
Setelah dalam waktu dua jam memasak dan menata makanan untuk makan malam spesial kejutan. Zoya dan Naina bernapas lega melihat tempat yang sudah rapi dan siap untuk membuat Ethan terkejut nantinya.
Naina memerhatikan Zoya, ia menghela napas sebelum akhirnya bersuara. "Mbak Zoya," panggil Naina, setengah ragu. Zoya menoleh dengan alis terangkat.
"Ada apa Naina?" tanya wanita itu saat Naina justru hanya diam.
"Saya boleh izin keluar nggak?" tanyanya kemudian dengan masih tampak ragu. Zoya mengernyitkan dahi. "Kebetulan saya punya temen di Jakarta, tadi siang kami ketemu dan dia ngajak saya keluar." dusta wanita itu.
"Boleh nggak Mbak?"
Zoya diam. Menatap Naina ragu, bukan takut wanita itu berbohong. Hanya saja ia takut membiarkan Naina keluar tanpanya untuk pertama kali. Selama ini, gadis itu hanya pergi ke supermarket atau pun pasar, dan itu pun pada siang hari.
"Gimana Mbak?" tanya gadis itu lagi dengan tatapan penuh harap meminta jawaban Zoya. Zoya terdiam sebentar kemudian mengangguk. Mengingat barangkali Naina pun butuh hiburan. Lagi pun, ia juga akan merayakan kebahagiaan dengan Ethan.
Zoya akhirnya mengangguk, membuat Naina bernapas lega dan tersenyum senang. Ia segera pamit pada Zoya karena sudah menetukanal jam bertemu dengan temannya dan ia harus bersiap - siap.
Zoya melihat arloji di pergelangan tangan begitu Naina berlalu, waktu sudah menunjukan hampir pukul delapan malam. Ethan pasti sebentar lagi akan pulang, sehingga ia keluar dari ruang baca untuk bersiap dan berdandan cantik demi suaminya.
**
"Ayo kita makan malam."
"Saya tidak bisa." ini adalah kalimat penolakan ketiga Naina pada Kevin yang mengajaknya makan malam saat keduanya bertemu di gedung AE RCH.
"Kalau kamu menolak, saya akan terus meneror kamu. Bagaimana?"
Atas ancaman pria tersebut, Naina tak punya pilihan lain, terpaksa memenuhi undangan paksaan Kevin untuk makan malam. Semata - mata demi kedamaian hidupnya agar tidak terganggu oleh pria itu.
Setelah memoles wajah dengan make up seperlunya, Naina lantas bersiap berangkat. Dress selutut berwarna kuning, rambut yang diikat rendah dan rapi, juga make up natural - nya membuatnya tampil cantik. Kitten hells berwarna putih pemberian Zoya menjadi alas kaki pilihannya. Sesungguhnya semua yang menempel di tubuhnya adalah hasil pemberian wanita itu. Dan ..., sempurna. Naina pun merasa bingung mengapa ia harus berdandan hanya untuk bertemu dengan Kevin.
Setelah meyakinkan diri dan cukup menghapal jalan yang akan dilaluinya agar tidak tersesat nanti. Naina keluar dari rumah kali pertama pada malam hari. Bersamaan dengan kedatangan mobil Ethan yang memasuki gerbang rumah. Begitu pria itu memarkirkan mobil dan turun, dahinya berkerut melihat Naina. Terutama gadis itu tampil berbeda di jam seperti ini.
"Kamu akan kemana?" tanya Ethan. Tidak biasanya gadis itu keluar malam. Terutama tampil cantik dan rapi pada malam hari.
"Keluar sebentar Pak, sudah izin ke Mbak Zoya." sahut singkat gadis itu.
"Saya tanya akan kemana?"
"Mm, tidak jauh."
"Ada acara apa?" tanya Ethan lagi yang membuat gadis itu heran. Tidak biasanya Ethan banyak bertanya.
"Jangan pulang malam - malam. Di luar bahaya," pesannya. Naina hanya mampu mengangguk, tapi tubuhnya mematung bahkan saat Ethan menghilang dari pandangannya. Ada yang aneh dengan perasaannya.
Perasaan yang akhir - akhir ini selalu berusaha ia tepis. Ia harus sadar dan tahu diri dengan status dan derajatnya yang jauh berbeda dengan Ethan. Bukan hanya itu, perasaan Zoya yang paling utama baginya. Gadis itu menghela napas, lantas memantapkan langkahnya untuk bertemu dengan Kevin. Naina hanya berharap, ini adalah makan malam pertama dan terakhirnya dengan pria itu. kemudian ia terbebas dan tidak akan mendapat gangguan, juga teror dari Kevin.
__ADS_1
**
Ethan cukup merasa heran mendapati keadaan rumah yang sepi begitu ia melangkah masuk. Meja makan kosong tanpa sedikit pun makanan yang tersedia di sana. Tidak seperti biasanya. Apa karena Naina pergi keluar dan gadis itu tidak memasak? Padahal Ethan datang dengan cepat untuk makan malam di rumah, menikmati masakan gadis itu dan duduk di samping istri tercintanya.
Ethan memilih memasuki kamar, tangannya memegang handle pintu dan mendorongnya pelan. Harum aroma parfum segera menabrak indera penciumannya. Ia tersenyum, melihat istrinya tengah mengenakan anting di depan cermin. Ethan melangkah, memeluk wanita itu dari belakang, membuat Zoya yang tidak sadar akan kehadirannya cukup terkejut mendapati pelukan yang tiba - tiba.
"Hey, udah pulang?" tanya wanita itu yang kemudian melanjutkan aktivitasnya memasang anting.
"Ada acara apa?" tanya Ethan, menaruh dagu di pundak sang istri dan menatap pantulan mereka di cermin. Penampilannya dengan muka kusut dan rambut yang lumayan berantakan membuat keadaannya begitu kontras dengan kondisi Zoya yang terlihat begitu segar dan cantik.
Cocktail dress berwarna hitam itu terlihat begitu cantik melekat di tubuh istrinya. "Aku udah bilang ada acara spesial. Aku punya sesuatu buat kamu." wanita itu berbalik, sedikit mendorong Ethan menjauh darinya. Pria itu sudah sedikit mengacau tatanan rambutnya yang rapi.
"Sekarang kamu mandi, aku udah siapin pakaian. Okey, Hubby." wanita itu menangkup wajah Ethan, pria itu mengangguk. Lantas berlalu ke kamar mandi setelah mendaratkan kecupan manis di kening istrinya.
**
Sementara itu, Naina hanya duduk dengan gelisah di sebuah meja di restoran yang Kevin maksud dalam pesan whatsApp yang pria itu kirim. Ia menoleh ke sana - kemari, mencari di mana keberadaan Kevin. Naina hanya ingin segera menikmati makan malam dengan pria itu, kemudian segera pulang dan urusannya dengan Kevin selesai. Hanyabl sesingkat itu. Naina berharap segera mendapat kehidupan yang tenang.
"Namanya Naina, dia dari kampung. Baru dua bulan bekerja dengan seorang aktris Zoya Hardiswara. Usianya baru 22 tahun, dan masih gadis."
Kevin melangkah santai menuju ke dalam restoran dengan salah satu meja yang sudah ia pesan. Senyumnya terukir begitu melihat seorang wanita cantik yang tengah menunggunya. Duduk manis dengan tatapan gelisah yang begitu terbaca.
"She looks so beautiful." decaknya begitu tatapan mereka bertemu dalam jarak beberapa langkah.
"Pak Kevin?" seorang waitress menghampirinya. Ia mengangguk, waitress itu mengantarkannya pada meja di mana Naina duduk di sana.
"Bisa kita langsung makan?" tanya Naina yang membuat pria itu berhenti menatap tubuhnya, namun tatapannya beralih pada wajah cantik Naina.
"Bisa kita mengobrol sebentar? Kita harus saling mengenal." pria itu tak dapat ditolak.
"Kamu tidak pernah membalas pesan dari aku. Kamu juga jarang menerima telpon dari aku."
"Karena saya asisten rumah tangga. Jadi saya sibuk, maaf." Naina masih berusaha untuk sopan. Kevin tersenyum menatapnya, ia merasa jika Naina menarik. Cukup menarik untuk menjadi mainannya.
**
Ethan terpaku begitu Zoya membawanya masuk ke ruang bacanya. Di mana makan malam untuk mereka sudah tersedia di sana.
Ethan merasa tidak sedang berulang tahun. Atau ada sesuatu yang layak untuk keduanya rayakan sehingga Zoya begitu repot menyiapkan makan malam romantis untuk mereka. Atau karena Zoya ingin bersikap romantis padanya?
"Oh, yah, sebagian makanannya aku yang masak, loh." beritahunya pada sang suami.
"Oh, yah?" tanya Ethan bagai tak percaya. Zoya membawanya duduk pada kursi yang sudah disediakan. Begitu juga Zoya yang duduk berhadapan dengannya. Tersenyum manis dan menunjuk dengan dagunya agar Ethan segera mencicipi makanan. Ethan mengangguk dan mulai mencicipi salah satu masakan Zoya yang ditunjuk wanita itu sebagai makanan buatannya.
"Kamu sudah jago masak, masakan kamu enak." puji pria itu sungguh - sungguh. Membuat senyum Zoya merekah mendengar pujian suaminya.
__ADS_1
Keduanya lantas melanjutkan makan. Dengan mata Ethan yang lebih sering menatap istrinya. Terutama, malam ini aura wanita itu begitu berbeda dari biasanya. Membuat Ethan kian penasaran dengan apa yang akan wanita itu sampikan.
Terlebih, saat makan usai dan Zoya mengajaknya untuk berdansa. Ethan mulai merasa jika perasaannya tidak tenang. "Saya tidak mengerti dengan apa yang sedang kamu lakukan Zoya." sahut pria itu meski tetap memenuhi apa yang sang istri inginkan.
Berdansa dengan mesra diiringi lagu Perfect dari Ed Sheeran. Ethan yang memilih lagu tersebut.
Zoya tak menyahut saat Ethan bertanya. Ia tampak jauh lebih menikmati alunan musik dengan mata indah yang tengah terpejam. Ethan menggeleng pelan dengan senyum terukir.
...[Baby, I'm dancing in the dark with you between my arms]...
...Kasih, aku menari dalam gelap bersamamu dipelukanku....
...[Barefoot on the grass, listening to our favourite song]...
...Tak beralas kaki di atas rumput, mendengarkan lagu kesukaan kita....
...[When you said you looked a mess, I whispered underneath my breath]...
...Saat kau bilang, kau terlihat berantakan, aku berbisik dengan pelan....
...[But you heard it, darling, you look perfect tonight]...
...Tapi dengarkan ini kasih, kau terlihat sempurna malam ini....
"Zoya, saya mencintai kamu."
...[Well I found a woman, stronger than anyone I know]...
...Ya ku temukan seorang wanita, lebih tangguh dari siapapun yang ku kenal....
...[She shares my dreams, I hope that someday I'll share her home]...
...Dia wujudkan mimpi - mimpiku, aku harap suatu saat aku kan berbagi rumah dengannya....
...[I found a love, to carry more than just my secrets]...
...Ku temukan sebuah cinta, tuk ku jaga lebih dari rahasia - rahasiaku....
...[To carry love, to carry children of our own]...
...Menjaga cinta, menjaga anak- anak milik kita....
Kemudian tangan wanita itu yang semula berada di leher Ethan turun ke pinggang.
Zoya merapatkan tubuhnya, mengikis jarak di antara keduanya. Wanita itu menaruh dagunya di pundak Ethan, sedikit membuat pria itu lebih memcondongkan tubuhnya. Bersamaan dengan lagu yang berakhir, Zoya berbisik pelan di telinganya.
__ADS_1
"Congrats, future Father."
TBC