
Pagi-pagi sekali sebelum berangkat ke Bandara untuk meluncur ke luar negri, Zoya lebih dulu ke kamar Naina untuk pamit pada gadis itu sekaligus memeriksa keadaan Naina sebelum ia pergi intuk beberapa hari ke depan. Selain itu, Zoya juga ingin menyerahkan sesuatu pada gadis itu. "Ini–"
"Hadiah buat kamu." sahut Zoya, Naina terdiam setelahnya menatap kalung dengan liontin rasi bintang di tangan Naina.
Beberapa bulan yang lalu, Ethan membelikannya dua kalung. Zoya memilih satu di antara dua itu, sisanya adalah yang pada akhirnya ia serahkan pada Naina.
Jika ia ditanya hadiah untuk apa, maka jawabannya hanya satu hal. Untuk mengucapkan terimakasih. Namun Zoya sendiri tak tahu terimakasih untuk apa.
Terimakasih karena gadis sudah bersedia menjadi istri Ethan untuk mengandung anak pria itu. Atau mungkin terimakasih karena Naina sudah membohonginya dan justru mengandung anak orang lain.
"Mbak Zoya, ini terlalu cantik." Naina merasa ragu menerima kalung tersebut. Ia tertarik jelas saja karena kalung yang Zoya berikan memang sangat indah dan memukau mata. Tapi, apakah ia pantas memakainya?
"Justru karena kalung ini cantik, saya menyerahkannya." Zoya sedikit memaksa dengan mengepalkan tangan Naina agar menggenggam kalung pemberiannya.
"Mbak Zoya–"
"Jangan ditolak, Naina!"
"Saya sudah terlalu banyak menerima dari Mbak Zoya, saya merasa nggak enak." Naina memaksakan senyumnya, terlihat jika raut wajahnya memang nampak canggung. Selama tinggal dengan Zoya, wanita itu terlalu banyak memberinya, sekalipun hanya sebuah perhatian kecil.
"Tidak masalah, saya yang kasih bukan kamu yang minta." Zoya mengusap punggung tangan gadis itu.
"Saya sudah minta Mbak Selin carikan asisten rumah tangga sementara buat kamu selama saya nggak ada. Kamu jaga diri baik-baik, yah." pesan Zoya, mengusap permukaan perut Naina yang masih rata secara singkat.
Ada pilu yang tak bisa dijelaskan melalui sorot matanya. Tidak ada lagi harapan baginya.
"Maaf, yah, Mbak Zoya, karena saya nggka bisa antar ke Bandara." sesal Naina karena dokter menyarankannya untuk beristirahat dan tidak banyak bergerak, Zoya mengangguk.
"Terimakasih, Mbak Zoya." ada krystal bening yang menggenang di pelupuk mata Naina. Entahlah apa yang ia rasakan, melihat kehangatan Zoya entah mengapa ia merasa begitu bersalah pada wanita itu.
Ekspresi gadis itu membuat Zoya yang semula menahan air matanya ikut terharu. Tetapi beruntung ia masih bisa menghalau air matanya untuk tidak jatuh ketika Naina berhambur memeluknya.
"Maaf sudah banyak merepotkan Mbak Zoya,"
"Tidak, Naina."
__ADS_1
***
Zoya dan Ethan, juga Selin dan beberapa staf memasuki Bandara setelah berhasil menembus kerumunan para wartawan yang ingin meliput kepergian mereka untuk mimpi besar yang nantinya akan dibawa pulang usai syuting berakhir.
Zoya memilih tak banyak berkomentar, ia menyerahkannya pada Edrin dan Alexa untuk menjawab beberapa pertanyaan dari wartawan. Tetapi kedua sudut bibirnya tetap mengukir sebuah senyuman.
Berbeda dengan matanya dibalik kacamata hitam yang ia kenakan, mata wanita itu tampak sendu dan kelabu. Ethan di sampingnya terus menggenggam tangannya dan mengalirkan kehangatan.
***
"Katakan pada saya. Siapa ayah dari anak yang sedang kamu kandung?"
"Katakan Naina!"
"Katakan pada saya siapa ayah dari anak ini?"
"Katakan Naina, kita tahu dengan baik jika saya dengan kamu tidak pernah melakukannya."
"Dihari ketika saya meninggalkan kamu di hotel, apa kamu tidak memenuhi perintah saya untuk segera pulang?"
"Katakan Naina!"
"Enggak melulu soal uang, kamu lupa kasih nafkah batin buat aku!"
"Di malam kamu ninggalin aku di hotel, aku ketemu sama orang yang bisa kasih aku cinta bahkan tanpa aku meminta. Kamu pikir salah siapa?"
"Kalau seandinya malam itu kamu nganterin aku pulang dulu, bukan ninggalin aku gitu aja, semua ini nggak akan pernah terjadi!"
Zoya tersenyum samar mengingat jika semalam ia mendengar seluruh isi rekaman dari hasil penyadap suara yang ia taruh di kamar Naina.
Akhirnya Zoya tahu jawabannya. Jika anak dalam kandungan Naina memang bukanlah anak Ethan. Bukan anak mereka. Setelah anak itu lahir, Zoya tidak bisa memilikinya.
"Aku boleh tanya sesuatu sebelum pergi?" tanya Zoya sebelum ia masuk boarding lounge. Ethan menatap wanita itu dengan sorot tak terbaca. Pasalnya, sejak semalam ia merasa jika Zoya sedikit berbeda. Ethan mengira wanita itu gugup untuk menyelesaikan syuting filmnya. Ia tidak berharap ada hal lain, tapi mendengar permintaan tiba-tiba istrinya, Ethan merasa perasaannya mulai tak karuan.
"Sayang–" Ethan menarik kacamata wanita itu saat melihar cairan bening membasahi pipi istrinya, Ethan mendesah saat melihat mata wanita itu yang tampak memerah. Ia bahkan tidak sadar sejak kapan Zoya menangis? Apa alasannya? Kenapa perasaan Ethan benar-benar tidak tenang?
__ADS_1
"Aku perlu tahu alasan kenapa Mas Rival harus ada di rumah kita kemarin saat Naina kecelakaan." sahut Zoya yang membuat Ethan terdiam. Melihat dari mata sang istri, kenapa rasanya Zoya menetahui rahasai yang Ethan coba sembunyikan?
Wanita itu seperti sengaja bertanya karena sudah tahu sesuatu hal. Wanita itu sengaja bertanya pada Ethan karena sudah tahu faktanya.
"Jawab, Ethan!"
"Sayang–" Ethan hendak meraih tubuh wanita itu namun Zoya mengangakat tangan guna menahan langkah pria itu agar tidak mendekat.
"Aku nggak ngerti apa yang terjadi. Tapi aku tahu semuanya Than." Zoya menunduk bersamaan dengan air matanya yang jatuh ke lantai putih Bandara.
"Kenapa kalian jahat sama aku?" Zoya merasakan sesak yang teramat di hatinya.
Faktanya Ethan tak dapat berkata apa-apa dan hanya pasrah dengan pandangan kosong pada Zoya. Ia bahkan tak bisa menjelaskan sedikitpun dan tak bisa menenangkan istrinya.
"Ini sakit Than," Zoya menunjuk dadanya sambil terisak.
Ethan sesaat menghela napas dengan mata terpejam. "Saya jauh lebih sakit, Zoya."
Giliran Zoya yang menghela napas. Ia mengambil kacamatanya di tangan Ethan begitu menyeka air mata lantas mengenakannya.
Zoya menenangkan diri sebelum kemudian berbicara. "Aku harus fokus buat syuting penyelesaian film. Kita bicarain ini setelah aku pulang ..., oh, satu hal lagi." Zoya menatap pria itu lekat-lekat.
"Jangan pernah berpikir buat nyusulin aku. Atau kamu akan menyesal kalau sampai kita bertemu di sana." ancam Zoya yang kemudian melangkah pergi tanpa memedulikan sang suami yang mematung saat ditinggalkannya.
Ethan tak bisa berkata apapun setelahnya, ia bahkan tak mendapat pelukan ataupun ucapan selamat tinggal dari wanita itu.
"Sampai jumpa, Zoya." lirih Ethan, berpikir jika mengucapkan selamat tinggal bukanlah hal baik.
Ia hanya menatap punggung istrinya dengan perasaan terluka. Ia tak menyesal sudah merahasiakan hal tersebut dari Zoya, ia hanya menyesal untuk satu hal. Ia menyesal karena tak dapat berada di samping wanita itu ketika saat ini Zoya dalam keadaan yang sangat membutuhkannya.
Ethan merogoh ponsel di balik saku jasnya, ia mencari sebuah kontak dan menghubunginya. dalam dering ke tiga, panggilan terhubung.
"Saya titip Zoya."
"Tolong jaga Zoya baik-baik." Ethan mendesah, ia memijat pelipisnya dan melanjutkan. "Jangan sampai dia menangis."
__ADS_1
TBC