Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Syahdu


__ADS_3

Setelah acara yang melelahkan itu, kedua mempelai pengantin pulang ke president suite milik Ethan begitu wawancaranya dengan beberapa media mengenai kesan pernikahan hari ini usai.


Waktu sudah menunjukan pukul satu dini hari saat Ethan keluar dari kamar mandi sedangkan sang istri tertidur pada sofa di ujung tempat tidur. Ethan menghentikan gerakan tangannya yang menggosok rambut dengan handuk, lantas menghampiri Zoya yang terlelap.


Berjongkok, Ethan menatap wanita itu dalam-dalam, menyadari jika pesona seorang Zoya Hardiswara teramat memikat. Ethan terkesiap begitu mata wanita itu tiba-tiba saja terbuka, membuat Ethan bangkit dengan cepat. Mengalihkan tatapannya ke sembarang arah.


Sementara Zoya mengucek matanya, mengedarkan pandangannya ke segala penjuru sampai ia melihat Ethan berdiri di hadapannya. Zoya terlihat memundurkan wajah karena terkejut, rasanya tidak biasa mendapati seorang pria dalam satu ruangan intens dengannya.


Meski Zoya sering mengalaminya ketika syuting film, tentu saja hal itu berbeda. Karena di sini dirinya adalah Zoya, tidak memerankan karakter siapa pun melainkan dirinya sendirilah yang berada di sini apa adanya.


"Pak Ethan sudah mandi?" tanyanya begitu menatap pria itu. Ethan mengangguk, Zoya bangkit untuk ke kamar mandi menyeret gaunnnya yang panjang dan menyulitkan langkah kakinya.


Ethan yang melihat hal itu membantu Zoya menutup pintu kamar mandi saat Zoya tampak kesusahan berbalik.


Zoya mendesah saat dirinya berada di dalam kamar mandi. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Sampai pada titik ini ia masih ragu untuk percaya jika dirinya sudah berstatuskan sebagai istri orang, istri dari seorang Zeinn Ethan Maheswari.


Memilih untuk segera mandi, Zoya mengurai rambutnya, menggapai punggungnya untuk menurunkan resleting gaun yang ia kenakan. Wanita yang merasa sudah lelah itu berdecak saat tangannya tidak dapat meraih resleting.


Setelahnya berdiam cukup lama, sekarang Zoya merasa jika dirinya adalah karakter dari tokoh novel yang harus meminta bantuan suami terpaksanya untuk menurunkan resleting.


Ragu, Zoya melangkah keluar dari kamar mandi. Ethan tampak bersila di atas tempat tidur menghadap pada laptopnya. Zoya tidak tau alasan kenapa pria itu memilih berada di atas ranjang padahal terdapat meja kerja miliknya di sana.


Mata Ethan mengarah pada Zoya, menilik penampilan wanita itu yang masih sama saat akan masuk ke kamar mandi.


"Kamu belum mandi?" tanya Ethan. Zoya hanya diam, bingung. Andai ia mengajak Selin atau Adhel kemari, mungkin semuanya tidak akan serumit ini.


"Zoya,"


"Saya tanya kamu sudah mandi atau belum?"


"Bantuin buka gaun!" Zoya berkata spontan dengan sedikit ringisan. Tentu saja ia malu, sangat malu pada Ethan. Bagaimana bisa ia meminta bantuan pria yang ia berikan syarat untuk tidak menyentuhnya untuk membuka pakaian yang ia kenakan.


Sementara pria itu tampak hanya diam, tapi tak lama ia bergerak ke tepi tempat tidur. "Kemari!" suruhnya. Zoya hanya mematung, merasa suasana sangat canggung baginya.


"Cepat!" Ethan berkata sekali lagi.


Zoya melangkah menghampiri suaminya. Ethan bangkit, membalikan tubuh Zoya agar memunggunginya. "Saya nggak bisa buka sendiri." sahut Zoya saat Ethan membantu menurunkan resleting gaunnya.


"Sudah!" Ethan memalingkan wajah saat punggung mulus Zoya benar-benar terlihat oleh matanya. "Bantu nurunin gaunnya, tapi jangan liat!" untuk yang kali ini rasanya Zoya ingin terbang ke langit ketujuh. Tapi jika tidak meminta bantuan Ethan, ia juga tidak mungkin melepasnya sendiri atau tidur mengenakan gaun.


"Kalau nggak liat gimana saya bantuin kamu?"


"Ya tapi–"


"Saya sudah halal buat liat tubuh kamu di bagian manapun."


"Ethan!" Zoya berbalik, menatap pria itu setelah meneriaki namanya tanpa embel-embel Bapak seperti biasa. Tangannya terlipat di dada seolah mengancam Ethan, pria yang ditatap sedikit pun tampak tak gentar. Balik menatap Zoya dan melangkah mendekat pada wanita itu.


"Kamu bentak saya?" Selangkah Ethan maju.


"Kamu berani?"


"Hmm?"


Zoya membulatkan mata saat jarak antara dirinya dengan Ethan nyaris terkikis habis. Ia menggelengkan kepala dan mengambil langkah mundur.


"Pak Ethan saya–"

__ADS_1


Zoya menginjak bagian belakang gaun, membuat tubuhnya hilang keseimbangan dan terjengkang ke belakang, Ethan yang melihat hal itu menahan belakang kepala Zoya agar kepala wanita itu tidak terbentur lantai saat jatuh.


Brukk!


Keduanya jatuh dengan posisi telapak tangan Ethan menahan kepala Zoya. Zoya yang memejamkan mata perlahan membukanya, di mana orang yang ia lihat adalah Ethan, dalam jarak yang sangat dekat, Zoya bisa merasakan embusan napas pria itu yang menerpa wajahnya.


Sesaat Zoya tersadar dan menajuh dari Ethan dengan buru-buru. Ethan juga bangkit, merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan.


"Saya bilang bantu lepas gaun, bukan jatoh-jatohan kaya di sinetron!" Zoya menggerutu seraya menunjukan wajah kesalnya pada Ethan.


"Biar saya telpon Adhel, suruh dia kemari buat bantuin saya." Zoya beranjak menggapai ponsel dan menghubungi asistennya tanpa melihat waktu. Di belakangnya Ethan hanya menatap wanita itu. Termasuk melihat punggung Zoya yang terekspos bebas.


Tiba-tiba saja Ethan mengingat bagaimana kejadian di restoran tempo hari, di mana ia melihat Zoya dengan Fahry saling bertukar saliva tepat di hadapannya.


Dan bagaimana pagi tadi tatapan Zoya pada Fahry begitu memuja, membuat Ethan tak karuan mengingatnya, dengan langkah cepat ia menarik bahu Zoya, membuat ponsel wanita itu terjatuh ke atas matras yang dipijaknya.


Matanya menyipit melihat tatapan Ethan padanya. "Ada apa?" tanya Zoya dengan heran. Tatapan Ethan meneduh, ia menarik Zoya mendekat. "Biar saya bantu,"


Perlahan merapikan gaun Zoya, mencari cara untuk melepasnya.


"Pelan-pelan, sakit!"


Protes Zoya saat Ethan tampak tidak sabaran. Pria itu berdecak, selama ia hidup sebagai Zeinn Ethan Maheswari, ini adalah kali pertama dirinya membantu wanita melepas pakaiannya.


"Ini sedikit sudah, terlalu sempit."


"Makannya pelan-pelan." Zoya mengingatkan.


"Pelan-pelan, malah kasar!" kali.ini Zoya benar-benar kesal saat Ethan tidak mendengar dan menurutinya.


"Iya tapi pelan-pelan, sakit tau. Awas jangan sampe sobek."


"Iya, saya pelan-pelan. Kamu tau sendiri ini yang pertama buat saya, saya tidak berpengalaman."


Zoya hanya diam, sampai ia merasakan jika perlahan gaunnya turun. "Lanjutin aja, tapi jangan liat. Malu," suara Zoya mengecil di akhir kalimatnya. "Hmm," Ethan menggumam seolah akan menuruti wanita itu, pada kenyataannya, ia tidak memejamkan mata. Vista di hadapannya terlalu sayang untuk disia-siakan.


Sementara itu, samar samar suara di bawah sana membuat Zoya membulatkan mata. Buru-buru mengambil ponsel, ia tidak tau jika panggilannya dengan sang asisten ternyata sudah terhubung. "Udah, 'kan? Saya bisa sendiri, makasih!"


Berlalu dengan cepat ke arah kamar mandi setelah memutus sambungan telpon dan melempar ponsel ke atas tempat tidur. Meninggalkan Ethan yang menggantung tangannya di udara, pria itu hanya menggeleng pelan melihat pintu kamar mandi yang tertutup dengan keras.


Kemudian, senyum simpul terbit di bibirnya.


**


"Mbak Zoya, hallo Mbak." Adhel merasa heran, ia meringis mendengar pembicaraa Ethan dengan Zoya di ujung sana. Menebak-nebak apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan.


"Mbak Zoya, Mbak nggak apa-apa, 'kan Mbak?"


"Hallo."


Adhel menatap layar ponsel, Zoya sudah mengakhiri panggilan.


"Apa Pak Ethan main kasar? Kenapa Mbak Zoya bilang jangan sampe sobek?"


Adhel menggelengkan kepala, menepis pikiran kotor di kepalanya membayangkan malam pertama pasangan pengantin itu.


**

__ADS_1


"Pak Ethan langsung kerja?" tanya Zoya saat melihat pria itu sudah dengan pakaian rapinya sambil menentang dasi yang akan ia kenakan. Matanya tampak memerah, mungkin karena kurang tidur, karena setelah membantu Zoya melepas gaun, bahkan ketika Zoya akan tidur, pria itu masih disibukan oleh pekerjaannya.


Ethan mengangguk, berdiri di hadapan cermin rias untuk memasang dasinya. Zoya menghampiri pria itu. "Saya bantu pasangin!" Menengadahkan tangan tanpa canggung, Ethan menoleh, ragu menyerahkan dasi pada telapak tangan Zoya.


"Biar, saya pasangin, yah." sahutnya, tangannya mulai membentuk simpul, fokus dengan hati-hati. Sementara Ethan menatap wajahnya, Zoya terlihat tidak canggung sedikit pun di hadapan Ethan.


Sedangkan jauh dalam hati, Zoya merasa gugup. Setidaknya, hal tersebut ia lakukan sebagai tanda terimakasih untuk Ethan karena semalam sudah membantunya melepadls gaun.


"Agak sulit, ini kali pertama saya pasang dasi buat Pak Ethan."


"Kamu yakin mau terus panggil saya 'Pak'?"


Mata Zoya mengarah pada Ethan begitu pria itu bertanya padanya. "Saya harus manggil Pak Ethan apa?" Zoya balik bertanya.


"Yakin mau terus pake 'saya'?"


Zoya menaikan alis, meminta jawaban atas pertanyaan ambigu suaminya sejak tadi. "Jangan panggil saya Pak!" perintah Ethan.


"Udah?"


"Iya, Ethan!"


Ethan tersenyum. "Maksud saya pasang dasinya udah?"


"Oh," Zoya mengerjap polos, ternyata pekerjaannya sudah selesai, mundur dua langkah dan setelagnya Zoya mengangguk canggung. Zoya selalu merasa salah tingkah jika menatap mata Ethan.


"Saya berangkat sekarang, kamu jangan lupa sarapan."


Zoya hanya mampu mengangguk, sampai Ethan berlalu dari hadapannya dan benar-benar pergi dari kamar hotel mereka. Zoya tersadar, menggelengkan kepala dan duduk di tepi tempat tidur. Hari ini tidak ada kegiatan apapun baginya, Zoya akan bersantai dan berdiam diri di hotel untuk beristirahat setelah tiga minggu ini disibukan oleh skandal, rencana pernikahan dan pernikahannya.


Menggapai ponsel, ia membuka sosial media dan melihat bagaimana pernikahannya dengan Ethan masih menjadi perbincangan hangat di berbagai media.


Salah satu fans Zoya membuat postingan dua belas jam yang lalu dengan caption. Happy marriage, beauty queen, I wish you happiness with the many children. Di tambah foto pernikahan Zoya dengan Ethan.


Mulut Zoya membulat, tapi ia tersenyum. Kolom komentar yang dipenuhi para manusia menarik perhatiaannya, beberapa komentar membuat Zoya menggelengkan kepala tidak habis pikir.


Zoya-nya hot, suaminya cool. Anaknya pasti dispenser, nih.


Otak gue traveling kalo ngomongin malam pertama.


Zoya, semoga berbahagia, yah. Punya anak yang banyak.


Zoya, kamu butuh suami kedua?


Bahagia selalu, Kak Zoya.


Jangan lupa malam pertamanya live streaming.


Zoya tertawa, lantas menggelengkan kepala setelah membaca komentar nyeleneh mereka dan masih banyak lagi komentar yang ia lewati. Komunitas online para fans Zoya juga dibanjiri ucapan selamat atas pernikahannya.


Berbicara mengenai malam pertama, Zoya mengingat satu hal, jika semalam tidak ada apapun yang terjadi pada mereka. Padahal Ethan sudah bersikeras menolak syarat ketiga yang Zoya ajukan.


"Mungkin nanti." lirih Zoya, menelungkupkan wajahnya pada bantal, membayangkan bagaimana ia harus menyerahkan kesuciannya pada orang yang sama sekali tidak ia cintai.


Sepertinya Zoya harus menyusun cara untuk menolak Ethan, atau setidaknya mengulur waktu sampai ia siap.


TBC

__ADS_1


__ADS_2