Satu Nama Sebuah Kisah

Satu Nama Sebuah Kisah
KI #4


__ADS_3

"gak ada, bodoh amat, mana gue kaga mau tau" bentak Vandra pada lelaki itu


"Vandra, udah dong" bisik Naya


"kamu jangan ikut ikut, ayo kita pergi saja, aku gak mau kamu terlibat urusan apapun dengan urusanku" kata Vandra


Vandra bukan tidak mau Naya mengikut campuri urusannya tapi Vandra lebih tidak mau Naya terlibat beberapa masalahnya mengingat Vandra adalah orang yang tempramen kepada orang lain


"kenapa tadi?" tanya Naya


"dia yang bawa duit perkumpulan, dibawa dan gak ada kembalikan, alasan dibawa teman, sialan dia"


"udah ya, kan dia jelasin, dia berusaha nyari temannya saja"


Naya memeluk Vandra agar lebih tenang, Vandra benar lebih tenang lagi


"Naya, aku sudah bahagia sama kamu, aku mencintamu sampai kapan pun sampai aku matipun itu" ucap Vandra dalam hatinya sembari dalam pelukan Naya


Naya memang orangnya hangat, ia memberikan perhatian dan pedulinya kepada sekitarnya, bahkan Naya dikenal di mata teman temannya gadis yang sopan, yang ceria, juga yang begitu tulus kepada orang lain


bahkan hanya seorang Naya lah yang bisa mempengaruhi seorang Vandra ketika marah, Ketika Vandra mood crazy


seperti ketika ada masalah Vandra dengan ibu tirinya, tapi karna Naya baru datang kerumah Vandra, Naya melihat Vandra sudah marah marah


"kamu kenapa?" tanya Naya


"kesel, sialan... males gue dirumah, ayo pergi" ajak Vandra


"jangan kasar lah, kenapa harus kasar, mereka orang tua kamu"


"bukan, dia bukan orang tuaku, orangtuaku hanya ayahku" kata Vandra


"Vandraaa" ucap Naya


"ayo udah pergi" ajak Vandra


Vandra dan Naya pergi kerumah Ben, lalu duduk disana, diruang tamu itu, Ben akan datang karna ia masuk shift kerja siang..


"hai Naya, Vandra" sapa Ben


"hai, bang, mo pergi kerja?" sapa Naya


"iya, didalam ada Tria"


Ben pergi, tinggallah Naya dengan Vandra di ruang tamu, mereka duduk, Naya pergi ambilkan air minum untuk Vandra, ia menyapa Tria yang ternyata bersama Fahar


Tria dan Fahar sama dengan Vandra dan Naya, tidak ada hubungan apa apa tapi dalam proses pdkt


"hai Tria" sapa Naya


"Na? dateng sama siapa loe?"


"sama Vandra"


"ohhh, biasa deh"


"haha iya, udah lanjutin pacarannya" ledek Naya


"loe gak pacaran lagi apa sama si Adri?" tanya Fahar


"pacaran lah" jawab Naya


"sama Vandra sering loe?"


"sering biasa doang, berteman kan bang, sama kaya kamu dan Tria" jawab Naya


"oh ya juga haha" jawab Fahar


Naya pergi kedapur ambilkan minum, lalu menuju ruang tamu lagi, memberikan minuman nya kepada Vandra sambil Naya menggerutu untuk lain kali Vandra lebih jaga sikap atas sikap nya


"kamu lain kali ini jangan diulang ya begitu, kasihan buk Asih, kamu gitukan, dia bagaimana juga orang lebih tua dari mu" kata Naya


"habisan, udah dibilang jangan ikut campur urusan gue, kenapa masih saja, bapakku saja gak mau ikut ikut urusan gue" jawab Vandra


"ya dengerin aku gak sih kamu ini?"


"iya aku dengerin"


"yaudah, habiskan itu minumnya biar lebih lega lagi"

__ADS_1


"emm, Naya.. peluk lah, biar aku tenang" kata Vandra


"sini, aku peluk" kata Naya


hari hari terus berlalu, dimana ketika beberapa masalah terjadi pada Vandra, Naya selalu ada untuk tempat terakhir bagi Vandra, itu membuat Vandra malah jadi semakin kuat untuk memberikan rasa cinta nya kepada Naya tanpa peduli apapun perasaan orang lain


beberapa hari berikutnya, dimana ketika Naya dan Vandra ada dirumah Pandi, salah satu teman Vandra yang juga rumah nya hampir mirip dengan rumah Ben, jadi tempat berkumpulnya bersama teman teman.


hanya saja bedanya jika rumah Pandi lebih privat karna yang datang hanya teman teman yang sangat dekat dengan Pandi saja


jadi sejak mereka berdua dekat, terbilang lebih sering Naya pergi kerumah Pandi jika mau berduaan


dimana ketika ada kesempatan untuk Naya dengan Vandra berduaan, mereka ada dirumah Pandi, tapi tidak ada yang nongkrong sama sekali disana, Pandi sendiri sedang ada jam kelas di kampusnya


"aku haus, ambil sendiri terus ambilnya dimana?" tanya Naya


"aku ambilkan, mang mau minum apa?"


"air putih saja lah, jangan macem macem, gak enak"


"yaudah tunggu aku ambilkan"


Vandra pergi ambil minum didapur, lalu balik kearah Naya, Naya ambil gelas itu, dan meminumnya setengah, saat Naya taruh gelas di meja, malah Vandra ambil gelas itu dan meminum di bekas bibir Naya


itu pernah dilakukannya dulu saat Naya masih SMP...


"kamu kok minum airku?" tanya Naya


"iya haus aku"


"iya sudah, berarti sudah, ini buatku"


tapi masih sama juga, setelah Naya minum, bekasnya juga dipakai oleh Vandra


"Vandraaa.. kenapa kamu minum gelas bekas kupakai?" tanya Naya


"biarin deh, kehausan rasanya aku ini"


beberapa hari berlalu, kebersamaan makin jelas diantara keduanya, padahal mereka sama sama tidak membuat kesepakatan dan ikatan tertentu untuk hubungannya


ketika dirumah Pandi, Pandi baru akan keluar rumah karna ia ada janjian jalan sama pacarnya


"sama Vandra bang"


"mana dia?"


"toilet katanya"


"woi, kemana loe?" sapa Vandra


"bro, ini gue pergi dulu yak, gue jalan sama cewek gue, malem minggu nih"


"oh, gue disini ya sama Naya"


"okeh, bye Dra.. Naya gue tinggal dulu" kata Pandi


disini hanya ada Naya dan Vandra berdua, mereka menyalakan televisi karna dirumah Pandi, ruang televisi dan ruang tamu nya jadi satu, mengingat rumah itu tidak terlalu besar dan lebar


saat duduk berduaan disana, yang namanya berduaan pasti ketiganya adalah setan, dimana disinilah, Vandra mulai tergoda dengan bibir Naya karna Naya baru saja minum dan tidak sengaja tumpah tumpah keluar dari bibirnya sampai tersedak batuk


Vandra langsung sigap bukan membantu tapi malah mencium air yang merepet keluar dari mulut Naya


"Vandraaa" ucap Naya kaget


"kamu minum gimana dah"


"aku tersedak kenapa kamu malah mencium ku?"


"aku minum air bekas kamu minum biar gak tumpah pada bajumu"


"ada ada saja kamu ini"


disini Vandra menatap kearah wajah Naya dengan sangat dekat dan makin dekat, Naya menghindar dengan memalingkan wajahnya kearah lain tapi Vandra memeluk pinggang Naya dan berbisik


"sekali saja, aku pengen tau rasanya bibir kamu" bisiknya


"apa sih Dra, gak ah"


"sekali aja Naya"

__ADS_1


"gak pernah aku ciuman, gak mau, aku gak bisa ciuman"


mendengar itu semakin penasaran nya Vandra, karna selama ini ia tidak pernah merasakan ciuman pertama dari seorang gadis


mantan mantannya sudah pernah berciuman sebelum dengannya dan Naya memiliki ciuman pertama yang belum ada yang merasakannya


apalagi Vandra memang sudah lama menginginkan untuk berciuman dengan Naya, ia ingin merasakan rasanya berciuman dengan bibir dari gadis yang ia sangat sukai itu


dan karna paksaan lah Naya akhirnya berciuman pertama kalinya dengan Vandra, setelah selesai berciuman cukup lama karna pegal jadi ingin dilepaskan oleh Naya


tapi malah Vandra menahan leher Naya dengan sedikit menekan (mencekik) agar Naya tidak melepaskan ciumannya terpaksa Naya menurutinya daripada Vandra makin keras mencekiknya


baru selesai Vandra puas, ia melepaskan tangannya dan melepaskan juga ciuman nya


"kenapa mencekikku?" tanya Naya kesal


"kan aku belum selesai, kamu keburu mau lepas saja"


"ya tapi aku pikir tadi selesai, kamu melepaskan bentar itu"


"belum itu, emm Naya, makasih" kata Vandra


"emm"


"bibir kamu manis"


"oh tadi kan sebelum kesini, waktu dijalan, aku makan permen tadi"


"oh ya juga"


disini baru Vandra benar benar tau jika Naya belum pernah berciuman karna melihat disana Naya masih kaku saar berciuman dan hanya diam saja, karna selama berciuman, yang gerak hanya bibir Vandra


"kamu beneran belum pernah ciuman?" tanya Vandra


"masih gak percaya?"


"masak Adri gak ngajak kamu ciuman?"


"bang Adri gak kepikiran, apalagi kita sering sama sama sibuk sendiri"


sejak itu, hari hari berikutnya ketika ada kesempatan, mereka akan melakukan ciuman, Naya selalu menuruti apa saya yang diminta oleh Vandra, entah apa alasannya kenapa Naya bahkan tidak bisa menolak meskipun sebenarnya ia tidak mau melakukannya termasuk soal ciuman


dilain kesempatan, Naya dijemput oleh Vandra dari sekolah nya kebetulan, Vandra juga bersama Mamat, salah satu teman Vandra yang pacaran dengan teman satu sekolah dengan Naya


setelah mereka jalan dan kerumah Pandi, Mamat membawa pacarnya ke salah satu kamar di rumah Pandi itu, entahlah apa yang mereka lakukan dikamar itu


tapi yang terjadi pada Naya dan Vandra adalah berciuman..


"makasih Naya" kata Vandra


Naya masih bingung kenapa mulutnya seolah tidak bisa menolak apa yang dikatakan oleh Naya kepada Vandra setiap apa yang diinginkan Vandra harus di turutinya


hari berbeda, ketika masa itu semakin menjarah, dimana setan mulai menguasai otak dan jalan pikiran Vandra, ketika mereka berdua,Vandra terlihat akan menyentuh dada Naya tapi Naya menolaknya


"apa kamu? mau melakukan apa?" tanya Naya kesal


"** kamu kecil ya?" tanya Vandra


"iya kecil"


"coba pegang, aku lihat dari luar sepertinya besar itu"


"gak ada, jangan ah Draaa" ucap Naya menolak


tapi Vandra tetap bisa membuat Naya tidak lagi menolaknya dan malah membuat Naya membuka kancing seragamnya untuk memperlihatkan bagian ** (buah dada) Naya kepada Vandra


"wooh iya besar ini" kata Vandra


Naya langsung menutupnya lagi, tapi Vandra memegang nya dari luar, dengan membuat Naya lupa, Vandra memberikan hape nya kepada Naya, agar Naya lupa soal tangan Vandra yang berjalan jalan menyusuri badannya


perlahan tapi pasti, benar saja membuat Vandra bisa membuat tangannya masuk menerobos dari bawa seragam sekolah Naya agar bisa menyentuh ** Naya dengan jelas


"Naya ini besar sekali ** nya" kata Vandra


"Vandraaa, apa ini, lepasin gak Dra" ucap Naya


"diem napa, aku pengen tau, aku gak akan apa apain kok" kata Vandra


Vandra melakukan permainan nakal dengan tangannya kepada ** Naya

__ADS_1


__ADS_2