
Naina tak mengerti saat ternyata Zoya dengan Selin membawanya ke salah satu store di sebuah pusat perbelanjaan. Meski sesekali berdesakan dengan fans Zoya yang tampak exicted saat melihat wanita itu. Beruntung Ethan mengirimkan beberapa bodyguard yang setidaknya membuat Zoya nyaman dan merasa aman.
"Kamu mau pergi ke mana?"
"Aku udah bilang rahasia."
"Kalau saya tau kemana kamu pergi, setidaknya saya merasa jauh lebih baik."
"Mmm. Aku mau belanja,"
Ethan mengangguk saat yakin jika wanita itu tidak berbohong. "Biar saya hubungi beberapa bodyguard."
"Oke, thanks Hubby."
"Enggak papa kalau Mbak Zoya cuekin fansnya?" pertanyaan Naina yang berdiri di sampingnya menyadarkan Zoya dari lamunan. Ia sempat melihat Selin sebentar yang tengah melihat - lihat deretan dress.
"Bukan cuek, cuma kan ini me time buat saya. Kalau saya kasih izin satu orang buat foto bareng. Yang lain gimana?"
"Dan kalau saya foto sama semuanya. Yang ada acara kita gak berjalan lancar." ungkap Zoya. Naina yang sejak tadi mendengarkan mengangguk - anggukan kepalanya.
"Ternyata repot yah jadi artis." sahutnya setelah beberapa saat. Zoya tersenyum.
"Mmm, gak selamanya seneng dan gak selamanya repot juga, sih." Zoya menyahut setelah mempertimbangkan.
"Ada beberapa moment yang ngebuat kita bersyukur berkecimpung di dunia entertainer."
"Dan gak sedikit juga hal yang buat kita ngeluh dalam dunia hiburan ini." terang Zoya. Naina tampak tersenyum tipis. Zoya juga balas tersenyum, membayangkan kilas balik dirinya selama berkecimpung di dunia entertaiment. Dan bagaimana bisa ia berakhir dan stuck dengan Ethan.
Pria angkuh, lagi cuek yang bukan tipenya sama sekali. Orang yang seharusnya bahkan tak masuk dalam circle kehidupannya. Namun takdir berkata lain saat justru Zoya merasa tak akan jatuh cinta pada pria lain lagi kecuali hanya Ethan. Belum lagi ia memiliki Agyan dengan Freya. Mertua baik hati yang sangat mencintainya. Juga seorang adik ipar yang baik pula.
"Gimana, Zoy?" Zoya tersadar saat suara Selin menginterupsinya, menatap Naina yang sudah mencimoba gaun yang dipilih olehnya. Naina tampak menatap Zoya dengan canggung, pun ia merasa tak nyaman memakai dress atau pun pakaian sejenisnya karena tidak terbiasa.
"Enggak nyaman, yah?" Zoya bagai mengerti. Naina mengangguk canggung. Zoya hanya tersenyum dan mengangguk - anggukan kepala. Menilik penampilan Naina. Off shoulder dress warna merah yang terlihat cocok di tubuh Naina yang berkulit putih.
"Cantik, cantik banget." pujinya, membuat gadus itu tersipu. Selin tersenyum mengangguk, setuju dengan penilaian yang Zoya berikan.
Setelah membeli banyak pakaian untuk Naina dan membuat gadis itu merasa tidak enak karena sudah menghambur - hamburkan uang majikannya, kini gadis itu harus pasrah saat dirinya disuruh berdiam diri sedangkan seseorang melakukan sesautu hal pada rambut dan wajahnya.
Zoya dan Selin duduk menunggu di sofa. Merasa jenuh, Zoya mengambil ponsel dari tasnya, namun dahi wanita itu mengernyit setelah beberapa saat karena tak mendapati benda yang ia cari.
"Kenapa Zoy?" tanya Selin saat Zoya terlihat kebingungan.
"Handphone. Handphone aku mana?"
**
Ethan dengan Randy yang sudah menyelesaikan pekerjaan hanya duduk sambil menonton televisi, sesekali mengobrol membahas hal random sampai denting suara ponsel membuat Ethan mengalihkan tatapan pada sebuah ponsel yang berada di atas meja kaca di ruang utama tersebut.
Ethan mengernyit saat menyadari jika ponsel yang berdenting adalah ponsel istrinya. Sepertinya Zoya melupakannya. Tangan pria itu meraih benda canggih tersebut. Matanya menajam saat melihat tampilan notifikasi pada layar ponsel. Pesan dari nomor baru.
085*********
Zoya, how are you?
This is Edrin.
Kamu ambil film yang ditawararin manajer kamu? Kalau iya, berarti kita punya project bareng. Again.
Ethan segera beringsut dari duduknya setelah membaca pesan tersebut dan berjalan ke teras, Randy menatapnya heran dengan mulut mengunyah pelan. Mengangkat bahu acuh, Randy memilih tidak perduli dan kembali menonton tv yang sedang menayangkan pertandingan ulang sepak bola grub kesayangannya.
Sementara Ethan di teras tengah menempelkan benda pipih yang dibawanya pada daun telinga. Tidak butuh waktu lama baginya untuk panggilan segera terhubung dan suara orang di ujung sana langsung dapat ia dengar.
"Hallo, Zoya. Ada apa menelpon?"
"Kita udah lama nggak ketemu."
"Ini suaminya Zoya." sahut Ethan tanpa basa - basi, menegaskan kalimat singkat yang dikatakannya tersebut. Orang di ujung sana diam.
__ADS_1
"Ini Edrin?" tanya Ethan kemudian dengan senyum smirk.
"Jangan harap Zoya nerima tawaran film yang kamu maksud!"
"Dan jangan menghubungi Zoya!" finalnya. Memutus sambungan telpon secara sepihak dengan raut wajah tidak bersahabat. Perasaannya gusar dan membuatnya berpikiran macam - macam.
Terutama mengingat keakraban Zoya dengan pria itu saat mereka terlibat kerja sama berbulan - bulan yang lalu.
Zoya kembali dengan Selin dan Naina pukul empat sore di mana ketiganya puas menghabiskan waktu bersama. Randy belum pulang sampai saat itu, ia masih asik menonton tv ..., dan membuat ruang utama rumah lumayan berantakan dengan beberapa bantal sofa yang tergeletak sembarangan, juga remahan - remahan dab bungkus camilan. Zoya harus mengubah presepsinya. Bukan lumayan, tapi berantakan. Sangat brantakan.
Namun, Zoya tidak perduli. Ia celingukan mencari keberadaan Ethan. "Ethan mana?" akhirnya bertanya pada Randy saat tak menemukan batang hidung suaminya.
"Tadi katanya mandi, mmm ..., itu dia." tunjuk Randy yang membuat Zoya dan Selin menoleh. Ethan muncul dari arah dapur dengan segelas air putih di tangannya. Pria itu tampak segar dengan rambut basah yang terlihat agak berantakan.
Zoya berjalan mendekat dan menggandeng pinggang sang suami, Ethan balas merangkul bahu istrinya dengan perasaan dongkol mengingat Edrin yang menghubungi Zoya. Padahal Ethan ingat dengan baik jika setelah syuting antara Zoya dengan Edrin usai, ia sudah menekan ikon block untuk nomor Edrin. Tapi pria itu masih saja mencoba menghunungi Zoya.
"Aku punya kejutan." sahut Zoya, mendongak pada suaminya.
"Oh, yah, apa?" berpura - pura, penasaran akan menjadi cara terbaik untuk membuat istrinya senang.
"Hmmm, Naina." Zoya sedikit berteriak, tak lama Naina muncul dengan perlahan karena tidak terbiasa mengenakan alas kaki dengan hak tinggi.
Pipi gadis itu tampak bersemu karena tersipu, ia sudah menolak untuk dijadikan bahan kejutan karena marasa malu, namun seperti biasa Zoya selalu tidak bisa ditolak dan ia pun tidak dapat menolak keinginan majikannya tersebut.
Randy dengan Ethan menatap Naina dengan tatapan takjub, merasa pangling dengan Naina yang sekarang. Tampilan modis yang menunjang penampilannya membuat Naina semakin terlihat begitu cantik dan anggun.
"Cantik," puji Ethan dengan senyum tulus dan tatapan mata yang hangat, sejenak Zoya yang melihat hal itu sedikit merasa terganggu dengan tatapan Ethan. That look was only for her. Only for Zoya.
"Ternyata benar adanya, bidadari itu memang tak bersayap." Randy bergumam dengan mata yang mengarah satu garis lurus pada Naina. Selin menatap pria itu sekilas, anehnya ada perasaan tak biasa di hatinya melihat hal tersebut.
"Jadi, sekarang Naina tuh jadi asisten aku." sahut Zoya, otomatis membuat tatapan Ethan beralih padanya. Pria itu mengernyit.
"Urusan rumah?" tanya Ethan dengan kerutan yang kian dalam di dahinya.
"Saya bisa urus hal itu, Pak." Naina menyahut. Ethan hanya mengangguk. Bisa atau tidak, ia tak akan memaksa atau pun perduli.
"Than, Zoy, Na. Aku pamit, yah. Thanks for everything." sahutnya, sekilas matanya mengerling pada Naina. Kemudian berlalu dengan cepat menuju pintu keluar.
Zoya menggeleng melihat tingkah pria itu. "Dia Randy apa bukan, sih? Absurd banget,"
"Kebanyakan ngemil." Ethan menyahut seraya menunjuk bungkus makanan ringan yang banyak mengandung micin berserakan di atas meja. Kemudian ia sadar jika ..., "Randy tau stok sereal aku?" wajah Zoya berubah keruh melihat dus sereal di sana. Ethan juga tampak baru sadar, ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal melihat Zoya yang tampak kesal.
"Selin, mau pulang bareng?"
"Aku bawa mobil."
Tunggu, sejak kapan aksen panggilan mereka berubah jadi 'aku kamu' yang terdengar akrab? Sejak liburan di pulau kemarin. Atau sejak keduanya menyelesaikan kasus Fahry - Zoya - Ethan dan Zoya - Ethan.
Sejak saat itu? Maybe.
"Enggak papa, kita mampir di ..., mm, restoran, kafe atau–"
"Ternyata benar adanya, bidadari itu memang tak bersayap."
Randy mengernyit mendengarnya, kemudian ia tersenyum dan berjalan mendekat pada mobil wanita itu, lantas bersandar pada body mobil.
"Kamu cemburu?" tanya Randy, Selin yang sudah membuka pintu mobilnya tersenyum.
"Aku enggak punya hak buat cemburu." wanita itu masuk ke dalam mobil dan mulai menghidupkan mesin, membunyikan klakson dengan nyaring saat pria itu tak kunjung beranjak dari menjauh dari mobilnya.
Randy mengangkat kedua tangan ke udara, menjauh dari mobil wanita itu. Tersenyum menatap mobil Selin yang meninggalkan pelataran rumah Ethan. Tak lama, ia juga melangkah menuju mobilnya sambil bersiul dengan gembira.
Tebak bagaimana suasana hatinya? Hmm. rasa bahagia yang berantakan.
**
Sementara Zoya merapikan diri, Ethan turun ke lantai bawah, ia melihat Naina yang kerepotan membawa barang belanjaannya ke dalam rumah. Kaki gadis itu tampak kerepotan dengan heels yang dikenakannya.
__ADS_1
Ethan memilih tak perduli, ia terus melangkah keluar rumah dan duduk di kursi teras. Tak lama, gadis itu kembali untuk mengambil dan menyimpan sisa barang belanjaan yang masih berada di mobil milik Ethan, karena mereka pergi dengan mobil pria itu. Mau taknmau membuat hati Ethan tergerak untuk membantunya.
"Biar saya bantu." sahut Ethan karena gadis itu tampak kerepotan dan belum menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga.
"Enggak papa Pak."
Ethan tidak menerima penolakan, ia berjalan melewati gadis itu yang berada pada undakan tangga beranda teras. Ethan mengambil tiga paper bag yang tersisa, sedangkan Naina hanya berdiri di tempatnya tadi, menatap Ethan yang membantunya dengan murah hati.
Ethan berada di belakangnya, satu paper bag di tanganya dengan sialnya justru terjatuh karena tergelincir, membuat pria tampan itu terpaksa membungkukan badan guna mengambil paper bag tersebut. Naina yang menatapnya menghela napas, mulai melangkah pergi agar pekerjaannya segera selesai dan ia bisa mengerjakan yang lain, namun nahas saat nasib baik tak selalu berpihak padanya ketika ia hilang keseimpangan begitu heelsnya membuat kaki mungil itu tergelincir. Gadis itu hanya mampu membulatkan mata dan mulut tanpa sempa menjerit, tubuhnya terjengkang ke belakang. Menabrak benda keras yang membuat punggungnya terasa sakit namun tak sesakit yang dibayangkannya. Beruntung satu kakinya masih mampu menahan tubuhnya.
Naina mengatur napasnya yang berantakan. Apa ia sudah meninggal? kenapa tubuhnya seperti melayang di udara?
"Kamu berat Naina."
Gadis itu membulatkan mata saat memdengar suara parau seorang pria. Dan ia menyadari jika ternyata punggungnya jatuh tepat di punggung Ethan dalam posisi tubuh pria itu yang setengah membungkuk. Naina ketar - ketir namun tak ada yang bisa dia lakukan kecuali spontan bangun. Dengan resiko pinggang afau kakinya patah? Tentu tidak mungkin untuk ia lakukan.
"Pak, maaf. Tapi saya gak bisa berbuat apa - apa." sesalnya dengan perasaan tidak enak karen pasti Ethan merasa pegal dan berat.
Ethan memejamkan matanya sekilas. Ia tau hal itu karena postur tubuhya yang tinggi dan membuat posisi Naina serba salah.
"Kamu pelan - pelan pegang tangan saya." sahut Ethan seraya mengulurkan tangannya. Ragu, tapi Naina tetap meraihnya karena tak memiliki pilihan kecuali hanya itu, untuk pertama kali baginya menyentuh tangan besar majikannya.
"Kamu tenang, biar saya turun pelan - pelan." sahut Ethan yang perlahan merendahkan tubuhnya.
"Ini kenapa?" tanya Zoya yang muncul dari dalam rumah.
"Sayang, kamu tolong bantu saya."
Zoya setengah berlari menghampiri keduanya, meraih dan menahan tangan Naina kemudian sedikit menariknya hingga gadis itu mampu berdiri tegak. Begitu juga Ethan, pria itu meringis seraya meregangkan tubuhnya, kemudian mengusap pinggangnya yang terasa pegal.
"Kamy nggak papa, 'kan?" Ethan mengernyit saat istrinya justru lebih mengkhawatirkan keadaan Naina daripada dirinya.
"Sayang, yang sakit itu saya."
"Naina juga," Zoya menyahut.
"Dia ini asisten aku. Gimana kata orang kalau ada gosip aktris AE RCH gak perduli sama asistennya?"
"Aku bos kamu!" Ethan menegaskan, Zoya tersenyum pada pria itu. Tapi kemudian kembali beralih pada Naina.
"Enggak apa - apa, 'kan?"
"Enggak Mbak."
"Pas pertama pake heels emang kaya gitu. Susah, yah?"
Gadis itu mengangguk. " Enggak papa, yah, nanti terbiasa." Zoya menghibur, lantas menggandeng Naina masuk ke dalam rumah dan meningglkan Ethan. Pria tampan itu memutar bola mata jengah, menatap beberapa paper bag milik Naina kemudian mengambil dan membawanya masuk. Mengikuti langkah dua wanita itu.
"Kamu yakin nggak papa?" Zoya bertanya sekali lagi. Naina mengangguk canggung.
"Enggak papa Mbak." sahutnya meyakinkan. Namun begitu, perasaannya berdebar. Kilasan kejadian tadi kembali berputar di kepalanya. Seharusnya ia tidak perlu menerima uluran tangan Ethan. Seharusnya hal itu tidak ia lakukan. Seharusnya tawaran itu tidak ia terima dengan mudahnya.
TBC
Thor, kok Randy plin - plan gitu, sih. Jadi dia sukanya siapa. Naina atau Selin?
Hmm, gimana, yah, cowok kan emang gitu. Wkwk, kita tunggu aja Randy nentuin pilihan.
Nah, 'kan thor, Naina jadi plakor, tuh.
Sebaik Naina mau jadi pelakor? Big no.
Lagian, mana tega sih, Naina ngancurin kebahagiaan Zoya yang sebegitu baik sama dia. Hmm.
Semangat untuk puasa haru ini🤗
Bentar lagi lebaran, nih. Itu yang nggak komen bete, yah, karena belum beli baju baru?😆
__ADS_1