
Ethan menyodorkan segelas susu pada sang istri. Seperti biasa, dia selalu cekatan dengan asupan nutrisi istrinya. Pria itu bahkan rajin dalam memilihkan makanan yang sehat dan bergizi untuknya.
"Besok sayur bayam, yah. Bayam bagus buat ibu hamil." sahutnya pada Zoya yang terlihat enggan menghabiskan sayur brokoli buatan pria itu. Zoya bukanlah vegetarian. Tapi mau tak mau, ia menganggukan kepala menuruti perintah suaminya.
"Kata Bunda buat nanti syukuran empat bulanan acara digelar di rumah Bunda aja. Gimana, kamu setuju?" sambung pria itu. Zoya diam mempertimbangkan.
"Kan acaranya masih lama,"
"Dua minggu lagi," pria itu menyahut.
"Harus dipersiapin dari sekarang." sambungnya. Zoya mengangguk - anggukan kepala. "Kalau gitu gimana diatur sama Bunda aja," pasrahnya, toh ia juga tak mengerti dan akan mengikuti saja apa yang sang bunda atur untuknya.
"Nanti saya sama Bunda yang urus."
"Iya, SAYA." sindir Zoya setengah mencibir, Ethan tertawa, kemudian mengacak puncak kepala wanita itu. Selaama ini, Zoya tidak merasa terganggu sama sekali dengan aksen kaku pria itu, faktanya ia tak merasa seperti orang asing dalam hidup Ethan, ia terbiasa dan sudah sangat nyaman. Terlanjur nyaman.
"Aku," Ethan mengerutkan kening, tampak tidak nyaman mengucapkannya, kemudian pria itu menggelengkan kepala "Hhmmm, no!" sambungnya dengan ekspresi meringis. Zoya tertawa, balik mengacak puncak kelala pria itu dan membuat rambut sang suami berantakan.
"Kita berangkat jam berapa?" tanya wanita itu kemudian setelah merapikan rambut Ethan, Ethan melihat jam dinding yang berada di salah satu sudut dapur.
"Kamu maunya jam berapa?"
"Terserah. Aku, sih, ikut aja."
"Habis sarapan aja gimana? Biar siangnya udah ada di rumah lagi?" tawar Ethan. Wanita itu segera mengangguk.
Hari ini, Ethan mengajak Zoya untuk mencari gaun untuk pergi ke acara pernikahan Selin dan Randy besok. Waktu yang sangat mepet bagi Zoya, namun dengan wajah tanpa dosanya yang tampan bak pangeran dari istana langit ketika Zoya protes, suaminya itu justru mengatakan. "Take it easy."
"Naina, abis ini kamu siap - siap, yah." Zoya beralih pada Naina.
"Kemana Mbak?" heran gadis itu yang tengah membereskan meja makan usai ketiganya sarapan. Pada akhirnya Zoya selalu berhasil menghabiskan makanan yang disediakan Ethan.
"Ada, pokoknya ikut aja." Zoya so misterius, menoleh pada suaminya dan tersenyum. lSedangkan Naina tamoan seperti biasa, hanya bisa pasrah dan menganggukan kepalanya saja.
Tepat seusai sarapan, Zoya bersiap untuk berangkat dengan pria itu. Wanita itu mengernyit melihat seperangkat pakaiannya sudah tersedia di tepi tempat tidur, bersamaan dengan kemunculan Ethan yang memasuki kamar, pria itu menaikan alis pada Zoya yang terdiam di depan pintu kamar mandi.
"Ini kamu yang siapin?" tanya wanita itu kemudian.
Ethan mengangguk. "Kenapa? Nggak cocok, yah?" tanya pria itu. Zoya tak bersuara. Mengambil pakaian yang Ethan ambilkan dan meniliknya, kemudian mengangguk - anggukan kepala.
"Saya suka apa pun yang kamu pilih." wanita itu tersenyum menirukan apa yang sering kali Ethan katakan bila Zoya mengajukan pertanyaan yang sama saat memilihkan pakaian untuk pria itu.
Ethan tersenyum, duduk di tepi tempat tidur dan memerhatikan sang istri yang tengah mengenakan pakaiannya. Sesekali tersenyum, ia selalu tidak tahan jika tidak menghampiri wanita itu. Dress floral selutut dengan warna merah kombinasi hitam, Ethan sengaja memilihkan sneakers untuk alas kaki wanita itu.
"Cantik nggak?" Zoya meminta pendapat sang suami setelah mengenakan pakaiannya berikut juga memakai sneakersnya dan memoleskan lip balm di bibirnya. Akhir - akhir ini ia memang tidak suka berdandan seperti sebelumnya. Terlebih Ethan selalu mengatakan hal - hal yang membuatnya nyaman dengan apa pun yang ia lakukan.
"Enggak papa, nggak dandan juga cantik. Inner beauty - nya keliatan," pujinya yang selalu berhasil membuat wanita itu tersipu dengan perasaan menggebu - gebu.
"Cantik, udah." jawab Ethan setelah menatap wanita itu cukup lama.
__ADS_1
"Kamu selalu cantik di mata saya." sambungnya. Dan ...,
Blusshh, wanita itu menahan senyum yang justru membuat Ethan mengernyitkan dahi. Tapi beberapa detik kemudian, wanita itu menilik penampilan sang suami.
Zoya melipat tangan di dada, Ethan mengernyitkan dahi dan menatap sang istri penuh heran. Kemudian menilik penampilannya sendiri.
"Ada apa?" akhirnya ia memilih untuk bertanya.
"Ada yang salah dengan penampilan saya?"
T shirt putih yang di balut kemeja putih dan dengan semua kancing yang dibiarkan terbuka. Dengan sneakers berwarna putih, sama dengannya sebagai alas kaki.
"Nggak kegantengan, nih, mau ke ma aja kaya gini?"
"Ya gimana, kan saya emang ganteng Zoya."
"Narsis!"
Ethan tersenyum. "Yasudah, kamu yang pilihkan pakaian untuk saya." titahnya, seakan pasrah dengan apa pun yang nanti akan menjadi pilihan sang istri.
Zoya berjalan ke arah walk in closet. Memilah milah pakaian pria itu yang didominasi kemeja putih dan jas hitam. Zoya menggelengkan kepala, lantas matanya menangkap sebuah kemeja flanel berwarna hitam. Kali ini kepala wanita itu mengangguk penuh arti.
"Ganti pake ini!" menyerahkan kemeja flanel tersebut pada sang suami. Tak banyak berkomentar, dengan tanpa keberatan sedikit pun, Ethan menerima kemeja tersebut dari tangan sang istri kemudian membuka kemeja putih dan t shirt putih yang di kenakannya. Menggantinya dengan kemeja pilihan sang istri, begitu selesai ia segera berbalik pada Zoya. Mengangkat kedua bahunya. Meminta pendapat sang istri mengenai tampilan barunya dengan pakaian berbeda.
"Kok malah makin ganteng, sih." protes wanita itu, tidak terima.
Wanita itu hanya mencebikan bibir, merasa pusing sendiri. "Kamu enak, gimana gimana juga tetep ganteng. Nah, aku? Badan makin berisi, males dandan, make baju senyamannya. Pokoknya nggak banget, deh." ocehnya dengan nada kesal.
"Hmm, terus?"
"Ya ..., aku merasa minder aja."
Ethan mengangguk - anggukan kepala. Lantas meraih pinggang istrinya. Sedangkan ekspresi wanita itu masih tak berubah, masih dengan tampang kesal. Bisa - bisanya sang suami tampan di saat ia dalam keadaan menyedihkan karena kehamilan.
"Kamu takut banyak yang suka pada saya? Kamu takut saya nggak cinta lagi sama kamu, atau apa?"
"Semuanya Hubby, semuanya ....," kesal wanita itu
"Kan saya sudah bilang. Jangan mengkhawatirkan sesautu hal yang tidak pasti. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa pun, Zoya."
"Tapi aku nggak suka ada cewek yang ngeliatin kamu dengan tatapan menginginkan, gitu. Aku nggak mau."
"Okey, jadi saya harus gimana?" pasrah pria itu dengan batas sabar yang sangat luar biasa menghadapi istrinya. Tapi pada kenyataannya wanita yang ditanyainya dengan nada lembut itu hanya diam.
**
Pada akhirnya mau tidak mau Zoya dengan Ethan berangkat ke mall setelah drama singkat mengemai pakaian yang Ethan kenakan. Waktu sudah sangat mepet dan Zoya tidak mungkin menunda - nunda lagi. Ethan masih mengenakan kemeja flanel hasil pilihannya. Sedangkan Zoya sendiri juga mengenakan dress floral dari pria itu.
"Tuh, 'kan, mereka ngeliatin kamu." Zoya menggerutu sejak kakinya melangkah masuk ke mall. Tatapan semua orang memang berpusat pada mereka, seperti biasa ponsel menjadi media utama untuk segera membuka fitur kamera dan mengabadikan moment.
__ADS_1
Ethan yang menggenggam tangan wanita itu menoleh dengan senyum mengembang. "Mereka semua ngeliatin kamu, Sayang." sahut Ethan dengan penuh pengertian, meski nada bicara wanita itu mengajaknya berperang.
"Setelah dua bulan kamu nggak muncul di tempat umum dan juga di layar televisi. Tiba - tiba kamu ada di sini, dengan saya dan beberapa bodyguard."
"Wajar saja kalau kita menjadi pusat perhatian dan mereka memperhatikan kamu." panjang lebar pria itu agar sang istri tidak terus - terusan merasa cemburu. Jujur Ethan senang wanita itu cemburu, dengan begitu Ethan dapat merasakan bagaimana rasanya dicemburui oleh wanita itu. Tidak melulu ia yang selalu merasa cemburu dan seperti mencintai sendirian.
"Mereka, tuh, cewek - cewek ngeliatin kamu."
"Cowok - cowok juga ngeliatin kamu, Zoya."
"Ya, tapi aku cemburu, Ethan!"
"Saya juga cemburu Zoya." pria itu menyahut pelan sambil menahan tawa. Zoya mencebikan bibir, melepas genggaman tangan pria itu dan berjalan beriringan dengan Naina yang berada di belakangnya. Memposisikan diri di belakang pria itu.
Ethan hanya menoleh, kemudian membiarkan sang istri melakukan apa pun yang diinginkan.
"Ethan, tuh, nyebelin tau nggak, sih." gerutunya yang membuat Naina menoleh penuh arti. Nyebelin? Sepertinya Zoya sedang salah mendefinisikan sifat Ethan selama dua bulan ini terutama sejak wanita itu hamil. Pria itu sudah sangat extra sabar.
"Nyebelin gimana Mbak?" akhirnya gadis itu bertanya dengan tersenyum.
"Pokoknya nyebelin."
"Terlalu tampan?"
"Itu poin utama." sahut Zoya, kali ini wanita itu tertawa, tapi begitu Ethan menoleh padanya ia buru - buru meredakan tawa dan memasang wajah flat.
Ethan membawanya masuk pada salah satu store gaun terkenal di sana. Kedatangan mereka disambut langsung pemilik store dengan sangat ramah. Sepertinya mereka sudah menunggu kedatangan Ethan dan istrinya.
"Ini beberapa gaun yang sudah Pak Ethan pesan." sahutnya seraya menunjukan beberapa gaun yang masih melekat pada patung manekuin.
Zoya mengangguk - anggukan kepala. Pantas saja Ethan begitu santai dan kemudian mengajaknya kemari, rupanya dia sudah memesan sebuab gaun untuknya. Dan bukan hanya satu.
"Bagaimana, mana dulu yang mau dicoba Pak?" tanya pemilik store kemudian. Ethan menatap tiga gaun itu, kemudian menoleh pada istrinya.
"Biar istri saya yang tentukan!"
Pemilik store itu mengangguk. Kemudian menatap Zoya. Zoya segera menilik tiga buah gaun itu, tatapan matanya jatuh pada gaun berwarna dark pink pastel. Ia menoleh pada Ethan. Pria itu menganggukan kepala, menyuruh Zoya memilih apa saja yang wanita itu suka.
"Kalau begitu saya coba yang ini." sahut Zoya, menunjuk gaun pilihannya. Sang pemilik store menyuruh karyawannya untuk membawa Zoya ke ruang ganti, tanpa siapa pun duga Ethan juga meminta ikut masuk. Tentu saja mereka semua heran, tapi mengingat status hubungan kedua orang itu. Tak ada satu orang pun yang berkomentar.
"So sweet sekali Pak Ethan." decak salah satu karyawan store.
"Hmm, antara sweet dan posesif memang perbedaannya sangat tipis." pemilik store menyahut dengan senyum tertahan menatap Ethan yang mengikuti langkah Zoya menuju ruang gantu. Naina yang berada di sana, mendengar semuanya dan sebagai saksi keseharian dua orang itu setiap hari, maka ia setuju mengenai apa yang pemilik store katakan.
Antara Sweet dengan posesif. Perbedaannya memang sangat tipis. Dan dua orang itu sama. Keduanya definisi sempurna dari jodoh adalah cerminan diri sendiri.
TBC
Thor, perasaan sering amat di novel yang lain juga style -nya T Shirt putih, kemeja putih yang kgak dikancingin? Ya gimana, cowok kalau udah pake T shirt putih sama kemeja putih damage -nya beuuh. Valid, no debat. Haha
__ADS_1