
"iya, meeting dadakan rin, kamu sama asta gak, sini aku mau ngomong sama dia"
Asta pun beranjak dan bersemangat menerima telfon Talita
"ma... mama"
"sayang... enakan gak badannya?"
"asta masih pusing pusing"
"tapi bibik sudah kasih kamu minum obat kan?"
"sudah ma, mamah kapan pulang"
"sore ya nakk"
"sore kan masih lama mah"
"iya sayang, disitu kan ada temen mama"
"oh jadi tante yang ini bukan tante jahat?"
"kok tante jahat?" tanya Talita
"kan kata mama jangan mau sama orang yang gak asta kenal takutnya orang jahat"
"oh iya kalau itu, tapi tante disitu baik, temen mama, dia sayang kok sama Asta"
Asta melirik kearah Arin, lalu mengambil robot mobil pemberian Arin dan mencium pipi Arin
"Asta" ucap Arin memeluk Asta
"ini kan ma tantenya, tante bawain aku robot yang bisa jadi mobil itu mah, yang mama gak beliin sampek sekarang"
"oh bilang makasih sama tante dong"
"iya makasih tante ucap Asta mencium lagi pipi nya"
dan ketika Asta sudah sibuk dengan mainan nya
"Arin, makasih ya, dia beberapa hari sebelum sakit pengen itu tapi aku sibuk gak sempet keluar cari barang nya"
"iya kak"
"nanti aku ganti deh uangnya"
"enggak lah kak. namanya bukan aku yang kasih"
"terus"
"biarin biar aku aja yang beliin"
dan ketika Arin selesai mengobrol dengan Talita ditelpon, Asta tidur dipangkuan arin dengan badan yang cukup hangat
hari pun berlalu, ketika dikelas study, Gino yang sibuk menjadi anggota anggota mading di kampusnya pun membuatnya tak lagi sering menganggu Arin, tapi ia masih terus berusaha untuk menjaili Arin setiap mereka ada kesempatan bertemu
berbeda dengan Sofyan...
"Arin" sapa Sofyan
"eh sof"
"beberapa hari lalu Isti sakit..."
"oh ya? terus terus?"
"om Tara kasih dia boneka yang bisa ganti ganti beberapa baju itu, tapi nolak awalnya. akhirnya om tarra boongin Isti bilang itu dari kamu"
"ha.. masak sih?"
"iya, jadinya mau si Isti"
"yah aku gak denger kabar... lusa deh aku kesana"
"serius? pasti seneng denger kabarnya"
"emm.."
lusa kemudian...
ternyata Isti sudah sembuh
"assalamualaikum Isti"
"tante Ayin"
"loh kok ga dijawab?"
"waalaikumsalaaaaaam"
"katanya Isti sakit?"
"iya, tapi papa bilang ini boneka nya dari tante"
"ha... emm...oh iya" Arin pun bingung
"emmm Isti kamu udah tidur siang belum, kok masih disini?" tanya Tara ketakutan Isti tau ia berbohong dan malu kepada Arin
"Isti mau istirahat kata papa?"
"Isti sembuh kan udah pa kata dokter pa"
"ya istirahat aja nak"
"enggak, ada tante datang"
"tante temenin tidur yuk"
"enggak, Isti gak ngantuk kok tante sama papa maksa Isti tidur sih?"
"enggak kok sayang.. yaudah tante ada sesuatu"
"apaitu?"
"tiket"
"tiket apa?"
"tiket beli es krim sepuas nya..."
"haaa.. mau tante"
"yaudah.. asal Isti tidur siang, nanti tante tunggu sampe Isti bangun baru tante ajak Isti jalan"
"yaudah ayok cepetan tidur"
namanya juga anak kecil, dengan polosnya ia berpura pura tidur lalu terbangun dan mengatakan ia sudah tidur
"tante sudah bangun, ayok makan es krim"
Arin tertawa terbahak bahak mendengar itu
begitu lah jika anak kecil berkemauan
"karna Isti sudah berbohong sama tante, tante gak mau jalan sama Isti"
"yah tante"
"gak boleh bohong sayang, tidur yaa"
ketika sorenya ia benar benar terbangun dari tidurnya, Isti pun bersiap keluar bersama Arin
dan ketika selesai makan es krim, mereka menuju salah satu taman, terlihat Isti yang sedang bermain ditaman bermain dengan sejumlah anak disana
__ADS_1
tiba tiba suara anak kecil lain memanggilnya
"tanteeeee" teriaknya
Arin pun mencari memutar
"aku disini"
"loh loh Asta sama siapa kamu? kok disini? kok sendirian?"
"sama bibik, tapi bibik masih belikan aku es krim disana aku ngeliat tante duduk disini jadi aku disini"
Isti yang melihat Arin sedang didekati oleh anak lain pun cemburu
"lepasin, ini tante aku" bentak Isti
"ih ini tante Asta tau"
"lepasin bukan tantenya Asta, tante nya aku lepasin Asta"
"gak mau, ini tantenya aku"
"eh udah ya jangan berebut" ucap Arin
"tante kan cuman satu, jadi kalo dibagi dua kan susah" sambar Arin lagi
"tapi tante sama aku kan?"
"iya... sama Isti"
"aku sendirian tante" ucap Asta bersedih
"eh yaudah sini duduk berdua sama tante, tante mau ajak kalian ke suatu tempat, mau?"
"mau mau"
saat akan pergi, Arin baru menyadari ketika salah satu orang mengatakan sesuatu
"anak jaman sekarang masih kecil udah punya anak" bisik salah satu ibu ibu
"iya. anak nya dua, bapaknya kemana coba"
"eh neng, masih kecil udah punya anak, anaknya kembar?" sapa salah satu mereka
"ha.. emmm"
meneliti lagi dari arah dekat, Arin baru sadar memang jika keduanya mirip
"masak sih, apa iya, pak Tara sama kak Talita itu"
"tante kok diem?"
"oh iya, em tante mau tanya, kalian inget gak nama orang tua kalian?"
"inget. aku tau mama talita" jawab Asta
"aku papah Tara" sambar Isti
"tapi mama Talita kan juga nama mama aku tau" jawab Isti yang sedari tadi kesal pada Asta
"kata mama Asta, nama papa kan papa Tara"
dan terbongkarlah...
rahasia besar ini terungkap yang sudah lama ditutupi kedua orang tua Asta dan Isti malah dari orang asing seperti Arin
dan ketika Arin mengembalikan Isti, Tara yang sedang tak ada dirumah pun ditelfon oleh Arin
"hallo pak, Isti sudah dirumah, ini saya antar"
"loh udah ya? kemana aja tadi?"
"cuman mmbeli es krim aja"
"waduh saya ada jam kuliah pak malam ini"
"nah itu, yaudah gakpapa deh titipin ke bibik"
dan setelah memulangkan isti barulah memulangkan Asta, sesampainya betapa kaget nya Arin melihat Talita yang marah kepada asisten rumah tangganya yang dianggap tak bisa menjaga anaknya
"kak... permisi"
"asta" panggil Talita
"mama kok marah?"
"mama gak marah sayang, mama kaget aja kamu kok tadi lari dari bibik sih?"
"aku liat tante ini"
"iya kak maaf ya, gara gara aku Asta malah lari"
"iya sih gakpapa kok"
"kak ada yang mau aku bicarain" ucap Arin
"oh boleh, bentar, bik bawa asta masuk, mandi pake air anget bik"
"ada apa rin"
"ada hal besar yang kakak sembunyiin dari Asta kan?"
"hal besar bagaimana maksudnya?"
"tadi Asta nyamperin aku, ketika aku bareng sama anak dosenku, ternyata mereka adalah satu rahim dan satu ayah"
"ha.. kamu... maksudnya Isti?"
"bener kan kak pertanyaan ku?"
"yaa... bagaimana bisa?"
"namanya kebenaran ketahuan kok kak"
"ya aku sama papa Asta menikah dan bercerai ketika perjanjian setelah kelahiran anak kami. karna kami ternyata sama"
"sama? kenapa jadi alasan berpisah?"
"justru karna kami sama kami takkan bisa dearah.. papa asta dingin, cuek, berwibawa, tegas, sama seperti aku, dan jika kita sama sama cuek, sama sama fokus pekerjaan untuk berwibawa tanpa mengalah, apa mungkin sejalan?"
yaaa Talita menjelaskan jika sifatnya sama dengan sifat ayah Asta justru membuat keduanya berpisah..
Arin mulai meresapi maksud dari jawaban Talita
"ketemu deh sama pak Tara, sekarang waktunya pikirkan ego anak. bukan ego orang tua, kata mama ku seperti itu"
"belum ada waktu"
"menunggu waktu sampek kapan?"
"entahlah" ucap talita mengangkat kedua bahu nya
hari berlalu, ketika suatu hari dimana Arin yang akan skripsi harus menyelesaikan urusannya dengan dosen pilihan yang ternyata ia mendapatkan dosen Tara membuat keduanya sering ada waktu berdua
"kamu gak bosan soal materi skripsi?"
"kalau nuruti bosan kan gak lulus skripsi pak"
"emm... iya sih... emm... aku mau bilang"
"apa pak?"
"isti nyaman sama kamu"
__ADS_1
"oh.. iya pak alhamdulillah"
"isti minta kamu jadi mamahnya"
Arin terdiam menatap buku tanpa berani menatap mata Tara
Tara meraih tangan Arin
"kamu sudah tau, segala sesuatu tentang aku, dan gak datupun wanita disini yang kenal aku sejauh kamu kenal aku"
"oh itu, kirain apa? tenang pak, arin bisa kok jaga rahasia" Arin merasa lega hampir saja geer
"bukan soal itu lagi"
"terus?"
"ya gak cman Isti yang nyaman, papanya juga"
Arin terdiam lagi tepat menatap mata Tara
"mau gak mau menikah denganku?"
"ha.. pak.. saya kan masih mau skripsi, juga belum wisudaan"
"setidaknya saya bicarakan dulu tentang rasa ini jadi lainnya kita obrolkan bersamaan dengan berjalan waktu"
serasa tak percaya, Tara mengatakan rasa suka pada dirinya..
seperti yang diceritakan oleh Sofyan, om nya adalah orang yang paling diam dan tak lagi menembak atau mendekati wanita, walaupun sekedar mengenalkan pada anaknya
dan kini, Tara, justru mengatakan dengan gamblang, jika ia benar suka pada Arin...
Arin pun tersenyum dan sedikit menundukkan kepalanya tanda ia menerima
"kamu beneran?"
"iya.. tapi ada satu yang harus kamu selesaikan sebelum kamu memulai lagi dengan yang baru"
"maksudnya?"
"aku sudah bilang sama kak Talita.. soal Asta dan sekarang aku bilang sama kamu soal Isti, persatukan mereka, kenalkan siapa mereka pada masing masing, saya tak mau hanya karna masalalu, membuat dampak besar pada anak anak"
seminggu kemudian barulah bisa ia bertemu dengan Talita dan Asta.. dan ketika pertemuan itu terjadi
justru Isti yang sangat mengenal Asta ketika itu ingin merebut Arin darinya
"papah.. itu yang mau ambil tante Arin, makanya pa cepetan suruh tante arin jadi mama Isti biar gak diambil" ucap polos Isti
"maksudnya apa itu bang?" tanya Talita pada Tara
"emm... itu"
"kamu sama Arin?"
"duduk dulu, kita ngobrol sambil tenang, dilihat banyak orang gaenak ini umum"
dan akhirnya mereka mengenalkan diri masing masing sebagai saudara kembar
"Asta jangan ambil tante Arin lagi ya"
"iya tapi kan itu tante arin aku juga"
"tapi pa kemaren Isti waktu sakit ketemu kok dimimpi sama anak yang mirip sama Asta"
"kok sama, aku juga ma, aku sakit ketemu sama dia"
terungkaplah, setiap mereka sakit kembarannya akan turut merasakan begitu sebalik nya jika mereka bahagia satunya akan sama seperti sedang bahagia
dan ketika Tara meminta izin untuk menikah dengan Arin, Talita tak ragu mengizinkan karna jika Tara bersama Arin akan lebih lega jika menitipkan Asta ketika ia sedang sibuk
dan ketika hari skripsi pun datang..
esoknya dua hari setelah pengumuman kelulusan dan waktu perayaan wisudah untuk Arin, Gino, dan Sofyan..
Sofyan yang berniat untuk menjadikan Arin kekasih justru terlambat jauh beberapa langkah dari om nya yang baru akan memgatakan jika ia dan arin benar akan mengurus persiapan menikah
"pa.. aku mau bilang sama arin kalo aku mau dia jadi pacar aku" curhat Sofyan pada ayahnya
"emm.. Arin? bukannya?" ucap ayah Sofyan yang kaget mengetahui nama yang sama dengan yang disebutkan oleh adiknya yang akan ia lamar
"om sudah izin sama papa kamu, dan sama orang tua om untuk menikah"
"om mau menikah beneran? wah bagus deh gak ada saingan, siapa om calon nya"
"mama Ayin" jawab Isti
Sofyan yang makan pun tersedak dan mengambil minum
"Arin? uhuk uhukk " ucap Sofyan
"bagaimana menurutmu?" tanya tarra menunjukkan referensi undangan pernikahan
dan betapa kagetnya Sofyan ketika tau start nya didului begitupun dengan finish nya ketika Sofyan bertanya saat itu juga apa arin benar menerima Tara menjadi suaminya dan jawaban Arin adalah benar
saat sampai di kampus dengan wajah yang masih terbengong bengong..
Gino menepuk lengan Sofyan..
"selama gak berjodohnya dengan kamu aku rela melepaskan arin untuk pak Tara" bisik Gino
dan ketika itu juga Tara yang bersamaan dengan Talita menyapa Gino dan Sofyan yang ternyata mereka baru tau jika mereka adalah saudara ketika Asta dan Isti dilahirkan...
dan beberapa bulan berlalu, dihari pernikahan Tara dan Arin, para undangan tak ada yang menyangka jika Tara dan Arin akan menikah..
karna memang mereka tak menunjukkan sikap berpacaran tiba tiba menikah...
kini Talita tak perlu kuatir jika menitipkan Asta berlama lama dengan Arin, Arin pasti akan menjadi ibu yang baik untuk kedua anaknya malah melupakannya
tapi Arin meyakinkannya itu tidak akan pernah terjadi
dan kini, di akhir cerita, Arin adalah sosok tante untuk Sofyan karna menikah dengan om nya dan sosok kakak bagi Gino karna menikah dengan mantan suami kakaknya
.
.
.
.
.
.
.
-SELESAI-
List Cast :
Arinda Pradita / Arin
Antara Budiman / Tara - dosen kampus
Talita - pemilik usaha mall
Giorgino - adik Talita
Sofyan - keponakan Tara
Sona - sahabat Arin
Isti dan Asta - anak Tara dan Talita
__ADS_1