Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Cameo Pencuri Hati


__ADS_3

Sepanjang perjalanan dari rumah menuju sirkuit, Agyan cukup merasa heran ketika melewati orang-orang yang terus menerus menatapnya dengan berbagai ekpresi.


Tak jarang bahkan para remaja memberikan finger herart padanya ala orang korea. Beberapa dari mereka memanggilnya dengan sebutan Mas Pelatih Tampan, yang tidak Agyan ketahui apa artinya.


Agyan benar-benar tidak mengerti dengan kesalahan apa yang sudah ia lakukan. Sehingga ia mendapat banyak sekali tatapan tak terbaca dari orang-orang dan ia merasa terhakimi.


Agyan memarkirkan motornya di parkiran sirkuit dengan mulus. Mengusir berbagai pertanyaan di kepalanya karena ia harus fokus bekerja.


"Gyan!"


Agyan turun dari motor sambil melepas helm yang dikenakannya, Gavin sudah berdiri di hadapannya. "Gak nyangka gue, Gyan." sahutnya sambil menggandeng Agyan berjalan, para anak cewek dari club yang memiliki jadwal latihan menghampiri mereka sambil menentang ponselnya masing-masing.


"Mas Agyan, selamat, yah."


"Nggak nyangka kalo Mas Agan sekarang jadi artis."


"Sumpah, ini keren banget."


"Padahal cuma cameo,"


"Disini Mas Agyan gantengnya makin parah."


"Serasa ingin memiliki."


Agyan hanya mengernyitkan dahi saat para cewek yang sering mencari perhatiannya di sirkuit itu membanjirinya dengan pujian yang tidak dapat ia mengerti.


"Ada apaan, sih?" Agyan terlihat bingung dengan situasi yang sedang terjadi.


"Loe gak tau, Gyan?" Gavin justru tampak heran. "Kasih liat, guys!" suruhnya sambil mengibaskan tangan.


Salah satu gadis di antara mereka menyodorkan ponselnya pada Agyan. Agyan mengernyit saat namanya menjadi topik panas dalam beberapa situs berita online. Berikut sebuah vidio scenenya dalam film yang sekarang sedang digandrungi masyarakat.


Beberapa headline tertera di sana, termasuk bagaimana pendidikan terakhir yang ditempuh Agyan yang rupanya sudah dikorek para pengincar berita.


"Loe masuk tv, berita, medsos juga rame ngomongin loe!" beritahu Gavin setelah Agyan mengembalikan ponsel pada pemiliknya.


Agyan tidak terlihat senang sedikitpun, ia hanya terkejut dan segera berlalu dari sana. "Mas Agyan, ih, kan belum minta tandatangan. Belum foto bareng juga."


"Artis sombong!" decak Gavin.


"Mas Gavin!" para gadis yang sudah menobatkan diri sebagai fans berat Agyan bahkan sebelum Agyan menjadi artispun, berteriak tidak terima. Dan Gavin hanya mengangkat kedua tangannya saja.


"Sayang—"


"Gyan, kamu udah buka sosial media?" Freya langsung bertanya saat Agyan menelponnya. Freya cukup merasa terkejut saat ia menyalakan televisi dan melihat wajah suaminya di dalam beberapa berita yang sedang tayang pagi ini.


"Iya, udah. Makannya aku telpon kamu, Sayang. Kamu nggak marah, 'kan?" Nada bicara Agyan tampak khawatir. Karena ia tidak membicarakan pada Freya sedikitpun jika ia ikut melaksanakan syuting dengan tiba-tiba.


Ia tidak tau jika akan seheboh ini saat wajahnya menghiasi layar kaca.


"Marah kenapa?"


"Aku takut kamu marah karena—" Agyan tidak tau harus menjelaskannya dari mana. Akan sedikit sulit membicarakannya melalui sambungan telpon.


"—Nanti pulang aku ceritain, yah, Sayang. Aku tutup telponnya."


"Iya."

__ADS_1


Sambungan terputus, Freya menatap ponselnya. Beberapa berita selebritis di tv masih membahas tentang Agyan dengan berbagai headline, salah satunya adalah. 'Cameo Pencuri Hati'


Freya mengotak atik ponselnya, ia membuka youtube dan Agyan masih menjadi perbincangan hangat di sana dengan berbagai headline yang membuat siapa saja penasaran.


Freya membuka cuplikan vidio dari scene film yang menampilkan Agyan, yang membuat semua orang justru salah fokus pada ketampanan pria itu. Berbagai ungkapan pujian membanjiri kolom komentar, Freya memberanikan diri untuk membacanya.


Ini bener-bener Cameo Pencuri Hati.


Yaampun, emaknya pas hamil ngidam apaan yah, anaknya ganteng banget.


Cuma ngedip aja cakep.


Nafas aja bikin gue mau pinsan.


Artis baru tanah air yang mengguncang jagat dunia, nih.


Please, semoga masih jomblo, yah.


Freya tertawa membaca kolom komentar, ia kemudian menggulir layar ponselnya dan melihat beberapa lagi bagian vidio.


Suaminya sedang menjadi bintang saat ini. Meski Freya belum tau pasti apa yang menyababkan Agyan berada dalam posisi ini.


Sama halnya dengan Freya, Grrycia selaku Mami Agyan pun amat terkejut saat nama putranya menjadi perbincangan hangat di berbagai media masa.


"Ini Agyan anak kita, 'kan, Mas?" Grrycia masih tak percaya saat ia menonton berita tv. Andreas yang sudah siap berangkat ke kantor dengan pakaian rapihnya hanya mengangguk, dengan mata yang terus mengarah ke layar tv.


"Kok bisa, Mas?"


"Mas tidak tau."


*


*


Rasanya, kepala Agyan ingin pecah saat ini. Ia merasa tidak terbiasa dan tidak nyaman. Di tengah kebingungannya, Arfat dan beberapa kru film menghampirinya dengan wajah semringah. Agyan tersenyum menyambut mereka.


"Selamat, yah, Agyan. Saya tidak menyangka, nama kamu begitu cepat melejit."


"Dan berkat kamu, film kita ada di rating pertama minggu ini." Arfat mengulurkan tangan pada Agyan. Agyan tentu menerimanya meski masih bingung dengan situasi saat ini.


"Semoga ratingnya tetap bertahan, Pak." ungkap Agyan dengan tulus.


"Mas Agyan nggak nyaman, yah." tanya Aryo dengan tersenyum canggung. Agyan mengangguk samar.


"Karena keberhasilan ini, saya mengundang kamu untuk datang pada acara syukuran nanti malam di perusahaan."


"Oh, yah. Dan satu lagi, Direktur Utama RCH Pictures ingin menemui kamu. Kamu datang, yah." Arfat menepuk bahu Agyan, mengucapkan terimakasih sekali lagi dan berlalu meninggalkan Agyan.


Beberapa kru di sana juga menyalami Agyan dan mengucapkan terimakasih atas keberhasilan yang sudah mereka capai berkat keberadaan Agyan. Aryo masih di sana, berdiri di samping Agyan.


"Mas Agyan mau ketemu Dirut?"


"Pokoknya Mas, orangnya cantik, bule."


Agyan mengernyit mendengar Aryo yang tiba-tiba saja berbicara. "Cewek?" tanyanya sambil menoleh pada Aryo.


Aryo mengangguk antusias karena Agyan mau berbicara dengannya.

__ADS_1


Agyan hanya mengangguk-anggukan kepala setelahnya. Ia masih bingung dengan posisinya. Tapi yang lebih penting, ia harus bekerja lebih dulu, atau Gavin akan memecatnya nanti.


Tepat pukul enam sore, Agyan sudah pulang. Atau lebih tepatnya ia sengaja pulang pada jam tersebut meski latihan berakhir pada pukul tiga sore. Agyan melakukannya demi menghindari orang-orang yang akan menghebohkannya.


Dengan kebanjiran anggota club saja Agyan sudah kewalahan, lebih dari lima puluh orang dengan mayoritas remaja mendaftar latihan di sirkuit Gavin karena mengetahui jika Agyan bekerja di sana.


Setelah ini, kehidupan Agyan mungkin akan berbeda. "Sayang—" dengan lemas ia menghampiri istrinya, memeluknya dan menyandarkan kepalanya pada pundak Freya sebentar.


"Cape, yah." Freya mengelus kepala suaminya. Agyan mengangguk samar diiringi gumaman kecil. Freya tau suaminya pasti lelah setelah seharian bekerja keras. Juga menghadapi kasus namanya yang tiba-tiba saja melejit.


"Tadi Mbak Tari hubungin aku." sahut Freya, mengingat Tari yang menghubunginya setelah melihat pemberitaan tentang Agyan.


"Apa katanya?"


"Enggak bilang apa-apa, sih. Cuma katanya dia seneng aja, kamu berkecimpung di dunia entertaint meski bukan dari agensi yang sama kaya dia."


Agyan menegakan kepalanya, ia menatap Freya dan mengelus salah satu sisi wajah sang istri.


"Istriku cemburu?"


Freya menggeleng, membuat Agyan mencebikan bibirnya. "Aku penasaran, kenapa kamu bisa tiba-tiba ikutan syuting dan jadi bahan pemberitaan gini?" Freya mengingat janji Agyan jika ia akan menceritakan detailnya pada Freya setelah pulang ke rumah.


"Karena pemeran yang seharusnya syuting tiba-tib aja nggak bisa dateng, aku ditawarin dan nggak bisa nolak."


Freya terkekeh tak percaya, Agyan berdecak tidak suka. Karena pada kenyataannya ia memang tidak suka wajah tampannya menjadi konsumsi publik.


"Malam ini aku diundang diacara syukuran filmnya,"


"Yaudah, dateng aja." Freya terlihat semringah.


"Direktur Utama perusahaannya juga mau ngomong sama aku."


"Nggak papa."


"Dia cewek!"


Mata Freya membulat menatap Agyan dengan bibir terbungkam.


Cewek?


Agyan yang melihat sang istri terdiam hanya terkeleh geli, padahal tadi Freya begitu bersemangat. Mendadak sekarang dia mematung.


"Tapi kamu nggak bakal suka, 'kan?" tanya Freya ragu-ragu. Dengan posisi Agyan saat ini, tentu Freya menjadi cemas. Takut Agyan meraih keberhasilan dan meninggalkannya.


"Mm, tergantung. Kalo cantik—"


"Gyan!" Freya melipat tangannya di dada. Agyan tertawa, mencium pipi Freya dan memelukanya.


"Enggak ada yang bisa buat aku berpaling dari kamu." sahutnya sambil menatap Freya lekat-lekat. Freya tersenyum dan mengangguk.


Apapaun keadaannya dan Agyan, Freya akan selalu menjadi orang pertama yang mendukung suaminya.


Semua orang memiliki jalan untuk sukses, Freya tau Agyan tidak suka dengan bidang ini. Tapi Agyan baru melangkahkan kaki hanya satu langkah, ia bahkan belum sampai pada pintu masuk. Ia belum tau, kejutan apa yang akan didapatnya di masa depan.


TBC


Jangan lupa tinggalkan like, guys:")

__ADS_1


__ADS_2