
Randy hanya mendehem begitu Ethan dengan Zoya masuk ke dalam mobil. Randy melihat melalui spion bagian depan, di mana sang bos tanpa jasnya karena jas tersebut berada di tubuh Zoya.
'"Bener-bener main kayaknya." Randy berkata pelan tanpa sadar. "Kamu bilang sesuatu?" tanya Zoya, Ethan sibuk menggulung lengan kemejanya dan tidak mendengar apa yang Randy katakan.
"Oh, enggak ada, Zoya. Aku nggak ada bilang apa-apa."
"Oh,"
Randy tersenyum kecil, mulai menghidupkan mesin mobil dan melajukan mobil meninggalkan pelataran rumah tersebut.
Sama seperti beberapa jam yang lalu saat menuju ke rumah baru, dalam perjalanan pulang pun dua orang di kursi belakang tampak hanya saling terdiam, masing-masing dari mereka melihat keluar kaca jendela mobil.
Zoya sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia berniat menghubungi Fahry, menanyakan sekali lagi apakah hubungan mereka benar-benar berakhir atau tidak. Namun belum kunjung ia lakukan, rasanya terlalu takut mendapatkan jawaban 'iya' dari pria itu.
Kejadian dengan Ethan tadi benar-benar membuatnya mengingat dan merindukan Fahry. Padahal belum genap dua puluh empat jam, tapi Zoya sudah ingin tau bagaimana kabar Fahry saat ini.
"Kamu mau makan siang?" pertanyaan Ethan yang tiba-tiba saja menabrak indera pendengarannya membuat Zoya tersadar dari lamunan, ia menoleh pada suaminya.
"Makan siang?" Zoya spontan berranya.
"Enggak usah kayaknya, aku langsung balik ke apartement aja. Lagian masih kenyang juga." menyahut panjang lebar diakhiri senyum tipis. Ethan mengangguk perlahan, kembali terdiam karena tidak memiliki bahan obrolan. Terlrlebih, ia juga memang malas banyak berbicara.
Begitu sampai di hotel, Zoya turun dari mobil. Dengan langkah gontai ia berlalu begitu saja. berpamitan dengan lesu pada Ethan tanpa menatap pria itu. Ethan menurunkan kaca jendela mobil, melihat langkah kaki Zoya sampai wanita itu menghilang di pintu putar kaca.
"Apa yang terjadi dengannya?" Ethan bertanya pada dirinya sendiri tapi masih bisa didengar oleh skretarisnya. "Randy,"
"Hmmm,"
"Aku mau kamu selidiki sesuatu!"
Randy menoleh ke belakang bersamaan dengan kaca jendela yang Ethan tutup. Pria itu menaikan alis, gestur bertanya pada apa yang akan Ethan perintahkan. "Kamu mau aku menyelidiki apa, Than?"
"Apa yang sebenarnya terjadi saat pesta ulang tahun perusahaan. Apa yang aku dan Zoya lakukan sebelum kami masuk ke kamar hotel." sahut Ethan, Randy mengangguk mengerti, hanya saja ia tidak mengerti kenapa Ethan ingin Randy melakukannya sekarang. Padahal pria itu bisa saja menyuruhnya melakukan hal tersebut sejak awal di mana kasusnya dengan Zoya terjadi dan membuat resah.
Randy mulai melajukan mobil setelah menepis isi kepalanya, sedangkan Ethan di kursi belakang hanya diam. Menyangka sikut pada jendela mobil dengan kepala yang terus berpikir, mulutnya berkata pelan. "Aku berharap hasilnya akan berbeda dari yang aku tau."
**
Begitu sampai di kamar hotel Ethan, Zoya menghempaskan tubuhnya ke sofa, meja yang semula berantakan kini tampak rapi. Zoya yakin Ethan sudah menyuruh orang untuk membereskannya selama mereka pergi.
Mengotak-atik ponsel, Zoya menatap potret manis dirinya dengan Fahry. Rasanya, dulu semua seolah tidak akan berakhir. Semua seolah akan baik-baik saja. Sampai pada hari ini Zoya sadar jika Tuhan selalu memiliki kejutan untuknya, dan takdir membuatnya harus bisa menerima jika semua tidak akan selalu baik-baik saja.
Zoya menghela napas, memang percuma membayangkan itu semua, hal yang sudah tetjadi hanya perlu ia terima dengan lapang dada. Memilih mendial nomor seseorang, Zoya menelpon Selin untuk memberitahu wanita itu jika manajernya itu harus tinggal bersama dengannya di rumah Ethan.
Menempelkan benda pipih itu ke telinganya begitu panggilan sudah terhubung. "Kenapa Zoy?" Selin bertanya dengan gugup. Membuat Zoya mengerutkan kening sesaat.
"Mbak Selin di mana?"
"Mbak sedang di agensi, kamu ada apa nelpon?"
"Mbak sama Adhel juga nggak?"
Selin menatap orang di hadapannya. Ia mengangguk meski sadar jika Zoya tidak melihatnya. "Iya." menyahut setelah beberapa saat.
"Aku mau ngomong sama Mbak, kalau gitu aku ke agensi aja, yah." Zoya bangkit dari posisinya. Seharusnya tadi ia ikut saja dengan Ethan. Tak lama Zoya menggelengkan kepala, ia tidak mungkin ikut dengan Ethan sedangkan pakaian yang ia kenakan berantakan.
"Aku siap-siap sekarang."
"Enggak usah! Kamu nggak perlu ke sini, biar Mbak yang nyamperin kamu." Selin terdengar buru-buru, ia juga bangkit dari duduknya. Membuat orang di hadapannya perlahan melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Kamu di mana sekarang? Biar Mbak aja yang kesana ,"
"Oh," Zoya tetap melanjutkan langkah ke arah walk in closet, mengambil stelan celana pendek dengan kaos oblong berwarna putih. Kemudian kembali duduk pada sofa.
"Aku ada di hotel Ethan, Mbak Selin ke sini aja."
"Oke,"
Zoya memutus sambungan, ia sempat menatap layar ponsel. Merasa sesuatu yang aneh sedang terjadi pada Selin, wanita itu terdengar panik. Zoya mengangkat bahu acuh, tidak ingin berpikiran macam-macam. Ia segera melepas pakaian yang ia kenakan dan berganti dengan pakaian yang sudah ia ambil.
Sementara itu, Selin spontan menghentikan langkah, berbalik dengan wajah kesal. "Mau kamu apalagi, sih? Berenti ngikutin aku!"
"Selin,"
"Fahry, aku udah bantu kamu sebisa aku. Tolong jangan buat aku repot kaya gini."
"Jangan ganggu aku lagi! Aku gak mau sampe Zoya tau kita ada hubungan!" Selin mengingatkan dengan telak, berlalu keluar dari gedung agensi meninggalkan Fahry yang hanya berdiri menatap kepergian Selin.
Ethan yang baru saja memasuki perusahaan melihat dua orang itu yang tadi sempat berbicara, rupanya Selin tidak menyadari kehadirannya karena terburu-buru.
Memilih acuh, Ethan melanjutkan langkah menuju ruangannya. Ia duduk pada singgasananya dan hanya terdiam. Terlihat bingung untuk memulai pekerjaan, sampai kemudian memilih untuk melihat ponsel.
Membuka sebuah aplikasi yang terhubung langsung dengan cctv di kamar hotelnya. Ethan sendiri yang menginginkan untuk memasang sistem keamanan di kamarnya, termasuk hanya ia sendiri yang bisa memantaunya.
"Kita lihat apa yang wanita itu lakukan."
Ethan melihat apa yang Zoya lakukan beberapa menit lalu. Pria itu menggeleng tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Di mana Zoya berganti pakaian di sofa, bukan di walk in closet. Dengan santai ia memakai celana pendeknya, kemudian membuka dress dan baru mengenakan kaos.
Ethan tersenyum miring melihatnya, ia menaruh ponsel pada stand handphone. Sementara tangannya berkutat dengan keyboard komputer. Sesekali melihat apa yang sedang dilakukan istrinya.
**
"Ini bener-bener wangi Ethan," serunya, kemudian meletakan kembali ke tempat semula. Selanjutnya ia mengambil salah satu botol parfum. "Pasti hadiah dari cewek-cewek." lirihnya, melihat parfum-parfum dengan merk mahal berjajar rapi di sana. "Yang mana, yah, yang sering Ethan pake?" bertanya pada dirinya sendiri.
Menyemprotkannya sedikit pada pergelangan tangan kemudian menghirupnya. "Mm, wangi, tapi ini bukan yang sering dipake Ethan." tentunya Zoya mengingat dengan baik bagaimana harum pria itu yang beberapa kali dalam jarak berdempetan dengannya.
Iseng, Zoya menyemprotkan satu persatu parfum ke bajunya, sampai kemudian ia menemukan wangi khas Ethan. Sebuah parfum dengan ukuran kecil berwarna cokelat. "Pasti parfum mahal," tebaknya, lantas menyemprotkan parfum tersebut beberapa kali ke leher dan bajunya.
Wajahnya tampak semringah karena sudah melakukan hal yang membuat dirinya senang mengisi waktu luang. Tak sampai disitu, Zoya membuka laci, ia mendapati sebuah paper bag berukuran kecil berwarna putih dengan merek brand ternama.
Zoya terlihat jauh lebih bersemangat dari sebelumnya. Ia setengah berlari ke arah sofa dan mengeluarkan isi paper bag. Membuka kardus yang membungkus sesuatu di dalammya.
Masih parfum, dengan merek ternama. Zoya tau parfum tersebut sangatlah mahal dan langka. Ia menatap parfum tersebut penuh kagum. Mendaratkan bibirnya beberapa kali di sana.
"Ethan nyimpen ini pasti karna dia nggak mau pake,"
"Kalau gitu buat aku aja." sahutnya meyakinkan diri sendiri. Kemudian berjalan ke arah tempat tidur dan menyimpan parfum tersebut di bawah bantal tidurnya. Ia mematung sesaat. "Kalau tiba-tiba Ethan pindahin bantal aku, gimana?" Mengambil kembali parfum tersebut dan terlihat bingung akan menyembunyikannya di mana.
Beberapa detik selanjutnya, ia memasukan kembali parfum pada kardus dan paper bag. Sadar jika tingkahnya sudah kelewat lancang bahkan sampai akan mencuri barang suaminya. Dengan pasrah, Zoya menyimpan paper bag ke asalnya. Sebelumnya ia sempat mengusap paper bag tersebut.
Setelah itu berlalu ke arah walk in closet. Melihat barang-barang Ethan yang lain termasuk koleksi jam tangan pria itu.
Sedangkan tanpa ia sadar, jika kamera pengawas terus merekamnya. Dan seseorang sejak tadi menyaksikan gerak-gerik menggemaskan wanita itu. Ethan menaruh kedua telapak tangan ke belakang untuk menyangga kepalanya.
Ia tidak henti tersenyum melihat tingkah menggemaskan seorang Zoya Hardiswara. "Padahal kamu bisa memilikinya, kenapa harus dikembalikan?" Ethan berkata pelan begitu mengingat jika Zoya kembali menyimpan parfum tersebut.
Ethan ingat, jika parfum yang tadi Zoya keluarkan dari laci adalah hadiah khusus dari rekan kerja Warry saat Ethan ikut dengan sang grandfa ke luar negri dua bulan yang lalu.
Beberapa detik selanjutnya Ethan melihat Zoya berlalu ke arah pintu. Tak lama ia kembali muncul dengan Selin. Ethan berpikir, jika alasan Selin buru-buru tadi untuk menemui Zoya. Ethan mematung, menepis isi kepalanya jika sebenarnya bukan itu yang ia pikirkan.
__ADS_1
"Zoy, ini kamar hotel atau toko parfum, sih?" Selin menutup hidung karena wangi yang menyengat. Wajar saja, Zoya mencoba hampir semua parfum yang ada.
"Parfum Ethan," wanita itu menyahut santai sembari melenggang setelah menutup pintu.
"Kamu–" Selin sudah dapat menebak apa yang Zoya lakukan. Wanita itu meraih pundak Selin, kemudian menaruh jari telunjuknya di depan bibir.
"Syuut, biarin aja. Ethan nggak bakal tau," sahut Zoya dengan santai. Ia berjalan ke arah brankas. Mengambil sebotol minuman dari sana dan menaruhnya di atas meja.
Selin memijit pelipis, sekilas ia menoleh pada sebuah benda yang ia yakini adalah cctv. Tapi ia menyerahkan semuanya pada Ethan.
"Oh, yah, apa yang mau kamu omongin sampe ngajak Mbak ketemuan?"
"Besok aku udah mulai syuting lagi?"
"Hmm." Selin yang sedang memuangkan minuman pada gelas menyahut dengan gumaman, melegutnya sedikit lantas menoleh pada Zoya.
"Kenapa?"
"Aku sama Ethan bakal pindah dari sini, dia udah siapin rumah."
"Rencananya kapan?"
"Ethan bilang besok."
"Masalahnya?" Selin tau Zoya belum menceritakan inti penting pembicaraan sesungguhnya.
"Karena syarat yang aku ajuin waktu itu ditolak sama Ethan," Zoya memang bercerita pada Selin mengenai syarat yang ia ajukan untuk disetujui oleh Ethan. Selin tersenyum mendengarnya. "Jadi, gimana malam pertama kalian?" godanya setelah meletakan gelas ke atas meja.
Zoya justrur memutar bola mata kesal. "Ayolah, Mbak."
"Kamu apa-apa, 'kan selalu cerita."
"Isshh!"
Selin tertawa, mengangkat tangannya dengan gestur berjanji tidak akan menggoda wanita itu lagi.
"Gini loh, jadi aku ganti syaratnya."
"Jadi gimana? Empat kali seminggu?"
"MBAK SELIN!" Zoya mendadak bete, dan lagi mengundang tawa Selin.
"Oke, oke, enggak deh. Jadinya gimana?"
"Aku ajuin syarat baru. Syaratnya, manajer sama asisten aku tinggal sama aku." ucap Zoya bangga. Selin mengernyitkan dahi. "Suami kamu setuju?" tanyanya, Zoya mengangguk.
"Oh, iya. Adhel mana? Katanya tadi Mbak sama Adhel." Zoya baru menyadari hal itu jika Selin datang sendiri.
"Oohh, euu. Tadi Adhel sakit perut, jadi dia nolak ikut."
"Kamu cuma mau ngomongin ini doang, 'kan?" buru-buru mengalihkan pembicaraan agar Zoya tidak lagi banyak menanyakan mengenai Adhel yang sesungguhnya hari ini sama sekali tidak bertemu dengannya.
"Iya. Mbak setuju, 'kan?"
"Boleh. Tapi paling Mbak pindah lusa, ada beberapa urusan yang harus Mbak beresin."
Zoya mengangguk. "Oke kalau gitu,"
TBC
__ADS_1