
ada seorang wanita dengan dandannya yang culun memakai baju selalu rapi rambut yang diikat kepang dua dan buku dibawa kemana-mana
suatu hari gadis bernama lengkap Feni Hestin Andriani ini masuk salah satu universitas cukup lah dikatakan ternama
gadis kampung masuk kategori berprestasi sejak masuk di fakultas hukum ia sering diledek temannya karna memang penampilan nya yang sangat culun
"Feni Hentin, berapa usia lo sih?" tanya salah satu temannya disana
"apa ada yang salah dengan ku sampai menanyakan usia ku?" tanya Feni
"eh membantah dia"
"ya aku tidak salah kan, au tanya, apa ada hubungannya usia dengan penampilan? tidak kan?"
"lo yaa" bentaknya
"udah lah udah"
Feni sudah tak peduli soal itu karna ia hanya akan belajar belajar dan belajar, hari berbeda, saat keesokannya saat Feni menuju perpustakaan, Feni didatangi salah seorang perempuan tidak terlalu cantik tapi juga tidak jelek sih
"hai Feni" sapa Anjani
"hai, dari mana?"
"biasalah. nyari nyari buku di toko buku, aku sebenernya ga ada jam sih. tapi dateng saja" jawab Anjani
tampilannya sederhana memang ya, gak begitu mewah lah, standar saja, bernama Anjani, Anjani ini dekat memang dengan Feni, yaaa berteman sejak ospek Anjani dan Feni saling mengenal dan dekat
hanya saja Anjani tidak tahu jika sahabat nya pernah mengikuti akademik untuk gelar yang sekarang sedang ia sandang namun ia tutupi..
"oh ya, sudah dengar tidak tentang kabar?" tanya Anjani
"kabar?"
"itu kasus pembunuhan karna bullying?"
"oh ya? memang ada?"
"ada, di fakulty seni"
saat beberapa menit duduk, Feni berpura pura kembali ke kelas karna sudah ada jam lagi padahal ia pergi ke gedung fakultas seni, ia mengidentifikasi beberapa fakta disana
loh, siapa Feni?
nah, Feni sebenarnya adalah ketua kepolisian yang sedang bertugas untuk penyelidikan pengedar narkoba yang sedang marak dikampus itu dengan berpura-pura menjadi mahasiswi
"selamat siang bu" sapa salah satu pihak kepolisian disana
"selamat siang, tolong di daerah sini jangan mengenali saya, saya murid biasa" kata Feni
"siap bu"
"apa sudah kepolisian mengidentifikasi lainnya?"
"sudah bu. ini sudah akan membawa korban"
yapp, peran terbaik dari komandan kepolisian tapi tak ada seorangpun yang tau siapa dia.. entah mahasiswa lain atau dosen-dosen dan bahkan Anjani tak tau soal itu karna memang feni menutupi untuk kedok nya.. dengan cara berpenampilan culun tadi, seolah ia benar benar menjadi murid
waktu berjalan cepat, beberapa bulan berlalu, semakin berjalannya waktu, membuat Feni mulai mencium siapa pelaku yang ia cari di kampus itu, ia berpikir, ambil tindakan terlalu ceroboh, bagaimana jika ia salah
jadi memutuskan menahan diri untuk ia bisa mendapatkan jauh lebih banyak bukti
sampai akhirnya ia bertemu dengan lelaki sederhana.. dari segi penampilan gak terlalu keren karna memang berpakaian sedikit urakan bernama Roni Alamsyah..
"woi, cewek, sendirian aja" kata Roni
"hei Ron, lu gila lu, tuh cewek culun segala lu godain" jawab teman nya
"iya lu. masih ada kale Ron teman cewek kita lainnya"
"ssst. gue ingin yang beda"
banyak yang kenal Roni dikampus ini.. karna memang Roni cukup disegani.. apa karna dia seorang yang kasar atau soal ayahnya yang pemilik tanah di perkuliahan itu? Entahlah tapi memang keduanya adalah hal yang memberatkan untuk mengetahui apa alasan Roni di segani
saat mengobrol dengan temannya seketika, gadis yang digodai oleh Roni tadi, yaitu Feni, ia berdiri dan akan pergi tapi Roni menahannya
"ehh mau kemana dah main pergi" jawab Roni
"ada apa?" tanya Feni
"dih sok lu. cantik aja kagak" jawab teman Roni
"sst diam kalian" ucap Roni
Sendy POV
__ADS_1
nah.. kalau yang ini lelaki yang selalu berkacamata, pakai hem atasan selalu dikancing atas, tidak pernah memakai celana jeans, semua celana nya kain panjang..
lelaki bernama lengkap Sendy Antoni, dia bisa terbilang lelaki tampan meskipun sangat culun tapi semua tau jika Sandy sebenarnya tampan
"lapor pak, tindak tegas kami sudah berikan kepada pelanggar" kata kepolisian disana
"kamu urus, saya mencari orang yang sedang bersembunyi sebagai mahasiswa untuk menjadi penjual narkotika"
"siap pak, laksanakan"
Sendy sendiri adalah seorang kepolisian juga yang beda tempat dengan Feni
tapi ia merujuk kepada iIntel atau mata-mata kepolisian untuk soal pelanggaran lalu lintas yang disengaja karna ada kesempatan
ia merubah penampilan nya jadi lelaki culun untuk pegangannya siapa saja yang melanggar lalu lintas tapi ia ditugaskan mencari siapa yang menjadi dalang dari penyebaran narkotika semakin merajalela
Sendy juga kuliah di universitas yang sama dengan Feni, Sendi memiliki teman sejak ia kuliah di kampus itu adalah Arsa
"Sen, gimana?" tanya Arsa
"tugasnya dari dosen kemarin, hari ini kan selesai"
"sudah dong"
"coba lihat"
"gimana lihat, kita kan beda tugas? bukannya setiap murid beda tugas materi?"
"iya, gue tau, maksudnya kek mana gitu modelannya, gue biar tau alurnya garap"
"emm, yaudah nih, jangan sama persis loh"
"dih gimana sama, lo aja bahas jahe kan, lihat gue materi tema nya"
Arsa seorang lelaki biasa tapi tidak ada yang tau jika Arsa adalah kekasih Anjani
sama seperti Anjani yang tidak mengetahui siapa sosok dibalik sahabatnya Arsa pun begitu
tapi Sendy tau soal Arsa berpacaran dengan Anjani, tapi soal Feni, jangankan Sendy, Arsa juga tidak tau, hanya tau tentang nama Feni adalah teman sekelas dan dekat dengan Anjani saja
Suatu hari Arsa mengajaknya untuk mencari buku bersama Anjani dan Sendy
"Sen.. nantik sore cari buku yok.. deket kok tempatnya sama kampus kita"
"Aku?"
"Ah kamu.. aku nantik ganggu donk"
"Enggak.. Anjani santai kok, juga bawa temennya katanya"
"Tapi aku gak ganggu kan?"
"Ya enggak lah"
"Bener nih yaa.."
Sore hari...
Sesampainya di toko buku itu, menunggu cukup lama, Sendy membaca sudah hampir 2 buku tuntas, dan pacar temannya baru datang
"Hai.. waah hay Sendy" sapa Anjani
"hai" sapanya
"oh ya kenalin ini pacar ku.." ucap Anjani kepada Feni
"Eh hai.. salam kenal.." sapa Feni
"Eh iya aku Arsa"
"Eh kenalin dulu ini temen ku.. feni namanya.." kata Anjani kepada Sendy
"Hai, Sendy.." ucap Sendy menyapa nya
"Feni" mengulurkan pada Sendy
Karna memang Arsa dan Anjani sibuk berduaan, Sendy pun mencari-cari buku sembari menunggu, tapi Feni yang sedari tadi membuat Sendy salah fokus setiap melihatnya
hari berlalu, jauh setelah hari pertama kenalnya Sendy dan Feni, yaa sejak perkenalan nya dengan Feni itu Sendy semakin semangat untuk sering bertemu dengan Feni di perpustakaan utama kampus..
saat ia masuk dan melihat ada Feni..
"hai, Feni.." sapa Sendy
"emm, hai juga" sapa Feni
"lagi sama Anjani?"
__ADS_1
"tidak, sendirian, aku sama Anjani ada beda kelas"
"oh"
"kamu disini?" tanya Feni
"iya, tapi jarang sih"
"oh"
beberapa hari berikutnya, sering tidak sengaja janjian bertemu, selalu berada di kampus sekolah, mereka mengobrol cukup dekat
hingga suatu hari saat Sendy datang lebih awal dari Feni, karna biasanya Feni yang datang lebih awal
saat duduk menunggu, ia dapat telfon dari anak buahnya di kepolisian untuk laporan tentang kasus pelanggaran yang sudah mereka sisir
"lapor pak, saya sudah mengumpulkan surat surat orang yang melanggar" kata bawahannya
"atur waktu sidang, saya mengecek dulu surat surat itu"
"siap pak, laksanakan"
ternyata Feni ada dibelakangnya tiba tiba
"Sendy?" sapa Feni
"astaga, Feni, kamu sejak kapan dibelakangku"
"baru kok, kamu baru saja telfon dengan temanmu?"
"oh kamu dengar apa?"
"tidak dengar, aku taunya tiba tiba kamu matikan"
"oh baru berarti kamu datang?" tanya Sendy merasa lega
suatu hari Sendy pulang dengan menaiki motor butut nya, di perjalanan ia bertemu mobil yang memotong jalan tanpa lampu pengenal dan secara dadakan dan kebetulan Sendy sedang dibelakangnya
Sendy mempercepat laju motornya hingga berada diposisi sopirnya dan meminta untuk berhenti..
"Pak stop dulu" kata Sendy
"Bapak siapa ya?" jawab pengendara
"Nantik bapak tau kok saya siapa.. silahkan kepinggir"
Dengan terus berjalan tak menghiraukan.. Sendy berkata ia yang sebenarnya
"Saya dari kepolisian pak.. bapak stop atau saya tembak" kata Sendy
Bapak tersebut turun dari mobil dan menertawakan ucapan Sandy
"Kau lucu.. ya ya ya.. bisa bisa jadi pelawak, kamu pikir saya bodoh? kamu itu hanya mahasiswa, lihatlah penampilan mu" kata pengendara
"Saya bisa kasih tanda pengenal saya.."
Dengan mengeluarkan dompet kecil berisi beberapa bukti bahwa sandy adalah komandan kepolisian..
dengan kaget bapak itu segera menaiki mobilnya tapi kunci mobil sudah ditangan Sendy..
"Bisa saya periksa surat-surat nya?" tanya Sendy
"pak, maafkan saya" kata pengendara itu
"oh, soal apa? menghina tadi? ada hukumnya, tapi saya memaafkannya, tapi jika maaf untuk langgaran itu, saya tidak bisa pak"
pengendara itu memberikan surat lengkap
"Boleh saya cek mobilnya?" tanya Sendy
dengan gugup ia terpaksa memperbolehkan, saat memeriksa Sendy mendapatkan beberapa bungkus ganja dan narkoba yang berbentuk permen
sepertinya dia yang memalsukan permen-permen dipasaran yang sering didapati mengandung narkoba.. dan saat kembali untuk bertanya
"pak, ini bisa dijelaskan tentang pil nya? apa ini bukan permen?" tanya Sendy
bapak itu sudah tidak ada dan Sendy memanggil teman polisinya untuk membawa mobil sebagai barang bukti juga mencari ciri ciri yang disebutkan Sendy tadi
sementara Feni, dimana tugasnya belum juga mendapatkan apa yang harus ia dapatkan
Saat dia pulang karna jam perkuliahan selesai ia mengambil motornya, diparkiran dekat dengan parkiran mobil mahasiswa lain
tepat disebelah motornya, melihat bungkusan yang diduga juga sebagai narkoba, seketika ia mengambil, Feni bertanya pada beberapa mahasiswa yang sedang lewat disana
"Maaf boleh tau ini mobil siapa?" tanya Feni
"ini mobil Roni.." jawab orang disana
__ADS_1