
Mereka terdiam...
"Sekarang kakak gak mau tau, kamu berdiri, makan, dan lupakan, masih banyak kan wanita lain di bumi ini"
"Ya kak" jawab Marvel pelan
"Okeh, turun dan makan"
"Ya kak"
Esoknya dihari ketiga ospek, ketika sudah mencari beberapa lagi tanda tangan dari anggota panitia, Rendra berencana duduk didepan perpustakaan dan berharap bertemu dengan perempuan yang bertemu dengan nya kemaren
Lama menunggu ia pun tak dapatkan perempuan itu melintas disekitar sana
"Mungkin gak kesini lagi kali ya" ucap nya pelan dan berlalu
Tak sengaja ia bertemu dengan bara
"Kamu lagi"
"Eh kak, iya"
"Kamu ngapain disini"
"Oh gak cuma tadi lewat kak"
"Ou"
"Oh iya kak, ini ketua panitia nya saya gak pernah jumpa di acara memang tidak pernah hadir ya?"
"Iya hadir sih sebenernya, cuman memang sedikit sibuk, namanya juga penulis jadi sibuk wajar"
"Oh, iya iya"
"Em kak, kalo perempuan yang sering ke perpustakaan itu dimana ya?"
"Siapa? Kan pasti banyak lah"
"Iya sih, tapi ciri-ciri nya tinggi, putih, bersih, waktu itu sih pakai baju kotak-kotak hitam putih, celana jeans-nya street gitu"
"Mungkin Lila, karna ciri-ciri yang sama dengan mahasiswa disini ya Lila, ke kampus selalu pakai hem kotak panjang sama jeans-nya street"
"Oh iya mungkin kak"
"Iya itu, sibuk memang"
"Oh yaudah makasih kak"
Setelah bara berlalu
"Oh itu yang namanya Lila" ucapnya pelan
"Sayang" sapa Sarah
"Sayang, udah?"
"Udah, kamu liatin apa sih"
"Itu, kak bara baru aja lewat"
"Oh"
"Eh kamu udah ketemu sama Lila Lila itu"
"Belum, kamu?"
"Ya sama, susah ya"
"Hem begitulah yang, kata senior perempuan memang wanita tersibuk dia"
"Oh"
Hari terakhir ospek, ada banyak acara seru yang digelar dari kuis, game, nyanyi, drama, comedi dan masih banyak lainnya
Saat Lila berada diruang rapat, dan ia pun masuk kedalam toilet karna buang air kecil, begitupun Rendra yang sudah tidak tahan karna semua toilet penuh
"Kak, maaf kak, toilet kosong dimana ya?" Rendra tanya kepada Danu
"Memang toilet penuh?"
"Iya kak"
"Di ruang rapat, samping kiri lab Kimia"
"Oh makasih kak"
"Ya"
Sesampainya di ruang rapat, Rendra tak melihat seorang pun disana
Rendra langsung masuk, dan Lila baru keluar
Lila kembali dengan revisi buku untuk diterbitkan film lagi dan kembali duduk di meja rapat
Tak lama Rendra keluar dari toilet...
Melihat ada seorang wanita yang duduk dengan baju kotak-kotak hitam hijau dan celana jeans street nya, ia tak sadar jika itu wanita yang ia cari beberapa hari ini
Ketika Lila berdiri dan membalikkan badan ia terkaget dengan sosok Rendra disana
"Kamu" ucap Lila
"Em.." jawab rendra gugup
"Ya ampun benar dia, dia kan, Lila" ucap nya dalam hati
"Sejak kapan kamu berdiri disitu?"
"Em baru kok, maaf, gak bermaksud,tadi cuma numpang toilet, toilet diluar penuh"
"Oh okeh"
"Lila ya?" Tanya Rendra
"Iya, bisa tau dari mana? Saya kan tak pakai kartu pengenal"
"Lila Januari Larasati, sudah banyak yang mengenal tanpa tanda pengenal"
"Bisa aja kamu, kamu Maba?"
"Ya"
"Jurusan?"
"Poli teknik"
__ADS_1
"Oh, okay"
"Salam kenal" ucap Rendra
Lila menjawab dengan senyum
Dan saat Lila selesai dengan urusannya diruangan tersebut, Lila membereskan semua barangnya
"Mau saya bantu"
"Kamu masih disini?"
"Iya, saya bantu?"
"Boleh, kamu kenapa gak gabung dengan yang lain? Bukannya banyak acara seru ya?"
"Saya paling tidak suka dengan membuang waktu"
"Oh okay, saya rasa kita sama"
Setelah sampai diparkiran mobil...
"Oh kamu bawa mobil sendiri"
"Begitulah"
"Oh"
"Eh makasih ya"
"Iya sama sama"
Setelah lila pergi, hanya rasa bahagia yang Rendra rasa lainnya sudah tak peduli
"Kamu, ngapain disini? Sudah kau kumpulkan buku tanda tanganmu?" Tanya bara
"Eh kak, iya ini, tadi ada yang panggil, temen sih, yaudah saya kesana kak"
"Okay"
Sesampainya di aula mereka berkumpul, beberapa panitia mencek satu persatu isi dari hasil tanda tangan beberapa panitia
"Okeh, pemungutan suara untuk hasil terbanyak diraih Dito dari fakul teknik, sementara terendah Tomi dari fakut pertanian dan peternakan" jelas Danu
"Lalu sebanyak ini, kalian tak ada satupun yang dapat tanda tangan dari ketua panitia?" Tanya bara
"Apa kak bara? Tidak ada sama sekali, satupun?" Tanya Danu
"Ya kak Danu, sama sekali"
"Apa kalian tidak mencari?"
Salah satu dari maba angkat bicara
"Ya silahkan, siapa nama kamu"
"Nama saya sila kak, sebagian banyak dari kami tidak tau yang mana ketua panitia"
"Kan ada fotonya, nama terangnya"
"ya kak, tapi kami tidak pernah melihat disekumpulan panitia lainnya" jelas yang lain
"Ya berusaha, masak tidak bisa bertemu, padahal dia juga kuliah kan disini, kecuali orang luar dari kampus. Lucu kalian ini"
"Em kak Danu, maaf bukan melawan tapi memang Lila jarang bersama kami, ditugaskan oleh dosen untuk mengawasi saja" bisik bara
Tak ada yang menjawab..
Tak lama Sarah mengangkat tangannya..
"Kak"
"Ya kamu, siapa nama mu"
"Sarah Putri kak, saya mengenal, tapi dari luar kampus waktu itu saya ke bioskop"
"Okeh, lalu apa lagi?"
"Yang saya tau, Lila penulis buku"
"Think smart, Lila Januari, penulis buku terkenal, yang tau hanya orang-orang yang suka membaca buku semacam novel"
Beberapa orang yang tanda kutip adalah seorang kutu buku akhirnya menyadari
"Paham kan?" Tanya Danu
"Paham kak"
Rendra masih tidak fokus dengan semua perdebatan sangking seriusnya ia terpesona oleh seorang Lila bahkan ia tak menyadari jika topik mereka pun sama dengan fikiran nya
Esoknya Rendra dan Sarah janji bertemu mencari kebutuhan sehari-hari di kampus nantinya, karna memang masuk pertama masih seminggu lagi, tapi Rendra bisa mengkondisikan dimana ia harus bersama Sarah dan dimana ia harus merindu kan saat bersama dengan sesosok makhluk hidup yang paling cantik yang pernah ia temui
Setelah semua Persiapan nya selesai dihari kelima, tinggal menunggu dua hari lagi untuk bersiap masuk pertama di kuliah nya. Ia pun iseng mencari sebuah nama Lila digoogle tapi tak ia temui
"Yang, besok hari pertama bareng kan?" Tanya Sarah
"Iya iya nanti deh aku jemput ya"
"Bener loh sayang"
"Iya iya sayang"
Hari pertama masuk kuliah pun ia memulai dengan lancar begitupun hari-hari selanjutnya
Melihat dalam pembagian kelas, dikelas pertama tak terdaftar nama Fadli dan Rendra
"Semoga kita sprodi ya" ucap Rendra
"Ya semoga, gak bingung cari temen lagi kan"
Dikelas kedua pun tak ia dapati
Hingga dikelas ke empat mereka bersujud syukur karna masuk di kelas yang sama"
Ketika hari pertama nya kuliah saja sudah tak fokus dengan keinginan nya yang sangat besar bisa bersama dengan Lila
"Lo hari pertama ngapa dah" tanya Fadli
"Lo tau kan sama si Lila"
"Lila Januari? Ya tau lah"
"Bener? Kelas berapa"
"Lo tanya coba sana sama Danu"
__ADS_1
"Yaelah, sama aja tanya ama singa"
"Haha bisa aja Lo"
Beberapa bulan ia kuliah, ia pun tak dapat menemukan Lila
"Lu bingung sama Lila bro" tanya Fadli
"Hem Hem, pengen tau kelas mana dia"
"Fakul sastra ya cari aja satu-satu dikelas nya"
"Ya kali"
"Kalo gue bisa bantu lo cari, gue dapat apa dari Lo yang menguntungkan gue?"
"Memang Lo mau apa?"
"Consina"
"Tas gunung?"
"Hem Hem, gimana?"
"Ya iyaaa asal akurat"
"Beres"
Beberapa hari kemudian, tanpa bantuan fadli, Rendra bisa mendapatkan informasi dari bara
"Kamu" ucap Rendra
"Eh kamu, iya apa kabar?" Sapa bara
"Baik baik, kamu gimana?"
"Baik kak"
"Bagus deh, gimana kuliah?"
"Wuuuh padet kak"
"Begitulah, perjuangan dulu baru kesuksesan ya gak?"
"Ya kak"
"Em kak, kakak ini kan sastra, kenal Lila kak?"
"Lila? Kenal banget lah, dia sepupu ku"
"Sepupu?"
"Iya, ibu gue sama bapak dia adik kakak"
"Em"
"Napa?"
"Enggak, memang bener ya kak kata orang, kalo Lila sibuk banget"
"Begitulah, namanya juga mahasiswa seperti kita, banyak jam kuliah, Belum lagi dia bikin usaha dimana dia dirikan biokop terbesar dengan jam tayang ya dari novel Novelnya"
"Novel-novel? Memang ada berapa novel?"
"49 kayaknya, dia juga baru aja nulis ke 50"
Mendengar nominal fantastis untuk seorang penulis memang Lila pantas di juluki ratu jempol, karna segudang prestasi nya apalagi dalam menulis
"Wih wih, itu novel?"
"Iya novel, jelas lah, apa lagi. Et tapi jangan salah, dia bukan ngarang dalam novel itu"
"Terus, gak mungkin kan kisah-kisah nya"
"Iya tentu sebanyak itu gak mungkin semua kisah dia lah,dia ambil dari kisah beberapa temannya yang suka curhat sama dia, dan meminta izin untuk di publikasikan kan"
"Oh"
"Gitu deh, namanya juga anak yang prinsip tinggi ya, bak rumah mewah dengan interior indah, sejuk, namun bertembok kokoh, siapa sih yang gak suka?"
"Iya sih"
"Kurasa kau juga suka"
Mendengar ucapan bara membuatnya tersedak
"Ha? Uhuk, enggak kak"
"Udahlah, saya paham hati Anda" ucap bara mulai beranjak meninggalkan meja Rendra
"Em kak, boleh tanya dimana kelas prodinya?"
"Sastra B5, samping toilet dosen lantai dua"
"Makasih kak" teriaknya
Bara mengangkat tangannya tanda ia menerima ucapan terima kasih Rendra
Esoknya, karna jam kuliah kosong, ia tetap menuju kampus
"Yang, kebetulan hari ini aku free loh, jalan yuk" ajak Sarah
"Oh aku ada nih kuliah"
"Loh kata kamu gak ada"
"Dadakan"
"Oh, gitu, yaudah"
"Nanti aku pulang langsung kerumah kamu deh"
"Iya udah aku tunggu"
"Iya"
"Bye sayang"
"Bye"
Sesampainya di kampus, ponsel Rendra berbunyi
"Halo"
"Lo kenapa kaga ikut gua ngopi bareng temen sekolah gue? sibuk apa ada masalah?"
__ADS_1
"Em enggak deh, gue dikampus ini"