Satu Nama Sebuah Kisah

Satu Nama Sebuah Kisah
LJL #2


__ADS_3

"Lah ngapain lu dikampus. Kita kan free"


"Ada urusan bentar"


"Sama dosen"


"Enggak, ada deh"


"Oh, yaudah"


Setelah mendapatkan kelas yang dimaksud bara, ia mengintip ke arah dalam dari Balik jendela


Tapi Danu mengagetkannya...


"Kamu" ucap Danu


"Eh kak, kak Danu" ucapnya kaget


"Ngapain? Bukannya prodimu di belakang paling ujung"


"Em iya cari teman tadi"


"Dikelas ini?"


"Enggak kok, dikelas lain, kebetulan lewat aja"


Tak lama Lila keluar dari kelasnya


Danu memanggilnya


"Em lila"


"Hei"


Rendra hanya melihat dari kejauhan Lila bersama dengan Danu


Rendra menuju taman dekat kampus rak jauh juga dari kampus


Melihat sekeliling, ia hampir saja menelfon Sarah untuk bertemu disana karna suasana yang Inda dan sejuk di tengah terik matahari


Namun ia membatalkan panggilan nya kara melihat sosok Lila tepat di belakang nya dari sebrang tempat ia duduk


"Lila tuh? Wah semoga saja benar Lila" ucapnya pelan


Mendekati perlahan takut salah orang, ia melihat wanita itu mengetik dari sebuah buku dari sebuah lembaran lembaran kertas dan dari pakaiannya terlihat khas Lila baju kotak-kotak ungu putih


"Ehem" sapa nya


Lila menoleh kearah Rendra..


"Em, kamu"


"Yang diruang rapat numpang toilet, inget kan?"


"Haha iya saya inget"


"Sendiri aja?"


"Hem, suasana yang sejuk pasti membuat banyak inspirasi untuk sebuah tulisan"


"Em, boleh saya kenal dengan kamu selangkah lagi?" Tanya Rendra


"Em, maksud nya?"


"Saya ingin kenal dengan kamu sedikit jauh"


"Oh, teman dekat? Oh atau sahabat kan?"


"Em gitulah, bagaimana?"


"Bisa dong"


Rendra tersenyum lega...


"Kamu ada kuliah?" Tanya Lila


"Em..."


"Tengsin kali ya bilang kalo niat cari dia" ucap nya dalam hati


"Gausah tengsin lah, ngapain"


"Ha, Kok kamu...."


"Tau..." Jawab Lila


"Kamu.."


"Oh iya, kamu tadi ngapain sama Danu didepan kelas ku?"


"Oh aku tadi cuman, mau ketemu sama temanku kan harus lewat kelas kamu, jadi papasan"


"Oh, yakin"


"Iya, yakin" ucap nya mulai gugup


"Em, Sarah kemana?" Tanya Lila


"Kamu tau Sarah?"


"Laporan dari danu"


"Oh, Danu"


Mendengar Lila mengenal sarah tanpa ia ceritakan membuatnya kaget, Untung nya itu karna Danu, tapi ia heran kenapa Lila bisa membaca isi hati dan pikirannya


"Kok udah beberes aja, udah kelar?"


"Belum, cuman waktu udah suruh aku kerjakan yang lain"


"Oh, mau aku anter?"


"Em, Sarah?"


"Sarah dirumah, mungkin tidur, atau shoping dengan lainnya"


"Oh, yaudah boleh"


"Kamu naik apa?"


"Jalan"


"Jalan? Dari mana?"


"Dari kampus"


"Oh kirain dari rumah"


"Mobil ku tinggal dikampus"


"Oh yaudah, kita iring-iringan aja ya"

__ADS_1


"Boleh"


Sesampainya di lokasi bioskop tempat kerja Lila


"Masuk" sapa Lila


"Kamu"


"Tempat kerjaku, ayo"


Lila dan Rendra masuk dan ke lift dan menuju lantai paling atas lantai 4


Setelah keluar dari lift, rendra masih mengikuti arah langkah Lila


"Masuk" ucap Lila sampai di sebuah ruangan


"Makasih"


Setelah masuk dan melihat seisi ruangan


"Ini"


"Ruanganku"


"Oh, jadi ini tempat kerja mu"


"Yaaa"


Rendra mendekati arah jendela yang memanjakan mata dengan pemandangan gemerlap lampu malam dari banyak rumah membuat terlihat begitu indah


"Pemandangan nya cantik" ucap Rendra


"Hem, tempat paling inspiratif"


"Em, jadi tempat kamu menulis semua karya mu"


"Siang lebih indah, dengan pemandangan macetnya jalanan"


"Hem, percaya deh"


"Oh iya, kamu kalo mau main, ketuk aja pintu itu, tapi sebelumnya tanya sama satpam ada saya apa tidak, pasalnya saya tak selalu ada disini namun waktu lebih banyak saya habis kan disini"


"Memang boleh"


"Kita kan sudah jadi teman"


"Oh iya"


Seiring sering nya jalan bersama membuat Rendra lupa diri, jika bagaimana statusnya dengan Sarah, hingga kenyataan yang harus ia terima jika Sarah sedang dekat dengan danu


"Sarah" ucapnya memergoki pacarnya dengan danu


Niatnya ingin memberi waktu break untuk hubungan antara mereka karna masalah kampus, namun karna hal ini, membuatnya memutuskan break selama nya


"Sayang, aku bisa jelasin"


"Jelasin apa?"


"Em, Rendra, sori gue bisa jelasin, kita cuman ngobrol"


"Dari awal saya tau anda suka sama pacar saya"


"Enggak kok, kamu salah paham"


"Oh iya saya salah paham, biarkan saya terus dengan kesalahpahaman biar saya tidak terlalu jauh disakiti"


"Rendra, aku jelasin" ucap Sarah memohon


Rendra pun berlalu, dan ia meninggal kan keduanya, membalikkan badan nya melihat Danu yang memeluk sarah dengan kasih sayangnya


Tiba-tiba saja Lila mengagetkan


"Hei" sapa Lila


"Lila"


Seketika rasa sakit hati Rendra hilang karna kedatangan Lila...


"Are you okay?" Tanya Lila


"Fine, no problem"


"Saya tau itu sakit, tapi tenang, saya mengenal danu"


"Kamu ngapain tiba-tiba disini?"


"Danu tadi minta saya datang ke sini, ada hal penting"


"Soal apa?"


"Soal seseorang katanya"


"Oh okeh"


Lila menemui Danu...


"Hai" sapa Lila


"Kak Lila" sapa Sarah


"Hei, kamu kenapa? Danu?" Ucapnya


"Bukan aku" jawab Danu angkat tangannya


"Em okay, kamu kenapa?"


"Enggak, ada masalah sedikit"


"Hem, em ada apa ya dan?"


"Ini, si Sarah ini ngefans sama kamu, pengen ketemu kamu"


"Oh, hai Sarah, bukannya kita pernah bertemu?"


"Iya, aku kurang jeli tentang itu"


"No problem, udah jangan sedih" ucap Lila menyentuh lengan Sarah


"Thanks"


"Kau sedang dekat dengan danu?" Tanya Lila


"Em, enggak kok kak"


"Em, okay"


Saat harapan mulai tumbuh lebih besar dari pohon kelapa, tiba-tiba saya angin menyambarnya..


Ketika ia sedang kasmaran kepada wanita jenius didepan nya tiba-tiba seorang lelaki datang mendekati keduanya


"Hai" sapa lelaki keturunan Tionghoa dan mengecup kedua pipi kanan kiri Lila

__ADS_1


"Em, Rendra, kenalkan, ini pacar saya, frans ini Rendra teman kuliah" ucap Lila


"Hai Rendra, saya Frans"


"Oh, hai" sapa Rendra datar


"Kami pacaran sudah 8 bulan cuman hanya kita aja yang tau ya"


"Iya, kamu gimana?"


"Oh, dia ada, Sarah kan ya?"


"Em, iya Sarah"


Ia hanya bisa terdiam dan meringis kesakitan..


sesampainya dirumah, ia masuk ke dalam kamar nya dan membanting semua barang yang ada dikamar itu, Marvel yang melihat nya heran


"Kakak, baru ini dia semarah itu, kak darah selingkuh? Atau diputusin kaya aku? Katanya harus tegar" ucapnya dalam hati


Melihat kakak nya yang penuh emosi, ia hampir saja masuk tapi terhenti karna ucapan Rendra membuatnya membelalakkan matanya


"Arrrrgh sial sial sial, arrrg disaat gue udah suka, udah nyaman, udah serius, dia datang mengaku pacarnya dan kalah start sebulan doang, sial sial sial, tapi bukan Rendra kalo tidak bisa dapat apapun yang saya mau, sekalipun cara picik, liat saja apapun cara akan saya dapatkan dia"


Mendengar nya jelas kaget, mengapa harus semarah itu hanya karna cemburu, bukankah dia sudah memiliki Sarah, bukankah Sarah orang yang sangat mencintai nya


Marvel pun menghubungi Sarah, kekasih kakaknya


"Halo, Sarah"


"Marvel, kenapa ya"


"Kamu gimana kabarnya sama kak Rendra"


"Kenapa kamu tanya begitu"


"Enggak, cuman pengen tau, soalnya kak Rendra pulang-pulang udah ngancurin barang dikamarnya, bilang yang mau rebut lah, mau ambil lah, memang kamu ada masalah"


"Em, kita udah putus dua bulanan mungkin, tapi aku baru iklas sebulanan lah, udah sepakat buat hidup masing-masing"


Mendengar penjelasan Sarah membuat Marvel bingung


Apa secepat itu dia dekat dengan wanita dan menginginkan wanita lain?


Saat ia baru saja menutup telfonnya, terdengar suara ketukan pintu kamar nya


Marvel membukanya...


"Kak rendra?"


"Kamu gak lagi sibuk kan?"


"Enggak kok kak, ada apa ya?"


"Ini, aku mau tanya kamu, kira-kira, cocok gak sama kakak" tanya Rendra menunjukkan foto Lila


"Siapa kak?"


"Kakak tanya. Malah gak jawab"


"Sama kak Sarah?"


"Kakak tanya orang di foto ini cocok gak sama kakak"


"Em, cocok kok kak, cantik"


"Yakin?"


"Iya kak, bener"


Rendra pun keluar dari kamar Marvel, Marvel hanya terdiam heran dengan sikap aneh kakaknya


Esoknya, Rendra terus berusaha dengan prinsip nya memiliki lila


Tak lama bara datang


"Hei ren"


"Hei, kak, lila ada?"


"Ada kok, bentar lagi kelar kok"


"Em"


"Eh, kak, Lila ternyata punya pacar ya?" Tanya Rendra


"Nah mang iya, si Frans tuh, dia kan yang kasih dana buat berdirinya bioskop milik Lila"


"Oh bioskop itu milik Lila"


"Lo pikir?"


"Em, enggak"


"Eh tunggu, lu suka sama Lila?"


"Em...."


"Baru sadar sumpah gue, payah lu men"


"Gimana nih bro"


"Tauk Lo, yang pasti gue lebih dukung frans, iam sori"


Bara meninggalkan Rendra sendiri


Ia meyakinkan dirinya jika ia masih banyak kesempatan sebelum janur kuning melengkung bahkan sampai janur kuning yang melengkung


Ketika sudah menginjak tahun ke tiga, sementara Rendra tahun ke dua, Lila memberi kabar jika dirinya akan menikah dengan Frans


"Loh kok dadakan sih la?" Tanya Rendra


"Gak dadakan kok ren, persiapan nya cukup lama padahal setahunan, ya baru ini aja selesai makanya kami sudah saling sebar undangan" jelas Lila


"Gak mungkin lah, kan saya gak pernah tau kamu rencana kan menikah"


Tak lama bara datang...


"Hei, hei, kenapa sih sibuk amat, gausah lah ribet, yang keribetan untuk nikah aja santai" sambarnya


Rendra hanya melirik sinis ke arah bara...


"Jangan hancurin kebahagiaan orang, katanya sayang, harusnya kamu bahagia kan kalo yang kamu sayang bahagia, yaaaa walaupun bukan sama kamu" sindir bara


"Maksudnya apa ya bar?" Tanya Lila


"Rendra suka Lila sama kamu, udah lama sih, tapi aku juga gak ungkit didepan mu, males, gue aja lebih setuju sama Frans"


"Bener ren?"


"A.... A...... Aku.... Aku.. emmm..."

__ADS_1


Lila berlari kecil menjauhi Rendra dan saat Rendra mengikuti, ternyata Lila bertemu dengan Frans didepan gerbang utama kampus, langkah Rendra terhenti dan berbalik arah


__ADS_2