Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Bunda pun bicara


__ADS_3

AIRIN


Setelah selesai belanja, kami mampir sebentar di restoran seafood. Melepas penat sebentar sambil menikmati makan siang. Menjelang sore kami baru sampai rumah. Selama perjalanan pulang, atau lebih tepatnya sejak bertemu teman Bunda tadi. Aku dan Bunda tidak terlalu banyk ngobrol lagi. Kami hanyut dengan fikiran kami masing masing.


"Airin, sebentar Bunda mau bicara.. " Bunda memanggilku saat aku tengah membantu bibik membereskan barang belanjaan tadi. Akupn segera menyusul Bunda dan meminta bibik untuk melanjutkan sendiri.


"Sini duduk dekat Bunda." Bunda mengajak ku ke taman dan kami duduk duduk di ayunan kayu jati yang ada disana. Aku pun duduk disamping Bunda.


"Ai.. Kamu masih kepikiran perkataan teman Bunda tadi ya,? Ujar Bunda bertanya. Sejujurnya iya, tapi aku malu untuk mengakuinya. Aku pun hanya bisa tersenyum.


"Bunda minta maaf ya, karena dulu sewaktu Bunda melamar kamu untuk menjadi istrinya Devid. Bund tidak memberitau kamu soal ini. Sejujurnya, Bunda takut kamu akan menolak lamaran kami. Bunda fikir lebih baik Bunda tidak memberitaukan kamu karena kamu sudah punya Syfa. Jadi nggak akan jadi masalah kalau kamu tidak mendapatkan anak dari Devid." Ujar Bunda menceritakan semuanya.


"Jadi, apakah benar mas Devid mandul ?" Aku sedikit shock mendengarkan cerita Bunda.


"Entahlah, pastinya Bunda tidak tau. Karena Devid tidak pernah mau periksa. Tapi dulu alasan kenapa Clarisa meminta cerai karena dia selingkuh dan hamil. Dan dia mengatakan kalau anak yang dikandungnya bukan anak Devid. Tapi anak dari selingkuhannya. Sampai sekarang Devid tidak pernah mau periksa. Karena dia merasa bahwa dia benar mandul. Sejak saat itu, Devid jadi gila kerja. Dia selalu pulang larut malam dari rumah sakit. Bahkan dia juga sering dulu turun tangan piket malam di bagian IGD. Padahal itu sama sekali bukan tugasnya. Bunda faham, dia begitu karena ingin melupakan clarisa yang telah selingkuh dan tuduhan mandul yang diberikan clarisa. Dulu, gosip itu cukup membuat heboh rumah sakit. Tapi Devid bisa melewati itu semua." Bunda pun menangis menceritakan semuanya padaku.


Meskipun sebenarnya ada sedikit rasa kecewa dihati ku. Tapi itu bukan karena cerita kemandulan mas Devid. Tapi kenapa aku mengetahui masalah ini bukan dari Bunda atau dan suamiku langsung. Tapi justru dari obrolan orang lain yang tak sengaja. Mungkin beginilah cara Allah menunjukkan kebenaran itu padaku.


Sekarang aku mengerti, kenapa sikap mas Devid kembali berubah. Mungkinkah dia takut kalau aku akan kecewa dan resiko terburuk aku akan meninggalkannya seperti mantan istrinya dulu. "Sedalam itu kah trauma mu mas." Bisikku dalam hati.


"Sekali lagi maafkan Bunda ya Airin. Bunda mohon, jangan tinggalkan Devid. Bunda tak tau lagi nasibnya jika rumah tangga nya akan gagal lagi. Bunda mohon, tolong terima Devid dengan segala kekurangannya." Bunda menggenggam tanganku daa menciumnya. Terlihat sekali Bunda sangat berharap padaku. Aku tidak tega melihat Bunda seperti itu.


"Bunda jangan seperti ini, tidak ada yang perlu dimaafkan. Benar Airin sedikit kecewa. Tapi bukan karena keadaan mas Devid. Kenapa Airin tidak mengetahui semuanya dari awal. Itu saja Bunda." Ku peluk Bunda. Ku tenangkan hati Ibu mertua ku itu. Aku akan sangat berdosa sekali jika mempermasalahkan itu semua. Memiliki Ibu mertua yang sangat menyayangiku dan Syfa adalah sesuatu hal yang sangat berharga bagiku. Apalagi mas Devid yang mencintaiku. Aku sangat sangat bersyukur rasanya. Kehidupanku sekarang jauh jauh sangat baik. Aku menjadi istri dari seorang Dokter yang sangat terkenal. Seorang President Direktur umah sakit juga. Aku yang dulunya buka siapa siapa sekarang kalau ketemu orang orang sangat dihargai karena aku seorang istri Dokter terpandang. Maka nikmat Allah yang mana lagi yang akan ku dustakan.

__ADS_1


"Sedikitpun Airin tidak akan pernah berniat meninggalkan mas Devid Bund, karena Airin sangat mencintai mas Devid. Meskipun kalau kenyataannya mas Devid benar benar mandul. Kami sudah punya Syfa. Syfa akan menjadi buah hati kami. Cucu Bunda juga. Bunda sayangkan dengan Syfa?" Ucapky pada Bunda. sekarang aku yang menggenggam tangan Bunda. Aku yakinkan Bunda kalau tidak akan ada perceraian dalam rumah tanggaku dan mas Devid.


"Terimakasih ya sayang, terimakasih. Bunda tak salah pilih memilih kamu menjadi istri Devid. Kamu sangat baik dan murah hati sayang." Ujar Bunda lega.


"Airin lah yang seharusnya bersyukur pada Allah daa berterimakasih kepada Bunda karena telah memilih Airin. Karena sekarang Airin visa mempunyai seorang suami yang sangat mencintai Airin." Jawabku tersenyum.


Sekarang hatiku pun lega, karena sudah mengetahui kenapa mas Devid bersikap seperti itu. Aku berjanji, malam ini semuanya akan kembali indah. Aku akan mengatakan kepada mas Devid kalau aku sangat mencintainya. Apapun keadaannya aku tetap mencintainya. Sebagaimana dia telah menerimaku menjadi istrinya dengan segala kekuranganku. Aku juga sangat mencintainya dengan segala kekurangannya.


Aku memasak makan malam yang special untuk menyambut kepulangan suamiku tercinta. Setelah semua selesai, aku foto semua masakanku. Dan ku kirimkan kepada mas Devid lewat aplikasi hijau. Ku katakan padanya, kalau malam ini aku ingin dia cepat pulang agar kami bisa makan malam bersama dirumah. Tak lupa kuberikan emot love dan kiss padanya. Ku lihat pesanku telah dibaca mas Devid, tapi tidak dibalasnya. Aku mencoba berpikiran positiv, yakin kalau mas Devid akan pulang cepat hari ini.


Setelah semua urusan di dapur beres, aku oun segera membersihkan diri. Karena Syfa kulihat sudah dimandikan oleh pengasuhnya. Jadi aku langsung menuju kamarku. Aku ingin berendam sebentar, memanjakan kulitku. Agar suamiku semakin mencintaik. Aku membayangkan kalau malam ini kami akan melalu malam yang panjang. Strlah hampir tiga bulan kami tak melakukannya. Aku pun tersenyum malu sendiri membayangkannya Setelah mandi sengaja aku memakai gamis yang cukup cantik menurutku. Dan tak lupa ku nyalakan lilin terapi dikamar, aroma nya yang lembut memenuhi seluruh kamar. Mas Devid suka sekali denga aroma ini. Dulu dia pernah bilang, kalau aroma ini membuatnya semakin berhasrat padaku. "Dan itulah tujuanku malam ini mas" Bisikku dalam hati tersenyum sendiri.


Akupun menunggu kepulangan mas Devid di teras seperti biasanya. Ditemani Bunda, dan juga Syfa. Syfa lagi bermain dengan pngasuhnya.


"Ah Bunda, biasa aja kok.." Jawabku tersipu malu.


"Nda tantik. tantik..." Syfa pun ikutan mengatakn aku cantik.


"Makasih anak Bunda.Syfa juga cantik sayang" Kucium pipi gembulnya yang menggemaskan.. Syfa pun berceloteh senang, seakan mengerti kalau aku bilang dia juga cantik.


Pengaharapanku tak sia sia. Tak lama mobil mas Devid pun datang. Ternyata dia memenuhi permintaanku untuk makan malam dirumah. Aku yakin mas Devid juga sangat mencintaiku. Makanya dia mau menuruti permintaanku. Dan mulai hari ini aku berjanji kalau tak akan ada lagi rahasia diantara kita mas.


Mas Devid turun dari mobilnya dan melirik kearahku. Aku bisa rasakan pandangan cintanya menatapku. Aku verikan senyum termanisku padanya meskipun dia masih saja diam datar tak membalas senyumanku.

__ADS_1


"Ayaaaaaaa.... " Syfa yang terlbih dulu bersuara. Dia langsung berlari kecil kearah mas Devid. Mas Devidpun langsung menggendongnya dan memeluknya. Syfa pun tampak kesenangan. Di cium ciumnya wajah mas Devid. MasyaAllah sesayang itukah Syfa pada mas Devid. Tampak mas Devid tertawa tawa bahagia dengan tingkah Syfa.


Aku mengambil tas dan jas Dokter mas Devid dari tangannya. Agar dia bisa leih leluasa ercanda dengan Syfa. Kemudian mas Devid mencium tangan Bunda, dan aku pun mencium tangannya.


"Sudah dulu, Ayah mau bersih bersih dulu. Syfa sama mba nya ya.." Sahut Bunda. Kemudian mas devid menyerahkan Syfa pada pengasuhnya. Dan berjalan ke arah kamar. Aku pun mengikutinya dari belakang.


"Karena mas pulang cepat, kita sholat maghrib berjama'ah yaa.. Sudah lama kita ngk sholat berjama'ah." Ucapku tersenyum sambil memberikan segelas air mineral untuk mas Devid.


"Iya," Mas devid hanya menjawab singkat. Kemudian dia pun melangkah ke kamar mandi. Aku sudah menyiapkan baju salin untuknya. Dan Adzan maghrib pun berkumandang saat mas Devid baru keluar dari kamar mandi. Dan kami pun menunaikan kewajiban sebagai seorang beragama.


Malam ini ku ciptakan penuh kehangatan. Saat makan malam bersama, kulayani suamiku seperti biasa. Tapi tidak dengan membisu. Aku mengajak semua yang ada dimeja makan ngobrol. Tampak kecerian kembali diwajah Bunda. Sesekali mas Devid tersenyum melihat tingkah lucu Syfa atau mendengar guyonanku.


Setelah makan malam kami pun bersantai ngobrol di ruang keluarga. Syfa asyik dengan mainan nya yang berhamburan diatas karpet. Bunda menonton acara favoritenya. Sementara aku duduk disaming mas Devid, sambil tanganku bergelayut manja dibahunya. Kami ngobrol apa saja, sambil sesekali aku memainkan jemari mas Devid. Terkadang aku mencium jemarinya.


Aku tau mas Devid terlihat bingung dengan sikapku malam ini. Sekilas aku melihat mas devid menatapku. Tapi dia segera memalingkan wajahnya saat aku menatapnya.


Malam pun semakin larut, Syfa sudah tertidur dipangkuanku dan langsung ku bawa ke kamar nya. Bunda juga sudah masuk kamar. Mas Devid juga tak terlihat lagi diruang keluarga. Setelah tu aku pu melangkahan kaki ke kamar. Melakasanakan misi selanjutnya. bisik ku tersenyum sendiri.


Kulihat mas Devid sudah duduk diatas ranjang sambil memainkan ponselnya. Ku bersihan diri terlebih dahulu kemudian mengganti gamisku dengan sebuah lingerie yang cukup sexy. Sekilas dari kaca mas Devid melirikku. Kemudiam tiba tiba dia langsung menaruh ponselnya dan merubah posisi tidurnya. Seperti biasa memunggungiku. Aku hanya tersenyum melihat nya.


Aku pun kemudia ikut berbaring di sisi mas Devid. Aku tau mas Devid belum tidur secepat itu.


"Sampai kapan mas akan bersikap seperti ini.?" Tanyaku padanya. Dia masih diam saja.

__ADS_1


"Apa sampai aku melakukan apa yang diperbuat clarisa ?" Lanjutku. Seperti dugaanku, mas Devid langung bangun dan duduk. Dia menatapku tajam.


__ADS_2