Satu Nama Sebuah Kisah

Satu Nama Sebuah Kisah
Lila Januari Larasati


__ADS_3


Kisah pasangan Rendra Wijaya Sudirman dan Lila Januari Larasati


Rendra dengan kekasihnya, Sarah Putri yang banyak orang disekolah mereka adalah pasangan serasi, kedua nya romantis, dan jadi couple goals untuk beberapa orang yang mengenal keduanya, saling mencintai jelas, terlihat sering mengapload foto mesra memang membuat banyak orang iri, walaupun mereka tau belum bertemu apa mereka berjodoh, intinya dunia milik keduanya


"Sayang, nanti jalan yuk, kan malam Minggu" ajak Sarah


"Kemana sih sayang"


"Ya kemana kek, aku bosen yang kamu ajak nongkrong ketempat kamu, gitu-gitu aja, sekali-kali kek kamu ajak aku jalan"


"Yaudah iya nanti aku jemput jam 8 ya"


"Bener?"


Malamnya mereka pun hangout berencana menuju ke bioskop terbesar di Jakarta


Saat memesan tiket dan tempat duduk, Rendra tak ikut, hanya Sarah yang disambut dengan pengawas dibioskop tersebut


"Mbak, pesen tiket dua untuk film drama rekomendasi yang mana ya?" Tanya Sarah


"mau yang mana?" jawab Lila


"boleh deh yang romance aja"


"Oke, pesan dua tiket, silahkan pilih kursimu, tinggal ini yang kosong"


"Oh yaudah kursi 59-60"


"Baik, silahkan tiketnya"


Saat melihat ke arah penjaga, Sarah yang notabene pelanggan tetap, dan sering riwa riwi dengan beberapa temannya, baru melihat sosok Lila


"Kamu baru?"


"Em, maksudnya?"


"Saya sering ke bioskop ini, belum pernah bertemu kamu"


"Oh saya Lila, bukan baru sih, cukup lama, awal-awal berdiri nya bioskop kok, cuman saya pengawas, jadi hanya seminggu sekali saya kontrol"


"Oh ya? Hari apa?"


"Rabu, lain itu saya tidak kontrol"


"Lalu kenapa hari Sabtu gini ada?"


"Oh, banyak yang jadwal pulang kampung, yang masuk ya yang rumah nya daerah sini, jadi saya bantu, kebetulan laporan pengawasan sudah selesai"


"Oh, okeh"


"Terimakasih sudah jadi pelanggan kami"


"Ya ya, sama-sama"


Sarah menuju arah Rendra yang sudah menunggunya


"Nih yang"


"Kok lama"


"Ngobrol sama penjaga nya tadi, kukira baru, eh pengawas, jarang kesini pantes aku gak tau"


"Oh, jadi ambil apa?"


"Ini yang, aku pernah baca bukunya, gak seluruh sih, tapi bagus kok"


"You are best moment of love?"


"Yah, kita coba deh"


"Yaudah terserah kamu, penting kamu seneng hari ini"


Setelah film selesai, mereka pun menuju cafee yang tak jauh dari bioskop


"Bagus gak yang cerita di film tadi?"


"Mayan"


"Ok mayan? Bagus kan"


"Gak ada drama, poin terbaik di film itu"


"Iya sih ya, padahal kan sedih, tapi pemainnya juga pinter bawaan nya jadi gak ada drama"


"Iya"


"Di buku sih penulisnya Lila Januari L"


"Ouh" jawab singkat bara


"Bentar deh, Lila Januari, tadi pengawas bioskop di nama dada Lila J. L. Jangan-jangan dia" ucap Sarah pelan bicara sendiri


"Yang... Ngomong sama siapa"


"Oh enggak"


Setelah kelulusan mereka, ketika Sarah memilih untuk kuliah begitupun dengan Rendra hanya saja jurusan yang diambil jauh berbeda membuat keduanya harus bikin waktu sendiri untuk kualititime


Saat jam ospek dimulai semua sudah stanbay di halaman belakang kampus yang cukup lebar

__ADS_1


Danu, selaku wakil panitia ospek membagikan sebuah buku berisi beberapa kegiatan dan kolom untuk tanda tangan beberapa panitia


Hari pertama pengenalan lingkungan, dan saat Danu melirik ke arah Rendra yang terlihat sedikit sinis melirik ke arahnya karna Danu sering melirik ke arah Sarah


Danu mendekatinya


"Kamu" ucap Danu


"Ya kak" jawabnya menunduk


"Saya panggil kamu ya lihat wajah saya"


Rendra menatap ke arah Danu


"Ya kak" jawabnya tegas


"Bagus, dan buat kamu, juga buat yang lain hari kedua ini adalah hati pertama pembukaan meminta tanda tangan kepada beberapa panitia dan dosen, hari ketiga semua dikumpulkan dan lihat hasil palig sedikit akan ada hadiah, begitupun dengan hasil terbanyak" jelas Danu


"Baik kak" jawab semua peserta ospek


Rendra dan Sarah yang sibuk dengan masing-masing pun harus berpisah


"Yaudah yang aku kesana, kamu kan kesana, jadi nanti deh kabar-kabar lagi ya" ucap sarah


"Iya, yaudah aku selesai aku chat kamu" jawab rendra


"Ya yang"


Ketika Rendra cukup berkutat beberapa jam mencari beberapa tanda tangan, ia duduk lelah tepat didepan perpustakaan


Ia pun terkesan dengan seorang wanita yang baru saja masuk ke dalam perpustakaan dengan setumpukan buku di tangannya


Rendra mencoba mengintip dari balik jendela namun tak ia temui lagi sosok itu


"Kemana dah? Kok gak ada" ucapnya pelan


"Cari siapa?" Tanya bara salah satu panitia


"Eh ini cuman cari siapa tau ada panitia didalam sana, maaf kak"


"Oh kurasa takkan ada sih panitia masuk sini di jam ini"


"Oh baik kak, oh iya saya boleh minta tanda tangan?"


"Kamu tau saya?"


"Ada di kartu nama yang dikalungkan itu"


"Oh iya, sini"


Setelah saat jam sudah harus berkumpul lagi, Rendra pun bergegas untuk sampai di halaman belakang ia pun bertemu dengan teman barunya disana bernama Fadli


"Oh saya fakul tehnik sipil, kamu?"


"Sama berarti"


"Wah bagus deh, jadi bisa kita berteman, saya fadli"


"Betul itu, saya rendra"


"Oh okeh"


Saat sudah berkumpul, Danu yang terkenal dengan peran judes dan kejamnya pun membuka acara kembali


Melihat Rendra dan Fadli yang sibuk dengan omongan mereka sendiri membuat keduanya dibentak oleh Danu


"Kalian berdua" panggilnya tepat dihadapan Rendra dan Fadli


"Iya kak" jawab keduanya


"Maju"


Rendra dan Fadli pun berjalan ke arah depan dan berdiri tegak


"Kamu, rendra, Baca peraturan ospek nomor 13 dan Fadli nomor 14" ucap Danu


"Nomor 13, dilarang berbicara saat salah satu dari panitia sudah hadir apalagi mengisi acara" jelas Rendra


"Nomor 14, dilarang tidak menjawab pertanyaan dari panitia" ucap Fadli


Danu mengerti nama kedua nya dari kartu nama yang dikalungkan keduanya


"Bagus, nomor 13 jelas kan? Dan sekarang nomor 14, sebagai hukumannya, saya tanya sama kalian, apa kalian punya pacar?" Tanya Danu


"Punya" jawab rendra


"Enggak kak" jawab Fadli


"Yakin kamu?" Tanya Danu kepada Fadli


"Hanya teman kak"


"Sebutkan nama dan siapa dia"


"Nasya, kerja di konter laundry" jawab Fadli


"Sarah, fakul agrobisnis" jawab rendra


"Okeh, Sarah, mana yang bernama Sarah?" Tanya Danu


Sarah melambaikan tangan

__ADS_1


"Oh kamu pacar dia, oh pantes cara lihat kamu pada saya seperti itu, karna kamu cemburu kan saya sering melirik ke arah pacarmu"


"Tidak kan"


"Jangan mengelak, saya lelaki, saya tau"


"Ya kak"


"Yasudah kembali, jangan diulangi"


"Baik kak"


"Diharapkan buat semua mahasiswa baru, boleh berpacaran tapi ingat kewajiban kalian ketika kalian harus melakukan apa di saat ospek berjalan, paham?"


"Paham kak"


Saat sorenya semua sudah berkumpul dan akan dibubarkan kan, Danu memberikan tantangan kepada semua Maba untuk mendapatkan tanda tangan sang legendaris di kampus nya


"Kalian semua. Perhatikan saya, saya minta kalian cari dan minta tanda tangan sekaligus foto untuk ketua panitia yang super sibuk siapa yang mendapatkan akan dapat hadiah istimewa" jelas Danu


"Coba cari pemilik nama Lila Januari Larasati" lanjut bara


Mendengar nama tersebut, lantas Sarah mencari nama dibuku itu, apa benar yang disebut bara, dan membuat nya begitu terkejut karna ia tak menyangka akan satu universitas dengan seorang penulis buku yang baru ini ia lihat film nya


"Yang, kamu dengar kan tadi kata kak bara apa? Lila loh, Lila Januari, kan dia penulis dari film yang kita tonton kemaren"


"Oh itu, iya sih, baru sadar"


"Nah, gak nyangka ya kita sekampus loh dengan dia"


"Biasa aja kali yang, orang sama sama manusia ini, sama doyan nasi ini"


"Ya kamu sih gak pernah tau, cantik yang, mungkin kalo kamu ketemu dia kamu suka sama dia" ucap Sarah pelan


"Apa? Kok bisa kamu bicara itu, lucu kamu"


"Kan siapa tau"


Ketika Rendra sampai dirumah, ia pun langsung merebahkan tubuhnya terlentang di ranjang tidurnya


"Nak, bangun, mandi, beberes, makan gitu loh" jawab rendra


Rendra yang baru saja lepas santai bangun karna permintaan ibunya, ya memang Rendra adalah anak yang keras namun akan lemah jika berhadapan dengan ibunya karna sebuah sayang yang begitu besar dari seorang anak kepada ibunya


"Ya ma" jawabnya menuju kamar mandi


Setelah sampai diruang makan, terlihat hanya papa dan Mama dimeja makan


"Marvel mana ma?" Tanya Rendra


Marvel adalah adik satu-satunya Rendra, terlahir dengan sifat yang jauh berbeda dengan Rendra, Marvel adalah lelaki yang lemah, cengeng, selalu sering berputus asa


Membuat Rendra harus mendidiknya dengan cara berbeda dan bisa dikatakan sedikit kasar


"Marvel dikamarnya ren" Jawab papa


"Kenapa pa?"


"Biasa, baru aja putus kayak nya"


"Sama rami?"


"Begitulah"


Rendra berdiri dan memukul meja menandakan dia marah


"Ren, jangan marahi adikmu" ucap Mama


"Tentu ma"


"Baik-baik nak bicaranya" ucap papa


"Siap pa"


Karna kedua orang tua nya tau apa yang akan dilakukan Rendra kepada adiknya ketika tau adiknya sakit dan hanya bisa meratapi


"Buka atau saya dobrak" teriak rendra


Marvel membuka pintunya pelan


Rendra menarik kerah baju Marvel dan sedikit melempar pelan kearah kursi depan televisi


"Putus?" Tanya Rendra singkat


Marvel mengangguk pelan


"Lalu nangis?"


Marvel menatap arah kakaknya sejenak lalu menunduk


"Lemah, berdiri, sadar, lelaki bukan seperti kamu, harusnya kakak punya adik perempuan, bukan lelaki cengeng dan lemah seperti ini" jelas Rendra


"Kakak gak tau betapa cintanya aku sama rami"


Mendengar jawaban adiknya membuat ia berjalan mondar mandir bak setrika baju, tak lama ibu Rendra datang


"Rendra, jangan kasar sama adik kamu"


"Ma, rendra hanya kasih sedikit masukan untuk lelaki lemah ini"


"kamu dengar marvel, yaaa kakak gak tau karna kakak tidak pernah mencintai rami, tapi kakak pernah ditinggal dengan lelaki lain. Sama kan sakitnya dengan kamu rasa hari ini, apa kamu lihat kakak diam, uring-uringan"

__ADS_1


__ADS_2