh minta tomong nggak Mbak?" tanyanya, kali ini raut wajah gadis itu berubah sendu, Zoya menatap Selin dan Naina sebentar secara bergantian kemudian kembali mengalihkan perhatiannya pada Somi yang tengah menunggu jawabannya.


"Bantu aku gabung di fim kalian, yah."


"Hah?" jelas saja Zoya merasa terkejut mendengar permintaan gadis itu. Ia mengira jika Somi bermain-main namun raut gadis itu terlihat begitu serius.


"Gabung–di film ini?" tanya Zoya sekedar memastikan. Somi mengangguk-anggukan kepala dengan penuh keyakinan.


"Aku denger Mbak Zoya gabung tanpa casting, artinya koneksi Mbak luas ke petinggi filmnya. Mbak Zoya akan dengan mudah buat sekedar masukin aku supaya bisa gabung. Posisi Yara Narasatya kosong. Aku mau ambil tokoh dia Mbak." panjang lebar gadis itu yang benar-benar tak bisa Zoya cerna. Selin yang tampak kebingungan juga terljhat hanya memijat pelipisnya mendengar ocehan Somi.


"Okey, okey, dengar ini, Somi!" Zoya terdiam beberapa saat guna meredakan pusing di kepalanya. Berita pagi tadi mengenai Yara Narasatya saja sudah sangat membuat migrain dan fertigo di kepalanya bersarang, maka jika Somi menambah masalah, bisa-bisa kepala Zoya akan pecah dalam beberapa waktu lagi.


"Aku masuk tanpa casting karena produser sama sutradaranya bilang karakter tokoh utamanya cocok sama aku. Cuma itu."


"Aku nggak bisa masukin kamu gitu aja buat ikut gabung." Zoya berusaha membuat gadis itu mengerti. Raut wajah Somi terlihat sendu dalam satu waktu. Tapi tidak ada yang bisa Zoya lakukan, ia tak bisa membantu gadis itu untuk masik dan berbabung dalam film mereka dengan begitu saja.


"Lagian, Pak Arfat yang akan mengurus langsung pergantian pemain. Kalau kamu bener-bener mau, kamu sama manajer kamu bisa temuin dia dan minta ikut gabung." Zoya mengakhiri permintaan gadis itu dan pamit untuk berlalu lebih dulu. Arfat benar, mereka butuh istirahat dan menenangkan pikiran.


Sementara Somi hanya menatap Zoya yang memasuki mobilnya. Sekilas ia melihat Naina, mata keduanya sempat bertemu, Somi menajamkan pandangannya sedangkan gadis itu justru menunduk dan kemudian masuk ke dalam mobil.


Bersamaan dengan mobil Zoya yang melaju meninggalkannya, Somi mengeluarkan ponselnya, menghubungi sang manajer dan memintanya untuk menghubungi Arfat. Atau bahkan mengemis sekalian pada Arfat agar Somi bisa mengambil peran dalam film My Beloved Wife.


***


Sementara itu Edrin kembali ke lokasi syuting iklannya untuk menyelesaikan proses syuting bagian akhir. Begitu tiba, ia segera mendapat sambutan sinis dari Alexa yang sudah lama menunggunya. Tapi pria itu berpura-pura untuk tidak peduli sama seperti, mengingat jika wanita itu pun selalu datang terlambat.

__ADS_1


"Jangan mengajak ku untuk berdebat. Mari kita selesaikan syuting hari ini dan jangan pernah bertemu lagi." sahut Edrin saat wanita itu bersiap hendak memakinya karena membuatnya menunggu terlalu lama.


Alexa berdecih, merasa diremehkan dan dihina oleh pria itu. Ia melipat tangannya di dada. "Baiklah, lagipula aku juga nggak mau ketemu sama kamu lagi!" sahut Alexa tak kalah kejam dari pria itu.


Ketika dua orang itu mengatakan untuk segera menyelesaikan proses syuting, keduanya tampak profesional dan menjalankan tugasnya masing-masing dengan begitu baik. Dua orang itu bahkan terlihat begitu serasi dan menciptakan chemistry yang tidak terduga dari sebelumnya.


Membuat semua orang yang menyaksikan berdecak kagum karena pada akhirnya dua orang itu mampu bekerja sama dengan baik dan membuat semua berjalan dengan semestinya dan berakhir dengan hasil yang luar biasa.


"Seharusnya semua berjalan seperti ini di hari pertama andai kamu tidak merusaknya!" Alexa berbisik kepada pria itu ketika keduanya dalam keadaan saling bertatapan, Edrin tak memperdulikan ocehan Alexa dan justru mempererat pelukannya di pinggang wanita itu.


***


Ketika Zoya mengatakan jika dirinya butuh beristirahat dan menenangkan pikiran, tempat yang dituju-nya adalah gedung agensi AE RCH. Selain karena dirinya sudah lama tidak berkunjung ke agensi. Ia juga dengan khusus akan bertemu dengan sang suami dan langsung berkunjung di kantor pria itu.


Naina mengikuti wanita itu karena Zoya tidak membiarkannya untuk pulang lebih dulu ke rumah. Sementara salin kembali ke apartemennya lebih dulu setelah Zoya meminta wanita itu untuk beristirahat.


"Surprise." teriak Zoya saat Randy membukakan pintu ruangan sang suami. Ethan yang tengah berkutat dengan pekerjaannya lantas menegakkan tubuhnya, ia tersenyum menyambut kedatangan sang istri dengan tatapan tak percaya Zoya datang mengunjunginya.


Sejak wanita itu disibukkan dengan syutingnya, Ethan merasa jika mereka jarang memiliki waktu berdua. Zoya terlalu sibuk dan Ethan juga sama sibuknya mengurus pekerjaannya.


Sehingga saat wanita itu datang ke kantornya hari ini, Ethan merasa sangat senang.


"Saya sudah dengar beritanya pagi tadi, jadi bagaimana Yara Narasatya mundur dari film?" sahut Ethan ketika mereka sudah duduk pada sofa di sudut ruangan pria itu, seorang office girl datang mengantarkan tiga gelas minuman untuk mereka.


"Yara jelas aja di pecat, selain itu manajernya juga udah hubungin Pak Arfat dan bilang kalau dia mundur dari film." Zoya menyahut dengan sorot mata kecewa, "sayang banget, padahal Yara sangat cocok meranin tokoh Selia."


Kalau wanita itu diganti rasanya Zoya akan sedikit mendapat kesulitan menyesuaikan diri dengan pemeran pengganti. Zoya sangat menyesali tindakan yang diperbuat wanita itu meskipun ia tak bisa menyalahkan sepenuhnya atas apa yang wanita itu lakukan, sekalipun hal itu memang tidak bisa dibenarkan. Namun Yara pasti memiliki alasan.


Ethan tersenyum menatap sang istri dan mengusap puncak kepalanya. "Istri saya sangat jago beradaptasi, saya percaya kamu akan menyesuaikan diri dengan baik." sahut Ethan dengan penuh keyakinan.


Zoya yang sedang mendekatkan bibir gelas ke bibirnya hanya tersenyum mendapat pujian dari sang suami, sementara Naina yang berada di sana seperti biasa menjadi obat nyamuk bagi mereka.


Ethan seolah tak peduli dengan kehadirannya, tak pernah menjaga perasaannya, pria itu tak pernah menganggapnya ada. Tetapi dalam sekali waktu, Ethan juga memberikannya perhatian yang membuat Naina salah paham.


"Mbak Zoya, Mas Ethan." Naina menegur kedua orang yang memiliki dunia itu.


"Saya ke toiket sebentar." sambungnya saat atensi dua orang itu Naina dapatkan.


"Di depan ruangan saya ada Randy, kamu diantar, yah. Gedung ini luas, nanti kamu tersesat." sahut Ethan seraya bangkit dari duduknya.


Naina juga bangkit dan berjalan menuju pintu keluar. Ethan mengikutinya dan membukakan pintu, membuat Randy bangkit dati duduknya dengan segera.


"Pak Ethan butuh sesuatu?" tanyanya.


"Kamu tolong antarkan Naina ke toilet!"


"Baik Pak."


Ethan mengangguk, dengan segera ia menutup pintu ruangannya dan meninggalkannNaina dengan Randy.


Bersamaan dengan pintu yang tertutup perlahan, Naina dapat melihat Ethan yang menghampiri Zoya seraya memeluk wanita itu.


Randy juga menyaksikan, melihat dari matanya, ia cukup peka pada perasaan Nainam Gadis itu pasti tengah kesakitan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2