Satu Nama Sebuah Kisah

Satu Nama Sebuah Kisah
LJL #6


__ADS_3

"Aku gak mampu melihat Lila mengurus siang malam segalanya, mulai dari diri Frans, kantor, rumah, bioskopnya dan lainnya, aku gak mampu ma, aku ingin membunuh diriku sendiri saja, setiap lihat Lila mengurus ku, betapa sakitnya hatiku tak bisa membahagiakan dia ma, gak bisa menyentuhnya"


Isi tulisan Frans...


"Iya Mama tau nak, pengorbanan istrimu memang besar, tandanya kamu bersyukur, karna jika wanita lain di posisinya, ia akan meninggal kanmu, apalagi dia punya popularitas sendiri di namanya" ucap Mama Vika


Airmata Frans semakin deras membasahi pipinya, kembali ia baru menyadari, jika Frans mulai ada perubahan karna ia bisa menulis cukup banyak walaupun butuh waktu cukup lama


"Kamu, bisa nulis" ucap Mama Vika


Mama Vika mengirimkan pesan kepada Lila jika frans sudah mulai sedikit bisa gerakkan pergelangan tangan nya


Lila yang membaca pesan dengan mata semangat dan senangnya pun berpamitan pada Rendra untuk pulang


"La, kamu mau kemana?" Tanya Rendra


"Aku, mau pulang ren, Mama bilang Frans bisa menggerakkan pergelangan tangannya, aku duluan ren"


Rendra hanya bisa melihat perginya Lila


Dan menendang beberapa barang yang tak terpakai disana


Sudah mengabari Lila, Frans menulis lagi dan berisikan meminta ibunya untuk membawa nya pulang kerumah nya meninggalkan Lila


Ajak aku pulang ma, bilang sama Lila aku tidak mau lagi bertemu, karna dengan cara ini aku bisa melihat Lila tak lagi terbebani oleh keadaan ku yang menyusahkan ini, aku gak pantes untuk wanita sebaik dirinya


Isi tulisan Frans


"Loh, kok, ya jangan dong, kasian Lila kan, harus nya kamu berusaha lagi biar kamu bisa seperti dulu"


Frans mencoret-coret buku dan ekspresi wajah nya yang marah, membuat Mama Vika mengikuti maunya karna ia takut justru anaknya kenapa kenapa jika tak dituruti


Mama Vika membawa beberapa baju dari kamar anaknya, frans. Untuk dibawanya pergi kerumahnya, tak lama Lila datang


"Maaa... " teriaknya


"Lila" ucap Mama Vika melirik ke arah pintu


Ketika menoleh kearah Frans, Frans memberikan ekspresi wajah marahnya lagi, dan Mama Vika melanjutkan mengambil beberapa bajunya


"Mama.. kok Mama bawa baju-baju Frans"


"Mama..." Belum selesai, Lila memotong nya


"Oh Mama mau ajak nginep, aku ikut ya, biar nanti kan Mama gak kerepotan, kan bisa Mama bantu" ucap Lila


"Ta..."


Lila melihat ke arah Frans yang menangis


"Sayang.. beb, kamu kok nangis, kan aku udah pulang, aku ikut kok, aku bantu ngurusin kamu nanti deh, kasian juga kan Mama, oh iya kata Mama tadi kamu bisa tulis kan, mana coba hasilnya" ucapnya


Vera dengan cepat menyembunyikan kertas yang tadi ditulis oleh Frans, dan mengambil lembaran baru untuk Frans menulis didepan Lila


Frans menulis kata terimakasih


Terimakasih *)


"Maksudnya apa beb, makasih apa ini?"


Melihat ekspresi Frans, Mama vika langsung membawa pergi Frans


"Beb, sayang, kamu mau kemana, ma Mama mau bawa kemana ma. Ma jangan tinggalin aku ma" ucap Lila memohon


Tanpa sepatah kata keluar dari mulut Mama Vika membuat Lila makin bingung dan shock melihat kepergian suaminya


"Maaaa.. jangan bawa Frans ma, sayaaaaang jangan pergi, aku salah apa ma, maafin aku ma kalo aku salah" teriak lila


Esoknya Lila menemui rumah Mama Vika namun tak ada yang membukakan, karna Mama Vika tau yang datang adalah Lila dan Frans tak mengizinkan Mama Vika membuka kan pintunya


Berhari-hari pun berlalu, Lila masih tak bisa menemui Frans untuk sekedar bertanya kabar, nomor ponselnya pun tak lagi aktif


Rendra yang sering masih kepo dengan kehidupan lila meskipun sudah beristri, ia melihat Lila santai didepan teras dengan tersedu-sedu


"La"


"Rendra"


"Maaf ya jadi nyelonong aja"


"Iya"


"Lagi santai ya?" Tanya Rendra


"Hem, iya ren"


"Frans lagi tidur?"

__ADS_1


Lila terdiam dan menatap jauh kearah jalanan didepan rumahnya


"La"


"Em, iya"


"Ada masalah?"


Lila menceritakan jika frans meninggalkan nya bersama ibunya karna ibunya membawa frans pulang tanpa alasan


Dengan sedikit mengepalkan tangan nya, ia mencoba bertahan dari amarahnya didepan Lila, dan ia berpamitan


"klo gitu aku pamit aja"


"Oh gitu, mau kemana?"


"Ada sih urusan bentar"


"Oh yaudah, em... makasih ya"


"Makasih?"


"Makasih udah mau dengerin aku"


"Iyaaa" ucapnya tersenyum lepas


Hari itu juga Rendra menuju rumah Mama vika...


"Cari siapa?" Tanya Mama Vika


"saya rendra Tante, teman Frans, bisa bertemu Tante?"


"Oh bisa kok, tapi kamu kan tau kondisi nya"


"Iya, cuman mau bertemu aja Tante"


"Iya udah Tante panggil"


Tak lama frans keluar, banyak perubahan dari nya memang terlihat jelas contohnya ia bisa mendorong kursi rodanya sendiri


Dan berbicara walaupun masih kerepotan


"Hem" jawab rendra


"Hai ren, apa kabar"


"Oh, syukurlah kalau baik, semoga semakin baik"


"He'em"


"Biar bisa memberikan pelajaran padamu dengan siapa kamu berhadapan jika menyakiti Lila" ucapnya dalam hati


"Em yaudah aku pamit, cepet sembuh ya"


"Heeeem"


Beberapa hari kemudian Rendra datang kerumah Lila, dan sering menjenguk Lila sekedar menjadi pendengar setia nya walaupun ceritanya akan menyakiti dirinya sendiri


Lila menceritakan jika Mama Vika mengirimkan surat perceraian Lila dengan Frans


Entah apa yang harus dirasakan oleh Rendra, senang, sedih, atau apa entahlah


Tepat diawal bulan diakhir tahun. Perceraian mereka pun digelar, dan betapa senangnya lila melihat orang terakhir bersamanya bak manusia tak bernyawa, tiba-tiba kembali sehat seperti sedia kala


"Mas Frans" sapa Lila didepan pintu ruang hakim ketika akan masuk


Frans hanya menyapa dengan senyuman nya


"Mas udah sembuh, syukurlah mas. Aku sangat bahagia, kenapa gak kabari aku? Aku masih belum bisa mas melupakan kamu, gimana pun caraku aku gak bisa, kamu terlalu indah buat dilupakan"


Frans masuk tanpa sepatah kata pun, Lila hanya menitihkan air matanya sedikit demi sedikit karna sikap Frans


"Aku tau kamu adalah orang paling bahagia melihat aku kembali seperti dulu la, tapi aku hanya bisa lakuin ini demi kebahagiaan kamu, aku tak mau terus jadi beban buatmu, aku hanya ingin kamu bahagia dengan cara yang salah, kamu terlalu baik untuk lelaki bajingan dan bodoh seperti aku yang hanya bisa melakukan hal konyol demi membahagiakan mu seperti saat ini" ucap Frans dalam hati dengan sedikit melirik ke arah belakangnya


Detik-detik menunggu hakim, Frans melirik kearah Lila yang semakin menggendut


"Kan, bener kan, Lila gemuk, berisi, mungkin karna dia udah gak lagi mikirin aku, repot-repot ngurusin aku, sekarang gemuk, dulu kan kurus" ucap Frans dalam hati


Dan ketika hakim sudah mensahkan mereka bercerai, hanya nafas panjang yang dilakukan oleh Frans membuat Lila semakin bingung dan berfikir Setega itu frans


Kembali tanpa menyapa Lila, ia meninggalkan ruang sidang bersama ibu dan pengacaranya


Tinggallah Lila yang pulang dengan jalan kaki, yaa memang ia sengaja tk membawa mobil karna takutnya akan terpecah-pecah konsentrasi nya


Sesampainya dirumah, yang sudah ada Rendra didepan rumahnya, Lila masuk teras rumah nya dengan wajah pucat dan sedikit mual


"La, gimana sidangnya?"

__ADS_1


"Em, ren, lancar kok, lancar, em bentar ren"


Lila nyelonong masuk rumah dan menuju toilet, diikuti oleh Rendra


Setelah ia keluar dari toilet


"Kamu gakpapa?"


"Enggak kok"


"Syukurlah, oh iya masuk angin kamu mungkin, ini aku ada kayu putih"


"Hem makasih ren"


Hari demi hari dilalui Lila dengan kepala pusing ya, membuat nya terus tak konsen dalam pekerjaan nya


Hingga melihat kondisi semakin memburuk, Rendra membawa nya ke rumah sakit


"La, kamu makin gendut sakit gini ya, kamu sering makan?"


"Enggak, justru aku mual nyium bau masakan, jadi makan ya roti"


"Ah masak, tapi aku liatnya kok agak gemuk ya"


Sesampainya dirumah sakit dan dokter mulai meriksa


"Dok, gimana teman saya?" Tanya Rendra


"Oh bapak ini teman? Suaminya mana ya pak"


"Suami? Oh dia baru cerai dok"


"Cerai?"


"Iya"


"Kok cerai, padahal pasien sedang mengandung dan usia sudah masuk bulan ke lima"


"Hamil dok?" Ucap nya kaget


"Iya, maaf kalo boleh tau cerainya kapan?"


"Baru aja sebulanan"


"Sebulan, loh memang gak ada yang tau kalo hamil?"


"Lila bagaimana?"


"Ya sama belum tau mungkin, makanya saya kabari ke Anda saya pikir Anda suaminya, yaudah nanti saya bantu Anda menjelaskan, silahkan masuk"


Dokter pun mulai menjelaskan, dan Lila hanya terdiam menatap tajam kearah dokter


"Baiklah kalau begitu, semua sudah saya jelaskan" ucap dokter


"Iya, dok makasih" ucap Rendra menarik lembut tangan Lila keluar ruangan


"Ren, ini hamil? Aku mau gugurin aja, aku mau bunuh aja ren" ucapnya memukul mukul perut nya


"La, jangan udah jangan dong"


"Aku gak mampu besarkan dia sendiri ren, gak, gak bisa ren, biar sudah biar aku bunuh, atau mati bersama ku"


"Lila, kamu seorang penulis tapi kamu punya pikiran kecil doang, segini doang" ucap Rendra sedikit dengan nada tinggi


"Tapi aku gak bisa ren, sendiri" ucap Lila


"Ada aku" jawab rendra membuat Lila spontan berhenti dengan aktivitas nya memukuli perutnya


Akhirnya Rendra baru bisa menyatakan perasaan nya diwaktu yang sangat tidak tepat


Lila berlalu tanpa sepatah kata pun meninggal kan Rendra


Sesampainya dirumah, ia hanya duduk terdiam, mengapa bisa ia tak menyadari dirinya hamil bahkan sebelum perceraian nya terjadi


Sementara Rendra menuju kantor Frans dan menunaikan janjinya menemui frans ketika ia sembuh untuk menebus salah dan kebodohan nya


Sesampainya dikantor, tanpa basa basi Rendra membuka pintu ruangan kerja Frans


"Rendra" ucap Frans


"Pak, maaf pak tapi bapak ini memaksa masuk, tanpa sepatah kata hanya bicara ingin bertemu dengan bapak" jelas satpam


"Oh, iya sudah tinggal aja pak. Gakpapa kok. Makasih pak"


"Baik pak"


Baru saja satpam keluar, belum ditutup sepenuhnya pintu ruangan, Rendra menyerang Frans tanpa basa-basi lagi

__ADS_1


__ADS_2