Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Sebuah Tekad Tanpa Alasan


__ADS_3

"Biar saya yang gendong."


**


Rival sedang mempersiapkan surat pengunduran dirinya dari perusahaan ketika ia mendapati kabar jika Zoya dengan Ethan tengah menikmati liburan di sebuah tempat yang bahkan belum diketahui. Orang-orang agensi Zoya sekaligus perusahaan milik Ethan merahasiakan tempat di mana mereka menikmati liburan sesuai dengan keinginan dua orang itu.


Rival tidak ingin terganggu sedikitpun, itu sama sekali tidak ada urusan dengannya. Namun tiba-tiba saja ia merasa perlu mendatangi tempat yang sekarang sedang dinikmati oleh Ethan dengan Zoya sehingga langkah pertama yang dilakukannya adalah mencari keberadaan Randy selaku sekretaris Ethan.


"Mohon maaf Pak Rival, tapi Pak Ethan benar-benar melarang saya untuk memberitahukan Di mana keberadaannya kepada siapapun juga." Randy sudah berusaha untuk menolak rasa ingin tahu Rival yang begitu menggebu-gebu sekalipun ia sudah mengatakannya berulang kali jika Ethan tidak ingin tempat liburannya dengan Zoya di ketahui orang-orang terutama pihak media.


"Ada hal penting yang harus saya katakan kepada Ethan, tolong katakan!"


"Saya tidak akan mengganggu mereka." Rival tak menyerah untuk memohon, dalam hati mengutuk dirinya sendiri, menyayangkan hal bodoh yang ia lakukan kan untuk hal yang tak masuk akal. Karena sesungguhnya ia jug tidak tahu alasan mengapa dirinya harus menyusul Zoya dengan Etan. Atau mungkin lebih tepatnya ..., ingin menyusul Naina.


"Tapi tidak bisa Pak Rival, atau Pak Ethan akan marah pada saya nanti."


"Saya yang akan bertanggung jawab. Saya jamin dia tidak akan marah, tolong katakan di mana mereka."


Randy diam sesaat, menatap Rival dengan tatapan tak mengerti, sedangkan wajah pria itu amat memohon padanya yang membuatnya akhirnya hanya mendesah pasrah.


**


Tidak mudah bagi Rival untuk tiba di sebuah perkampungan yang menurut Randy adalah kampung halaman Naina sekaligus tempat di mana Zoya dengan Ethan sengaja menikmati waktu liburan di sana.


Ia bertanya kepada orang-orang di sebuah perkebunan buah naga mengenai di mana letak rumah Naina, beruntung kedatangannya di sana disambut dengan baik dan ramah, orang-orang kampung yang dengan mudah memberitahukan kepadanya di mana alamat rumah Naina. Namun sayang, seorang wanita paruh baya yang memperkenalkan diri sebagai Bibi Naina mengatakan jika Ethan, Zoya dengan Naina belum pulang dari perkebunan buah naga.


"Tadi saya baru saja melintas di sana, tapi mereka tidak ada." sahut Rival, kemudian berusaha mengingat-ingat dan meyakinkan dirinya jika ia memang tidak melihat Zoya ataupun Ethan di sana.


"Mungkin mereka ke pantai."


"Pantai?" Rival mengernyitkan dahinya. Lantas melajukan mobilnya menuju pantai yang dimaksud Bibi Naina setelah berpamitan pada perempuan paruh baya itu.


Berbekal sedikit petunjuk jika jalan menuju pantai adalah belok kanan sebelum mereka masuk perkebunan buah naga atau belok kiri jika dalam perjalanan menuju rumah Naina.


Rival tidak mengira jika jalanan yang akan ia lalui menuju pantai adalah jalanan berbukit disaat mana ia sedang membawa mobil yang tidak akan bisa melintasi rute tersebut, Rival mendesah. Sampai detik ini di mana dirinya dibakar sinar matahari di sebuah perkampungan yang bahkan baru ia singgahi, dia masih tidak mengerti alasannya mengapa dirinya datang ke tempat ini.


Rival mengambil kacamata hitamnya setelah menghela napas cukup panjang, ia melangkah menyusuri jalanan untuk menyusul tiga orang itu hingga ia menjumpai mereka tepat ketika ia turun dari bukit.

__ADS_1


Dari kejauhan, ia melihat Naina yang tengah dipapah oleh Ethan dan juga Zoya, membuat Rival segera mempercepat langkahnya untuk tiba di antara mereka.


Hanya dengan melihat keadaan tersebut, meski Rival tidak menhetahui penyebabnya, namun ia tahu apa yang terjadi, terutama ketika mendengar Zoya yang menyuruh Ethan untuk menggendong Naina sehingga Rival angkat bicara.


"Biar saya yang gendong."


Zoya dengan Ethan menoleh, begitu juga dengan Naina. Mereka cukup terkejut mendapati Rival berada di sana. Dari mana datangnya pria itu dengan tiba-tiba?


"Kakinya terkilir," beritahu Ethan yang tidak terpaku cukup lama atas kehadiran Rival. Rival mengangguk, mengambil alih tangan Naina dari Ethan dan meraih pinggang gadis itu. Sementara Ethan sendiri segera meraih tangan istrinya.


Zoya tidak perlu heran berlebihan ataupun marah karena kedatangan Rival, justru ia harus berterimakasih pada Tuhan karena mengirimkan pria itu di saat yang tepat. Meski tetap tidak bisa dipingkiri, Zoya bertanya-tanya, alasan mendasar apa yang membuat Rival berada di sana? Keperluan kerja?


Zoya mengernyitkan dahi saat Ethan tiba-tiba saja berjongkok memunggunginya. "Naik!" titah pria itu.


"Aku mau jalan." Zoya menolak halus.


"Biat kita cepat sampai." Ethan menyahut tidak mau tau.


"Jadi jalan aku pelan?"


"Saya tidak mau kamu cape. Pantainya masih lumayan jauh." akhirnya pria itu mengutarakan alasannya. Jadi, sebenarnya dua orang manusia itu adalah makhluk yang sulit peka dalam keadaan-keadaan seperti sekarang.


Ethan meraih tangan Zoya agar segera naik ke punggungnya, akhirnya wanita itu menurut dan mau-mau saja digendong punggung oleh Ethan.


Di bawah sinar matahari yang terik, dengan angin yang sesekali berembus menerbangkan rambut. Ethan dengan Zoya meneruskan perjalanan.


"Kuat nggak?" tanya Zoya.


"Kuat Sayang."


"Aku berat, ya?"


"Tidak."


"Jangan bohong."


"Cuma sedikit–"

__ADS_1


"Ihh, yaudah mau turun aja."


"Tidak usah, saya kuat gendong kamu sampai kemana pun."


"Kamu mau kemana? Dubai? Turki?"


Pertanyaan Ethan membuat Zoya tertawa, wanita itu menaruh dagunya pada salah satu pundak Ethan dengan tangan yang memeluk leher sang suami.


Sedangkan dua orang di belakang mereka saling menatap dengan tatapan kikuk. Naina jelas saja bertanya-tanya mengapa Rival berada di sana. Sedangkan Rival sendiri bimbang. Tatapan Naina membunuh kosakata yang telah ia siapakan sejak di Jakarta begitu nanti ia tiba dan bertemu dengan Naina.


"Biar saya gendong kamu." sahut Rival, mengusir hening yang terjadi di antara mereka selama puluhan detik, pun matahari yang bersinar terik cukup menyengat jika mereka hanya berdiam diri.


"Saya jalan sendiri aja Mas."


"Yasudah." Rival melepaskan tangan Naina namun gadis itu hendak terjatuh, yang membuat Rival menatapnya dengan tatapan intents, Naina menundukan pandangan, risih sekaligus takut pada Rival, namun beberapa detik kemudian ia bagai terbang ke udara saat Rival mengangkat tubuhnya dengan tiba-tiba.


Naina pasrah, namun begitu sekalipun ia tau Rival tengah menatapnya dengan kaki yang terus melangkah, Naina tak berani membalas tatapannya. Naina hanya menatap kosong ke depan, sama sekali tak menghiraukan Rival hingga akhirnya pria itu pun memutuskan tatapannya dan fokus pada jalanan agar ia tidak tersandng dan terjatuh nanti.


keduanya hanya saling terdiam, benar-benar keadaan yang membuat keduanya kian canggung, hingga akhirnya demi menghargai Rival, Naina bertanya kepada pria itu.


"Kenapa Mas Rival bisa datang ke sini?"


"Saya pakai mobi." jawabnya dengan enteng.


"Bukan itu." Naina tahu jika sebenarnya Rival peka dengan apa yang dirinya maksud. Namun sepertinya pria itu memang sengaja tidak memberitahukan alasan mengapa ia datang ke kampung halaman Naina.


Rival menatap wajah Naina yang tampak cemberut dengan jawaban yang diberikannya.


"Saya memiliki beberapa urusan dengan Ethan." dusta pria itu kemudian.


"Artinya setelah nanti urusan dengan Pak Ethan selesai, Mas Rival akan langsung pulang ?"


Merasa tidak terima dengan pertanyaan Naina yang seolah mendesaknya untuk segera pulang maka Rival menatap gadis itu.


"Bagaimana kalau saya menginap saja di rumah kamu?"


"Menginap?" Naina mengerutkan kening.

__ADS_1


TBC


Mas Rival jangan maceem-maceeem woooy😂🤣


__ADS_2