
Devid
Alhamdulillah, sangat besar rasa syukur ku kepada Allah. Karena kini hubunganku dengan Airin sudah semakin baik. Bagaimana layaknya pasangan suami istri. Setiap hari selalu ada hal hal kecil yang membuatku selalu merindukannya. Airin seakan menjadi boster penyemangatku dalam bekerja. Meskipun pasien yang kuhadapi setiap hari beraneka ragam. Tapi aku selalu tersenyum memberikan pengobatan kepada mereka.
Tak jarang juga Airin datang ke rumah sakit bersama Syfa. Membawa makan siang, dan kami pun makan bertiga. Tingkah Syfa yang lucu dan manis juga membuatku selalu tertawa lepas.
Tapi ada sesuatu yang masih membuatku takut. Takut kalau kebahagian kami ini akan menjadi hambar dan bisa saja berakhir. Ya, aku masih memikirkan tentang kesehatan diriku. Apakah benar aku ini lelaki yang mandul. Yang tak akan permah bisa menghamili istrinya. Apakah Airin bisa menerima kekuranganku ini.
Kami baru beberapa kali saja melakukannya. Setiap kali aku ingin mencumbuinya, ketakutanku akan hal itu mengganggu fikiranku. Dan akupun segera menjauhi Airin. Tapi terkadang, aku juga tak sanggup menahan hasratku. Karena aku juga lelaki normal dan mencintainya. Tapi setelah melakukannya aku kembali dihantui rasa bersalah.
Berkali kali aku berniat untuk mencek sendiri, tapi lagi lagi ketakutan menghantuiku. Bagaimana kalau aku benar benar mandul. Aku belum siap menerima kenyataan ini. Walau bagaimanapun aku ingin menjadi lelaki yang sempurna. Suami yang sempurna.
seperti saat ini, setelah selesai dengan tugas ke dokteranku. Aku berniat untuk menemui Dokter Gunawan. Dokter Andrologi specialis yg membantuku untuk membuktikan kebenaran kemandulanku. Tapi lagi lagi aku belum siap, sangat lama aku berdiri didepan pintu ruangan Dokter Gunawan sebelum memutuskan untuk kembali keruanganku.
"Dokter Devid." Ternyata Dokter Gunawan juga baru akan masuk ke ruangannya.
"Eh Dokter Gunawan. Kebetulan tadi saya lewat sini. Saya pikir mungkin Dokter sibuk." Ujarku beralasan.
"Oo tidak. Kebetulan juga tadi ada yang harus saya tanyakan kebagian labor. Ada yang bisa saya bantu Dok ?" Ujar Dokter Gunawan.
"Oh tidak, tidak ada Dok. Maaf saya haru kembali keruangan saya. Ada janji denga pasien sebentar lagi. " Ujarku pamit kemudian segera melangkah pergi.
"Kalau masih penasaran akan lebih baik segera dibuktikan saja Dok. Bagaimanapun hasilnya nanti sudah jadi ketentuan Allah. Yang pasti Dokter tidak bertanya tanya lagi. Ujar Dokter Gunawan saat aku sdah melangkah beberapa langkah. Sesaat aku terdiam dan berhenti melangkah. Ya, Dokter Gunawan adalah termasuk Dokter senior yang sudah lama bekerja di rumah sakit ini. Dan dia juga tau gosip yang dulu beredar saat aku bercerai dengan mantan istriku dulu. Aku menghadap ke arahnya dan menatapnya. Tak ada yang mampu ku ucapkan.
"Kalau Dokter berkenan akan lebih baik kita bicara didalam saja."Ujar Dokter Gunawan tersenyum. Pikiranku sedikit tenang, kemudian aku mengikutinya ke dalam ruangannya.
Kami pun bercerita panjang, mungkin leih tepatnya aku akhirnya berkonsultasi dengan Dokter Gunawan. Pertanyaan demi pertanyaannya ku jawab tenang. Sedikit banyaknya aku merasa seperti ada harapan bahwa aku tidak mandul. Apa ciri ciri yang banyak disebutkan Dokter Gunawan tentang ke mandulan tidak aku rasakan. Secara keseluruhan aku lelaki normal dan sehat. Dan untuk lebih memastikan lagi, Doter Gunawan menyarankan aku untuk melakukan tes ******. Untuk mengetahui kualitas spermaku. Apakah kualitas ****** ku bagus normal atau mungkin abnormal.
"Kapan Dokter Devid siap saja kita lakukan tesnya. Jangan sampai nervous duluan. InsyaAllah semua akan baik baik saja." Ujar Dokter Gunawan sebelum aku pamit dari ruangannya
"Baik Dok, nanti saya akan menghubungi Dokter langsung kalau sudah merasa siap. Seperti yang saya katakan tadi, saya harap tentang hal ini cukup kita saja yang tau." Ujarku padanya.
__ADS_1
"Pasti. InsyaAllah tidak akan ada yang tau."Jawab Dokter Gunawan tersenyum. Dan aku pun kembali ke ruanganku.
Hari ini aku pulang lebih cepat, karena semua tugas sudah selesai. Sesampainya dirumah Airin menyambutku dengan hangat. Seperti biasa dia melayani semua keperluanku. Perhatiannya ini yang membuatku semakin sangat mencintainya. Rasanya ingin selalu memanjakannya. Apalagi terkadang Airin seperti sengaja menggodaku. Dia tidak tau saja kalau aku sungguh sangat tersiksa menahan hasrat ini. Tapi ketakutanku juga begitu kuat. Aku tak ingin rumah tanggaku gagal lagi. Meskipun Airin bukan seperti mantan istriku dulu, tapi aku tak ingin Airin terluka karena tak bisa lagi memiliki anak dariku.
Aku tau Airin kecewa saat aku mencoba menghindar darinya. Aku bisa lihat kekecewaan itu dari wajahnya, meskipun dia tersenyum untuk menutupi rasa kecewanya. Maafkan mas Ai...
"Mas.... " Ujar Airin saat kami sudah diranjang untuk istirahat.
"Hmmmm..." Jawabku.. Aku sengaja tidur memunggunginya untuk menahan hasratku untu tidak menyentuhnya. Kurasakan tangannya membelai punggungku punggungku dan berakhir memelukku dari belakang. Kupejamkan mata sembari menahan nafas menekan hasrat yang mulai bangkit.
"Mas marah ya.. " Tanya Airin. posisi kami sudah sangat dekat bahkan hembusan nafasnya terasa menggelitik tengkukku.
"Nggak, memangnya kenapa mas marah.." Jawabku dengan tetap berusaha tenang. Sementara itu jemarinya sudah bermain membelai dadaku.
"Tapi kenapa sikap mas terkadang dingin. Bahkan seperti menghindari Airin.." Ujar Airin. Benar dugaanku, Airin mulai merasakan kalau aku menjaga jarak dengannya.
"Mana ada, perasaan kamu aja. Mas biasa aja kok." Ujarku.
Akhirnya pertahananku runtuh, tak sampai itungan detik. Langsung ku balas perlakuannya. Ku cumbu dirinya, tak kuberikan sedkitpun untuknya bebas. Airin menyambutku dengan hangat. Ku lihat senyum manisnya menggoda. Dan malam itu pun berakhir hangat dan menggairahkan. Entah berapa kali kami mlakukannya hingga Adzan subuh. Seperti telah lama kehausan kemudian melepaskan dahaga. Airin sama sekali tak menolak, lagi dan lagi. Sebagai penutup, ku gendong tubuhnya ke kamar mandi. Dan kembali kami menikmatinya. Kemudian bersuci untuk menunaikan sholat subuh.
Akhirnya setelah sholat, aku merasakan kantuk teramat sangat. Dan beniat untuk tidur.Kulihat Airin sudah rapi dan akan melangkah keluar kamar. Segera ku raih tangannya dan membawanya kembali ke ranjang.
"Mas sudah siang iiihhh... " Ujar Airin manja.
"Nggak usah keluar. Temani mas tidur aja. " Ujarku kemudian membawanya kepelukanku. Airin berusaha melepaskan tanganku yang memeluknya.
" Mas, nanti Bunda datang loo.h.. Nanti Syfa nyariin." Ujarnya.
"Nggak, tadi mas sudah WA Bunda. Bilang jangan ganggu kita dulu. " Jawabku. Karena tadi aku memang sempat mngirim pesan ke Bunda lewat aplikasi hijau.
"Ya Allah maasss... Malu iihhh... Nanti Bunda ngeledekin kita lagi. Bikin adek buat Syfa yaaa... " Ujar Airin.
__ADS_1
Tetiba refleks aku jadi kaku. Perkataan Airin membuatku kembali merasa bersalah. Ya Tuhan, apakah Airin juga berharap anak dariku.
"Mas... Mas... Kok tiba tiba diem..." Airin menyadari perubahanku.
"Nggak,, nggak apa apa..." Ujarku asal, sambil menyembunyikan wajahku dibalik bantal.. Tapi toba tiba Airin menarik tanganku dan memaksaku duduk.
"Aku yakin ada yang mas sembunyikan. Apa yang terjadi, Kenapa mas tidak mau bicara dengan ku. Sampai kapan mas akan bersikap seperti ini." Airin menatapku dengan sendu. Aku tidak tega melihatnya, apalagi matanya yang sudah ber kaca kaca.
"Maafkan mas ya Ai, mas belum bisa cerita sekarang. Tapi mas janji akan mengatakannya nanti kalau mas sudah siap" Ku rengkuh dia dalam pelukanku. Aku tak ingin semakin membuatnya terluka. Tapi juga belum siap mengatakannya. Aku berharap Airin mengerti.
Keputusanku sudah bulat, aku akan melakukan tes kesuburan itu. Aku tidak ingin selamanya dihantui dengan rasa yang menyakitkan ini. Apapun hasilnya nanti aku akan coba ikhlas. Apakah Airin akan bertahan atau memilih pergi dariku seperti mantan istriku dulu biarlah.
Setelah beberapa hari, aku menghubungi Dokter Gunawan kembali. Dia juga mendukung keputusanku. Akupun melakukan semua prosedur yang dibutuhkan untuk tes. Sampai memberikan sampel spermaku untuk pemeriksaan. Dokter Gunawan berjanji kalau ini tidak akan sampai diketahui oleh siapapun, bahkan para petugas medis di bagian Labor. Dan aku percaya dengan Dokter Gunawan.
Siang itu Dokter Gunawan kembali menghubungiku mengabarkan kalau hasil labor telah keluar. Sore ini aku akan langsung menemuinya di ruangannya. Setrlah tugas tugas ku selesai. Hatiku semakin tak sabar, jantungku terasa berdetak lebih cepat. Bagaimana kah hasil test ini. Apakah aku masih punya harapan.
"Selamat sore Dokter gunawan." Sapa ku pada Dokter Gunawan. Saat baru saja memasuki ruangannnya.
Kulihat dia tengah membaca beberapa kertas. Apakah itu hasil test ku. Perasaanku tiba tiba menjadi tak enak, saat melihat raut wajah Dokter Gunawan yang kusut dan membingungkan.
" Oh, selmat sore Dokter Devid. Silahkan duduk dulu." Ujar Dokter Gunawan yang baru menyadari kedatanganku.
Akupun duduk di kursi tamu yang tersedia diruangan itu. Dokter Gunawan pun duduk disampingku dengan memegang kertas kertas yang dibacanya tadi.
"Bagaimana Dok hasilnya.." Tanyaku yang memang sudah tak sabar lagi ingin segera mengetahui hasilnya. Tatapan Dokter Gunawan semakin membingungkanku. Dia sesaat menarik nafas panjang. Seperti mengumpulkan keberanian untuk memberi tau ku.
"Maafkan saya Dokter Devid. Menurut hasil test ****** kemaren menunjukan bahwa kualitas ****** anda tergolong kepada Abnormal dan tidak bisa membuahi sel telur. Dengan kata lain,,,, MANDUL..."
DUUUUUUAAAAARRRRRR......
Serasa dihantam jutaan peluru. seperti jatuh ke dalam jurang yang sangat dalam. Hancur, remuk redam... Itulah yang kurasakan saat ini...
__ADS_1