
dean memegangi kedua tangan rafa dari belakang dan sunan menampar, menendang, memukul dan menyiksa
"sakit kan, ini gak seberapa bro, sama apa yang sudah kamu lakukan pada kedua teman saya"
keluarlah viola
rafa menyadari viola ada disana
"udah bang, stop, kasian, cukup juga sih kayaknya" ucap Dindri
dean melepaskan tangan rafa dan melemparkan tubuh rafa kelantai
"rafa.. kamu adalah orang terakhir dari target keempat sahabat saya.. kamu tau mereka.. semua target saya, dan terakhir kamu saya begini untuk sahabat saya"
Dindri menjelaskan semua target dan alasan nya melakukan itu
tugas Dindri pun selesai, dimana keempat temannya benar benar puas..
bukan untuk membalaskan dendam karna emosi tapi Dindri melakukan juga untuk mereka lebih baik, dan noval, valdo, arif, dan rafa pun menyadari hal itu jika maksud Dindri baik untuk mereka masing masing
dan sekarang Dindri menjalani hidupnya tenang.. menjalani masa muda dengan keempat temannya..
sampai saat ada seorang guru olahraga baru disekolah Dindri pengganti guru lama..
bernama hakim..
lelaki tampan, wangi, tajir, paling perfect selama Dindri kenal dengan lelaki manapun inilah terbaik..
hakim seorang pengendara lamborghini dengan tampilan styles yang ternyata adalah anak dari guru olahraga disekolah Dindri
Dindri terlalu biasa karna memang Dindri terbilang cewet paling cantik dan hits pun merasa hakim biasa, berbeda dengan keempat temannya yang sering histeris hingga sering caper..
sayang seribu sayang.. seorang hakim adalah seorang guru muda paling perfect namun dingin
dingin loh ya, bukan cool, dingin berarti ia terlampau cuek..
ia hanya bertugas menjadi guru, selebihnya gak akan mengurus apapun tentang muridnya setelah diluar sekolah karna bukan urusannya menurutnya
benar benar cuek, hakim tak peduli yang terjadi diluar sekolah
Dindri pun biasa saja.. ditambah melihat cindy yang cukup dibilang paling lenje diantara semua temannya, saat cindy menggoda hakim mamun untuk melirik saja hakim enggan
"wahahaha dicuekin, hahah rasain lu" ledek beberapa teman cindy
Dindri dan keempat temannya pun terus berjalan, mereka pun menikmati one fine day..
tak kelar sabtu sore, keempatnya nembus sabtu malam hingga pagi lagi.. berada disebuah bar
disana sudah jelas ada serli, cindy, viola dan bela, termasuk juga dean dan sunan
karna dua hari berurut sibuk dengan kegiatannya, Dindri drop imun, ia sakit, namun memaksakan untuk sekolah, tapi tak mengikuti upacara.. sepulang sekolah Dindri menuju rumah sakit untuk cek up, dan esoknya jadwal olahraga, ia tak ganti baju untuk olahraga...
melihat muridnya kurang satu, hakim masuk kedalam ruang kelas yang ternyata ada Dindri disana sedang tidur
"ganti baju" ucap hakim
"saya sakit pak"
"sakitmu karna apa? sekolah? atau banyak bermain"
"pak, saya sakit" ucap Dindri dengan nada keras
hakim pun keluar meninggalkan Dindri..
esoknya Dindri tak kunjung sembuh membuatnya harus menginap dirumah sakit selama tiga hari
dan saat dihari masuk nya setelah sakit, Dindri masih kurang vit namun memaksakan sekolah dengan segudang kegiatan salah satunya olah raga
Dindri awalnya tak mau ikut, ia tetap stay di kursi nya setelah semua temannya menuju lapangan, tak lama hakim pun datang
"masih sakit?" tanya hakim
"iya pak, masih sakit badan"
"gak terlalu pucat kok, kira kira bisa gak kamu ikut pelajaran saya?"
"bisa pak"
"saya tunggu"
tak lama Dindri bergabung dengan temannya
"loh Dindri, kenapa ikut, kamu masih kurang vit loh" ucap serli
"iya Dindri, kamu disana aja, udah bilang aja sama pak kepsek nanti" jawab cindy
"udah, gakpapa, gaenak gak ikut lagi, kemaren udah gak ikut, nanti anjlok lagi nilai gue" jawab Dindri
baru pemanasan.. Dindri pun pingsan, dan untung saja hakim menangkap tubuh Dindri sebelum terjatuh kelantai
hakim membopongnya dan membawa nya ke unit kesehatan sekolah.. badan Dindri semakin panas, dan hakim mengompresnya..
melihat hakim cukup telaten mengurus Dindri, keempat teman Dindri pun bahagia terharu melihat itu..
__ADS_1
setelah waktu jam pelajaran terakhir akan dimulai, Dindri sudah sadar dan ia bangun untuk mengikuti pelajaran terakhir
namun hakim datang..
"hei, mu kemana" tanya hakim
"saya ke kelas pak, ini sudah pelajaran terakhir"
"sekalian nunggu selesai semua pelajarang.. ini makan, tadinya saya beli untuk saya, tapi lihat kamu sadar ya udah kamu makan aja"
"tapi pak"
"kamu butuh asupan, udah cepet makan"
Dindri pun memakan dengan perlahan
hakim melirik arah Dindri dengan wajah datarnya
"cantik sih, tapi apa mungkin, berapa taun kita berjarak.. saya guru dan dia murid, gak ada sih sejarah guru ngawin murid.. mau deket aja aku takutnya dia terlalu anak kecil, apalagi liat geng nya sama cindy, serli, viola, juga bela" ucap hakim dalam hati..
"pak, udah bel" ucap Dindri
"ha, bel? kok cepet ya?"
"ya emang jam nya udah jam 1 kali pak, tuh liat" ucap Dindri menunjukkan jam tangannya
"oh astaga iya, yaudah kamu siap siap, tapi temen kamu kayaknya kesini sih bentar lagi"
"iya pak"
"yaudah saya tinggal gakpapa?"
"iya pak, makasih"
dan sejak itu hakim sering suka sembunyi sembunyi menatap Dindri
dimata hakim, Dindri memang terlihat pergaulannya yang terbilang bebas, namun tak terlalu bebas, juga berteman dengan beberapa teman dengan kehidupan tak cukup baik tapi tak juga jelek
seperti anak muda umumnya sih, mereka sewajarnya
tapi apa daya hakim yang menyukai Dindri tapi menunjukkan sikap biasa saja..
dan bahkan mencoba melupakan Dindri.. dan saat sudah bisa melupakan bahkan hakim sedang mendekati wanita lain..
dan bahkan dunia hanya selebar daun kelor.. hakim mendekati hevi..
bukan karna cinta, hakim sengaja mendekatkan dirinya dengan hevi karna ia ingin memulai perasaan baru untuk orang baru, tuk melupakan harapannya kepada Dindri..
sementara Dindri, merasa jika hakim memang cuek namun sesungguhnya ia baik, karna kebaikan hakim sewaktu ia sakit membuat Dindri mulai mencoba mendekati hakim, berharap bisa menambah teman dan kalo bisa menjadi panutan bagi Dindri
"Dindri, ada apa?"
"minggu depan jadi study room?"
"jadi, karna kita juga butuh untuk materi, cuman butuh dua kali pertemuan kok, kenapa ya?"
"oh gakpapa, oh iya pak, nanti jam istirahat makan dikantin atau keluar?"
"saya selalu keluar sih, ada deket sini kok, kenapa?"
"enggak papa, tadinya saya mau ajk bareng sih kalo dikantin"
"em.. kirain kenapa" jawab hakim singkat
"yaudah pak, saya permisi"
"iya"
saat Dindri keluar, ia disambut oleh empat temannya..
"yaaah cuek amat sih" ucap serli
"sabar atuh neng geulis" ucap viola
"haha gila bener, gue baru ini liat si Dindri dicuekin cewek" ledek bela
"waduh, lebih giat lagi dong shaaaay" ucap cindy
keempat temannya terus menggodai Dindri
tak pantang menyerah, esoknya Dindri masih mencoba mendekati hakim
saat berada di kantin, Dindri duduk disamping hakim
"pak" sapa Dindri
"eh Dindri"
"biasanya keluar pak?"
"low budget"
"oh, em.. minum aja?"
__ADS_1
"kan udah bilang low budget"
"hehe iya, emm pak, saya bikin sweet sussi, cobain deh"
Dindri mengeluarkan makanan masakan sendiri
"sweet sussi, baru denger?" tanya hakim
"coba deh, kalo bapak sekali makan cocok pasti ketagihan pek minta ajarin bikin sendiri ke saya" ucap Dindri tersenyum
"ah masak sih"
"iya, coba aja dulu pak"
"gakpapa nih"
"iyaa, kalo gak boleh masak saya nawari pak"
mencoba sussi sweet membuat hakim suka..
"apa ini bahannya Dindri?" tanya hakim
"nah kan pasti nanya, heemm" ucap Dindri tersenyum membuat hakim tersenyum pula
dan usahanya selama dua bulan mendekati guru olahraga terkece ini pun berhasil
"kamu nih" ucap hakim memberantakkan poni Dindri
"paaak berantakan atuh, emmm..."
"eh, berapa jam itu bikin?"
"5 jam"
"hem lagi.."
keduanya semakin dekat dan sering melemparkan pujian maupun masing masing..
kedekatan tak terelak, dimana hakim memang sebenarnya suka pada Dindri, dan ia berhasil melupakan karna dekat dengan hevi, kini ia seolah mencancel semua perasaan nya untuk melupakan Dindri dan kembali ia mulai ada harapan lebih dekat dengan Dindri
sepulang sekolah saat jalan ke salah satu mall bersama empat teman Dindri, namun keempat teman Dindri memisahkan diri sebagai tanda ia mengerti jika temannya itu butuh waktu bersama gurunya itu
sore nya, berniat menunggu keempat temannya berkumpul, Dindri meminta hakim ikut menunggunya
"pak saya tanya temen temen selesai apa belum" ucap Dindri
"oh yaudah"
"tungguin bentar ya pak, sampek temen temen saya dateng gitu"
"ia saya temenin, masak iya saya tinggal"
Dindri mencoba menghubungi serli
"halo ser, kalian misah apa gimanaa?" tanya Dindri
"aduh Dindri, viola dijemput sih sama rafa.. terus cindy mau ke toko buku besok kan jadi suruh bawa buku hidro water ekonomi"
"lah lu?"
"gue sama gebetan gue, hehe baru kenalan sih, dapet seminggu"
"oh gitu, ok deh, gue cab juga"
setelah menutup telfon
"gimana?" tanya hakim
"bapak duluan aja deh gakpapa, saya naik taksi, soalnya temen temen udah pada pulang"
"loh yaudah saya anter gimana"
"jangan pak, gk usah"
"takut ketahuan pacar nya ya?"
"enggak lah pak, takut bapak kemaleman pulang, kan tadi bapak bilang ada janji sama temen bapak"
"enggak papa kan masih malem"
"terus"
"gakpapa kan saya anter, itung itung saya biar tau rumah kamu, nanti kapan kapan kamu main kerumah saya"
"oh gitu ya pak, yaudah iya deh boleh"
sesampainya dirumah Dindri
"baru pulang neng? dari mana aja dah neng satu ini" tanya dean
sejak kedekatan nya dengan Dindri, dean maupun sunan memang sering dan bahkan setidaknya keduanya dirumah Dindri separuh hari.. separuh lagi mereka sibuk dengan pekerjaan dan kadang pulang kerumah..
yaa mereka sudah dianggap Dindri sebagai abangnya karna selain dewasa, keduanya tak mau memaksa Dindri menyukai mereka apalagi memilih, justru mereka menjadi pembimbing Dindri lebih baik lagi
__ADS_1
yaa sebagai abang harus bersikap bagaimana selayaknya kepada adiknya