
"Oh jangan, kan saya gak tau urusannya, oh iya masuk, ehm nama kamu siapa, biar nanti Tante enak ngomongnya ke Rendra?"
"Saya Lila Tante"
Mama Rendra dengan cepat memalingkan tubuhnya kaget...
"Kak lila" sapa marvel
"Eh, iya"
"Marvel kak, adiknya kak Rendra"
"Oh iya, hai"
"Hai kak, em bentar kak"
Rendra menarik tangan Mama nya menjauhi Lila
"Itu beneran kan Lila"
"Iya ma itu Lila"
"Ya ampun rumah Mama ini ternyata didatangi seorang penulis buku terkenal"
"Kak rendra udah tau?"
"Astaga iya belum, kamu panggil"
Setelah dikamar Rendra...
"Kamu bisa kan ketuk pintu dulu" ucap Rendra marah
"Maaf kak maaf, tapi didepan ada kak lila"
Rendra yang lemas terlentang seketika berdiri tegap...
"Siapa?"
"Kak Lila"
"Kamu serius?"
"Iya kak"
Rendra segera merapikan bajunya kilat dan menuju ruang tamu...
"Lila" sapa Rendra
"Hai"
"Iya hai"
"Kamu..."
"Oh iya ini, tadi buku kmu jatuh di pintu kantin, ini" ucap Lila menyodorkan buku
"Oh iya makasi"
"Kenapa tadi gak jadi masuk ke kantin?"
"Oh karna ada hal lain yang penting" ucapnya gugup
"Em"
Mama Rendra datang dengan segelas susu hangat bikinannya...
"Tante kok malah repot"
"Enggak lah, oh iya, kamu teman kuliah Rendra?"
"Iya Tante"
Mereka pun saling berbincang kecil tak lama ia pamit...
"Ya padahal bentar ini"
"Iya Tante, ada hal lain masih"
"Oh iya deh iya, kapan-kapan main lagi ya"
"Ya Tante"
Esoknya, melihat Lila duduk sendiri di bangku pinggiran kelas prodi, Rendra hanya bisa melihat dari kejauhan
"Entah ya, bahkan sampai saat ini di pernikahan setahunku, aku masih gak bisa melupakan kamu, bahkan ingin sekali aku menghentikan seketika seluruh bumi hanya untuk bisa berdua dengan mu, parahnya ketika takdir menyatakan kita bukan jodoh, aku masih berdoa kita jodoh" ucap nya dalam hati
__ADS_1
Sarah pun menghampiri Lila disana...
"Sarah" ucap Rendra pelan
Rendra pun menatap jauh kearah langit karna sebuah penyesalan nya menyakiti Sarah
Tepat esoknya dihari keempat dimana harusnya Frans pulang dari Blitar, namun tak juga dapat kabar
Hingga di pagi hari dihari kelima, Lila mendapat kabar jika Rendra menabrak seorang ibu-ibu dan kedua anaknya dijalanan
Untung lah lokasi tak jauh dari tempat tinggalnya, Lila menuju kearah yang dimaksud oleh Frans
Frans dan Lila terpaksa harus mengurus semua kebutuhan ibu dan dua anaknya, untunglah ibu itu berbesar hati memaafkan Frans
Hari demi hari berlalu, kini tiba saatnya dimana lila lulus dari perkuliahan dan mencari pekerjaan, tapi tanpa perlu pusing Lila sudah memiliki usahanya sendiri
Suatu hari, ketika pulang dari kerjanya karna terburu untuk pulang bertemu istrinya yang sedang hamil, Frans menabrak trotoar jalanan karna sebuah batu cukup besar membuatnya tak fokus untuk mengendalikan kemudinya
"Halo"
"Dengan ibu Lila?"
"Ya pak, saya sendiri"
"Pak Frans mengalami kecelakaan Bu, sekarang kami larikan rumah sakit terjerat jalan batu sebelah kiri toko perabot Bu"
"Baik pak saya langsung"
Sesampainya, dokter memberi tahu jika Frans lumpuh total, hanya matanya yang mampu digerakkan karna banyak beberapa syarat terputus membuat Frans harus menjadi penghuni tetap kursi roda selama bertahun-tahun kecuali mengikuti beberapa proses operasi setiap enam bulan sekali
"Begini Bu, ini saya dengan berat hati harus memberikan tahu pada ibu jika pak Frans mengalami lumpuh total, kami pihak rumah sakit tidak mungkin untuk langsung mengoperasi secara bersamaan jadi ada proses, untuk saat ini, hanya bisa jari-jari kaki dan tangannya,bibir, hidung, mata aman, tapi untuk kepalanya menoleh saja jangan dipaksa karna akan sakit Bu" jelas dokter
Mendengarnya, Lila hanya bisa meringis kesakitan, Frans melihatnya sakit sedikit saja sudah bingung kalangkabut apalagi harus ia terima kenyataan jika ia lumpuh total
"Tapi Bu, suami saya bisa sembuh?" Tanya Lila
"Hanya mukzijat, dan serangkaian operasi selama empat tahun setiap enam bulan sekali untuk mengembalikan sistem kerja saraf"
Setelah sepulangnya dari rumah sakit, Lola membawa Frans pulang, betapa sakit hatinya melihat orang tercinta nya yang sangat menjaga nya memanjakan nya kini tak lagi berdaya
Lila hanya bisa berkomunikasi dengan tulisan di selembar kertas tanpa bisa dibalas oleh Frans
Lila mulai menuliskan beberapa pertanyaan untuk aktivitas...
Dan Frans hanya bisa membalas dengan kedipan matanya
Hari-hari berlalu, ia pun hanya bisa menangisi bagaimana bisa Frans harus mengalami semua cobaan ini, orang yang sangat baik
"Kak" sapa Lila
"Hai sar"
"Kak, aku turut berduka atas semua yang menimpa kakak ya"
"Ya sarah, makasih"
"Kak, tapi kakak jangan tinggalin pak Frans ya kak, pak frans terlalu baik kak, sangat baik"
Lila membelalak kan matanya kaget dengan ucapan Sarah
"Kamu bicara apa sarah? Saya tidak sekalipun berpikiran jika saya meninggalkan Frans dalam keadaan apapun itu, tidak Sarah, tolong jaga bicara kamu" ucap lila
"Maaf kak gak bermaksud"
Lila tak lagi mendengarkan ucap penjelasan Sarah dan terus mengurus Frans untuk makan, Sarah pun berlalu
Rendra yang mendengar kabar banyak banyak kicauan burung, ia pun menuju rumah Lila
"Lila" sapa Rendra
"Rendra"
"Em maaf aku nyelonong masuk, aku kesini cuman mau bilang turut berduka cita atas yang terjadi sama Frans" ucap Rendra menatap Frans
"Iya makasih"
"Aku doain selalu Frans, kamu cepat kembali, kamu pasti bisa, berjuanglah" ucap Rendra
"Makasih ren atas doamu, makasih udah mampir kerumah" ucap Lila
"Iya"
"Yaudah, saya pamit deh la, kamu jangan ikut drop ya, banyak makan, biar bisa ngurusin Frans, aku tau Frans kuat. Kamu juga kuat"
"Makasih sekali lagi ren"
__ADS_1
"Ya, Frans, saya pamit"
Frans hanya mengedip kan mata pelan
Esoknya, sekertaris kantor Frans datang dengan beberapa berkas untuk pembelajaran soal marketing pemasaran dan lainnya, Untung saja sebelum kecelakaan itu menimpa Frans, frans sudah mengajari setiap lekuk-lekuk urusan kantornya, tak membuat Lila gugup menangani nya
Memang sejak lumpuhnya Frans membuat Lila mengerjakan pekerjaan super double tapi ia tidak serta-merta melupakan tugasnya mengurus suami
Ketika tubuh Frans mulai drop, ia harus kontrol lebih intens bahkan sempat rujuk, membuat pikiran Lila bercabang, ingin sekali ia menangis sekencang mungkin supaya banyak orang tau bagaimana perasaan sakitnya melihat orang yang dia sayang menderita
"Lila, Mama tau kamu capek, biarkan Mama ya yang ngurus sehari ini" ucap Mama frans
"Enggak kok ma, Kata siapa aku capek, enggak kok, gakpapa ma, Mama kan harus urus papa"
"Papa nanti pulang kesini kok, jenguk Frans juga, udah gakpapa, kamu juga masih harus ngurusin kantor Frans kan, udah gakpapa Mama"
"Makasih ma, nanti habis dari kantor, Lila pulang cepet deh"
"Iya sayang"
"Mas, aku pamit dulu ya, kamu harus makan, gak boleh telat, kalo gak mau aku sedih, yaa, love u" ucap Lila mencium kening Frans
Siangnya, dengan secepat melebihi kilat, ia menyelesaikan semua tugas dikantor dan urusan di bioskop nya, karna ia sangat rindu dengan suasana kampus nya, dimana ia dipertemukan oleh Frans untuk pertama kalinua ketika Frans sedang menjadi pengisi seminar
Lila duduk di setumpukan kursi yang sudah lama tak terawat yang berada di lantai teratas dari gedung kampusnya, Lila duduk menatap arah langit seolah olah sedang berbincang dengan tuhan, ia bertanya
"dosa apa saya tuhan, dosa apa Frans, kenapa harus kami yang mengalami" ucapnya dalam hati
Tak lama Rendra datang, karna ia berniat untuk menenangkan diri dengan beberapa masalah nya dengan Friska, istrinya, ia mencoba untuk menenangkan dan pikiran nya di tempat yang sama dengan Lila, semua serba kebetulan memang
"Lila" ucap Rendra pelan
Ia mendekati arah Lila dan menyapa nya
"La" sapanya
"Rendra" ucap lila
Terlihat mata dan wajah nya tak mampu menyembunyikan perasaannya, sekalipun Lila sudah menghapus air mata itu
"Kamu..." Ucap Rendra
"Aku tenangin diri ren"
"Frans?"
"Frans ada Mama, tadi aku baru selesaikan tugas kantor jadi diurus Mama"
"Oh" ucap Rendra
Rendra menatap wajah gadis yang selama ini ia kenal dengan ketegarannya kini telah hilang
Semua wajah ceria itu berganti wajah bak baju belum disetrika
"La..." Panggilnya lembut
"Aku gak bisa ren lihat Frans seperti ini, aku gak mampu bayangkan rasanya, sakit paling sakit didunia, bahkan akupun merasakan itu" ucap Lila
"A...." Ucapan Rendra terpotong lagi
"Bilang padaku ren, Frans pasti sembuh kan? Frans pasti bisa kan ren, katakan ren"
Lila menarik-narik baju Rendra meminta Rendra meyakinkan nya jika semua baik-baik saja
"Iya pasti baik saja kok la" ucap Rendra
"Kenapa gak aku aja ren, kenapa ya Allah, kenapa harus Frans, kenapa" teriaknya
Rendra menahan tangan Lila yang terus berteriak, Lila terus menangis sekencang-kencangnya kencang nya
Rendra menarik tangan Lila dan memeluknya
"Lila, udah, kamu mau liat Frans baik saja tapi kamu tidak menunjukkan jika kamu baik saja didepan Frans, justru nambah pikiran Frans karna dia hanya menyusahkan kamu" jelas Rendra
"Aku cuman gak kuat ren, aku gak bisa sendirian seperti ini, aku gak bisa, aku butuh Frans yang dulu, aku butuh dia" ucap Lila
Sementara Frans, menitihkan airmata, Bu Vika, Ibunda Frans yang melihat bertanya pada anaknya mengapa ia menangis
"Loh, frans, kamu kenapa sayang?" Tanya mama Vika
Frans hanya mengedipkan mata nya cukup lama, lalu menetes kan lagi air mata lagi
Dengan cepat mama Vika tersadar jika tangan Frans mengisyaratkan jika ia ingin menulis, Vika membantu anaknya mengambil sebuah buku dan Bulpoin, menulislah Frans diselembar kertas dibuku itu walaupun tulisannya tidak jelas, namun mama Vika bisa membacanya, karna memang Mama Vika yang mengasuh dari kecil jadi ia bisa paham dan ralate dengan apa yang dialami oleh sang anak
dan isi pesan dituliskan oleh sang anak itu adalah...
__ADS_1