
"Transplantasi rahim?" adalah reaksi pertama kali Ethan dengan kerutan di dahinya ketika Zoya bercerita kepadanya mengenai Naina yang akan mendonorkan rahim untuk Zoya.
Zoya menganggukkan kepala dengan polosnya. "Tapi sangat berbahaya, Sayang,"
"Kamu tahu sendiri, 'kan transplantasi rahim kemungkinan besarnya adalah gagal." terang Ethan dengan penuh kelembutan. Ia bukan mau menghancurkan harapan sang istri, dia hanya tidak ingin mengambil resiko besar di balik apa yang akan istrinya lakukan nanti, Ethan tak ingin Zoya kenapa-napa.
"Aku tahu itu makanya aku minta pendapat kamu." pasrah Zoya. Ia pun mencari tahu di berbagai sumber di situs web mengenai transplantasi rahim dan prosedur tersebut memang beresiko besar daripada potensi manfaatnya.
Sesaat hanya hening di dalam ruang kamar tersebut, Ethan menatap istrinya lekat-lekat. Sementara Zoya menundukkan pandangan sambil menggigit bibir bawahnya, yang membuat Ethan mendekat kemudian mengusap salah satu sisi wajah wanita itu. Ethan menggelengkan kepala saat tatapan keduanya bertemu, memberi isyarat agar Zoya melakukan hal tersebut yang akhirnya membuat Zoya berhenti menggigit Bibir bawahnya.
"Tidak ada transplantasi rahim, Sayang. Oke." kemudian Ethan kembali ke topik awal. "Saya tidak ingin kamu kenapa-napa." sambungnya, Zoya mengangguk pasrah sementara setelahnya Ethan menarik wanita itu dalam pelukannya.
**
"Kenapa tidak bisa Mbak?" tanya heran Naina saat Zoya dengan Ethan menemuinya di dapur begitu waktu menunjukkan hampir pukul sepuluh malam untuk segera membahas hal tersebut.
"Resikonya yang sangat besar Naina, lagi pun di luar dari penelitian hal itu tidak boleh dilakukan, sekalipun ada transplantasi rahim itu hanya boleh didonorkan dari orang yang sudah meninggal." Zoya menyahut panjang lebar sebagaimana yang tadi Ethan jelaskan setelah pria itu bertanya pada dokter kenalannya.
Naina hanya terdiam di tempatnya, padahal ia sudah sangat yakin untuk melakukan hal tersebut. Namun kenyataannya semesta tak mendukung sama sekali.
"Kalau begitu, selain donor rahim, apa yang bisa saya lakukan untuk membantu Mbak Zoya?" tanya Naina.
"Apapun akan saya lakukan Mbak. Apapun akan saya lakukan demi Mbak Zoya." sambung Naina amat memohon, sementara itu, Zoya dengan Ethan hanya saling bertukar pandang.
"Surogasi?" sahut Naina kemudian yang membuat Zoya menoleh padanya, lantas mengalihkan tatapan pada Ethan, mengerutkan kening meminta pendapat sang suami. "Hal itu tidak bisa dilakukan di negara kita, Sayang" sahutnya.
"Itu ilegal Naina." sambungnya kepada Naina. Jawaban yang kemudian membuat suasana dapur malam itu menjadi lebih hening dari biasanya, ketiganya sama-sama bingung tak memiliki solusi hingga Ethan kemudian menggandeng Zoya. Mengusap bahu istrinya berulang kali.
"Lebih baik sekarang kita beristirahat yah, Sayang." ajak Ethan kepada sang istri agar Zoya tidak terlalu memikirkan hal tersebut.
"Kalau begitu kita bisa ke luar negeri." sahut Zoya, mengeluarkan usulnya. Menatap Naina meminta pendapat gadis itu, sedangkan Naina menatap Ethan, meminta pendapat pria itu.
Ethan menggelengkan kepala.
"Sayang, dengarkan saya. Sudah, ya, kita sudah membahas hal ini. Selesai, okey. Saya sudah bilang berulang-ulang, tidak masalah." Ethan membuk agar istrinya segera ke kamar untuk beristirahat.
Zoya tahu pria itu memang tak mempermasalahkan mengenai anak di antara mereka, namun ia ingin memiliki seorang anak. Zoya sangat ingin sekalipun dengan cara harus lahir dari rahim wanita lain.
"Sudah, okey." Ethan membujuk sekali lagi.
Akhirnya Zoya hanya bisa pasrah jalan menuju ke kamar digandeng oleh suaminya. Dua orang itu berlalu meninggalkan Naina yang hanya mematung di dapur. Gadis itu mendesah, lantas mengguyur rambutnya ke belakang dan duduk pada salah satu kursi meja makan.
__ADS_1
Hal yang bisa Naina lakukan untuk Zoya hanyalah mendonorkan rahimnya untuk waniya itu, namun ternyata hal tersebut tidak dapat dilakukan.
Lama Naina menghabiskan waktunya di dapur sekalipun jam dinding terus berjalan menghabiskan detik dan menit hingga kemudian suara langkah kaki seseorang yang melangkah menuju dapur membuatnya menoleh, Ethan kembali. Naina menoleh pada salah satu sudut dapur, di mana jam dinding sudah menunjuk angka 11. Pria itu pasti haus sementara Zoya sudah tertidur di dalam dalam kamar.
"Kamu belum tidur?" tegur Ethan saat mendapati Naina masih berada di sana. Naina hanya menggelengkan kepala.
"Pak Ethan butuh air?" tanyanya kemudian, hendak beranjak guna memberikan segelas air kepada majikannya tersebut. "Tidak perlu, saya bisa mengambilnya sendiri." cegah Ethan. Spontan membuat Naina merasa canggung, gadis itu lantas kembali duduk sedangkan Ethan berjalan ke arah dispenser dan menuangkan segelas air untuk segera ia tandaskan guna membasahi kerongkongannya yang sangat kehausan.
Begitu air minum itu telah habis, Ethan hanya mematung di belakang tubuh Naina, ia menatap lekat-lekat punggung gadis itu. Beberapa detik berselang, Ethan menaruh gelasnya ke tempat semula, kemudian berjalan dan duduk pada salah satu kursi. Ia dengan segera memusatkan tatapannya pada Naina, membuat gadis itu tanpa sadar juga menatapnya dengan sorot penuh pertanyaan karena tatapan tak terbaca Ethan.
"Apa kamu benar-benar ingin membantu saya dengan Zoya?" tanya pria itu kemudian. Tanpa berpikir panjang, Naina menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana dengan inseminasi buatan?" tanya Ethan.
Begitu Zoya tidur. Ia mencari tahu tentang hal tersebut, inseminasi. Mungkin hal tersebut bisa menjadi jalan keluar baginya dengan Zoya perihal kerurunan jika memang ingin membantu mereka.
"Gimana caranya Pak?" tanya gadis itu dengan polos, yang membuat Ethan memalingkan wajah dan berdehem, jujur ia merasa canggung jika harus mengatakannya. Tapi Ethan tetap harus menjelaskannya kepada Naina meski sedikit. Setidaknya agar gadis itu memiliki gambaran untuk proses yang akan dilakukan jika saja Naina setuju.
Gadis itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya ketika Ethan menjelaskan sebagaimana yang sudah pria itu baca pada salah satu situs web terpercaya. Setelahnya, Ethan dapat menangkap raut ketakutan di wajah Naina begitu ia selesai bercerita.
Memang wajar, karena faktanya sekalipun inseminasi buatan aman dilakukan, namun tetap akan menimbulkan rasa ngeri bagi sebagian gadis yang akan melakukannya.
"Bagaimana?" Ethab meminta kepastian barangkali Naina berubah pikiran.
Ethan yang mendengar jawaban Naina hanya mematung, menatap gadis itu dengan tatapan tak mengerti. Apa alasan Naina melakukan hal seperti ini?
***
Tak butuh waktu lama untuk Ethan dengan Zoya mengambil tindakan dan membuat perjanjian dengan dokter kandungan yang menangani Zoya saat wanita itu hamil, untuk segera melakukan inseminasi buatan untuk Naina.
Ethan yakin privasinya dengan Zoya aman mengenai hal inseminasi ini. Dokter memaparkan dengan singkat mengenai inseminasi di ruangannya. Kemudian, untuk menjalani inseminasi buatan kondisi Naina harus diperikaa lebih dulu apakah gadis itu sehat atau tidak, terutama kondisi tuba falopinya.
Sebelum inseminasi buatan dilakukan, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan untuk memastikan bahwa prosedur ini aman dan sesuai dengan kondisi pasien. Pemeriksaan tersebut dapat berupa foto rontegn, laparoskopi, atau hysterosalpingo-contrast sonography (HyCoSy) dengan gelombang suara.
Dada Zoya sudah berdebar bahkan sejak ia menapaki lantai Rumah Sakit. Selama proses pemeriksaan Naina dilakukan. Wanita itu terus menggenggam tangan suaminya.
"Gimana?" tanya Selin yang baru saja tiba dengan Randy, Ethan dengan Zoya tidak bisa untuk tidak melibatkan dua orang itu jika nanti mereka membutuhkan bantuan.
"Naina masih diperiksa." Zoya menyahut, wanita itu beralih menggenggam tangan Selin. Selin mengusap punggung Zoya berulang-ulang untuk menenangkan wanita itu.
Ketika pagi tadi Zoya menghubunginya dan memberitahukan hal ini, tentu saja Selin sangat terkejut. Ia ingin mengemukakan ketidaksetujuannya, namun Zoya dengan Ethan adalah yang paling berhak menentukan pilihan dan mengambil keputusan. Selin percaya, tentu saja Ethan sudah mempertimbangkannya secara matang.
__ADS_1
Zoya bisa bernapas lega saat Naina keluar dari ruang pemeriksaan. "Gimana hasilnya?" Zoya segera memburu gadis itu dengan pertanyaan. Ia tak ingin mati penasaran.
"Bisa dilaksanakan katanya Mbak." sahutnya yang membuat empat orang di sana bernapas lega.
Beberapa saat setelah itu, Doktet keluar dan meminta untuk berbicara dengan Ethan. Ethan sudah tau maksud dari sang dokter yang harus menyiapkan sampel sprema. Ethan lantas berpamitan pada Zoya dan mengikuti langkah kaki sang dokter menuju ruangannya.
**
Ethan dengan Zoya dan Naina kembali ke rumah setelah mereka menikmati makan siang di sebuah restoran . Proses inseminasi akan dilakukan dua hari lagi setelah tadi Naina mendapat suntikan hormon. Dokter mengatakan, hal tersebut dilakukan untuk proses pematangan sel telur.
Pemantauan telur umumnya dilakukan melalui USG transvaginal. Kadang-kadang tes hormon untuk menentukan kematangan telur. Perlu dilakukan pada saat telur telah mencapai ukuran yang ideal dan dinding selaput rahim juga telah mencapai tebal yang cukup, pasien akan diminta untuk melakukan penyuntikan obat pemecah telur.
"Berhasil nggak, yah." Zoya bertanya-tanya. Naina yang terlanjur merasa canggung pada Ethan hanya tersenyum tipis.
"Asalkan Mbak Zoya yakin." sahutnya, Zoya menoleh tersenyum tipis kemudian mengangguk. Setelahnya ia berpamit ke dalam kamar untuk beristirahat. Meninggalkan Ethan dengan Zoya di ruang utama.
Ethan memerhatikan istrinya yang tampak khawatir. Ia meraih tangan sang istri dan menggenggamnya. "Semuanya akan baik-baik saja, Sayang." ia menenangkan wanita itu dengan sebuah senyuman, Zoya tersenyum tipis, sedikit dipaksakan. Sedangkan hatinya tengah melangitkan doa doa. Semoga apa yaang ia dengan sang suami usahakan tidak akan mengecewakan.
**
Naian berbaring di atas tempat tidur. matanya menatap plafon kamar lekat-lekat. Kamar yang sudah ditempati berbulan-bulan selama tinggal di Jakarta sebagai asisten rumah tangga, sekarang ia merangkap menjadi asisten aktris.
Setelah beberapa saat berlalu ia memiringkan tubuhnya, memikirkan lagi tindakan yang sudah jauh ia lakukan. Tapi hatinya memang tidak goyah, ia masih yakin dengan pendiriannya untuk melakukan hal tersebut demi Zoya. Sekalipun ia harus mengandung anak orang lain tanpa sebuah pernikahan, hal yang tidak pernah dipikirkan oleh Naina sebelumnya.
Bagaimana mungkin dirinya mengandung dan melahirkan seorang anak tanpa menikah terlebih dahulu, tanpa berhubungan badan dan tanpa mendapatkan cinta. Bagaimana mungkin ia merelakan hidupnya untuk hal tersebut.
Naina mengacak rambutnya tak tentu tujuan. Ia sudah yakin dengan perasaannya, ia yakin dengan keputusan yang diambilnya, ia menepis ego di dalam hatinya yang menginginkan lebih. Bukankah hal tersebut dilakukan untuk berterima kasih dan sebagai permintaan maaf kepada Zoya? Maka ia tidak membutuhkan imbalan apapun.
Naina harus dapat mengendalikan hatinya. Ia tidak bisa egois untuk tiba-tiba saja membatalkan semuanya saat Zoya sudah sangat menaruh harapan besar padanya dalam proses inseminasi ini.
Ia tulus ingin membantu Zoya sekalipun ego di dalam hatinya memintanya untuk berhenti.
Naina tidak bisa membayangkan bagaimana nanti proses inseminasi yang akan dilakukan mendengar pengarahan Dokter tadi. Menyeramkan..
Naina menepis pikirannya sendiri agar tidak terus-menerus memikirkan hal tersebut. Ia lebih memilih untuk meraih ponselnya, membuka buka galeri dan melihat beberapa foto dirinya. tanpa sengaja ia menemukan fotonya dengan Ethan Zoya dan juga Rival saat berada di pantai.
Naina tersenyum hambar. Entahlah apa maksudnya, perasaannya mendadak tak karuan.
TBC
Sumber artikel : Alodokter
__ADS_1
Bunda. co. id.
Seandainya ada plot hole atau sesuatu hal yang dirasa gak masuk akal, bisa kritik aja ya teman-teman, karena aku menulisnya dengan tempo cepat dan riset yang singkat.