Satu Nama Sebuah Kisah

Satu Nama Sebuah Kisah
EM #2


__ADS_3

"eh iya Emil, kamu harusnya ya cari temen itu yang kelas tinggi gitu, yang tajir kek. biar keluarga kita itu terangkat"


"hmmm"


saat Emil berteman dengan anak gubernur dengan gaya hidup yang mewah


"kamu temenan sama anak gubernur ya? duh Emil cari kek yang lain"


"kata mama yang konglomerat?"


"kalo itu ya bikin kamu keikut arus pengen jajan mahal mulu"


"terus yang gimana?"


"yang sederhana"


saat Emil berteman dengan orang yang hidupnya biasa saja, justru Kia kembali memprotes karna terlalu sederhana


"mau mama itu apa sih ma? Emil tuh capek ma ngikuti mama tapi salah aja terus" kata Emil


"yaudah deh gausah temenan, kamu mah cari teman gak becus, cari gak ada yang bener"


akhirnya Emil pun mengikuti permintaan untuk tidak lagi mencari teman, dan ketika Emil dapat surat phk, justru Kia tak menerima


"oh ini kamu sering bolos ya, jalan sama si Zaki Zaki itu kan?" bentak Kia


"mama apasih, mama sadar gak, Emil gini karna mama kan sering nyuruh Emil cuti kerja, gak ambil lembur, ya berdampak lah"


"he kamu kira mama bodoh? mana mungkin ada stop kerja karna lembur. . lembur kan hak kita"


"nyatanya, lembur sekarang itu jadi syarat utama kontrak kerja ma"


"ah perusahaan gak profesional"


"mama kok bilang gitu?"


"udah sana cari kerja lain"


spg? tak diizinkan karna terlalu rendah menurutnya


penjaga toko, mending sama sama jaga toko jaga toko sendiri lebih baik


penjaga stand di mall, takut ketahuan sama teman-teman nya pasti bakal malu kalo lagi papasan dijalan


"yaudah, kalo kamu gak bisa, kamu jaga aja toko didepan" kata Kia


"ya ma"


tapi bukannya berterima kasih masih mau dibantu oleh anaknya, justru selalu mencari masalah, ada aja yang jadi alasan untuk menyalahkan Emil


mulai dari cuci piring yang kurang bersih lah,


nyapu yang kurang bersih lah,


sholat yang harus tepat waktu


padahal dirinya tidak pernah sholat,


belum lagi sering meminta uang,


harusnya ia tau jika Emil tidak bekerja,


bukan prihatin malah sering meminta uang kepada anaknya


karna sering disalahkan bahkan tak dihargai membuatnya masih sabar hingga tepat di ujung masalah yang membuatnya geram, karna selalu melibatkan ayah kedalam masalah rumah


"harusnya kamu itu prihatin, mama besarin kamu tanpa papa, lihat papa kamu pergi dengan wanita lain... apa ingat padamu? tidak, tapi mama?" ucap Kia


"ya maaf ma"

__ADS_1


"maaf maaf, muak aku dengar kamu bilang maaf, dasar anak bodoh, gak tau diuntung, tau gitu aku gugurin aja kamu, gak bida diuntung seperti Dino dan Dion, lihat mereka sukses"


"mama pernah gak sadar kenapa kakak kakak aku sukses, karna mama sayang sama mereka, sementara sama aku? enggak ma. mama terlalu overprotektif, ini salah itu salah, aku tuh gak pernah sekali aja bener dimata mama, gak pernah ma" ucap Emil sambil menangis


"eh kamu itu ngelawan ya"


"enggak ma, gak ngelawaan, aku hanya bicara apa yang kurasa, mana gak pernah tau"


"eh, kalo gak aku, Dino sama Dion yang banting tulang untuk hidup mu juga kamu gak bisa sebesar ini"


"apa mama bilang? mama sadar gak ma, mama sering kan suruh aku ke papa buat minta bayarin sekolah, buat minta kebutuhan sehari-hari ku, bukan mama... makan pun aku tau kalo mama minta kiriman dari papa, sedangkan kak Dino sama kak Dion?mama rela banting tulang untuk aku apanya ma?"


"berani ya sama mama"


"enggak ma.. maaf"


"mama aduhin ke kakak-kakak kamu kalo kamu kurang ajar"


"kurang ajar yang mana ma? aku kan gak kurang ajar, aku ngomong apa adanya"


dan benar, kia mengaduh bahkan aduh nya tak sesuai dengan faktanya


Kia mengaduh jika dirinya telah dihina oleh Emil, telah dicaci maki, bahkan ia mengaduh sudah ditampar dan ditendang oleh Emil


membuat Dino yang sangat menghargai mama akhirnya emosi, marah, dan memarahi Emil habis habisan


"he dasar anak kurang ajar, gak tau diuntung kamu ya, mau jadi apa kamu ngelawan mama sampai begitu, diajari Zaki ya?" tanya Dino


"iya dia diajari oleh Zaki pasti din" jawab Kia mengaduh


"jangan gitu, gimana pun dia mama kamu kan, plis jaga perasaan mama" jawab Dion


"jaga perasaan yang bagaimana kak... kakak itu gak pernah tau kan jadi posisi ku? karna kakak memang jarang ada dirumah, coba kakak diposisiku, aku yakin kakak lebih berontak dari aku"


Dino menampar Emil


Dino terus menampar sekeras-kerasnya, bukannya prihatin setidaknya membantu agar tak disiksa fisik justru kia memberikan ekspresi kemenangan nya


"udah? terusin kak" ucap Emil


Dion menghalangi Dino terus menampar adiknya


"kakak denger ya, hari ini tidak akan pernah saya lupakan, dengar baik-baik, saya keluar dari rumah ini, saya angkat kaki, saya sudah gak sanggup" ucap Emil


"oh bagus, mau pergi? silahkan, sebisa apa kamu pergi dari sini, saya tunggu, kamu itu jelek, gendut, item, gak cantik, mana ada perusahaan nampung orang jelek dan busuk seperti kamu, pergi sana, jangan balik, jangan anggap kita keluarga lagi ya, dengar, saya doakan kamu selalu kena musibah, semoga dilaknat kamu. udah jelek, sombong, kayak yang bisa hidup aja di luaran sana kamu" teriak Dino


"kaaak" ucap Dion


"bagus, bener kakak mu, dia dijamin sekarat mati dijalan" jawab Kia


Emil membalikkan badan untuk mengingat ucapan Dino dan ibunya hari itu


"dasar anak bangs*t, pergi kau pembawa sial, anji*g kau" ucap Kia


memang sangatlah tidak pantas apa yang diucapkan oleh seorang tua kepada anaknya dengan sebutan itu


karna ia bingung harus pergi kemana, akhirnya ia memutuskan pergi ke jakarta, ia mencoba meminta bantuan pada Zaki yang telah kembali ke jakarta


untunglah Zaki menerimanya, dan saat bertemu, Emil menceritakan nya


"ya ampun, mereka keterlaluan ya" kata Zaki


"kamu mau kan bantu aku cari kerja?"


"waduh,bisa sih tapi gak janji ya"


"ya, usahain dulu deh"


Zaki akhirnya mencari beberapa lowongan pekerjaan, hingga saat Emil mulai berjuang dicita-citakan nya menjadi artis pemain film dan sinetron membuat Zaki awalnya tak yakin Emil bisa.

__ADS_1


namun Emil memberikan keyakinan kepada Zaki bahwa dirinya bisa


"ditolak" ucapnya pada Zaki


"gakpapa, semangat"


"maaf ya, aku jadi sering ngabisin uang gaji kamu kerja"


"udah santai aja, kita kan temen, kaya ama siapa aja kamu"


"iya, makasih sekali lagi "


yaa memang bukan pertama kalinya Emil harus berusaha dari bawa menjadi artis, namun ia tak patah semangat, sering ditolak, sering dicaci maki, sering hanya jadi peran figuran, hingga akhirnya merambah ke dunia iklan, dan akhirnya ia pun mulai menjajaki kesuksesannya


"sudah diterima casting untuk iklan ya?" tanya Zaki


"iya Zaki, makasih ya, berkat kamu semua"


"iyaa"


beberapa uang yang sering dikeluarkan oleh Zaki pun mulai bisa ia kembalikan namun Zaki tak meminta uang, Zaki hanya meminta carikan kerja yang sepadan dengan Emil, dan Emil pun kembali berusaha keras untuk membuat Zaki terkenal, memang sulit tapi itu uang harus ia lakukan setelah apa yang dilakukan Zaki saat masa sulit di hidupnya


ketika kesuksesan keduanya mulai berjalan, banyak yang mengenali Zaki dan Emil


mereka cukup mulai dikenal banyak media


dan beberapa nya memberikan pertanyaan sebagai berikut


"Emil, apa benar Zaki itu bawaan dari Emil, talen semua nya juga bagus mbak... peran yang sering ia bawakan selalu pas, apa benar kalian berpacaran?"


"iya Emil, selama perjalanan karier, tidak ada teman media yang tau soal keluarga Emil, apa Zaki salah satu keluarga Emil?"


"Emil, bagaimana dengan ibu anda? apa masih ada? lalu apa bangga dengan anda sekarang"


"Emil, apa benar jika sekarang pekerjaan anda hanya satu episode sudah mencapai 70juta?"


beberapa teman media banyak melontarkan pertanyaan padanya. ia hanya mengingat satu pertanyaan yaitu tentang keluarga, mama dan kak Dino pernah berkata jika dimana pun Emil harus bilang jika ia tak boleh mengaku jika Emil adalah anak mereka, akhirnya Emil menjawab semua pertanyaan tersebut tentang dirinya


"mbak mbak, mas mas juga, saya ini hanya sebatang kara, dan Zaki, bukan siapa-siapa, dia hanya orang, tapi dia yang ada disaat saya masih berjuang dan belum sukses seperti ini, dia yang menampung dan menanggung hidup saya selama saya belum terkenal... jadi wajar kan saya mati-matian berusaha mengimbangi pengorbanan nya untuk saya, jadi keluarga saya sampai sekarang hanya Zaki" jawabnya


"lalu apa Emil pernah tau wajah ibu Emil... atau keluarga Emil lainnya?"


"saya tegaskan dan jangan bertanya lagi, saya hanya sebatang kara"


ternyata pernyataan nya itu sampai ke telinga keluarganya, yaitu Kia, Dino dan Dion


awalnya Dino dan Kka memang masih merendahkan


"paling juga jadi simpanan orang tajir makanya bisa terkenal" ucap Kia


"kalau enggak ya jadi pecun ma" jawab Dino


"kakak sama mama ini kok gitu, kita lihat positifnya aja, gimana pun dia keluarga kita ma" kata Dion


"enggak, mama gak sudi"


"kakak juga" jawab Dino


mereka pun saling berlalu


hingga saatnya, Emil semakin melambung kan namanya, justru peristiwa bertubi-tubi pun dialami Dino, membuatnya sadar jika dirinya salah, ia masih membutuhkan Emil


namun Kia masih berkutat dengan amarahnya, emosional mendominasi otaknya, sementara Dino dan Dion yang berusaha untuk menemui Emil untuk meminta maaf pun tak kunjung dapat karna jam terbang Emil uang terlalu padat


"pak, saya Dino, dan ini adik saya Dion, kami kakak kakak dari Emil pak" ucap Dino


"keluarga Emil? maaf pak, tapi Emil berstatus sebagai tidak memiliki keluarga pak" kata satpam jaga kantor agenci Emil


"karna sedikit masalah dengan kami pak, tolong bicarakan dulu jika kami datang"

__ADS_1


__ADS_2