Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
BAB 22


__ADS_3

Tidak ada yang berbeda dari penampilan wanita ini setelah beberapa bulan lalu di lihatnya. Selalu saja berekspresi tidak senang, dan juga sangat sulit untuk di jabarkan.


Entahlah Andika tidak terlalu tertarik untuk membahasnya, dan lebih memilih untuk segera masuk pada intinya dan berlaih memandang ke arah Samudra.


"Apa kau mengenal Adipati?" tanya Andika serius.


"Tidak? Aku sama sekali tidak mengenalnya, memangnya siapa dia?" tanya Samudra balik.


"Entahlah!" Andika seakan sulit menjelaskannya, namun pria itu kembali berkata. "Dia selingkuhan istriku," jawab nya ragu.


"Hah! Selingkuhan Shinta? Kau tidak salah?" tanya Samudra ingin memastikan.


"Sepertinya salah!" balas nya lagi.


Helen yang sejak tadi hanya diam mendengarkan, kini berniat ingin membuka suara. Namun malah sudah keduluan oleh suaminya.


"Kau pasti menyelidikinya? Sangat gampang bagimu jika ingin mengetahui secara pasti hubungan yang terjalin di antara mereka." kata Samudra berpendapat, seketika membuat Helen berpendapat yang sama.


"Ya aku tau, dan aku menyelidikinya! Pria itu hanya seorang pria biasa yang berprofesi sebagai polisi. Mereka baru saling mengenal tapi sudah sedekat itu, bahkan Shinta sampai memeluknya dengan erat." curhat Andika mengeluarkan segala isi hatinya.


Marah? Tentu saja ia sangat marah di saat mengingat kejadian itu.


Jujur dia tidak bisa terima dengan semua ini.


"Mungkin dia sudah tidak mencintaimu! Maka dari itu Shinta mencari pria lain." seloroh Samudra dengan di iringi oleh tawa.


Membuat Helen pun bahkan langsung reflek ikut tersenyum kecil, ketika mendengar sindiran yang terlontar begitu saja dari mulut suaminya.


"Hm, kau selalu menolak di saat Shinta ingin memelukmu. Jadi tidak ada salahnya dia memeluk orang lain." sambung Helen bertubi-tubi, membuat Andika serasa tertampar oleh perkataan pedasnya.


"Aku tidak pernah menolaknya, kau sudah salah paham." balas Andika sambil menatap wajah wanita itu.


"Maaf!" Hanya kata-kata itu yang dapat di lontarkan oleh Helen.


Kini Andika sudah kembali beralih menatap ke arah Samudra.


"Ku fikir kau tau tentang informasi ini," ujarnya, dan Samudra hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. Pertanda memang pria itu tidak tahu menahu tentang pasal ini, dan baru mengetahuinya setelah Andika bercerita.


"Tidak! Aku tidak mengetahui nya, kurasa Adipati sudah berhasil membuat nya nyaman. Jadi saranku, berhati-hatilah dalam memilih keputusan jika kau tidak ingin kehilangan orang yang kau cintai." balas Samudra, sekaligus memberikan peringatan terhadap Andika.


Pria itu langsung menyalakan api, dan bergegas menghisap sebatang rokok yang ada di tangannya.

__ADS_1


Mengabaikan begitu saja tatapan tajam yang di berikan oleh Andika saat ini.


"Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Samudra santai, setelah menyadari tatapan dari pria itu.


"Kau mungkin lupa Samudra, jika Shinta masih memiliki kelemahan, yaitu ayahnya. Jadi mana mungkin dia berani meninggalkan ku! Wanita itu berpikir jika akulah satu-satunya orang yang bisa membebaskan ayahnya dari dalam penjara." ucap Andika berbicara dengan sangat sombongnya, seolah yakin jika Shinta pasti tidak akan mau melakukan hal itu.


Dia nekat melakukan apapun, asalkan ayahnya bisa keluar dan bebas dengan memanfaatkan kekuasaan yang Andika miliki.


"Bisa saja! Kau lupa jika ayahnya sudah sangat tua? Jika pak Herman mati, dan dia sudah lelah akibat sikap mu ini. Pasti dia akan pergi dengan membawa anakmu, dan meninggalkan mu sendirian. Barulah kau mengerti setelah itu!" Samudra berkata dengan sangat entengnya, benar-benar membuat Andika merasa sangat emosi sekarang.


"Kenapa? Kau marah? Cukup jelas kau mengetahui jika Shinta sangat menyayangi ayahnya. Semua manusia memiliki titik kesabaran! Dan lagi pula dia tidak berfikir bahwa kau adalah satu-satunya orang yang bisa membebaskan ayahnya." sambung Samudra lagi.


"Katakan lebih jelas! Jangan berbelit-belit!" perintah Andika tegas.


Sesaat Samudra mengulas senyuman terlebih dahulu, sebelum akhirnya melanjutkan kembali perkataannya.


"Lebih tepatnya! Kau adalah orang yang beruntung karena selain punya kekuasaan, dirimu berhasil membuat Shinta jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Sehingga membuat wanita itu berinisitaif untuk mendapatkanmu bagaimana pun caranya! Tapi akan ada masanya wanita itu lelah untuk berjuang, dan pasti akan meninggalkanmu." Lagi-lagi ucapan dari SAMUDRA membuat hati Andika langsung merasa tidak tenang.


Lantas pria itu langsung bangkit dari duduknya. "Berhentilah! Omong kosong! Aku tidak butuh nasehat mu itu." bentak Andika yang sudah mulai geram terhadap Samudra.


Pria yang ada di hadapannya ini terlalu sok tahu, seperti sudah layaknya seorang dukun. Membuat Andika langsung menjadi emosi, dan tidak terima atas semua perkataan nya.


Langsung Andika melemparkan sebuah amplop coklat ke arah Helen. Dan wanita itu tentu saja menerimanya.


Setelah itu barulah ia akhirnya melangkahkan kaki pergi dari cafe tersebut.


Namun sayangnya Andika malah tak sengaja berselisihan dan bertemu dengan istrinya Shinta yang kebetulan juga masuk ke dalam cafe itu.


"Kau?" tanya nya merasa heran.


"Ada apa?" balas Andika santai.


"Ti-tidak!"


Setelah mendengar jawaban dari wanita itu, ia langsung saja kembali melanjutkan langkah kakinya dan pergi.


Shinta menatap heran punggung suaminya yang saat ini telah pergi menjauh, dan kini sudah beralih memandang ke arah 2 orang manusia yang sedang duduk itu.


Shinta mulai mendekat ke arah mereka, dan tiba-tiba saja!


BRAK!!!

__ADS_1


Dengan kurang ajarnya wanita itu malah menggebrak mejanya dengan sangat kuat, sehingga menimbulkan suara keras dan mampu membuat kedua sahabatnya langsung terkejut.


"Ada apa ini? Kenapa wajah kalian semua menjadi tegang?"


Setelah mendengar ucapan dari Shinta, membuat Helen dan juga Samudra langsung reflek tersenyum dan mengubah ekspresi wajah mereka.


"Apa yang sedang kalian lakukan dengan suamiku disini?" tanya wanita itu lagi, seolah sedang mencurigai kedua sahabatnya.


"Tidak ada!" balas Helen.


"Lalu apa ini?" Shinta langsung merampas amplop coklatnya, dan melihat apa isi di dalam amplop tersebut.


Ternyata uang! Dan Shinta cukup di buat terkejut karena hal itu.


"Gaji ku selama sebulan!" ujar Samudra yang langsung mengambil alih amplopnya dari tangan Shinta.


"Oh ya? Jadi dia kesini karena ingin memberi gaji bulanan mu?"


"Tentu saja!" balas Samudra cuek.


"Hm, baiklah!" Setelah mengatakan kalimat singkat itu, Shinta akhirnya memutuskan untuk duduk bersama dengan mereka.


"Oh ya, kenapa kau bisa tau kami ada disini?" tanya Helen.


"Tadinya aku sedang membeli sesuatu di kedai depan. Tapi malah tidak sengaja melihat mobil Andika terparkir disana." jawab wanita itu.


"Oh ya?" tanya Helen lagi, dan Shinta langsung mengangguk.


Sesaat Shinta melihat ke arah sekelilingnya, dan baru menyadari sesuatu yang aneh.


"Kenapa cafenya begitu sunyi? Apa tidak ada orang selain kita?" tanya Shinta bingung, bahkan pelayan ataupun barista sama sekali tidak terlihat. Padahal jika di lihat-lihat cafe ini masih terlihat bagus dan berfungsi jadi mana mungkin jika cafenya sudah tidak di pakai lagi atau kosong.


"Suamimu yang mengosongkannya, kau tau sendiri bagaimana sikap Andika!" balas Helen.


"Maka dari itu kau tidak perlu cemburu ketika Andika menyewa sebuah restoran untuk makan malam bersama dengan Rosi. Dia melakukan hal itu karena sudah tidak tau lagi bagaimana caranya menghabiskan uang!" sambung Samudra, seketika membuat Shinta langsung melotot tak percaya.


"Kau tau tentang hal ini dari mana?"


"Suamimu_"


"Tunggu sebentar!" Cegah Shinta yang langsung memotong ucapan Samudra ketika pria itu hendak menjelaskannya.

__ADS_1


__ADS_2