Satu Nama Sebuah Kisah

Satu Nama Sebuah Kisah
Xiao Lieng Cheu


__ADS_3


NOTE :


ini kisah lanjutan dari NADA MUSICIA MURNI yang peran utamanya adalah anak dari pasangan Nada Musicia Murni dengan Fu Zao yaitu XIAO LIENG CHEU


-POV NADA-


nama anakku lahir atas pernikahanku dengan Fu Zao


ketika usia Xiao mulai tumbuh menjadi anak perempuan kecil yang masih perlu bimbingan, aku gak meremehkan seorang Fu Zao..


yaa dia bisa mendidik anaknya..


bahkan disela selanya sibuk bekerja ia tetap menyempatkan waktunya untuk kami..


selama mendidik sejak usia 7tahun..


ayahnya menerapkan ketahanan, mulai dari latihan fisik, latian bertahan pada benteng pertahanan, inti ayahnya mendidik adalah supaya Xiao menjadi kuat..


seperti yang ku bilang..


aku tidak mau anakku sama dengan ayahnya..


keras boleh, bisa mempertahankan diri dari musuh jahat itu memang perlu


tapi aku ingin anakku juga menerapkan ajaran ku dengan kelembutan dan mengenalkan lingkungan betapa kita harus bisa menstabilkan emosi dan kelembutan dalam hati..


"Xiao.. kamu sudah mengerti dunia.. papa ada samsak, pukul keras" ucap Fu Zao


setiap hari sejak usia Xiao 7 tahun, ayahnya mengajarkan fisik kuat, hati kuat, pikiran dan mental juga kuat..


alhasil ia tumbuh benar benar menjadi anak yang keras... sama seperti ayahnya..


tapi untunglah, perananku dipertahankan oleh Xiao..


ia keras, tapi ia tetap menerapkan jika dirinya perempuan, dia brutal, kasar, tapi penampilannya sangat feminim, aku tak mau karna dia kasar, dia menjadi anak tomboy dengan penampilan lelaki


tapi dia mewarisi sifatku, walau wajah mewarisi ayahnya..


selalu memakai rok rok mini dengan paduan atasan kaos oblong..


tidak tomboy kan, tapi juga tidak sesederhana aku yang bahkan sampai sekarang aku sangat suka dengan baju ukuran pangjang, celana street levis, dan kuncir satu


ketika mulai masuk sekolah..


tiap hari pertama Xiao kecil masuk sekolah


Fu Zao selalu menemani hingga pulang sekolah..


"anak kita udah besar.. bentar lagi udah masuk sekolah pertama di bangku menengah pertama, kamu mau anter?" tanyaku pada Fu Zao


"harus.. harus ku antar, ku tunggu, ingin tau hari pertama bagaimana disekolah" jelas Fu Zao


aku terdiam..


pagi itu.. hari terakhir Xiao liburan, dan besok sudah harus masuk ke sekolah baru..


"ibuk.. nanti sudah cuci jemur taruh saja diruang pakaian, biar besok saja dikerjakan setrika, jam 1 saya ada undangan, ibuk pulang jam 11 saja" jelasku


"baik nyonya" jawab art


bibi pun melanjutkan mencuci pakaian..


aku kembali melanjutkan masak


Nb percakapan menggunakan bahasa mandarin ya


tapi langsung diterjemahkan ke indonesia..


pembeda luar negri dan indonesia..


jika di indonesia bibi lebih kepembantu sementara ibu lebih dihormati..


tapi di kota ku sekarang justru bibi yang lebih di hormati karna pembantu panggilnya ibuk


pembantu dirumah hanya bekerja ketika aku berada dirumah, dan itu tidak setiap hari ia datang.. ia datang ketika kerjaan menumpuk dirumah


maklum, aku sejak menikah dengan Fu Zao, aktifitas wajib ku adalah menemani Fu Zao, keeemaaanaaa pun, kapanpun, bagaimanapun situasi dan kondisinya..


tiba tiba Fu Zao memelukku dari belakang..


"paa.." ucapku


"hem.. hehe.. aku kangen sama kamu" ucapnya..


kubalikkan badan, lalu kupeluk dia..


dia selalu ucapkan kata "rindu" dibeberapa sela aktifitasku..


yang di maksudnya rindu adalah, ketika kami bisa bermesraan, bisa berciuman, dalam waktu yang cukup lama tanpa ada pekerjaan menganggu kami


dan ketika sedang berpelukan..


"hmmm masih pagi pagi banget maaa" ucap Xiao


kulepas pelukan Fu Zao


"eh, sini, duduk, makan dulu, mau keluar lagi?"


"iyaa.. kerumah oma dulu"


(oma : Sung Ma)


"oh ya sudah, sarapan dulu sama papa kamu, mama mau siapin bawaan buat oma, anterin ya"


"ya ma"


dan ketika aku kembali..


"Xiao, besok pertama masuk papa anter" ucap Fu Zao..


"Siap pa" jawab Xiao..


"nah, ini sudah siap, antarkan buat oma ya, mama yang masak begitu" ucapku

__ADS_1


"siap ma"


dan ketika anakku sudah pergi


aju hanya menunggu jam..


ketika jam sudah diangka 11


"nyonya, saya pamit" ucap pembantu


"eh iya buk, ini ya uang untuk hari ini, besok jangan datang, kan sudah beres semua, tadi cuman cucian, bisa saya handle" ucapku


"baik nyonya"


aku bersiap akan datang ke acara salah satu karyawan di kantor..


"selamat datang pak Fu Zao, bu Nada" sapa salah satu karyawan di kantor Feng Liang


"siang.. gimana acaranya?" tanya ku


"lancar bu, bantuan uang juga dari pak prisder juga sangat membantu... makasih"


"iya.. sama sama.."


presdir.. masih melekat dengan nama Fu Zao..


dan sekian lama Fu Zao menjabat sebagai presdir..


selama itu pula publik tau sikapnya yang angkuh, keras, beku, dan tidak ber prikemanusiaan


tapi semua wajar menurutku..


Fu Zao orang yang disiplin dalam pekerjaan


ketika kedua orang yang kusayang bersiap, aku bersemangat dan bangun lebih awal menyiapkan untuk mereka makan pagi..


lalu membangunkan mereka..


-POV AUTHOR-


ketika mereka sarapan lalu bersiap berangkat..


Nada pun berdiam dirumah..


dan Fu Zao mengantar Xiao masuk ke sekolah


"selamat siang pak" sapa kepala sekolah baru Xiao


"siang.. bagaimana anak saya dikelas mana?" tanya Fu Zao


"dikelas 8c pak"


"anak anaknya?"


"saya rasa, masuk C supaya netral pak, jadi gak ada anak nakal, juga gak ada tugas yang menekan untuk Xiao pintar"


dan ketika masuk..


selama pelajaran dihari pertama sekolah..


ketika jam istirahat..


"paa.. makan yuk" ajak Xiao


"di...?"


"kantin, kan kita belum tau kantin juga"


"ya sudah, ayo"


sepanjang perjalanan mereka..


banyak murid murid lainnya melirik arah Xiao dan Fu Zao dengan wajah heran


"eh masak sih hari pertama masuk ditungguin sama ayah, gak malu apa udah besar" bisik bisik


"iya ya, yaa anak kesayangan sih boleh sih, tapi.."


Fu Zao mendekati ketiga anak itu..


"ehm.. kalian bicarakan saya dengan anak saya?" tanya Fu Zao


"emm.. eng.. nggak paman"


tanpa banyak kata Fu Zao menyodorkan kartu nama kepada ketiga anak perempuan itu dan melanjutkan jalannya


"ha.. presdir Feng Liang?" ucap mereka


"iya iya.. itu kan yang terkenal..."


"ehemmm" ucap Fu Zao


"maaf pak" ucap ketiganya


Fu Zao hanya mengangkat tangan kirinya..


dan melanjutkan jalannya


sesampainya dikantin...


"pa.. kotor sekali.. waduh, rame, hari pertama sih, tapi cuman dua yang jual" gerutu Xiao


"kita pesan order saja, ayo kembali ke kelas" ucap Fu Zao


dan ketika Xiao kembali masuk...


"bagaimana pak?" tanya kepala sekolah


"tidak ada masalah.. hanya sedikit.. kantin kurang bersih, apa tidak ada petugas bersihnya?"


"itu kan nanti yang bekerja dikantin itu yang bersihkan ketika pagi dan sore akan pulang"


"saya transfer dana, tambah untuk pekerja khusus pembersih, dan pekerja untuk membantu dikantin.. ketika ramai jadi tidak hanya dua orang dan harus antri.."


"oh.. tapi"

__ADS_1


"sudah masuk, silahkan di cek"


"sudah pak.. makasih pak, maaf"


dan ketika jam terakhir..


mereka pun pulang..


"kamu tenang saja.. besok kantin dan pekerjanya akan bertambah" ucap Fu Zao


"wah, papa yang bayar?"


"tentu, anak papa jangan kan disentuh, dibicarakan, papa akan bertindak tegas" jelasnya


"siap pa, makasih papa" ucap Xiao memeluk ayahnya


sesampainya dirumah...


"gimana?" tanya Nada


"lancar maa, ehmm besok papa ke kantor ya?" tanya Xiao


"iya.. kenapa sayang?" tanya nada


"enggak, gak ada yang nemenin lagi, hehe.. yaudah besok beliin Xiao lemari kecil untuk make up ya ma, pa" ucap Xiao


"kamu jadi pindah kerumah oma?"


"iya jadi, cuman jarak dua rumah kan dari rumah ini" jawab Xiao


"iya sih"


Fu Zao pun tak keberatan anaknya tinggal dengan oma (Sung Ma) karna memang ia melatih untuk mandiri..


sekaligus menemani Sung Ma karna Fu Zao menggantikan Nada yang sudah penuh tinggal dengannya meninggalkan Sung Ma


dan esoknya ketika pulang dari sekolah, Xiao menyiapkan pindahan rumahnya..


"tapi ingat.. ponsel jangan sampai mati, rusak, eror langsung ganti beli baru, pulsa beli, uang kurang bilang papa" jelas Fu Zao


"siap pa"


"paling penting.. jaga kestabilan tubuh, jangan hujan hujanan" ucap Nada


karna kelemahan seorang Xiao ada pada hujan..


ia mewarisi kelemahan Nada..


tapi lebih parah Xiao..


karna ketika Xiao terkena sedikit saja beberapa tetesan hujan ia akan jatuh sakit dan itu kedua orang tuanya termasuk Sung Ma menyadari ketika usia Xiao 10 tahun.


"Siap ma, kalau kangen sama mama aku datang ke rumah ya.. tapi kalau kangen nya sama mama juga sama papa dan kalian tidak dirumah Xiao ke kantor papa" ucap Xiao


"iya sayang... yaudah sana"


ketika Xiao menyiapkan kamar tidurnya..


lantai atas full untuk segala keperluan Xiao..


"ma.. sini" ajak Nada


"ada apa?" tanya Sung Ma


"nanti, kalau ada hal apapun kabari kita ma ya" ucap Nada


"iya ma,  kalau ada masalah langsung kabari kami, saya atau Nada akan full time menunggu kabar mama seperti biasanya" jelas Fu Zao


"iya.. kalian tenang saja.."


"maa jangan sampek sedikit aja dia sedih" jelas Fu Zao


"oh tentu, pasti pasti"


"makasih ma, kami pamit ya" ucap Nada


dan tinggallah Sung Ma dan Xiao berdua


"oma, ini lantai atas barangku semua kan"


"iya..."


"yeee.. mama sama papa pulang?"


"iya pulang.. eh langsung makan ya, oma udah siapin, tadi mama sama papa kamu gak makan"


"ya oma"


esok paginya...


"siap?" tanya Sung Ma


"siap oma, berangkat ya"


"ini bekal nya"


"wuuuh sandwich.. makasih omah ku"


bantuin comment kalau ada typo, atau kata kata yang kurang pantas ya...


sesampainya disekolah..


dua orang murid mendekati Xiao berharap bisa berteman dengan Xiao


tapi Xiao orang yang sama dengan Fu Zao


tidak mudah mempercayai orang jika ia tak benar benar mengenal orang itu


"ada apa?" tanya Xiao


"kami mau berteman denganmu" ucap mereka


"kan sudah jadi teman, dalam satu kelas ini"


"maksudnya lebih dekat.."

__ADS_1


"saya tidak perlu sahabat" ucap Xiao


__ADS_2