
Sudah dua Minggu berturut-turut antar jemput, saat melihat Bayu datang dengan sipengantarnya (istri), robi bertanya
"Bay" ucapnya
"Eh pak"
"Kamu sama siapa?"
"Oh itu istri saya pak"
"Oh kamu diantar jemput"
"Iya pak, istri saya antar jemput"
"Baik ya istrimu, rela berkorban, nanti pulang juga jemput kamu?"
"Iya pak"
"Em, eh gimana kerjaan?"
"Aman pak, cuman saya kerjakan slow, gakpapa ya pak"
"Iya gakpapa, udah sana kerja"
"Baik pak"
Saat istirahat, Bayu melihat ke layar ponsel nya yang sudah banyak pesan masuk dari tya, Bayu menelfon nya
"Halo" ucap tya
"Iya, ada apa bun"
"Udah makan?"
"Ini baru istirahat"
"Oh yaudah sana makan"
"Iya, bunda juga ya, Ray udah dijemput?"
"Udah kok, ini lagi tidur siang"
"Oh yaudah, ayah makan dulu ya bund"
"Iya, makan yang banyak loh"
"Iya iya"
Saat Bayu membalikkan badan, ia dikagetkan dengan robi yang sedari tadi berdiri dibelakangnya
"Pak robi, astaga, kaget saya pak"
"Oh, maaf, tadi saya mau ajak makan barengĀ kamu lagi telfon"
"Iya pak, dari istri saya, biasa, alarm jam makan"
"Oh, ya bagus, kamu mau bareng?"
"Oh mari pak"
Sesampainya di warung yang tak jauh dari kantor
"Kamu pasti bahagia ya punya istri begitu" ucap robi
"Istri begitu gimana ya pak"
"Ya perhatian, rela berkorban, setia, mau diajak susah bareng"
"Hehe bukannya cari istri yang begitu ya pak?"
"Iya sih, pokoknya kamu beruntung aja, coba lihat saya, udah istri gak ada, masih ditinggali anak yang super nakal"
"Anak nakal? Wajar pak, masih kecil, nanti juga akan tau dengan kondisi"
"Iya sih, tapi ya ampun, berapa kali saya ganti pembantu sampai baby siter tapi cuman gara-gara gak betah sama anak saya"
"Ya sabar pak"
"Iya, pasti"
Mereka pun terdiam sejenak menikmati makanan, tiba-tiba Bayu membuka lagi pembicaraan
"Pak" ucapnya
"Hem" jawab Robi yang sibuk dengan makanannya
"Saya mau menitipkan anak sama istri saya gak keberatan pak?"
"Lah, kok dititipin nya ke saya? Kamu gak salah kan saya orang"
"Tapi kan bapak selalu meyakinkan saya anggap bapak jadi kakak dan sahabat saya"
"Iya sih, tapi"
"kan sejauh ini bapak yang selalu ada untuk saya, bapak juga yang mengangkat keuangan keluarga terutama ayah saya, bapak juga sering bilang anggap saja bapak itu sahabat yang paling dekat dengan saya, jadi saya percaya titip anak istri ke bapak"
"Memang kamu mau kemana?"
"Dengan kondisi saya yang sering sakit-sakitan, bahkan menyusahkan istri saya, terkadang saya berpikir tak berguna pak jadi suami, saya sudah berusaha sebaik mungkin membahagiakan istri saya tapi saya rasa masih saja kurang, nanti jika saya sudah tak ada saya titip pak, kasih pekerjaan kepada istri saya, untuk menghidupkan anak saya, tolong beri pekerjaan yang layak pak untuk istri saya"
__ADS_1
"Kamu ngomong apa sih, udah lah, jangan berpikir terlampau jauh, ini udah hampir jam masuk, saya duluan ya, soalnya ada meeting" ucap robi sambil meninggalkan tempat itu
"Bu, berapa semua" tanya robi
"Total 70 ribu aja pak"
"Sama punya teman saya kan?"
"Iya"
"Ini, pas"
"Makasih pak"
"Ayo, saya duluan bay"
"Iya pak makasih"
Saat sampai didepan pintu keluar, robi melirik ke arah Bayu
"Bukannya saya tidak mau bay, saya tidak pede, tidak yakin bisa mengabulkan amanah itu" ucap robi dalam hatinya
Robi pun berlalu
"Bu berapa?" Tanya bayu
"Oh sudah dibayar tadi pak sama teman bapak"
"Oh gitu ya? Yaudah makasih buk"
"Ya pak, makasih"
Setelah Sampai kantor
"Eh, fotocopy yang kemaren, laporan lapangan dititipkan gak? Sini, saya minta laporan ke pak robi" ucap teman Bayu
"Oh iya, kemaren ini dititipkan, mau kasih ke pak Robi? Bukannya pak robi ada meeting?"
"Kata sapa? Ada kok, noh diruangan nya"
"Kagak ada jadwal apa?"
"Gak ada, free, dikantor dia"
Bayu pun terdiam, kenapa robi harus berbohong padanya
Berhari-hari kemudian, ketika kondisi Bayu sudah mulai pulih dan membaik seperti sedia kala..
"Yang, aku bawa mobil sendiri ya, kan udah sembuh, kamu tau sendiri, boleh ya"
"Tapi kan"
"Padahal aku gak kecapekan, padahal aku mau mau aja"
"Udah, dirumah ya, liat aku sembuh udah seminggu lebih loh, malu tau dianter istri, kan harusnya nganterin istri"
"Yaudah deh, kamu hati-hati ya"
"Iya" Bayu mencium kening istrinya seperti hari-hari lalu sebelum ia jatuh sakit
tya pun berbahagia melihat dua Minggu belakangan memang kondisi Bayu membaik, Bayu bisa bermain lagi, sering joging sore kebiasaan nya sebelum sakit dulu, juga bisa makan pedas-pedas kesukaan nya karna selama sakit ia tak berani makan pedas sedikitpun tapi bahagia itu tiba-tiba sirna begitu saja dalam waktu sedetik saat tya mendapatkan kabar jika bayu kecelakaan dan meninggal ditempat
Saat tya baru sampai di sekolah Ray, dan mengantarnya masuk kelas, tya melihat seorang lelaki yang nyaris mirip dengan bayu melintas dihalaman sekolah Ray
"Mas Bayu" ucap tya
Tya berlari kecil mencari ke sekeliling tak mendapatkan lagi dimana lelaki itu, sampai ia terjatuh dan lutut nya berdarah
"Astaga, perasaan jatuh gini doang bisa berdarah" gerutunya
Ia mencoba berdiri, tapi baru saja ia berdiri, ia terjatuh lagi karna tersenggol oleh ibu-ibu yang terburu
"Astaga, maaf buk, saya tidak sengaja, maaf" ucap nya berlalu
Dan lagi-lagi, siku nya yang luka
"Ya ampun, cuman jatuh begini sakitnya loh, sampek lupa kan lihat siapa tadi" ucapnya kesal
"Masak mas Bayu? Kan udah dikantor pastinya" ucap tya lagi
Tapi saat kembali ke ruang kelas untuk melihat Ray, ia kejatuhan uah mangga hingga membuat kepala nya sakit
"Ya ampun, arrrrgh, mangga?"
Tya mengambil mangga nya dan melihat ke arah atas
"Kenapa hari ini sial sekali?" Ucapnya pelan
Ia pun kembali menuju ruang kelas Ray, dan mengintipnya yang sedang belajar, terlihat Ray yang sedang melirik tajam ke arah samping tya yang tak ada orang dengan gerakan bibir memanggil sebuah ucapan "ayah", lalu melambaikan tangan nya
Tya pikir Ray melambaikan untuknya.. saat melihat Ray sedang sibuk dengan belajarnya, tiba-tiba saja jantung nya berdetak lebih cepat seperti yang baru lari maraton
"Astaga, kenapa ini"
Tya pun duduk dan menarik nafas
Tak lama telfon masuk ke ponselnya
"Iya halo"
__ADS_1
"Dengan ibu tya?"
"Iya saya sendiri, ini siapa ya pak?"
"Saya dari kepolisian Bu, ini saya sedang mengusut kecelakaan atas nama bayu"
Tya mematung dan melihat ke arah jauh, padangan dan pikirannya kembali ke beberapa peristiwa yang baru saja ia alami, terutama pada ray yang melambai kan tangan yang ia tau bukan ke arahnya
Ingin sekali ia pingsan, tapi harus ia lawan, ia harus menemui apa itu benar-benar bayu, ia pun menitipkan Ray kepada guru yang mengajar Ray disana
"Bu, saya titip ray ya, nanti kalo lebih jam pulang tolong temani dulu
"Oh memang Bu tya ada urusan apa ya?"
"Ini bu, ayahnya Ray, kecelakaan, saya harus kesana"
"Astaghfirullah, iya Bu, gakpapa nanti saya bawa pulang saja gimana Bu tya?"
"Oh gak keberatan Bu?"
"Enggak, yaudah ibu gakpapa kan harus ngurusin ayah Ray"
"Makasih bu"
Tya menuju ke lokasi yang di kirim oleh polisi, sesampainya ia melihat sebuah tubuh yang ditutupi oleh kain putih panjang dari kepala sampai ujung kakinya
Seolah kakinya lemas, tak sanggup membuka wajah dibalik kain
Saat membuka nya dan benar itu wajah suaminya, nyaris tya pingsan tapi ia menahan sakit kepalanya, dan yang bisa ia lakukan menangis, dan saat dokter dan beberapa susternya menenangkan, ia hanya bisa menangis lebih kencang
Karna harus mengurus segalanya, tya hampir saja lupa jika ia menitipkan Ray kepada guru ray
Tya langsung menuju rumah guru ray
"Bu, permisi, ini saya, ibunya ray"
Tak lama guru ray keluar bersama Ray
"Bunda... Dari mana sih, kok gak dijemput jemput Ray nya, jadi pulang sama Bu guru" Omelan Ray
"Bunda ada urusan sayang, maaf ya"
"Ayah mana? Kok gak ikut jemput bunda, ayah udah pulang kerja kan, udah dirumah kan bunda?"
Tya hanya bisa meneteskan air matanya sangat deras, ia menahan rasa sakit yang akan membuatnya menjadi menangis didepan anaknya
Tya berlutut dan memberikan pengertian kepada Ray
"Ayah masih ada kesibukan sayang, jadi ayah gak pulang"
"Terus kapan ayah pulang?"
Tya terdiam menutupi mulutnya menahan tangisnya
"Bunda nangis ya?"
"Hem, bunda pusing sayang, tapi gakpapa, sekarang Ray pulang ya sama bunda"
"Berarti kita berduaan ya gak ada ayah? Padahal kan besok malam hari Sabtu, Sabtu malem lihat bola sama ayah"
Tya kembali menutupi bibirnya dan memejamkan matanya
"Sayang, bunda kan capek, sekarang pulang ya, istirahat, jangan nakal ya Ray" ucap guru ray
"Ibu Bu guru, Ray pamit ya"
"Iya"
Saat Ray berpamitan dan masuk mobil
Bu guru ray menanyakan bagaimana kelanjutan ceritanya
"Gimana Bu kabar terkini nya?"
"Ayah Ray meninggal bu"
"Innalilahi wainailahirojiun, saya turut berduka ya Bu, semoga segala amalannya diterima oleh sang pencipta nya"
"Makasih bu"
"Apa tidak sebaiknya ibu diantar saja?"
"Saya bisa kok bu, saya cuman bingung bagaimana menceritakan kepada Ray nantinya"
"Yang sabar Bu, nanti akan ada waktu sendiri masalah itu"
"Iya Bu, sekali lagi terima kasih Bu sudah menjaga Ray"
Tya pun berlalu dan menuju rumahnya
"Bunda.. kok rame?" Tanya Ray
Karna tya sudah menguburkan jasad Bayu, dan tinggal pengajian nya
"Iya ada pengajian sayang, Ray kan waktunya tidur siang, mandi terus makan dulu ya"
"Iya bunda, siap bunda"
Esoknya ketika sudah mengantarkan Ray untuk pergi ke sekolahnya
__ADS_1