
"son, aku mau minta maaf karna aku terus sering memghajarmu dulu" kata Nina
"nin, santai kok, aku tidak masalah sama sekali"
"aku tidak enak padamu, sekarang kamu begitu baik padaku"
"emm sebenernya" ucap Soni
"sebenernya" ucap Nina bersamaan dengan soni
"em kamu deh" ucap Nina
"kamu aja deh"
"Enggak kamu aja" ucap Nina lagi
"Udah gakpapa, ledysfers"
"em, ya aku tadi itu, sebenernya aku mau aku mau minta maaf soal yang dulu waktu awal-awal aku sering menghajar mu, aku selalu membuat mu pulang dengan banyak lebam, sampai-sampai adikmu pun benci, maaf ya, aku bukan maksud"
"udah, soal Ranti, lupakan, dia memang begitu" jawab Soni
"lalu kamu mau bicara apa?"
"em, lupain aja"
"serius, ada apa?"
"em... enggak, besok"
"masih nunggu besok? haha"
Soni menatap Nina senyum sendiri
"kamu ada apa sih" tanya Nina
"em, enggak"
"kok liatnya gitu?"
"seneng, banget, hari ini"
"kenapa?"
"bisa lihat wanita sangar pinter bela diri jarang ketawa, dia bisa ketawa di depanku, hari ini"
"kamu apaan sih? merayu? tidak mempan"
"enggak"
beberapa menit terdiam
"nin" ucap Soni membuka pembicaraan
"ya"
"aku suka sama kamu"
"sama, aku juga, kamu baik, kamu sabar, gak egois"
"aku suka dalam hal lain"
"oh, ya, ya, kamu suka karna aku juga suka, menganggap kamu jadi abangku, kamu juga bisa jadi ayah ku, yang sabar menyayangi anak kecil yang keras kepala"
"bukan, aku cinta sama kamu, kamu mau gak jadi pacarku"
Nina terdiam menatap mata Soni lalu menunduk
"maaf, mungkin terlalu cepat" ucap Soni
Nina tiba-tiba berdiri dan langsung menghajar Soni, dan spontan, Soni pun membalas...
"nin, udah, nin" ucap Soni
Nina pun menghentikan hajarannya
"kamu kenapa sih gak lawan? aku tau kamu bisa, lawan, keluarin semua jurusmu, lalu akan ku jawab terima tidak nya karna dengan ini aku bisa menentukan pantas tidaknya kamu aku terima" ucap Nina
Nina kembali langsung menghajar Soni, Soni pun akhirnya melawannya, dan karna ingin meyakinkan Nina jika dirinya pantas, akhirnya ia memenangkan pertandingan itu, tapi Nina jatuh pingsan
"nin" panggil Soni
"Nina..." panggil nya lagi
"Nina bercanda?" panggil Soni lagi
"Nina, makanya jangan gini, kan aku udah bilang, Ninaaa" teriak Soni kuatir
Nina pun bangun dan tertawa
"hahaha, yes" ucap Nina
"Nina..." jawab Soni
"hehe, kamu lucu sih, haha"
"Nina apaan sih"
"sori deh, sori, hemmm"
"jadi? jawaban apa?"
Nina menggeleng
"hem.." ucap Soni menunduk
"aku mau" jawab Nina
Soni menatap mata Nina dengan semangat
"mau? mau jadi pacar ku"
"iya mau"
__ADS_1
"beneran?"
"ada saratnya"
"sarat? apa itu?"
"secepat mungkin harus sah"
"ha, kamu serius?"
Nina mengangguk
"6Yaudah, aku janji, aku nabung, untuk nikah kita"
Nina tersenyum
mereka pun saling berpelukan
seringnya mereka jalan, betapa kagetnya Soni yang baru ia ketahui, banyak orang dijalanan yang ternyata mengenal wanita yang kini menjadi kekasihnya itu
"banyak amat yang kenal" ucap Soni
"sebelum nya bukannya udah tau?"
"hem hehe iya sih"
Ranti yang heran dengan kesibukan kakaknya membuat jauh dari nya
"kak, sibuk amat? sampek lupa punya adek?"
"ya enggak, cuman banyak yang harus diurusin"
"banyak yang harus diurusin pasti gara-gara perempuan itu"
"jangan mulai"
"loh bener kan kak, liat, mana ada waktu buat aku, sibuk, sibuk, dan sibuk"
"tapi gak ada urusan nya sama Nina"
"hem" jawab Ranti
sorenya, saat Soni menuju rumah Nina yang ternyata diikuti oleh Ranti
"hai" sapa Soni
"hei, gimana, udah jadi? mana pilihannya" tanya Nina
ternyata kedua nya memang sedang memutuskan untuk mempersiapkan pernikahan nya
"nah, yang mana? ada empat ini, aku sih suka keempat nya makanya aku bawain" ucap Soni
"emmm.. yang..." ucap Nina cukup bingung
"ah, ini deh, yang ini yaa"
"oh ini"
"yaudah boleh deh"
Ranti yang melihat, penasaran, apa yang sedang Soni dan Nina pilih..
esoknya saat Ranti masuk ke dalam ruangan kantor Soni
"kak" sapa nya menyodorkan catatan harian untuk laporan kegiatan perusahaan
"hmmm, iya, taruh aja situ"
"kakak ngapain sih?"
"kerja lah"
melihat ada undangan di laci yang terbuka, Ranti bertanya pada Soni itu apa
"kak, itu undangan?"
"hem"
"itu, dilaci, undangan? undangan apa?"
"oh" jawab Soni menutup lacinya
Ranti memaksa untuk melihatnya
"apa sih, kakak baru ini loh sembunyikan sesuatu" ucap Ranti memaksa membuka pintu laci
"Ranti, kembali ke ruangan mu" ucap Soni membentak
"kakak? yaudah okeh"
beberapa hari berlalu, dan ketika Soni sedang tidak berangkat ke kantor memilih mengerjakan pekerjaan nya dirumah, sambil santai diruang tivi, Soni mengerjakan tugas-tugas kantornya, tak lama ia menuju ke toilet
Ranti yang memasak mie cup, menuju ruang tivi namun melihat undangan tepat diatas keypad laptop milik Soni.
Ranti pun membuka dan saat melihat isi dari dalam undangan tertera nama Soni dengan Nina merasa kaget
saat Soni kembali dari toilet dengan segelas kopi nya
"Ranti" ucap Soni kaget mengetahui Ranti memegang undangan pernikahan nya
"kak, ini apa? coba jelasin"
"itu..."
"iya ini, kakak mau menikah? sama Nina? dua bulan lagi itu bentar lagi loh. kok kakak gak kasih tau aku" ucap Ranti
"eh udah udah, gini ya, kamu kan gak suka ama Nina, percuma juga bilang ke kamu gak ngaruh kan, apa kamu mau restui gitu? gak deh, nah point pentingnya nih, ini kan tentang hidup kakak, kamu sering kan minta kakak untuk perhatian sama kamu soal pasangan mu tapi kakak cuek, bukan gak respon tapi kakak menghargai pilihanmu, dan sekarang kakak minta terima apapun yang sudah jadi pilihan kakak"
mendengar ucapan Soni, Ranti menaruh mie cup nya di meja dan meninggalkan Soni menuju kamar, tak habis pikirnya dia bahwa kakaknya menutupi hal sebesar ini dari dirinya
saat hari itu tiba, tak ada yang bisa dilakukan Ranti, selain terpaksa menerima
"kak" panggil Ranti
__ADS_1
"hm"
"kalo kakak nikah, kakak tinggal disini kan?"
"keluar lah, ini rumah kan atas nama kamu, kakak juga udah punya rumah sendiri dan sudah kakak mulai isi dengan barang-barang kakak sama barang-barang Nina juga, lagi pula gak mungkin kakak tinggal seatap sama orang yang nantinya hanya membenci istri kakak saat kakak kerja justru disiksa, dan itu sudah sering kejadian"
"yaampun, kakak nuduh aku?" tanya Ranti
"enggak, kan kakak bicara fakta. bukan tuduh"
"iya tapi"
"udah udah, kakak males debat, kamu besok usahain datang ya ke acara kakak"
"kalo aku gak datang?"
"terserah, hak kamu, jangan harap kakak peduli lagi sama kamu" ucap Soni
Soni pun Berlalu, dan esoknya tak terasa sudah hari pernikahan keduanya
saat pesta, tak terlihat Ranti disana, dipastikan Ranti tidak datang. membuat jengkel Soni
"cari siapa?" tanya Nina
"si Ranti, gak dateng kan?"
"dijalan mungkin, udah di tunggu"
"iya"
saat acara selesai tinggal pengurus akan membersihkan gedung yang menjadi tempat pernikahan Soni dengan Nina. baru lah Ranti datang
"kak, maaf telat" ucap Ranti
Soni membalikkan badannya
"kamu sengaja ya? kakak tanya" ucap Soni membentak
"enggak kak, tadi itu macet belum ban nya bocor" jelas Ranti
"alasan, aku kenal kamu bukan kemaren sore, yaudah terserah ya, mulai sekarang kakak udah gak mau tau sama kamu, jangan ganggu kakak lagi, urusin urusan masing-masing sekarang"
"kak, tapi kan aku cuma punya kakak, kakak tega sama aku?"
Soni menarik tangan Nina
lalu menuju kerumah baru untuk memulai hidup baru mereka
diperjalanan, Nina memberi tahu untuk Soni lebih bersikap baik didepan adiknya
"sayang.." panggil Nina
"ha? apa?" tanya Soni
"panggil kamu"
"iya panggil apa?"
"sayang"
"hehehe tumben, asli baru ini aku denger"
"hem kamu nih"
"hehe, iya ada apa sayang?"
"kamu kenapa sih gitu tadi sama adikmu sendiri"
"dia memang begitu, ngelunjak, udahlah aku juga capek urus dia, nanti lama-lama kamu tau siapa dia"
"ya kan tetep, kamu tinggal berdua sama adikmu, dijaga lah"
"udah sekali kali"
"hem"
sesampainya dirumah baru mereka, mereka membangun sengaja ditempat yang lumayan tak ada yang kenal dengan Nina, termasuk Ranti, dengan suasana baru di tengah hamparan sawah..
setelah dua hari dapat cuti, Soni pun kembali kerja, paginya saat waktu menunjukkan pukul 8 pagi, Nina melihat ke sampingnya sudah tak ada Soni yang kini jadi suaminya
Nina turun dari ranjang keluar kamar dan menuju dapur, melihat sepi tak ada orang, Nina melanjutkan ke kamar mandi buang air kecil, lalu kembali ke meja makan
saat membuka tudung makanan, sudah ada segelas susu dan sepiring nasi goreng lengkap dengan sosis kesukaannya berlangganan di rumah sosis milik Ariani Kamila
* nah, nanti aku bawain juga story tentang Ariana Kamila yaa guys
terlihat ada selembar kertas yang berisikan
sayang, ini sarapannya jangan lupa ya dimakan
tadi aku udah beres-beres rumah, masak, cuci baju
tinggal kamu jemur aja
aku berangkat kerja dulu ya, baik-baik dirumah
jangan suka membuka pintu kalo kamu sibuk didalam
walaupun kamu sedang santai, jangan buka pintu yang orang mencurigakan
Love you
suami tercinta
Nina pun tersenyum lalu menikmati makanan nya, kemudian menjemur pakaian dan menonton televisi
atas kesepakatan berdua, setiap berangkat kerja Soni, Nina menutup pintu nya dan mengunci, Nina tidak pernah keluar dari rumahnya kecuali di teras belakang untuk menjemur pakaian, selain itu ia beraktivitas didalam rumah
tetangga kiri rumahnya membicarakan soal Nina saat belanja di tukang sayur keliling
"buk, itu yang rumah baru, kan udah dihuni sama orang nya, kan dia tetangga kita ya, tapi setiap lakinya berangkat, bini nya masuk dan gak pernah keluar sama sekali loh" ucap salah satu ibu
"aaah apa iya? sama sekali gak keluar kah dia?"
__ADS_1