Satu Nama Sebuah Kisah

Satu Nama Sebuah Kisah
I Gede Gusti Kumala


__ADS_3


Namanya I Gede Gusti Kumala, bisa ketebak donk sekedar nama saja kalian tau dari mana aku berasal.. ya dari Bali, Bali daerah Lovina tepatnya.., penghuni Bali asli akan tau itu dimana


Langsung aku mulai cerita nya ya...


- POV KUMALA -


panggil saja aku, Kumala...


Terlahir dari kedua orang tua yang berkecukupan dan karna hidup semakin keras akhirnya kekurangan.. aku seorang pekerja disalah satu toko tak terlalu besar hanya saja cukup untuk makan sehari, yaa gajiku memang aku buat untuk makan saja yang dalam arti lain aku dapat gaji nasi beserta lauk bukan uang, sementara uang diluaran jika aku lagi ingin jalan dan lainnya itu pasti dari pacarku.. dia memanjakanku memang, penampilan ku nyentrik juga berkatnya..


Namanya I Gusti Ngurah Rai, panggil saja dia Gusti, seperti namanya, mungkin semua yang dia mau harus dituruti, entahlah


Sampai akhirnya aku jenuh, aku lelah menuruti kekanakan nya, aku memutuskan hengkang dari percintaan, fokus dengan pekerjaan..


Suatu hari aku bertemu dengan seorang lelaki, baru pertama kali sih datang ke toko waktu itu ia beli sabun mandi cair


"Hai.. kau pemilik?" Tanyanya


"Bukan, saya pegawai saja" ucapku


"Oh ya, sori"


"No problem" jawabku


"Karna aku sering tampak kau disini, dengan seorang teman gadis mu ku kira kau pemilik"


"Teman gadis itu anak pemilik toko justru"


"Oh sori again"


Aku hanya mengangguk


Sejak itu hampir setiap hari dia datang ke toko, membeli ada aja yang akan dia perlukan, selama seminggu dan kini sudah menginjak Minggu kedua dia berbelanja padaku, akhirnya dia bertanya namaku..


"Kita sudah lama interaksi. Aku tak tau nama mu pun" ucapnya


"Oh iya, hemmmz" ucapku sembari membereskan beberapa barang


"Aku Prasetya Anggara" ucapnya


"Oh, Kumala" ucapku


Prasetyo Anggara namanya, panggil saja dia Pras


"Kau orang asli sini rupanya" ucapnya


"Kau?"


"Aku bleser Jakarta dengan Jawa"


"Jakarta Jawa kau sebut blaster?" Ucapku ketawa


"Iya, bener toh, blaster kan campuran"


"Alright.."


"Hari pertama di Minggu kedua ini apa aku boleh tau nomor ponselmu, atau alamat rumahmu?"


"Untuk?"


"Tambah teman"


Kuberikan nomr ponselku begitupun alamatnya


"Duaduanya langsung kudapat?"


"Yeah, aku mendukungmu bertambah teman" ucapku


"So simple, thanks"


"Yaa"


Malamnya, ia menelfonku, yaa sekedar menanya beberapa soal aku yang ia penasaran tentang pekerjaanku


"Besok kau sibuk tak?" Tanyanya ditelfon


"Besok jelas lah, kan kerja"


"Tidak ada libur?"


"Tidak, karna jika aku libur, aku takkan makan"


"Cuman itu masalahnya"


"Bukannya tak makan sehari itu masalah besar sebagian orang yang butuh hidup?"


"Iya sih, tapi begini, besok kau pamit tidak masuk"


"Untuk mendadak kurasa Kurang sopan"


"Okeh lusa?"


"Okeh"


Esoknya aku menuju tempat kerja yang tak jauh dari kost ku tinggal


"Mom.. aku izin lusa libur boleh?" Ucapku


Aku memanggil bosku dengan sebutan itu karna memang dia menganggap ku sebagai anaknya..


"Kemana emang mal?" Tanya nya


"Diajak temanku jalan"


"Teman laki?"


"Iya"


"Kenalin mom lah"


"Siap mom, nantik Mala bilang ke dia"


"Okeh deh"


Lusa nya, janjian makan jam 9, aku bangun jam 7, karna waktu masih lama bisa lah beres-beres kamar..


Aku pun mulai membereskan kamar hingga akhirnya waktu menunjukkan kurang 20 menit lagi tak lama Pras datang


"Kau belum siap kurasa"


"Hehe"


"Kutunggu teras, kau bersiaplah"


Aku pun mandi secepat kilat dan setelah selesai tepat pukul 9.15 barulah selesai

__ADS_1


"Siap" ucap ku


"Oh okeh, casual kau, tak apa, mari" ucapnya


Aku menuju mobilnya dan duduk di samping pengemudi


Saat ku masuk, memang harum wangi tercium hidung ku, tapi kadar *********** nol, mengapa..??


karna buku berserakan, baju, sepatu, tas dan beberapa barang lain


"Maaf jika mobilku masih berantakan" ucapnya


"Tak apa.."


Aku melihat kearah baju


"Oh itu bersih kok, buat ganti nantik kalo baju kotor mendadak kan" ucapnya


"Oh" ucapku tersenyum


Sesampainya di restoran..


Salah satu pelayan di sana menyapa nya dengan sebutan bapak..


"Selamat siang pak ada yang bisa saya bantu" ucap pelayan


Aku sedikit heran, bukannya pelayan harusnya berkata "Siang pak ada yang mau dipesan" belum lagi Pras yang seolah mengisyaratkan untuk bersikap biasa saja tapi ya udah lah, terserah mau panggil apa juga


"Em kamu pesen apa" tanyanya


"Apa aja, samain ma kamu" ucapku


"Ya udah, yang paling spesial disini ya" ucapnya ke pelayan


"Baik pak" ucap pelayan


Tak lama, ia membuka pembicaraan..


"Kamu sudah lama bekerja di sana?" Tanya Pras


"Sudah, lumayan lama"


"Berapa tahun?"


"Dua tahunan"


"Apa kau tak ada ibu atau ayah"


"Ibu ayah ada, lengkap"


"Lalu mengapa harus kost"


"Itu kost hanya untuk saya istirahat, pengen tenang ya kesana" ucapku


"Memang kalo dirumahnya kau tidak tenang?"


"Begitulah, sama sama egois jadi kurasa mending kost"


"Oh sori"


"Yes"


Tak lama makanan pesanan datang, kami pun menyantapnya


Setelah itu, dia mengantarkanku pulang..


"Makasih makan siangnya" ucapku


"Okeh" ucapnya


aku masuk mengganti baju, kupikir Pras sudah pulang.. ternyata dia masih duduk di teras depan kostku


"Pras.. kok belum pulang?" Tanyaku


"Aku masih penasaran dengan mu"


"Penasaran yang mana lagi Pras, bukannya tadi sudah diceritakan"


"Iya rapi tak semua, hanya soal keluargamu itupun kurasa belum seluruhnya kau cerita"


"Nanti juga kau akan tau" ucapku


"Okeh besok aku kesini lagi ya"


"Ngapain?"


"Kita jalan"


"Aku harus kerja Pras"


"Ya malam nya"


"Ya udah deh"


"Ya udah aku pulang"


"Okeh"


Malam nya dia menelfonku lagi, bertanya beberapa hal lagi mengorek tentang hidupku


Fanbase pun kurasa tak se fanatik ini bertanya perihal hidup ku..


Hem Hem..


Kali ini, ia bertanya soal pekerjaan ku..


"Kamu kenapa sih, tanya semua itu" tanyaku


"Ya gak tau ya, aku aja cuman tau nya penasaran, entahlah jika termasuk tertarik padamu" ucapnya


"Ha, lucu kamu, yaudah nantik kalo ketemu aku akan cerita" ucapku


"Serius ya"


Esok paginya..


Dia menelfonku lagi, sekitar pukul 10


"Ya" ucapku menjawab telfonnya


"Nantik malam aku kerumahmu" ucapnya


"Iya, nantik malam kan, sekarang chating aja ya aku lagi kerja"


"Enggak, aku mau ke tempat kerja mu"


"Ngapain"

__ADS_1


Tiba-tiba telfon mati..


Tak lama belum selesai mandangin ponsel ku, eh udah nongol aja si Pras


"Pras" ucapku


"Ya, aku mau menemani mu, boleh?"


"Boleh" jawab Bu Riza pemilik toko


"Mom" ucapku kaget


"ini yang sering jalan sama anak saya" ucap Bu riza


"saya teman nya Kumala, ini ibunya kumala tah?" Ucap Pras


"No, saya pemilik toko, bos dia, tapi saya sudah anggap anak sendiri" ucap Bu riza


"Oh, salam kenal Bu, maaf saya tidak tau"


"Iya"


"Gak papa kan saya temani Kumala?"


"Oh silahkan tapi tidak saya bayar ya" canda Bu riza


"Hehe siap deh bu" ucap Pras


Aku yang mendengar percakapan di sana, malu kepada Bu riza


"Maaf tadi aku ngobrol jadinya" ucap Pras


"Gak papa, santai aja" ucapku


Sembari menjaga toko, dan menunggu pelanggan, Pras meminta ku bercerita


"Cerita nah, kan udah janji kalo ketemu" ucap Pras


"Okeh, soal yang mana, karna kan pertanyaan mu banyak banget" ucapku


"Oh iya iya hehe, yang ini deh, kamu pernah pacaran?"


"Pacaran? Enggak!"


"Masak sih, di jaman milenial begini?"


"Beneran, ada sih, temen dekat, tapi entahlah pacaran atau bukan namanya, tapi yang aku tau dia baik, perhatian, memutuskan sendiri pun tak ada kata yang harus kita ptus dan bla bla, ya mengalir gitu aja, apa itu pacaran" ucapku


"Ouh, intens pacaran donk"


"Bisa dibilang"


Dan pernyataan yang membuatku kaget yaitu..


"Pacaran sama aku yuk" ucapnya


Sekejap aku menatapnya, lalu terpecah karena kedatangan merri.. sahabatku yang kebetulan anak dari pemilik toko tempat ku kerja


"O o.. sori" ucap merri


"Udah pulang mer" ucapku


"Iya, lanjut deh"


"Eh gak papa, kenalin nih, teman ku, Pras" ucapku mengenalkan


"Hai, Pras"


"Merri"


"Yaudah aku masuk ya" ucap merri


"Okeh" jawabku


Aku terdiam lagi, masih teringat ucapan Pras tadi


"Oh iya, ini berapa harga, saya beli, kebetulan parfum saya habis" ucap Pras


Kan, dia tidak memperjelas ucapan yang membuatku tak bisa lupa tadi, mungkin dia hanya test atau bercanda


"Hello mal" ucapnya mengagetkan ku


"Pras, kaget tau" ucapku


"Kamu sih, bengong, kenapa"


"Gak papa, tadi bilang apa, oh parfum, yang mana"


"Itu biru muda"


"200 aja"


"Oh yaudah bungkus satu deh"


"Oke"


Hari hari berlalu, dengan Pras lebih berwarna.. dan membuat merri, anak Bu riza betah dirumah


"Merri suka sama Pras?" Tanyaku


Karna apa aku bertanya begitu? Karna merri sering ada dirumah sejak perkenalan nya dengan Pras beberapa hari lalu..


"Kamu tanya apa sih mal" ucap merri


"Gak papa kok mer, jujur deh" ucapku


"Memang tak apa jika aku menyukainya?"


"Jelas, apa yang buat kau bahagia ambillah, bukannya itu yang selalu aku ucap padamu"


"Ini beda jalur kan mal, emang kamu boleh?"


"I'm fine mer" ucapku


Sejak aku mengucapkan itu, aku membiarkan waktu untuk merri dan Pras berdua.. aku tak tau ini benar atau salah untukku meskipun untuk Pras dan merri tapi yang aku tau merri suka, aku tidak, aku hanya anggap dia sebagai pelanggan yang akrab kusebut teman curhat akhir-akhir ini


Beberapa hari memang aku menghindari Pras, ini salah sih harusnya aku tidak menghindar, tapi udahlah, sudah terlanjur..


Beberapa hari berlalu, malam nya saat aku baru pulang kerja, tiba-tiba Pras didepan rumahku, rumahku ya.. bukan kost ku


"Pras" ucapku


"Kumala, kenapa kamu semakin menjauhi ku" tanya dia


"Eh tunggu dulu, kamu tau rumahku dari mana?" Tanyaku


"Ya harusnya kamu jawab dulu lah" ucapnya

__ADS_1


"Gini, kamu duduk dulu, kamu jawab pertanyaan ku baru kujawab pertanyaan mu, gitu deh, mau tidak?" ucapku


__ADS_2