
"tur, kita ini ada ratusan loh ya bersaing, bukan bijian atau puluhan band" kata Soni
"iya Soni, aku paham, kamu kan selalu antusias soal ini, yakin kan kamu?" tanya Guntur
"iya nih, yakin gak kamu?" tanya Rasti
"ya yakin aku sih" jawab Soni
"kita yakin, kita kan sudah niatkan ini, saya tau betul harus bagaimana" jawab Guntur
Asam manis kempetesi disadari betul oleh guntur. Bukan hal yang mudah berkompetesi dengan ratusan band yang ada di Bali Sebagai kota hiburan, selalu bertamburan anggota band yang memang sudah menjadi mata pencarian mereka untuk hidup di negeri dewata tersebut.
Mereka tidak akan sembarang ikut untuk menjadi pengembira, mereka pastinya ingin menjadi juara. Peluang untuk juara memang selalu terbuka. Namun dengan keraguan atas Stevanna. itulah pelemik sesungguhnya.
"hai" sapa Stevanna
"hai stev" sapa Rista
"sini duduk" ajak Rasti
Guntur datang bersama Stevanna beberapa saat kemudian ketika soni sedang berdiskusi dengan rista bersaudara di ruangan mereka. Ruangan yang dipersiapkan oleh pemilik café sebagai ruangan tersendiri untuk mereka. Hanya berukuran 3×4 meter namun cukup untuk mereka beristirahat kapan saja mereka mau.
Ketika guntur datang, mereka langsung terdiam. Rista terlihat sedang memegang selembaran brosur yang belum sempat ia sembunyikan. Stevanna memberikan salam kepada mereka.
“oh ya. lagi gosip ya hehe!” ledek Stevanna
“hehe. Ga kok. Lagi asyik ngobrol aja. Kok datangnya telat sih!” Tanya rista
“Tadi dijalan ada kecelakaan taksi jadi bikin macet.. kalian uda temuin lagu yang mau dibawakan untuk hari ini!” kata guntur
Stevanna mendekati rista, kemudian ia melihat selembaran kertas brosur dan tertarik untuk melihatnya.
“apaan. Liat dong!” Stevanna mengambil secara paksa dan rista membiarkan
“Kompetisi band..” Stevanna membaca spontan dan semua mendengarkan tak terkecuali guntur yang juga ikut melihat ke arahnya.
“wah boleh juga neh. Band kita ikut ga?” Tanya Stevanna polos dan semua mulai menjadi bingung.
“emangnya menurut kamu kita harus ikut ga?” Tanya rasti
“ikut dong. Kapan lagi ikut kompetisi gini Kan jarang ya?” Tanya Stevanna balik
“Emang sih. Jarang.. !” ujar rasti melirik ke arah soni dan kemudian sobi melirik ke arah guntur .
Guntur tampak memperhatikan Stevanna yang dengan polos berbicara. Soni tidak ingin menghilangkan kesempatan ketika semua berkumpul untuk kembali memastikan kepastian band mereka untuk ikut.
“Sebenarnya sih, aku. Rasti dan kakaknya semua uda sepakat mau ikut! Ditambah lagi Stevanna yang mau ikut. Kayaknya.. Cuma kurang satu orang deh yang belum mastiin band kita mau ikut atau ga?” sindir soni dan semua melirik ke arah guntur
Guntur terdiam menatap Stevanna . ia kemudian menarik tangan Stevanna keluar dari ruangan.
“maaf ya. Aku mau bicara sama Stevanna dulu.” guntur menarik tangan Stevanna dan Stevanna seperti linglung terhadap ajakan tersebut.
Kedua orang itu keluar dari ruangan kemudian berhenti disebuah lorong menuju dapur tempat koki memasak. Stevanna tampak bingung. Kemudian guntur berhenti dan menatap gadis itu dengan penuh keseriusan.
“Stevanna.. aku mau ngomong sesuatu sama kamu”
“iya… ngomong aja. Kok mesti berdua gini , emang ada apa!” Tanya Stevanna bingung
“iya maaf. Soalnya aku ga mau mereka tau..!”
__ADS_1
“tau tentang apa , tur!”
“tentang nilai ujian kamu yang jatuh karena kamu ada disini!”
“hm.. lalu?”
Guntur menghela nafas dan memulai untuk bicara sesuatu yang serius.
“kamu sudah baca selembaran brosur kompetesi band tersebut. Terus kamu yakin kamu mau ikut acara tersebut, sedangkan dengan mengikuti lomba tersebut. Itu bisa berdampak sama nilai ujian kamu. Karena kompetesi itu membutuhkan latian dan fokus yang tinggi.! Kamu tidak takut bila ikut akan berdampak pada nilai ujian kamu ? apa kamu sudah pikir masak masak!”
“hm.. aku..!”| ujar Stevanna terdiam
“kamu tau, dengan kamu berkata ya, secara pasti band ini akan ikut dalam kompetisi tersebut. Dan aku sebagai ketua band tidak mungkin menolak untuk ikut,. Namun dengan pertimbangan hal yang terjadi pada kamu. Aku jadi menunda untuk menjawab keinginan mereka. Makanya aku ingin bicarakan hal ini sama kamu!, kamu ngerti maksudku?” ujar guntur dengan mimic serius
Stevanna terdiam tak tau harus berkata apa. Pembicaraan tersebut selesai begitu saja tanpa jawaban Stevanna. ia tak menyangka guntur berpikir sejauh itu tentangnya. Kata kata spontan yang ia keluarkan sangat berdampak pada anggota band lain.
Mereka kembali ke ruangan dengan sedikit senyum, sedangkan soni tampak berpikir jawaban yang akan ia dapatkan dari guntur . namun guntur tampak sedang tidak ingin menjawab pertanyaan tersebut. Ia mengalihkan dengan berdiskusi tentang lagu yang akan mereka bawa hari ini.
Stevanna terdiam malu dan menatap satu persatu personal lain yang begitu bersemangat walau baru saja ia membuat kesalahan bodoh terhadap ucapannya.
Band mereka melakukan show beberapa saat kemudian. Stevanna tampak berusaha bersemangat walau merasa tak nyaman dengan kejadian yang beru saja terjadi. Sesekali ia menatap wajah guntur yang baru kali ini berbicara serius padanya.
Dalam pikirannya tersirat beban kecil. Ia lah satu satunya orang yang dijadikan alasan untuk mengikuti atau mengakhir kompetisi ini. Ia harus berpikir banyak untuk memastikan ikut atau tidak. Sebab kuliahnya menjadi taruhan dalam hal ini.
Yang hebat dari band mereka. Walau terjadi perdebatan atau permasalahan, band itu tetap bermain tanpa ada masalah. Bahkan seperti normalnya.
Mereka tidak mencampur adukan permasalahan yang terjadi di antara pekerjaan dan diluar perkerjaaan. Itulah kehebatan yang Stevanna rasakan sekarang. Ia sungguh sungguh tak ingin semua menjadi sirna. Satu pelajaran hebat ia dapatkan hari ini. Sebuah keputusan yang harus dipertanggung jawabkan
Stevanna berpikir keras dan tak henti hentinya mencari hal yang dapat membuatnya lepas dari beban yang ada diotaknya. Sepulang dari kuliah. Ia mulai mencoba mencari alasan mengapa ia bisa mendapatkan nilai yang hancur . padahal ia bukan anak bodoh, lalu mata kuliah yang ia dalami juga bukan mata kuliah yang membutuhkan banyak kepintaran.
Hanya keterampilan. Ia sendiri adalah orang yang cermat akan itu. Sehingga ia berpikir untuk mengkaji apa sumber permasalahan yang ia hadapi saat ini.
"halo?" sapa Stevanna
"ya stev, ada apa ya?"
"kamu sibuk besok? bisa gak kerumah?"
"bisa, jam berapa?"
"pagi deh kalau bisa"
"pagi? ada apa sih kok tumbenan mendadak?"
"ada.. datang besok ya"
"iya dah"
Memang pagi hari itu ia akan melakukan latian musik bersama guntur seperti biasanya. Namun ia meminta guntur untuk datang lebih dini agar dapat berdiskusi tentang pemikiran yang ia temukan. Guntur menjadi penasaran karenanya. Namun ia mencoba bersabar hingga esok sehingga ia dapat berdiskusi hal tersebut bersama.
Keesokan paginya. Guntur datang dengan membawakan sebungkus martabak manis yang ia beli ditengah jalan
"ini" kata Guntur
"apa nih?"
"martabak, aku sengaja belikan"
"wooh, ada yang jual pagi?"
__ADS_1
"ada, yang 24jam buka"
"oh terampil ya penjualnya, kan ini enak malam, tapi buka 24jam" kata Stavanna
"iya, semangat cuan nya" jawab Guntur
"bagus sih, eh makasih ya"
bicara keterampilan. Ia sendiri adalah orang yang cermat akan itu. Sehingga ia berpikir untuk mengkaji apa sumber permasalahan yang ia hadapi saat ini. menyiapkan dua kopi panas sebagai pelengkap hidangan tersebut. Semuanya dimulai dari makan pagi yang nikmat bersama kopi hingga menuju tema sesungguhnya sebelum latihan hari ini dimulai. Guntur memulai pembicaraan tersebut.
“stevanna. hm. Yang kemarin apa sih maksudnya. ? kamu bilang kamu sudah menemukan jawaban buat diri kamu?”
stevanna tersenyum sambil meletakan secangkir kopi di meja.
“aku rasa aku sudah tau!’ tegas stevanna
“tau tentang apa?”
“tentang mengapa nilaiku anjlok baru baru ini. Dan aku baru menyadari semua ini!”
“oh ya kenapa?”
“itu bukan kesalahan karena aku terlalu sibuk dengan band. Tapi itu karena kesalahan yang terjadi diluar hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan band!”
“apa itu stev?” Tanya guntur bingung
“dosen yang menjadi satu satunya orang yang bertanggung jawab terhadap nilaiku. Baru saja memberikan email permintaan maaf karena salah memasukan angka pada nilai kuliahku di akedemis!”
“astaga kenapa bisa begitu?”
stevanna tersenyum kecil
“aku penasaran dengan nilaiku sehingga kemarin aku mencoba untuk bertanya kepada dosen. Dosen cukup cukup terkejut dengan nilai yang kukatakan. Dan dia mengatakan nilaiku seharusnya 96 bukan 69 , itu terjadi kesalahan teknik pada pencatatan nilai computer bukan karena kesalahku!!”
“ya Tuhan. Kenapa bisa seceroboh itu!”
“ya untungnya aku mau memberanikan diri untuk mencoba mengkaji apa yang terjadi. Dan akhirnya aku menemukan jawaban yang sesungguhnya. Aku bersyukur. Ternyata semua ini bukan kesalahan karena aku terlalu sibuk dengan band.!”
“aku senang mendengarnya stev. aku sedikit lega. Karena sampe detik kemarin . aku berpikir keras tentang kesalahan aku membuat kamu jadi seperti ini! Dan akhirnya semua ternyata tidak seperti itu!”
stevanna kemudian berdiri
“jadi kamu ga punya alasan untuk membuat band ini tidak ikut dalam kompetisi!”
“maksud kamu!”
“aku mau pastikan kita harus ikut dalam lomba itu. !”
Guntur ikut berdiri menghadap stevanna
“pasti..kita ikut! Tapi ada syaratnya. Harus latihan lebih keras dan berjuang bersama sama membuktikan bahwa band kita yang terbaik.!”
“itu adalah harapan aku . aku janji akan menjadi yang terbaik. Dan semua itu harus dibantu oleh kamu. Tur!”
Guntur menatap stevanna. ia begitu bahagianya hingga tak sadar memeluk gadis itu. stevanna sedikit terkejut dengan apa yang terjadi. Mungkin itu salah satu kelegaaan hati guntur yang merasa bersalah membuat nilai stevanna menjadi hancur. Tapi kebahagiaan meluap karena kelegaaan yang terlampiaskan dengan sebuah pelukan
“hatiku lega . Stev.. karena aku nyaris stress memikirkan keadaan kamu!” ujar Guntur
“guntur.. kamu ..!”
__ADS_1
Guntur tersadar ketika stevanna berkata dan ia segera melepaskan pelukan dari stevanna sambil berkata maaf kecil dari mulutnya. Ia terlihat malu.