Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Scene Erotis?


__ADS_3

Selin segera mendatangi rumah Zoya pada keesokan harinya untuk menemui wanita itu begitu mendapati kabar dari sang suami jika Zoya sudah mengetahui apa yang selama ini Ethan rahasiakan dari dirinya sejak kecelakaan beberapa bulan yang lalu yang dialami.


Selin sengaja mendatangi Zoya secara langsung, karena jika melalui saluran telepon ia tidak bisa menenangkan Zoya, sekedar memberinya pelukan ketika nanti wanita itu bersedih.


"Jadi Mbak Selin juga tahu apa yang terjadi sama aku." respon Zoya pertama kali ketika menemui Selin di ruang tamu. Selin hanya memaku dengan perasaan bimbang. Hanya terdiam bahkan ketika Zoya menunjukan senyum smirk, tapi mata wanita itu tampak berkaca-kaca, membuat Selin ikut sesak melihatnya.


"Ternyata cuma aku yang nggak tahu sama keadaan aku sendiri." sahut Zoya, menyayangkan sikap semua orang yang lebih memilih untuk merahasiakan hal tersebut darinya. Memperlakukan seolah-olah dirinya adalah orang bodoh.


"Demi kebaikan kamu, Zoy."


"Dengan cara menipu?" Zoya menyela dengan cepat, Selin terdiam. Suasana di ruang tamu rumah Zoya saat itu terasa begitu mencekam. Zoya di hadapannya bagai orang asing di mata Selin. Tapi Selin memahami wanita itu dan ia tidak akan marah bagaimanapun reaksi yang Zoya keluarkan.


Selin melihat wanita itu yang menunduk dengan tangan memegangi rambut penuh kekuatan, Selin memeluk untuk menenangkan. Sedangkan Freya yang muncul dari dalam hanya tersenyum. Senyum yang tampak dipaksakan, ia sekilas mengusap bahu menantunya.


"Zoya beruntung punya manajer yang sangat perhatian." Freya buka suara, membuat Selin mengurai pelukan lantas tersenyum, Freya memberi isyarat agar wanita itu tidak menyapanya. Kebetulan Freya hanya mengantarkan minum untuk mereka, sekalian ia juga ingin melihat keadaan Zoya. Setelahnya, Freya berlalu meninggalkan Selin dengan Zoya kembali berdua di ruang tamu.


"Kamu punya mertua yang baik itu, Zoya. Kamu punya suami yang baik, kamu nggak seharusnya putus asa karena masalah ini."


"Karena masalah ini? Mbak bilang karena masalah ini? Kenapa seolah-olah masalah yang aku hadapi ini ringan banget, Mbak?" Zoya tidak terima.


"Mbak Selin pikir ini bukan masalah besar?" nada bicara Zoya naik satu oktaf.


"Mbak, sebagai seorang wanita apa Mbak tidak merasa hancur seandainya Mbak ada di posisi aku?" tanya Zoya emosional. Memang tidak akan ada yang mengerti dengan posisinya.


Selin menggelengkan kepalanya. "Mbak sangat hancur Zoya, Mbak sangat hancur. Mbak mengerti, Mbak paham. Jangankan di posisi kamu, bahkan Mbak sangat hancur melihat kamu seperti ini."


"Mbak tidak ingin kamu terus-terusan sedih setelah tahu semuanya, memang tidak mudah Zoya, tapi kita cuma manusia biasa. Apa yang bisa kita lakuin?" panjang lebar Selin dengan air mata yang berderai. Sementara Zoya sudah terisak, sepertinya drama tangis menangis masih akan berlangsung untuk kedepannya.


Zoya masih hanya terdiam setelahnya, terus menangis sementara salin kembali memeluk wanita itu menenangkan Zoya. Sebagai seorang wanita, Selin paham betul bagaimana perasaan wanita itu. Tapi seperti apa yang sudah tadi dia katakan, tidak ada hal yang bisa diperbuat kecuali berpasrah diri kepada takdir Tuhan.


"Zoya Tuhan kita tidak pernah salah ataupun lupa." bisik Selin mengakhiri percakapan mereka saat itu.


**


Hari-hari terus berlalu bahkan ketika Zoya merasa dunianya berubah menjadi kelabu, orang-orang di sekitarnya terus mensupport-nya. Namun nyatanya hal ini tidak berpengaruh apa-apa pada Zoya, sekalipun seluruh dunia menyemangatinya jika ia masih hancur, maka akan tetap hancur.


Ia tak kunjung berbicara dengan Ethan sekalipun pria itu dengan susah payah sudah menciptakan berbagai topik obrolan untuk membuatnya berargumen, setidaknya agar ia merasa jika Zoya sudah tidak marah lagi padanya. Tetapi Zoya tetap mengabaikan pria itu bahkan ketika Ethan menggodanya di atas tempat tidur. Zoya tak menghiraukannya sama sekali.


Anggap Zoya adalah sekedar tubuh yang bernyawa, ia hanya sekedar hidup, tak jarang belakangan ini Ethan yang seringkalj mengurusi wanita itu. Membantunya mandi dan memakaikannya pakaian. Zoya benar-benar seolah kehilangan semangat hidupnya.


Ethan pernah beberapa kali mendatangkan psikolog, namun Zoya enggan menemuinya sehingga semua berakhir sia-sia. Tapi Ethan tidak pernah marah, sekalipun dalam keadaan asing itu, ia tetap memperlakukan Zoya dengan sangat baik.


Tetap memberikannya cinta yang penuh, cinta yang utuh tak peduli sekalipun Zoya seolah kehilangan kewarasannya. Wanita itu lebih banyak diam dan melamun, ia hanya akan makan jika dipaksa.


Selama itu pula beberapa kontrak pekerjaan yang sudah ditandatangani terpaksa dibatalkan, beberapa diantaranya mengharuskan wanita itu mengganti kerugian dalam jumlah yang sangat besar. Tentu yang mengurus semuanya adalah Ethan.


Naina yang sering kali memperhatikan wanita itu beberapa hari belakangan ini merasa miris dengan keadaan Zoya, wanita yang penuh senyuman, wanita yang suka tertawa, sering mengajaknya bicara dan menggerutu saat sang suami menggodanya itu berubah menjadi orang yang lebih banyak diam.


Membuat suasana rumah menjadi sepi, seolah hawa bahagia telah lenyap di dalam rumah itu ketika senyum Zoya menghilang.


Belakangan Naina tahu hal apa yang membuat wanita itu bersedih, di lubuk hati terdalamnya Naina merasa bersalah, sangat bersalah. Bahkan ia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa Zoya.


Andai ia tidak perlu mengenal Kevin, mungkin kejadiannya tidak akab seperti ini. Pria itu tidak mungkin akan melecehkannya kemudian balas dendam dan membuat Zoya menanggung akibatnya.

__ADS_1


***


Freya sering kali datang ke sana bersama dengan Agyan yang sudah pulang dari luar negeri, sesekali mereka menginap di rumah anak menantunya sekalipun tetap saja hari-hari Zoya terasa begitu hampa. Begitu juga dengan Ethan.


Bahkan, ketika Ethan pulang bekerja dan tak mendapati sang istri menyambut, ia merasa kosong. Ia seperti bukan pulang dan seolah tak memiliki rumah untuk pulang. Ethan kerap kali masuk ke dalam kamar dengan kondisi lampu yang sudah dimatikan dan Zoya yang sudah lelap tertidur.


Sebuah kepuasan batin? Ethan merasa cukup lama tidak merasakannya dari Zoya. Yang ia lakukan ketika tidur hanya menggenggam tangan wanita itu. Atau Zoya akan berontak jika Ethan memeluknya. Keadaan yang membuat Ethan hanya mampu bersabar dan tetap mendukung istrinya apapun yang terjadi.


**


Suatu ketika saat Zoya memilih untuk menenangkan diri di halaman samping tepat di tepi kolam renang dengan kaki yang sengaja ia julurkan ke dalam air kolam yang jernih, Agyan menghampirinya.


"Ayah." wanita itu mengukir senyum, meski terlihat jelas jika dipaksakan. Agyan balas tersenyum, ikut duduk di samping sang menantu dengan kaki bersila, awalnya Zoya melarang Agyan untuk duduk karena kotor, namun pria itu sama sekali tidak keberatan. Cuaca saat itu mendung, hawanya begitu dingin.


"Kamu tidak kedinginan?" tanya Agyan pada sang menantu. Zoya menggelengkan kepala.


"Enggak Ayah," sahutnya singkat setelah beberapa saat, Agyan hanya tersenyum. Ia memerhatikan Zoya yang setelahnya melamun. Agyan cukup terkejut saat tiba-tiba saja, wanita itu menolehkan kepalanya dan membuat tatapan mata mereka bertemu dalam satu garis lurus. Zoya menatapnya dengan sorot begitu serius.


"Apa menurut Ayah, Ethan bakal ninggalin Zoya?" ia meminta pendapat sang papa mertua.


Mengutarakan salah satu pertanyaan yang belakangan ini menghantui pikirannya. Sekalipun Ethan mengatakan mencintainya, bisa saja satu tahun dua tahun ke depan pria itu merasakan kesepian dan menginginkan kehadiran seorang anak, kemudian membuang Zoya dan mencari wanita lain karena wanita itu tidak bisa memberikan keturunan untuk Ethan.


Siapa yang bisa menjamin jika Ethan akan selalu setiap padanya. Siapa yang bisa menjamin jika Ethan tidak akan terpikat pada wanita lain di luaran sana?


Jujur hal itu membuat Zoya merasa terganggu, ia mencintai Ethan, sekalipun ia pernah ingin menceraikan pria itu namun pada dasarnya hatinya dihantui bayang-bayang bagaimana jika Ethan meninggalkan dirinya karena wanita itu tak bisa memiliki anak.


Zoya menatap Agyan, menunggu jawaban dari sang papa mertua. "Kalau emang kamu mengira Ethan akan meninggalkan kamu karena kamu tidak bisa memberikan dia anak. Mungkin dia sudah melakukannya sejak setelah operasi itu berlangsung." Agyan menatap Zoya penuh arti.


Meski tetap saja, kekhawatiran di hati Zoya tidak dapat dengan mudah untuk sirna dan membuat wanita itu benar-benar yakin dengan apa yang dikatakan papa mertuanya.


"Kenapa?" tanya Zoya. Menatap Agyan dalam-dalam.


"Karena Ethan sangat mencintai kamu, kalau dia sudah mengatakan dia tidak membutuhkan anak dari kamu. Artinya tidak perlu anak, kamu juga sudah cukup untuknya."


"Untuk menemani sisa-sisa hidupnya dan membuat cerita bersama."


"Ayah memang tidak terlalu dekat dengan Ethan, tapi Ayah tahu siapa anak Ayah dan dia tidak akan meninggalkan kamu."


"Dia nggak akan berpaling sama wanita lain, Ayah?" tanya Zoya lagi.


"Di luar sana memang banyak wanita cantik, yang ingin kepada Ethan juga banyak tetapi yang seperti kamu cuma satu."


"Yang Ethan maunya cuma kamu."


"Seperti Ayah kepada Bunda Freya, Ethan pun begitu kepada kamu. Tulus dan benar-benar mencintai. Percayalah kepada Ayah, Zoya."


"Ethan tidak akan berpaling ataupun meninggalkan kamu."


**


Obrolannya dengan sang papa mertua siang tadi membuat perasaan Zoya sedikit lega, setidaknya ada bagian dari dirinya yang merasa tenang meskipun ia tetap sulit menerima fakta jika dirinya tak bisa memiliki anak untuk selamanya.


Faktanya, apa yang ia lakukan selama ini kepada Ethan bukanlah hal baik. Mengabaikan sang suami dan membiarkan Naina yang mengurus segala keperluan Ethan.

__ADS_1


Zoya sudah melampaui batas, sementara sang suami begitu sabar menghadapi dirinya yang amat keras kepala dan tidak tahu terima kasih.


Semua mungkin tidak akan kembali seperti semula, namun semua tetap harus diperbaiki.


***


Ethan melangkahkan kakinya dengan gontai memasuki rumah ketika Naina membukakan pintu, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Dia sudah menelpon Zoya dan mengatakan kepada wanita itu jika ia memang akan pulang malam karena banyaknya pekerjaan yang belakangan ini terbengkalai.


"Zoya sudah makan malam?" tanyanya kepada Naina sembari terus berjalan. Lantas menyerahkan jas yang sudah ia lepas pada wanita itu.


"Sudah Pak," Nina menyahut singkat, mengingat kembali bagaimana sore tadi Zoya tampak berbeda, sekalipun wanita itu tetap hanya terdiam, tak buka suara sama sekali namun raut wajahnya sangat berbeda dengan beberapa hari yang lalu. Menurut Naina hal itu jauh lebih baik.


Ethan mengangguk samar, lantas berjalan dengan cepat menapaki anak tangga tanpa menoleh lagi pada Naina. Sementara Naina hanya mematung menatap punggung Ethan yang kian menjauh, kemudian ia pergelangan l tangannya dimana di sana tersampir jas milik Ethan yang menguarkan aroma maskulin tubuh pria itu.


Beberapa hari terakhir saat keadaan Zoya menjadi berbeda. Ketika Freya tidak menginap di rumah, maka Naina yang mengurus pakaian Ethan. Dan segala keperluan pria itu.


Zoya sama sekali tidak melarang, entah lupa atau bahkan mungkin wanita itu tak sadar jika Naina yang melakukan semuanya untuk Ethan. Padahal sebelumnya Zoya tak membiarkan siapa pun menyentuh pakaian suaminya.


*


Segera mandi dan beristirahat, setidaknya hal itu yang ada di kepala Ethan begitu ia berada di depan pintu kamar. Namun mungkin semuanya akan menjadi berbeda ketika ia membuka pintu dan mendapati istrinya di sana, di atas tempat tidur.


Jika beberapa hari kemarin ketika Ethan pulang kerja wanita itu sudah tertidur dengan berbalut selimut, maka kali ini berbeda.


Dalam cahaya temaram di kamar tersebut yang hanya disinari oleh lampu dari dari balkon yang menembus pintu kaca dimana tirai putih itu terbuka, samar-samar Ethan dapat melihat istrinya dalam balutan sebuah lingerie berwarna merah. Di tangan wanita itu adalah segelas anggur dengan posisi tubuh wanita itu yang setengah berbaring pada kepala ranjang. Kaki jenjangnya tampak berkilau dengan heels berwarna gold


Pemandangan yang biasanya hanya Ethan lihat sesekali dalam sebuah film barat. Dalam kegelapan itu pula Ethan dapat melihat riasan wajah Zoya, wanita itu tampak begitu cantik dengan bibir merah merona, rambutnya tergerai dan sedikit berantakan.


Kemudian Ethan melihat wanita itu bergerak mendekat padanya, sementara ia sendiri hanya mematung. Benar-benar mematung, bahkan ketika wanita itu sudah berada tepat di hadapannya dengan jari jemari yang menapaki dada Ethan. Harum parfum dari tubuh dan rambut Zoya menguar di indera penciuman Ethan. Rasanya ..., memabukan.


Namun begitu, Ethan masih belum mengerti dengan apa yang terjadi. Apa mungkin istrinya sedang kerasukan? Tetapi tidak mungkin bukan? Terlebih Ethan sama sekali tidak percaya dengan hal-hal yang berbau mistis.


Ethan menahan tangan wanita itu dan menatap matanya dalam-dalam saat Zoya meraih kancing teratas kemeja yang Ethan kenakan.


"Ada apa, Sayang?" tanyanya.


"Mencoba bersenang-senang Ethan." wanita itu menyahut tanpa beban. "Kita udah lama nggak bersenang-senang bukan? Aku tahu kamu sakit menahannya." sambungnya, ambigu, tapi tampak serius dengan tatapan menggoda. Demi apapun membuat perasaa. Ethan tak karuan.


Terutama ketika wanita itu mengalungkan tangan ke lehernya lantas menyatukan wajah mereka, spontan membuat Ethan melingkarkan tangan di pinggang Zoya. Ethan bagai mendapat cahaya terang dan mengerti maksud dari istrinya, rupanya wanita itu tidak bermain-main dengan perkataannya.


Zoya mengakhirinya dengan sebuah kecupan singkat di pipi Ethan. Dalam sekejap waktu membuat Ethan terbang ke awan. Ia tidak mengerti mengapa tiba-tiba istrinya berlaku seperti ini, namun satu hal yang pasti. Apa yang akan terjadi malam ini antara dirinya dengan Zoya adalah sebuah awal yang baik.


Ethan tidak ingin jika Zoya yang mendominasi permainan, sehingga yang dilakukan selanjutnya adalah menyerang wanita itu. Dalam sekejap waktu, ia mengangkat tubuh Zoya dan merebahkannya di atas tempat tidur.


Ethan mengedarkan pandangan, memastikan sekali lagi jika wanita itu benar-benar niat untuk melakukannya. Terbukti dengan sprei tempat tidur yang sudah diganti. Ethan kembali menatap mata wanita itu di mana pandangan Zoya pun terpaku padanya dengan tangan yang tetap mengalung di leher Ethan.


"Jangan pernah tinggalin aku, Ethan. Jangan pernah." sahutnya ketika Ethan hendak menyatukan wajah mereka.


"Tidak akan Zoya. Tidak akan saya lakukan!"


TBC


Hareudang guys

__ADS_1


__ADS_2