
"Kalau begitu jelaskan pada Momy–" Rachel membuka isi amplop cokelat miliknya dan mengeluarkan isinya tepat di atas meja, di hadapan Ethan. "Apa maksud foto-foto ini?"
Ethan hanya mematung dengan raut terkejut melihat lembaran foto saat ia bersama dengan Naina di Bandara ketika mereka akan berangkat ke Maladewa.
"Jelaskan Ethan! Apa maksud ini semua?" kali ini nada tanya Rachel tampak mendesak. Ethan hanya diam di tempatnya, berbeda dengan Alexa yang berdecak seraya mengambil lembaran foto di mana di sana terlihat Ethan tengah bersama dengan seorang gadis dengan koper yang diseretnya.
"Wow, kamu sedang membuat masalah besar, Than?" decaknya, melihat satu demi satu foto hingga ia dapat melihat jelas wajah orang yang bersama dengan pria itu.
"Cantik, tapi tidak ada apa-apanya dibandingkan Zoya." sahut wanita itu seraya meletakan kembali lembaran foto tersebut ke atas meja setengah melempar. Sementara Rachel menatap pria itu dengan tatapan sengit. Ia benar-benar tidak habis pikir atas apa yang Ethan lalukan.
Hal yang lebih parah lagi, ternyata Zoya yang mengantarkan dua orang itu ke Bandara. Ada hal yang tidak Rachel mengerti, lebih tepatnya hal yang tidak ingin ia percayai. Jika memang hal itu benar, ada sesuatu di antara Ethan dengan gadis di dalam foto, lantas atas dasar apa Ethan dengan Zoya melakukannya?
Rachel masih menunggu jawaban Ethan yang hanya diam mematung di tempatnya. "Alexa," panggil Rachel kemudian. Sekalipun Rachel tidak menatapnya–karena pandangan Rachel tetap pada Ethan– ia tahu apa yang sang momy maksudkan sehingga dengan gelagat anggunnya, Alexa bangkit dari duduk dan berlalu meninggalkan ruangan, membiarkan Ethan hanya berdua dengan sang momny.
"Jelaskan kepada Momy dengan sejelas-jasnya tanpa ada yang ditutupi. Untuk menyembunyikannya dari media, Momy harus tahu lebih dulu kejelasannya." sahut Racel guna meyakinkan pria itu untuk bercerita begitu hanya ada mereka berdua di sana.
"Dengarkan ini Ethan, jika foto ini tersebar ke media. Kamu bayangkan sendiri bagaimanan spekulasi mereka nanti. Di sisi pertama, kamu akan tampak buruk sebagai suami, rumah tangga kalian akan jadi bahan gunjingan."
"Dan di sisi lain, atas nama AE RCH, nama baik gedung agensi kita akan tercoreng karena skandal ini."
"Kamu akan merugikan banyak pihak!" panjang lebar Rachel, ia bagai bisa menerawang ke depan andai media tahu mengenai hal ini. Tidak bisa dibayangkan, pasti akan sangat kacau.
Ethan masih hanya diam di tempatnya, tapi otaknya bekerja. Setelah Rachel tampak sudah dapat menduga apa yang terjadi antara dirinya dengan Naina, Ethan sudah tidak bisa mengelak lagi.
Ia juga sudah dapat memprediksikan apa yang sekiranya akan terjadi andai skandal dirinya dengan Naina tersebar di hadapan publik. Ethan tak dapat membayangkan akan seberapa kacau hal itu berdampak pada kehidupannya, pernikahannya dan juga karir keartisan Zoya.
"Selain itu, wanita dalam foto tersebut adalah asisten rumah tangga kalian dan juga asisten Zoya." sambung Rachel lagi, Ethan hanya menganggukan kepalanya, mengerti.
"Oh, dan satu lagi." sahut Rachel, kali ini nada bicara wanita itu tampak lemah dan lelah. "Ini bukan foto pertama." sambungnya yang membuat Ethan keheranan. Dahinya berkerut menatap Rachel, meminta kejelasan.
"Maksud Momy?"
"Sebelum ini, Momy juga sudah pernah menerima foto saat kamu dengan Naina berada di halaman rumah sakit. Ada apa sebenarnya dengan kalian?"
"Apa yang kalian lakukan di Rumah Sakit?"
Ethan benar-benar tidak bisa lagi mengelak, ia terlanjur tertangkap basah sehingga ia memilih untuk menceritakan semuanya pada Rachel tanpa ada sedikitpun yamg terlewat.
Sepanjang ia bercerita jika Naina pernah melakukan inseminasi buatan agar Ethan dengan Zoya memiliki anak hingga pada akhirnya Ethan harus menikah dengan Naina, Rachel tampak begitu terkejut, ekspresi yang sudah dapat Ethan tebak.
Bagaimanapun, mendengar dari apa yang pria itu ceritakan, semua tampak terdengar sulit memang. Rachel dapat mengerti, meski tetap saja ia benar-benar menyayangkan tindakan nekad yang dilakukan Ethan dengan Zoya.
"Sebisa mungkin Momy tidak akan membiarkan skandal kalian sampai ke media." sahut Rachel, seketika perasaan Ethan menjadi tenang. Setidaknya, Rachel berdiri di pihaknya jika jalan yang sudah ia dan Zoya ambil sudah sesuai dengan takdir.
"Tapi hati-hati, jangan terlalu mencolok agar media tidak akan curiga." Rachel mewanti-wanti.
"Siap Mom."
"Terimakasih." ucapnya dengan senyum tulus, Rachel mengangguk dengan senyuman tak kalah tulus. Ia menatap pria hang sudah dianggap seperti putranya sendiri itu dengan sorot iba. Siapapun yang ada di posisi Ethan pasti merasa kesulitan.
"Oh, yah, bagaimana film terbaru yang akan dibintangi Zoya? Momy dengar film itu digadang-gadang akan jadi film terbaik akhir tahun nanti." Rachel mengalihkan topik guna mencairkan suasana. Ethan hanya mengangguk-anggukan kepala.
"Doakan saja Mom, Zoya sangat antusias terhadap film ini."
"Hmm, bagus. Kamu tidak masalah lawan main Zoya itu Edrin Nicolas?" tanya Rachel kemudian mengingat jika Ethan pernah sangat cemburu terhadap pria itu.
"Sangat bermasalah." Ethan menyahut dengan raut kecewa. Kenyataannya hal itu memang bermasalah, tapi Ethan berhasil menyelesaikannya meski ia tidak sepenuhnya percaya pada Edrin jika pria itu akan mematuhi kesepakatan yang Ethan minta. Ethan tidak yakin pria itu akan sungguh-sungguh dengan keinginannya.
"Tapi Ethan memutuskan untuk percaya pada Zoya." sambung pria itu dengan tenang, kali ini Ethan terdengar jauh lebih serius dari sebelumnya.
__ADS_1
"Bagus kalau gitu, kepercayaan di dalam sebuah hubungan itu sangat penting."
***
"Jadi Ibu Rachel tahu semuanya sekarang?" tanya Randy, sedikit terkejut saat Ethan menyampaikan fakta tersebut padanya. Ethan yang duduk pada kursi kebesarannya dan menyandarkan punggunya ke belakang dengan mata terpejam dan tangan yang menyilang di atas dadanya hanya mengangguk.
Randy mendesah, mendadak tidak tenang. Ia percaya pada Rachel sepenuhnya jika pasti wanita itu akan menyimpan rahasia tersebut dengan aman guna menjaga nama baik AE RCH dan juga Ethan, juga pernikahan pria itu.
Hanya saja, rasanya semakin banyak yang tahu hal tersebut maka rahasia menjadi sangat tidak aman.
"Lalu bagaimana, apa yang Ibu Rachel katakan? Dia pasti akan menjaga rahasia ini kan Pak?" tanya Randy lagi, heboh sendiri. Ethan kali ini membuka matanya dan menatap Randy.
"Semoga saja yah, dia bilangnya begitu."
"Pak Ethan percaya?"
"One hundred percent." jawab Ethan santai.
****
Waktu menunjukan pukul delapan malam saat Zoya sudah mulai bosan menunggu kepulangan suaminya. Ethan bilang jika kemungkinan pria itu akan pulang sedikit lambat.
Beberapa tabloid terbaru sudah Zoya baca guna mengalihkan perhatiannya, ia terlihat sangat bosan. Bahkan Naina yang ia minta untuk menemaninya juga tampak sudah mengantuk, gadis itu merebahkan kepalanya di atas meja kaca. Dia memang duduk lesehan di atas karpet. Zoya mengajaknya untuk duduk saja di sofa tapi Naina menolak dan bilang kalau di sedang kepanasan, sehingga duduk di atas karpet terasa jauh lebih baik.
"Naina," panggil Zoya, kali ini wajahnya tampak sumringah memanggil Naina. Wanita itu seperti baru saja mendapat harta karun.
"Iya Mbak?"
"Kamu mau lihat sesuatu nggak?" Zoya bertanya random yang tidak dapat langsung dimengerti oleh Naina.
"Maksud Mbak?"
"Untuk apa Mbak?" ia justru balik bertanya. Zoya berdecak melihat kepolosan gadis itu. Sehingga kemudian Zoya segera beranjak dari posisinya dan menarik tangan Naina. Setengah menyeret gadis itu karena Naina tampak belum siap.
Keduanya berjalan dengan cepat menapaki anak tangga menuju lantai dua. "Kita mau kemana, sih Mbak?" tanya Naina saat Zoya berjalan membawanya menjauh dari kamar utama hingga keduanya berdiri pada pintu di yang terletak paling ujung di lantai dua.
Ini kali pertama Naina menginjakan kaki di sana. Selama berbulan-bulan bekerja dengan Ethan dan Zoya, ini adalah kali pertama Naina menginjakan kaki di sana. Karena selama ini, Ethan dengan Zoya sendirilah yang merawat lantai dua rumah mereka.
"Ini ruangan apa Mbak?" Naina bertanya setengah ragu, ia menilik penampakan pintu yang berbeda dari pintu-pintu lain di rumah tersebut di mana pintu di hadapannya dilengkapi dengan handle kunci pintu elektrik.
"Ini ruang perpustakan Ethan, kamu mau tahu isinya?" tawar Zoya sebelum ia memasukan password untuk masuk.
"Boleh memangnya Mbak? Mas Ethan nggak akan marah?"
"Ethan belum pulang, santai aja. Aman." sahut Zoya dengan begitu entengnya, ia memasukan password dan membuka pintu. Lantas menarik tangan Naina untuk masuk.
Tidak ada yang istimewa di dalam sana saat Naina masuk. Semua tertata dengan semestinya di tempatnya seperti yang sering ia lihat di ruang-ruang kerja dalam sebuah film.
Rak-rak yang berdiri kokoh dengan banyak buku yang tersusun rapi di sana. Juga kursi dan meja kerja, serta terdapat sofa bed berwarna monokrom dekat dengan perapian gantung.
"Itu meja kerja Ethan." beritahu Zoya pada apa yang dilihat oleh Naina. Naina hanya mengangguk, lantas melanjutkan menyapu setiap sudut ruangan.
Selain itu, juga ada televisi di sana, dengan lemari pendingin berukuran kecil di sampingnya. Sebuah matras dengan dua bantal tampak rapi seolah tak tersentuh debu.
Ruangan tersebut terlihat begitu klasik dan elegan dengan beberapa lukisan tokoh dunia yang menghiasi dinding. Sangat menakjubkan.
"Naina." panggialn Zoya mengalihkan perhatian Naina. Gadis itu melangkah menghampiri Zoya yang tengah berdiri di depan beberapa buku yang melayang, menempel begitu saja pada dinding.
Tidak ada ilmu sihir di sini, hal itu hanya tipuan mata dari rak buku minimalis. Karena sesungguhnya buku buku tersebut diletakan pada besi penopang tipis yang kuat dan disatukan dengan dinding.
__ADS_1
"Buku-buku ini milik Mas Ethan?" tanya Naina melihat sampul-sampul buku yang tampak cantik. Zoya mengangguk. "Semua yang ada di sini milik Ethan."
"Mau lihat kejutan selanjutnya?" tanya Zoya, Naina hanya terheran-heran di tempatnya.
"Kamu akan kaget." sahut Zoya dengan senyuman, tidak sabar untuk memperlihatkan ruang rahasia Ethan yang menjadi tempat Favoritnya, Zoya lantas menggeser salah satu buku dengan sampul tebal berwarna hitam yang berada di rak buku melayang.
Naina hanya memperhatikan, sebuah dinding partisi berjarak sekitar lima belas centi meter dari rak buku tampak bergerak, membuka sebuah ruangan gelap yang terlihat menyeramkan.
Zoya yang melihat keterkejutan gadis itu tersenyum, ekpresi yang Naina tunjukan adalah ekpresi sama yang Zoya keluarkan saat dulu Arasy menunjukan ruangan ini padanya. Zoya lebih dulu masuk dan membuat Naina mau tidak mau akhirnya melangkah mengikuti.
"Welcome Naina." sahut Zoya seraya merentangkan tangan sebagai bentuk penyamputan untuk Naina.
Setelahnya Zoya bertepuk tangan membuat lampu otomatis di ruangan tersebut menyala. Membuat Naina kiab takjub akan hal itu, ia seperti mendapat sebuah keajaiban.
Hingga selanjutnya, perhatiannya teralihkan penuh pada banyak figura yang tertata di ruangan tersebut, terutama figura paling besar yang terpajang dengan cantik di sana.
Ruang tersembunyi, di ruang rahasia. Sepertinya kata tersebut sangat cocok untuk mendeskrpsikan ruangan menakjubkan milik Ethan yang baru saja Naina lihat.
Ia benar-benar terpana pada semua figura dalam ruangan tersebut. Di mana semuanya adalah wajah cantik Zoya. Ethan benar-benar sangat mencintai wanita itu.
Naina menatap Zoya, wanita itu sangat beruntung. Sangat beruntung.
"Gimana ruangannya?" Zoya meminta pendapat Naina. Rupanya gadis itu masih tampak terkejut setelah mereka tiba di ruang rahasia.
"Mbak Zoya, apa maksud Mbak nunjukin ruangan ini ke saya?" tanya Naina. Jika Zoya ingin menunjukan padanya sebesar apa Ethan mencintai wanita itu, maka rasanya hal tersebut sangat tidak diperlukan.
"Ikut saya!" Zoya meraih tangan Naina, mengajaknya duduk pada sebuah loveseat berwarn hitam di sana. Sedangkan Zoya beranjak pada sebuah brankas, membuka brankas tersebut setelah memasukan passwoard.
Zoya kembali dengan sesuatu di tangannya. Duduk di samping Naina. "Ini album foto Ethan pas SMA." sahut Zoya, Naina hanya diam memerhatikan.
"Grandma Grrycia alumni Ghalapagos, Grandfa Andreas pernah ngajar di Ghalapagos. Ayah sama Bunda juga sekolah di Ghalapagos." beritahu Zoya sekalipun Naina belum menangkap apa maksudnya.
Zoya membuka lembar demi lembar album foto, menunjukannya pada Naina agar gadis iyu melihatnya. Diam-diam Naina tersenyum, Ethan begitu tampan di masa sekolahnya.
"Ethan ganteng, yah." ucap Zoya yang membuat Naina tampak terkejut. Seolah Zoya dapat membaca isi kepalanya, Naina merasa tertangkap basah. Zoya menoleh dan tersenyum pada Naina, wanita itu juga tersenyum meski terlihat canggung.
Zoya memilih kembali membuka lembar demi lembar album yang didominasi oleh foto Ethan dan Arasy, juga pohon di belakang gedung sekolah yang Naina tidak tahu apa maksudnya. Naina hanya terus memerhatikan.
Sampai foto selanjutnya membuat Naina mengerutkan kening begitu di balik pohon itu ternyata ada seseorang.
"Siapa?" tanya Naina, ia memerhatikan orang yang berada dalam foto hingga ia menyadari jika siswi dalam foto tersebut adalah Zoya.
Jadi Zoya dan Ethan satu SMA?
"Arasy bilang kalau Ethan suka saya sejak SMA." beritahu Zoya, wanita cantik itu mengukir senyum tipis.
"Saya kaget waktu itu, saya nggak nyangka sama apa yang Arasy bilang ke saya." sambungnya, menoleh pada Naina yang masih diam tak mengerti di tempatnya, tapi ia mendengarkan.
"Rumah ini dibangun dua tahun sebelum saya menikah sama Ethan, dan ruangan ini beserta semua figuranya sudah ada jauh sebelum saya di sini." sambungnya lagi. Naina mulai mengerti, jika maksud Zoya. Rumah ini barangkali adalah rumah impian Ethan.
Bahkan Ethan menyiapkannya jauh sebelum pria itu menikahi Zoya yang artinya apapun yang terjadi, Ethan akan berusaha menikahi Zoya bagaimanapun caranya.
"Mas Ethan hebat." decak Naina dengan tatapan tak terbaca.
"Iya, Naina. Etham hebat, 'kan?" Zoya meboleh pada wanita itu, menatap Naina dalam-dalam dan mematri gadis itu, seolah mengatakan ;
Jika Ethan adalah miliknya. Pria itu dan cintanya adalah milik Zoya. Tolong jangan berpikir untuk bisa memiliki Ethan dan merebut posisi Zoya. Jangan berharap seperti itu.
TBC
__ADS_1