Satu Nama Sebuah Kisah

Satu Nama Sebuah Kisah
DI #11


__ADS_3

"kamu ngomong apa sih, tiba tiba melow"


"enggak, gakpapa kok"


esoknya saat Dindri jalan bersama arif, Dindri tak mengizinkan arif untuk membayar semua pengeluaran, mulai dari makan, belanja baju dan sepatu, nonton, hingga makan lagi semua pakai uang Dindri


"yang, dari tadi kamu loh yang bayar.." ucap arif


"udah, kamu kan sering nih jajanin aku jutaan"


dan saat siang hari, mereka duduk disalah satu kursi di mall itu


"halo" ucap Dindri


yang menelfon adalah sunan, dan Dindri sudah merencanakan ini, dimana ia mengajak sunan jalan, dan sunan pun tak lama datang


"temen yang mana?" tanya arif


"sunan"


"sunan itu yang di bigo live bareng kamu?"


"hemmm"


"ngapain ngajak dia?"


"kebetulan disini dia"


"ini kan kualiti time kita syaang"


"ya terus kenapa, udah lah biarin, kalo kamu gak mau ya sana pulang"


"kok gitu"


dari kejauhan..


"neeeeng" teriak sunan


"eh bang"


"waduh lama?"


"kaga"


"kita kan udah jalannya, kita pulang aja" ucap arif


"loh ya sana pulang, aku masih nau jalan kok"


"aku gak suka yang kamu sama dia, dia keliatan suka sama kamu" bisik arif


"tenang bro, saya suka wajar, tapi dia adik saya, sudah saya anggap adik" jawab sunan


"tuh"


Dindri pun jalan bersama sunan, dan terpaksa arif mengikuti kemauannya..


selama jalan keliling mall


Dindri selalu berdekatan dengan sunan, membuat arif cemburu tapi hanya bisa menahan


sunan dan Dindri sengaja menunjukkan dimana kebahagiaan gak harus jajan mahal, beli barang mewah, makan makanan elit, gak harus, asal berdua cukup


membuat sadar arif memang jika kini bahagia bukan soal uang..


arif mulai melupakan segala pikirannya pada materi apapun


sorenya arif membawa pulang Dindri dan meninggalkan sunan


esoknya saat arif ngajak jalan bersama dengan Dindri, namun Dindri menolaknya..


"kamu jalan aja sendiri, ini uang, buat kamu jalan, nonton, terserah mau apa lagi" ucap Dindri memberikan cek


arif kaget dengan perlakuan Dindri, bagaimana tidak, ia benar benar merasa di lecehkan sebagai lelaki


"kenapa diam? oh kurang? yaudah nih" ucap Dindri memberikan cek untuk uang tambahan


dan Dindri berlalu, justru sepulang sekolahnya, lagi dan lagi Dindri jalan bersama sunan..


diunggah ke sosial media sekaligus live streaming


arif mencoba menghubungi Dindri, namun yang mengangkat sunan


"halo" sapa sunan


"siapa ini? Dindri mana?"


"saya sunan, kamu arif?"


"ya. saya bisa bicara sama Dindri?"


"emm Dindri tidur"


"oh yaudah aku kerumah Dindri sekarang"


"masalahnya Dindri tidur di rumah cindy, ini sekarang dirumah cindy bereng saya dan cindy juga"


"tolong ya mas, hargai saya pacar dia, kalo kamu memang teman Dindri, hargai saya?"


"berapa harganya? sebutkan saja yang kau minta"


"hei hati hati bicaramu"


benar benar arif merasa dilecehkan dengan materi


dan ia mencoba menemui Dindri dirumah cindy

__ADS_1


ia mengetuk rumah cindy dan Dindri yang membuka karna Dindri tau siapa yang datang


"mana sunan" tanya arif


"ngapain kamu nyari sunan?"


"aku mau ngomong supaya dia ada aturan, saya gak terima direndahkan" ucap arif


"direndahkan karna sunan tanya berapa harga diri mu?"


"jelas lah, saya ini laki laki, dibilang begitu harga diri"


"lalu menurutmu, saya wanita seenak nya kamu bilang seperti itu kamu gak pikir panjang?"


"maksudnya gimana sih, bukan kamu tapi sunan"


"iya bukan aku tapi sunan, justru harusnya kamu sadar, apa yang diucapin sunan itu sama seperti perlakuan mu kepada ku, pacarmu"


arif sejenak terdiam


"aku gak butuh uang, aku ada uang, untuk bayarin kamu jajan super mahal seharian juga mampu, lihat rumah aku, lihat barang aku, semua apa ada harga dibawa 50 juta?"


ya aku minta maaf, arif memeluk Dindri


namun Dindri melepaskannya


"kenapa? sakit? mas, semua gak harus dengan uang, saya tau anda mencari uang gampang tapi bukan berarti anda memberi lebel kepada semua orang dan barang dengan uang.. saya punya uang dan materi, tak perlu kau beri lebih untuk saya bukan masalah.. saya butuh bahagia mas, jadi jangan salahkan saya atau sunan dan lainnya jika aku jadian dengan yang bisa lebih bahagiakan aku" ucap Dindri


tak lama bela keluar..


"bela" ucap arif


wanita yang selalu direndahkan dengan uang oleh nya , bela hanya tersenyum


"dia temanku, sahabat ku, dan kamu menyakiti nya saya tak terima, saya lakukan ini untuk kamu sadar supaya gak ada lagi wanita lain diluar bernasib sama dengan bela, bukan saya jahat, bukan mas.. tapi saya justru peduli, pada anda terutama bela, supaya anda tau rasanya jadi bela.." ucap Dindri


Dindri pun menutup pintu san dan menguncinya


hari pun berlalu, tiba saatnya untuk giliran terakhir yaitu viola


dimana viola masih berpacaran dengan lelaki bernama rafa..


rafa terkenal dengan ringan tangan dalam hal kekerasan, yaa siapapun orangnya ia tak peduli jika ia tak suka akan kasar juga. salah satu korbanmya viola.. untuk tugas yang satu ini cukup berat karna Dindri harus berjuang melepaskan viola dari genggaman rafa dan Dindri harus memberikan pelajaran untuk rafa


saat itu rafa sedang lari pagi, dan Dindri pun berlari mendekati rafa seolah ia tak sengaja menabraknya


"emm eh sori" ucap Dindri


rafa menatap Dindri tajam


"sori banget beneran" ucap Dindri menunduk


"yaudah lain kali hati hati"


"makasih"


"aduh" teriaknya


beberapa orang membantu Dindri untuk berdiri


"aduh, sakit" ucap Dindri


"tapi bisa jalan mbak?" tanya orang lain


"kayaknya gak bisa ini, kegelincir" ucap orang lainnya lagi


"biarin saya yang bawa" ucap rafa mengambil alih beberapa orang itu dan menggendong Dindri menuju bangku taman


"aduh"


"makanya baru dibilang hati hati udah jatuh lagi, kamu ada masalah" tanya rafa


"ia, aku baru aja putus sama pacar aku, jadi aku gak konsen"


"emmm... kamu rumahnya dimana?"


"kamu mau anterin aku pulang?"


"iya"


sesampainya dirumah Dindri


"aduh makasih ya, maaf nih jadi harus repot anterin"


"yaaa"


"oh iya, ini nomorku"


"oh okeh, makasih"


malamnya rafa menuju rumah Dindri setelah pertimbangan bahwa rafa sebenernya suka pada Dindri


"hai" sapa rafa


"bang rafa?"


"gimana kakinya?"


"bisa jalan tuh, ya nahan nahan sikit tak apa lah"


"hmmm... tapi sori nih aku gak bawain km makanan apapun"


"gausah, justru aku masak tuh, makan malem yuk"


"boleh nih"

__ADS_1


"boleh daaan gratis"


"makasih"


sejak itu mereka dekat, dan rafa mulai memberikan jarak kepada viola..


saat viola datang bersama sunan, karna kebetulan sunan juga belum makan siang, sekalian bareng viola


"siapa dia" tanya rafa


"em, saya tetangganya mas, kebetulan saya memang cari makan diluar eh saya anterin viola ke resto ini jadi sekalian saya makan deh"


rafa menatap sinis arah sunan


"tenang mas, saya sama teman saya kok"


tak lama dean datang, dan viola menyapa juga dean


"kamu ngapain sih sama mereka, siapa mereka?" tanya rafa mulai kasar


"dia tetangga aku aja kok"


"mana aku pernah tau kamu ada tetangga mereka"


"kamu aja jarang lama lama kerumah ku"


"halah, udah deh, aku gak suka ya kamu jalan sama mereka, kesini ya tolak, berangkat sendiri, jangan melulu nunggu mereka"


"iya maafin aku ya"


"maaf maaf.. udah gini, aku sekarang cuman mau bilang kita udahan"


"udahan gimana sih raf"


"putus, toh kamu sama dia kan, udah sama dia aja, aku udah bosen sama kamu gak bisa diatur"


"kok bilang gitu sih?"


"udah udah, stop"


tak lama rafa meninggalkan viola disana, viola mendekati arah dean dan sunan, lalu jingkrak kesenengan karna viola bisa lepas juga dari rafa


dan kini giliran Dindri beraksi


Dindri yang selalu memberikan perhatian membuat rafa luluh


"aku suka sama cara kamu menghadapi aku" ucap rafa


"hem ehm"


"kamu mau ya jadi pacarku"


"kamu serius?"


"iya... aku serius"


"ya aku mau lah. kamu juga baik"


mereka pun memutuskan berpacaran.. dan terlihat lagi sesaat setelah Dindri dan rafa sudah berpacaran, dimana rafa seorang yang kasar..


melihat banyak chat dari banyak cowok membuatnya cemburu, dan membentak Dindri..


hari hari selanjutnya rafa sering marah karna Dindri selalu telat saat janjian bertemu, belum lagi rafa berusaha mengasari Dindri namun Dindri menghindari


dan setelah empat bulan berpacaran selama itu Dindri selalu salah dimata rafa, dimana jika bertemu teman lelai dijalan rafa tega mengasari Dindri, tak jarang juga menarik tangan Dindri kasar, belum lagi sering menggenggam tangan Dindri kasar dan lainnya


membuat Dindri tetap bertahan walau sebenernya gak betah


sampai akhirnya Dindri menampik saat rafa akan menggenggam tangan Dindri kasar karna Dindri jalan bersama sunan..


Dindri membalikkan tangannya yang kasar kepada lengan rafa


"jangan pernah kamu melarang aku dengan dia, kmu boleh melarangku tapi jangan pernah melarang ku dengan dia"


"aku tau dia itu selingkuhan mantan pacarku" ucap rafa


yaa rafa mengenali sunan ketika itu saat ia mengantarkan pacar rafa..


"terserah sunan lah, dan inget, sunan itu sudah ku anggep abangku"


"iya okeh tapi lepasin tangan mu, sakit" ucap rafa


Dindri melepaskan nya


mulai sejak itu, Dindri lebih berani kasar kepada rafa


saat melihat bigo live Dindri bersama sunan..


"ini dia abang gue, paling macho, tapi imut, liat noh tampang nya, emmm imuuut kan, tapi liat noh badannya kekar, iyuuuuh asiiikkk" ucap Dindri dalam bigonya


*bigo gak semuanya tentang konten jorok loh ya. .


sunan memeluk Dindri


"ini dia adik aku paling cantik, banyak cowoknya" ucap sunan


membuat rafa geram dan menemui Dindri


"sunan" teriak rafa


"sayang?" jawab Dindri


"sini kamu, ngapain sama dia sih, kamu itu jangan main belakang, aku gak suka" ucap rafa


Dindri membalikkan tangan rafa yang menggenggam kasar tangannya

__ADS_1


"jangan pernah kamu kasar seperti ini, kamu tau rasanya sakit jadi jangan lakuin kepada orang lain"


__ADS_2