
" Nilai positif adalah anak akan semakin dekat dengan orang tua nya yang membawa nya dan anak akan semakin kuat karena sering di bawa kemana mana, tapi apa lu sudah pertimbangkan sisi negatif nya juga bro, lu bicarakan deh sama Devi." Lanjut Ari sambil menepuk bahu Langit memberi dukungan.
" Thank you bro, lu sudah ingetin gue, sungguh gue tidak kepikiran sampai sana." Ucap Langit.
Ceklek.
Pintu ruangan. Davit menyelonong masuk sambil membawa berkas.
" Wowww dokter Ari what's up bro." Ucap Davit melakukan tos dengan Ari.
" Baik bro." Jawab Ari.
Tidak berselang lama muncul Tian dengan membawa berkas juga,
" Eh tunggu tunggu, kenapa ngumpul tidak ajak ajak gue " semprot Tian tiba tiba.
Tian mendekati Ari, mereka berpelukan ala laki laki.
" Mumpung sudah ngumpul, kita minta Ari traktir makan siang karena sudah lulus spesialis anak." Ucap Langit.
__ADS_1
" No problem bro mau makan dimana?." Tanya Ari.
" Di food court bawah saja, biar tidak jauh karena gue bawa anak " jawab Langit.
" Deal, yuk turun sekarang." Ajak Ari.
" Berkas nya taruh di meja saja bro, nanti gue pelajari setelah kita selesai makan siang." Ucap Langit pada Davit dan Tian.
" Ok " jawab Davit dan Tian serempak.
" Gue seneng banget, akhir nya kita bisa ngumpul lengkap lagi " ucap Tian.
" Big no, selera gue tetap lokal." Bantah Ari. Dari mereka ber 4 Davit lah yang paling muda, meskipun usia mereka hanya terpaut 3 tahun tapi Langit, Tian dan Ari tidak pernah membully Davit.
" Mulai sekarang kita bisa ngumpul lengkap seperti ini lagi, gue sudah kerja di RS ayah Ray dan lagi nunggu ijin keluar buat buka praktek sendiri." Lanjut Ari .
" Gila lu, sejak kapan lu ada ngajuin kerja di RS ayah, kenapa ayah juga tidak kasih tahu gue, biasa nya ayah cerita ke gue kalau ada dokter atau karyawan baru." Ucap Langit.
" Mungkin lu sibuk dengan kerjaan dan keluarga lu, sampai lupa pulang ke rumah ayah." Jawab Davit. Langit hanya diam saja, apa yang di ucapkan oleh Davit memang benar ada nya, jujur Langit sampai sekarang masih belum berani kalau pulang ke rumah ayah bunda nya, ia lebih memilih pulang ke rumah mama papa nya,
__ADS_1
Bagi nya ia sudah sangat mengecewakan kepada ke 4 orang tua nya itu, kalau mama masih sering berbicara pedas, tapi bunda lebih banyak sabar dan selalu menasehati Langit, tapi Langit tahu kalau bunda nya itu menyimpan kekecewaan di balik senyum tulus nya itu.
Langit memilih untuk menata kursi untuk Ara.
" Sayang ayo mamam nya yang banyak ya, aaaa." Langit terus menyuapi anak nya yang duduk anteng sambil mata nya melirik sana sini.
" Tata pih tata." Ara teriak sambil nunjuk nunjuk ke arah meja yang terletak tidak jauh dari tempat nya.
Langit ikut menoleh ke arah yang di tunjukkan anak nya. Oh ternyata ada Senja dan teman nya sedang makan di meja itu.
Ara berontak dari kursi ingin turun.
" Eh eh mau kemana, duduk ya nanti jatuh." Panik Langit.
" Mo te tata pih." Rengek Ara dengan cadel nya.
...🌷🌷🌷...
...Jangan lupa like dan Vote...
__ADS_1
...Happy Reading...