Satu Nama Sebuah Kisah

Satu Nama Sebuah Kisah
karna Cinta mengalahkan segala Rasa


__ADS_3


kisah kali ini dari seorang gadis yang harus bekerja keras mencukupi kebutuhan keluarga nya, ia hanya tinggal dengan kedua adik, adik perempuan dan adik lelakinya nya belum lagi harus memenuhi kebutuhan dua tantenya yang hidup susah, tapi tak membuat dia gampang menyerah, justru bersemangat


kerjanya sebagai penjual telur membuatnya cukup bisa menghidupi semua keluarganya, ia dapat menjual telur 50 kilo dalam sehari dan sudah terkenal sebagai agen telur terlengkap


mau telur apa juga ia jual, mulai dari


- telur ayam kampung


- telur ayam biasa


- telur bebek


- telur punyuh


- telur banyak


dan masih banyak telur telur lainnya juga


Inilah kisah dari sebuah nama Varda Zakia A'yyun


ketika itu Varda bersiap siap dikamarnya, untuk pergi ke kota mengirim telur, tak lama Nani, tante Varda masuk..


"Var.. kamu jadi kirim ke kota?" tanya Nani


"Jadi te, kenapa?"


"Ini, nitip dong, susu disana pasti murah, buat si Nanda, ya"


"Iya deh, nanti aku bawain nanti"


Nani adalah tante dari Varda, ia sejak lama menjadi janda, dan hidup pas pasan, menjadi buruh cuci dan memiliki anak masih berumur satu tahunan


Varda mengantarkan ke kota, di beberapa warung, toko, dan beberapa tempat lainnya, selain kirim ke beberapa warung dan toko di sekitar rumahnya, karna Varda juga sampai ke kota bahkan weekend tak jarang ia harus mengirim keluar kota


belum lagi Vika dan Vanza yang sering membantu kakaknya menjadi pengamen jalanan, membuat keduanya makin terjerumus namun seolah tak mau menyusahkan kakaknya, keduanya memilih mencari pundi-pundi uang sendiri


"Kak, Vanza ke Jogja hari ini ya" kata Vanza berpamitan


"Loh, mau kemana, naik apa?" tanya Varda


"Gampang kan bisa naik bis sambil ngamen"


"Kakak kasih uang buat saku ya, buat minum dijalan"


"Jangan Kak, buat makan besok sama lusa kakak sama kak Vira aja"


"Loh, kamu berapa hari memangnya?"


"Bisa tiga, empat, seminggu, gak tau kak, paling tidak semingguan itu"


"hati hati dek, jaga diri ya"


"iya kak"


sibuk nya Varda dengan usaha penjual telurnya, berjalan di beberapa kota lain juga, sudah terkenal di kalangan banyak orang terutama yang memiliki usaha entah toko atau warung itu


tapi ditempat lain, Vika, adik perempuan Virda dipertemukan dengan seorang lelaki bernama Linggar, Linggar adalah pentolan dari kelompok yang sering membuat rusuh jalanan


dia seorang pembalap juga seorang pengamen jalanan yang mencari makan dari lampu merah, kehidupan nya sangat bebas tapi ia sangat enggan untuk menyentuh wanita sekalipun telah berpacaran, apalagi merusak mereka


"He.. sini, mana setoran lo udah jalan?" ucap beberapa preman


"Setoran setoran apa? Kaga" ucap Vika


"lo udah jalan jajakin itu telur telur lu kan"


"gak ada bang, ini uang buat hidup gue"


saat itu Vika memang sedang mengedarkan telur telurnya didaerah pasar, ia bertemu dengan beberapa anak buah Linggar, tapi karna terus memksa meminta dan Vika tetap tidak memberikan, beberapa anak buah itu menemui


"bos, ada anak baru jajakin jualan dia, gak kasih duit kita" kata mereka


"siapa?" tanya Linggar


"gak tau gue, dia gak mau sama sekali" kata mereka


"sudah ada yang ikuti dimana rumah dia?"


"sudah, ada"


"oke kita tunggu ada yang balik dan kasih tau alamatnya"


tak lama beberapa teman nya yang mengikuti Vira tadi pun kembali dan menunjukkan dimana rumahnya


"jauh amat" kata Linggar


"iya disana gue ikutin nya bos"


"oke deh, gue tetep bakalan ikutin, besok aja gue temui"


esoknya, Linggar bersiap siap, karna akhirnya Lingga turun tangan, setelah sampai dirumah itu..

__ADS_1


"ini rumahnya?" tanya Linggar


"iya bos, itu dia yang jaga lapak telur telurnya itu"


Vira pun yaang menjaga lapak kakaknya di mintai uang palak oleh Linggar


"siapa kamu?" tanya Vira


"lo udah jualan di pasar wilayah gue, semua orang bayar upeti ke gue" kata Linggar


"oh, kamu temannya anak anak brandalan itu?"


"iya, sini cepat uangnya"


namun ketika Varda keluar karna mendengar keributan membuat Linggar hanya terdiam memandang kearah Varda


"Kenapa dek?" tanya Varda


"Kak, ini, dia minta uang katanya buat setoran, sejak kemarin aku jual dipasar yang kemarin kakak suruh, itu loh"


"Setoran?"


"Iya aku gak tau makanya kak, malak nih dia"


"Loe" ucap Linggar menunjuk wajah Varda


"Kamu mau apa?" tanya Varda


"Loe kan yang udah bikin gue seperti ini, gara-gara Lo mati gue jadi seperti ini, lihat gue, ancur, kenapa Lo ninggalin gue mati?" Ucap Linggar


"Kak, dia mabuk deh kayaknya" ucap Vika


"Mabuk?" tanya Varda kaget


semua orang disana kaget, karna ternyata sebelum menemui dan memalak, Linggar dalam kondisi mabuk, hanya saja masih bisa menaiki motor karna belum begitu pengaruh


tapi disana tidak ada yang berani membantu Linggar, karna mereka takut jika dua perempuan itu meneriaki tetangga tetangganya dan mereka habis dikeroyok


"Entar dulu, Lo kan udah mati, disini Lo ngapain, oh lo mati jadi hantu penasaran ya? Hiii hiii takut" ucap Linggar


"Dasar geblek" ucap Vika mendorong tubuh Linggar hingga terjatuh dan pingsan


"Adek" ucap Varda


"Loh, kan Vika cuman dorong loh kak"


"Yaudah bawa masuk saja, dia pingsan" kata Varda


"Loh, nanti kalo dia sadar terus nyangka kita macem-macem gimana" tanya Vika


"Yaudah"


Beberapa menit kemudian terbangun lah Linggar, ia mulai sadar dan bingung ada dimana, akhirnya ia muntah dan Varda hanya diam


"heeeee" teriak Vika


"Vikaa.. udah udah" kata Varda


"Bangun, dasar ya, nyusahin orang" ucap Vika


"Dimana?"


"Dineraka" ucap Vika kasar


"Kamu siapa"


"Gue setannya"


"Serius lah"


"Anji* Lo pikir gue ngelawak?"


"Vika, udah" kata Varda lagi


Ketika Varda datang dengan segelas air jahe manis, Linggar meloncat menjauhi Varda karna kaget


"Kamu, gue beneran mati? Gue beneran dineraka? Apa gue masuk surga ya, buktinya gak panas, gue mati ya" ucap Linggar terus menggetutu


"wah, dia gila sih kak, bukan mabuk lagi" ucap Vika


"Vikaa jangan bicara begitu" kata Varda


"Kak, dia stress deh kurasa" bisik Vika lagi


Varda mendekati Linggar justru ia semakin teriak dan meminta nya menjauh


"Em.. eh. Lu pulang gih, sana pulang, dasar gila" ucap Vika


"Gue gak gila" ucap Linggar


Linggar berlari terbirit-birit keluar dari rumah Varda


"kan, tuh lihat, adat nya dari mana gak ada terimakasih sama sekali" kata Vira

__ADS_1


"sudah lah biarkan"


beberapa hari, memang Linggar sengaja tidak mabuk, karna ia ingin benar-benar sadar ketika melihat Varda apa benar dia manusia


hari berikutnya saat dari tongkrongan, Linggar kepikiran akan pergi kerumah itu lagi, ia pun pergi, lalu sampai disana, dan melihat Varda mengurus dan membersihkan tempat lapaknya didepan rumah itu


karna didepan rumah Varda di bikin jadi lapak telurnya di beberapa meja khusus pajangan telur telurnya kan


disana seketika Linggar melihat dengan sadar, Varda memang sangat mirip dengan Riana, wanita yang pernah ia cintai, tapi sayang Riana meninggal dunia karna balap liar


karna masa lalu Riana adalah anak trek motor juga, dari sinilah membuat Linggar frustasi hingga ia memilih kehidupan yang seperti sekarang


dari sana Linggar memutuskan pulang kembali ke tongkrongannya


"hei lu kenapa?" tanya beberapa temannya


"iya, sejak tadi dateng, pergi dan ini dateng lagi, diem bae" jawab teman nya yang lain


"eh bentar, gue mau tanya deh ke kalian semua" kata Linggar


"hah? ape?" tanya mereka


"menurutlo, ada gak orang di dunia ini yang mirip mukanya tapi gak kembar?" tanya Linggar


"mirip tapi gak kembar? mane ade bos" jawab salah satu dari mereka


"ehh ada aja sih, ada kok, dunia ini nih kata emak gue dulu, pasti ada aja wajah nya yang mirip" kata Risno, salah satu temannya


"oh emang iya?" tanya teman yang lain


"iya gitu, itu emak gue loh" jawab Risno


"berarti ada ya kemungkinan?" tanya Linggar


"kenapa sih bos?" tanya mereka


"gak"


esoknya, Linggar mencoba datang kembali dan dan benar, yang ia lihat sama dan mirip dengan mantan pacarnya itu


"Iya, gue yakin itu Riana, beneran dia Riana, tapi Riana kan gak gitu" ucapnya pelan


"Elu" ucap Vika mengagetkannya


nelihat Vika, Linggar langsung berlari dan menutup wajahnya dengan topi dipakainya


"Kayak gue pernah tau?" gerutu Vika


beberapa hari Linggar sering bengong, terdiam sendiri, membuat Risno temannya penasaran


"Woi bro, bengong lu" ucap Risno


"Eh, Ris, sini lu, sini dulu, lu masih kan inget wajah Ria?"


"Ria? pacar lo yang.. kan?"


"Iya, Riana bro"


"Iya iya, iya inget, kenapa?"


"Gue kemaren ketemu sama dia"


"Ah masak sih, yakin Lo"


"Yaeelah beneran"


"Kembaran kali bro"


"yaaa Ria mana ada kembaran, ngaco Lo"


"Loh ya tapi gak mungkin Ria Kan lu ma gue ikut pemakaman, ikut penguburan bro"


"Nah, kalo lo kaga percaya lo ikut gue yak"


hari berlalu, esoknya Linggar kembali menuju rumah Varda bersama Risno dan benar, betapa kagetnya Risno


"Gue bilang apa" jawab Linggar


"Kembaran bro, yakin gue"


"Kaga ada, mana ada, gue tau banget siapa Ria, gue kenal semua keluarganya, gak ada satupun tersisa"


"Eh tunggu deh, lu inget sama Varza?"


"hemm? Varzaaa? Varza?" ucap Linggar sambil berpikir berusaha mengingat


"Itu, yang lho bilang gak pernah liat dia bikin rusuh, gak pernah liat bikin onar tapi banyak yang segenin" jelas Risno


"ohh iya Varza itu, oh iya, itu, kenapa memang?" jawab Linggar mulai mengingatnya


"Ini rumahnya dia, gue taunya, inget banget gue disini"


"Ini rumah Varza? gimana sih maksudnya?" tanya Linggar

__ADS_1


"Setahu gue sih dia punya dua kakak cantik, cuman gue gak pernah tau kek mana mukanya, cuma gue yakin disini, gue pernah kok turunin dia disini" jelas Risno


__ADS_2