
sebuah nama, dari seorang gadis, yaitu Lini Iviana Gloria yang banyak orang memanggilnya dengan nama Nina yang diambil dari nama Li(ni) Ivia(na)
waktu itu, Nina yang baru keluar dari rumah tante nya, langsung menuju kearah rumahnya dengan sepeda motornya, tapi saat ia ingin menuju ke arah sebrang, mobil belakang justru menyenggol nya membuat Nina terjatuh, Nina berdiri dan membangun kan sepedanya
tak lama seorang lelaki keluar dari mobil bersama wanita
"hei, dipakai itu mata lo, bosen idup Lo" ucap wanita itu sedikit membentak
"huss, stop, jangan" bisik lelaki disana
lelaki itu adalah Soni
Soni terpanah oleh wajah yang dimiliki Nina, membuatnya menghilangkan sekejap semua rasa marah nya
"apa, mau salah kan siapa kamu?" tanya Nina
"em, maaf maaf, saya yang salah" jawab Soni
"kakak, dia yang salah sih, kok kakak yang..."
"uss udah, kamu gakpapa kan? ada yang luka, atau sakit" tanya Soni
"kaaaak"
"diem, masuk sana" ucap Soni
"ih kakak"
Nina pun langsung menyala kan motornya dan berlalu, Soni mengikuti nya dari belakang, penasaran dengan gadis yang ia temui hari ini
Tapi Ranti, adik Soni justru heran
"kak, ngapain sih, kita kemana?" tanya Ranti
"udah diem"
"kakak nih, ngikutin dia ya?"
"iya kakak cuman penasaran doang"
setelah sampai di rumah Nina, Nina pun masuk
esoknya, karna sangking penasaran nya Soni pada Nina, ia pun standby di depan rumah Nina dari pukul 5 pagi, tak tanggung-tanggung kan..
sekitar dua jam menunggu, ia melihat seorang lelaki masuk ke halaman rumahnya dan mengetok pintu rumahnya Nina, tak lama Nina keluar
"haris..." ucap Nina menyapa lelaki itu
"ini titipan dari Ceko, katanya buat sarapan"
"oh thanks loh ya"
"yang lain masih ya nyogok kamu pakai makanan?"
"begitu lah, ini buktinya, dari pagi, siang, sore sampai malam nya soal makanan, aku udah tak pusing, selalu ada aja yang kirim"
"lu sih"
"what ever ris"
"hem..."
setelah Haris berlalu, saat Soni memberanikan dirinya untuk turun dan menemui Nina
tapi seorang perempuan pun datang mendekati arah Nina
"kak" panggil Poppy
"Poppy?"
"hei, em ini, ada cemilan, bikinan sendiri"
"waduh kok repot"
"enggak, malah seneng"
"makasih ya, ayok masuk"
"enggak deh lain kali, keburu soalnya"
"oh, gitu, yaudah"
"bye"
"iya"
tapi saat Poppy ingin pulang, ia dicegah oleh Soni
"mbak" sapa Soni
"iya"
"em, itu, mbaknya kenal sama dia?"
"dia? oh yang punya rumah orens itu?"
"iya, siapa dia?"
"Nina!"
"Nina?"
"iya"
"kamu kasih dia, dia langganan apa gimana?"
"langganan sih iya kak, tapi bukan langganan bayar"
"lah terus?"
"langganan, kan dia pernah bantu ibu aku, kalo gak karna dia mungkin ibu sudah meninggal mas" ucap Poppy sedih
"loh loh gimana ceritanya"
Poppy pun menceritakan kepada Soni, bagaimana tentang si Nina
Poppy menjelaskan, Nina adalah wanita yang pintar dalam segala jenis bela diri, dan jika banyak kiriman, makanan maupun lainnya itu karna tanda terima kasih atau bisa juga sebagai tanda menghormati karna takut pada Nina
dan mendengarnya membuat Soni makin tertantang mendekati Nina
esoknya, saat waktu menunjukkan pukul 2 siang, Soni mengetuk pintu rumah Nina
__ADS_1
tak lama Nina membukakan
"siapa?" tanya Nina
"Soni, yang kemaren hampir-"
belum selesai Soni bicara, Nina sudah mengenali nya
"oh, kamu, ada apa?" ucap Nina dingin
"aku pengen kenal kamu" ucap Soni
"haha, lucu"
"apanya?"
"entahlah apanya"
Nina menutup pintu rumahnya namun ditahan oleh kaki Soni
tapi bukan Nina jika ia tak bisa menyingkirkan kaki itu, akhirnya Nina menendang kaki Soni
"mampus lo" ucap Nina langsung menutup pintunya
saat sore waktu menunjukkan pukul 5, saat Nina mau keluar membuang sampah, ia dikagetkan oleh Soni yang masih ada disana dan duduk di kursi teras rumah Nina
"astaga..." ucap Nina kaget
"hai nin"
"kamu maksa? bisa pulang gak?"
"aku pengen kenal"
akhirnya Nina menghajar Soni, yang tidak dibalas sama sekali oleh Soni, menarik lengan Soni keluar dari halaman rumahnya dan mengusirnya
belum puas
esoknya, Soni kembali ke rumah Nina pagi hari
terlihat Nina sedang santai dengan secangkir kopi nya
"hai Nina" sapanya
"kamu" ucap Nina
Nina pun masuk
"nin" panggilnya
"Ninaa" panggilnya lagi
Nina memasang handset dan memutar musik sekencang-kencangnya
esoknya, ketika Nina menggantikan temannya menjaga toko pulsa milik temannya, ada seorang yang membeli pulsa dengan total 100rb x 5 nomor,
tiba-tiba saja meninggal kan toko tanpa membayar, sementara Nina yang pasti akan kehilangan pelanggan yang menipunya dibantu oleh Soni
ketika Nina sudah keluar dan menghampiri orang itu, terlihat Soni yang menahan orang itu
"kamu" ucap Nina
tanpa basa-basi, Nina menarik tangan itu dan menghajar, awalnya cukup sengit karna orang yang hampir membohongi nya itu cukup pintar bela diri
"denger gue, lihat, perhatikan muka gue" ucap Nina menarik wajah orang itu
"dengar baik-baik, gue Nina, jangan lagi lo lakuin ini, sampai gue tau, gue akan cari lo sampai ke akarnya" ucap Nina dengan ancamannya
Soni melihatnya begitu kaget, dan tak percaya, begitu cara dia menghajar orang, pantas saja banyak yang takut padanya..
Nina mendekati Soni
"makasih" ucap Nina
"iya" jawab canggung Soni
"kamu mau apa? Kemaren? Kenalan?"
"I.. i.. em.. iya"
"Nina" ucap Nina datar
"Soni"
"okeh"
esoknya, Soni masih berusaha mendekati Nina, walaupun tau akan bagaimana resikonya
saat didepan rumah Nina, terlihat Nina sudah rapi
"hai" sapa Soni
"kamu"
"sibuk ya? oh mau keluar?"
"nggak, tadinya mau tapi dicancel jadi mau masuk lagi motornya"
setelah Nina memasukkan motornya
"apa aku boleh mengenalmu?" tanya Soni
"boleh"
"makasih"
tak lama Haris datang
"nin" sapa Haris
"hai ris, ada apa?"
"ini si kencrut nitip, buat lo"
"iya, makasih"
"nin, itu dia, siapa?" bisik Haris
"temen"
"oh"
"dari siapa" tanya Soni
__ADS_1
"kencrut, ada temen ku"
"oh"
mereka pun sedikit saling bercerita dan mulai dekat
esoknya, ketika Nina sedang tidak mood untuk bicara dan berinteraksi, Soni datang, mendekati nya, awalnya biasa
tapi karna banyak bicara membuat Nina pusing akhirnya meminta Soni untuk pulang
tapi Soni melawan, dan akhirnya Nina menghajar, sedikit demi sedikit memang kadang Soni membalas namun kalah juga
sejak itu, Nina sering menghajar Soni, namun Soni hanya sesekali membalas namun kalah juga
karna seringnya Nina menghajar Soni untuk pelampiasan kekesalan, Nina pun mulai bersikap manis didepan Soni
"kamu" ucap Soni
"aku kenapa?"
"tumben, gak hajar aku?"
"enggak lah, kasihan kamu, aku gak mau terlalu sering membuatmu selalu pulang dengan lebam"
"hem, akhirnya Tuhan" ucap Soni membuat Nina tersenyum malu
tiba-tiba Ranti mengagetkan Soni dan Nina disana
"oh, jadi bener, ini yang membuat kakak gue pulang sering dengan wajah lebam lebam nya" ucap Ranti
"Ranti, ngapain kamu? pulang" ucap Soni
"kak, dia aja bisa loh ngajar kakak, sering malah. kalo kakak deket, sampek pacaran apalagi nikah, sama aja kakak hilangin nyawa kakak dengan percuma"
"kamu ngomong apa sih, pulang kakak bilang"
"okaaay, Ranti pulang" ucap Ranti berlalu
dua hari berlalu, dan Soni berkata ingin diajar kan tentang bela diri oleh Nina, dan Nina mengiyakan
mereka pun sering latihan, dan menghabiskan waktu bersama hanya untuk Nina mengajarkan bela diri pada Soni
hari-hari berlalu, ketika Ranti tau, apa yang sering dilakukan oleh Nina dan kakaknya membuatnya heran, mengapa kakaknya masih berbohong untuk minta ajarkan bela diri, jika dibandingkan oleh Nina pun tak ada apa-apa nya yang Nina lakukan
"kak" panggil Ranti
"Ranti"
"kakak, ngapain sih, bukannya kakak bisa ya begini? bahkan lebih jago dari dia, ngapain sih sok sok minta ajarkan ke dia"
"kamu apa sih"
"kak, aku tuh peduli, aku tuh gak mau kakak kenapa napa"
"kenapa napa bagaimana? kamu gak tau, pulang"
"kakak udah berubah, kakak beda"
"pulang Ranti"
ternyata Soni adalah lelaki yang cukup pintar bela diri, bahkan menurut Ranti, sang adik, jika kakakmya mungkin jauh lebih pintar dibandingkam Nina itu
setelah Ranti pulang
"em, yaudah kamu pulang aja gakpapa, besok aja, atau kapan, aku juga ada urusan"
"urusan? kan kamu free, urusan apa"
"gak semuanya harus bilang ke kamu kan"
"tapi"
"besok aja" ucap Nina meninggalkan tempat itu
dengan marah, Soni menuju rumah dan mencari keberadaan Ranti, adiknya
"kakak apa sih kak, teriak teriak, kayak Ranti maling aja" ucap Ranti keluar dari kamarnya
"kamu ngapain urusin kakak sih? terserah kakak kan mau apa"
"ya kan aku kasih tau kak, dia gak baik, dia bukan wanita baik buat kakak"
"kamu tau apa? kakak yang tau siapa dia"
"kakak ini dikasih tau"
"udahlah, kakak gak mau tau, jangan lagi ganggu kakak sama Nina"
"what ever kak"
"yaudah, sana masuk"
"okeh"
esoknya saat Soni kembali kerumah Nina, terlihat rumah sepi, sedang tidak ada orang rupanya
sejam menunggu, Nina pun datang
"Soni" sapa Nina
"nin.. dari luar ya"
"iya nih, dari tadi kamu?"
"enggak, baru sejam, tapi gakpapa"
"emang ada apa ya son?"
"enggak, pengen main aja, maafin adikku kemaren ya"
"gak masalah, santai"
tiba-tiba saja Soni menghajar Nina, tapi bukan Nina sekalipun reflek tak ada alasan untuk tidak siap, mereka pun saling hantam
"stop stop" tiba-tiba Soni menghentikan
"kamu?" tanya Nina
"hehe, iya cuman ngetes, ternyata kamu reflek juga bisa ya"
"astaga, makanya jangan macam macam, begitulah"
seiring berjalannya waktu, mereka pun saling dekat dan mengenali lebih jauh keduanya
__ADS_1
saat kedua nya sudah saling memahami, disuatu sore Nina ingin membicarakan jika dirinya ingin meminta maaf atas dulu yang pernah ia lakukan pada Soni, tapi Soni pun bersamaan ingin mengatakan sesuatu