Satu Nama Sebuah Kisah

Satu Nama Sebuah Kisah
ETS #2


__ADS_3

lupa mematikan laptop nya karna terburu, ia pun dengan cepat berdiri dan keluar dari kamar kost nya


"mau kemana?" tanya julian


"ini, aku lupa belikan eka makan, uangnya udah di aku"


"oh.. aku bawa makanan cepet balik ya" ucap julian


"iya masuk aja, pintu nya gak kekunci, aku pinjam motor nya"


"boleh"


irly pergi, julian pun masuk, dan melihat laptop yang masih hidup, saat akan mematikan, ia tak sengaja melihat dan membaca tulisan irly


dengan cepat membaca, julian menyusul irly dengan berlari sejauh 3 kilometer dari kost irly


benar saja, sesampainya julian disana, terlihat irly yang sedang dimarahi habis habisan oleh eka


"kamu itu.. gak bisa jaga perasaan pacar, aku gak suka kamu dekat sama teman kamu julian itu, dia suka sama kamu, bisa dong ngertiin aku"


"ya aku cuman pinjam motornya, takut telat kesini kamu marah"


"mending kamu telat, terus jelasin, kalo gini aku makin kesel, terus sekarang dimana si julian, di kost mu?"


julian yang tak tega melihat irly diperlakukan kasar dan semenah menah oleh eka, ia pun mendekati arah keduanya


"kenapa memang kalau saya dan irly dekat, dan saya suka.. hanya orang bodoh yang nyakitin hati wanita sebaik dia yang mau mengurus ayahmu saat luntang lantung dijalanan" ucap julian


irly kaget dengan kedatangan julian


"sekarang.. kalian putus..." ucap julian


"siapa kamu? suruh kita putus"


"lupain dia.. jangan ganggu dia, atau aku yang membuatmu menyesal menganggu nya lagi" ancamnya


julian membawa pergi irly dari sana


sesampainya di kost irly


"kamu gak papa?" tanya julian


"makasih kamu bantu aku bebas dari laki laki itu"


"iya, kamu itu gak pantes sama lelaki begitu"


baru beberapa menit bahkan belum satu jam..


jainun, ibu irly menghubungi irly..


"mama kamu?" tanya julian


"iya.."


"yaudah angkat.."


"ada apa ya?"


"halo buk?"


"eh, kamu putus sama eka, kamu mikir gak eka banyak bantu mama, kamu bodoh banget mutusin dia?" bentar jainun


"ibuk ngomong apa sih?"


"eh, bodoh, kalo sampek putus sama eka mau jadi apa kamu, udah bener pacaran sama dia" bentak jainun lagi


yaaa... jainun tau tentang hubungan irly dengan eka, jainun, irfan, dan ismail mendukung keduanya berpacaran.. hanya karna eka tajir


setelah menutup telfon


"ada apa?"


"ibu marah aku putusin eka"


"marah? udah biarin aja, dia gak tau kan kalo eka gimana, yang tau ya kamu"


"em.. aku boleh jujur?" ucap julian


"apa?"


"aku sayang sama kamu, mulai dari terkesan lalu suka, akhirnya sayang bahkan aku cinta" ucapnya mengungkapkan perasaannya


"kamu"


"aku serius.. kamu percaya sama aku kan? aku masih berjuang dijalan benar untuk mengumpulkan uang buat menikahi kamu"


irly hanya memeluk julian tanpa mengucapkan satu katapun


beberapa hari kemudian, ketika irly libur karna salah satu pengunjung ada yang terjatuh hingga tewas membuat taman hiburan tempatnya bekerja harus di visum


"ibuk" ucap irly kaget


"kamu bener yakin putus sama eka?"


"ibuk masuk dulu, aku baru aja mau berangkat ke rumah"


"kamu libur?"


"iya, tempat kerja lagi ada insiden"


mengetahui ibu irly datang..


julian tak jadi menemui irly


ia mendengarkan pembicaraan dari balik tembok dekat kamar kost irly


"julian, saya tau siapa dia" ucap jainun


"maksud ibuk apa ya?"

__ADS_1


"kamu mutusin eka karna julian kan, ibu kira cuman penampilannya aja yang begajulan, kelakuannya juga.."


"ibu jangan ngomong begitu"


"apa lagi yang mau dijelaskan ir?" ucap eka


eka tiba tiba berada di teras kost irly


"eka"


"udah jelas jelas kemaren kamu pilih dia, dia suruh kamu mutusin aku kan?"


"gak ada hubungannya sama dia, jangan bawa dia"


"tuh kan tante aku bilang juga apa?"


"irly, stop ya kamu pembelaan, sejak kapan sih kamu berteman dengan lelaki bedebah seperti itu, udah miskin, jelek, dekil, bauk, tatto dimana mana begitu"


jainun terus memaki kondisi julian, membuat telinga julian panas akhirnya menghampiri


"saya memang jelek, miskin, begajulan, tapi saya tidak sebajingan dia memanfaatkan kekayaannya"


"oh ini dia.. orang yang menghasut kamu iya?" ucap jainun


"maaf tante, saya bukan menghasut"


"eh gausah bantah, jelas yang mutusin eka itu kamu yang paksa anak saya"


"apa anak ibu? kalo anak ibu, bukannya harusnya tau perasaan anak bagaimana, bukan memaksakan"


merasa hanya julian yang bisa melindunginya saat ini


irly pun berjalan kearah belakang julian


"eh irly, kamu ngapain kesana, sini, kamu itu harus nya nurut sama saya bukan sama dia"


"irly, sayang, jangan jahat sama orang tua"


"hei, tau apa kamu irly jahat sama orang tua?" bentak julian


"eh, dia anak saya, kasih pada saya, kamu apain anak saya sampai menurut begitu?"


"artinya dia lebih nyaman sama saya"


"nyaman apanya dari mana nyaman, anak saya sama kamu bukannya hidup bahagia makan aja susah, miskin sih, susah ya" ucap jainun


dengan emosi diujung tanduk


"anda mau bilang saya bagaimana silahkan, selama saya tidak mendengar, tapi jika anda beranggapan saya orang jahat anda salah"


"salah dari mana, coba kamu tanya oramg lain, orang bertatto apa disebut orang baik?"


"oh persepsi anda salah, saya penyuka seni tatto memang bukan berarti itu menggambarkan saya sebenernya"


"itu hanya sebuah pembelaan menurut anda" ucap eka


julian menarik kerah baju eka


tanpa menjawab, irly meminta julian membawanya pergi dari tempat itu


"bawa aku pergi lian" bisik irly


dengan sigap, julian membawa irly pergi


"irly...." teriak jainun


"hei baji**an jangan lelaki anj*** bisanya bawa kabur anak orang" teriak eka mengejar julian yang membawa lari irly


sesampainya dikontrakan julian


"maafin aku ya.. jadi ngerepotin kamu" ucap irly


julian melepas jaketnya, dan menyentuh tangan irly


"kamu kenapa percaya sama aku?" tanya irly


"kamu kan janji sama aku, ada buat aku, mau jagain aku, kamu janji...." belum selesai ucapan irly...


julian menarik kasar rambutnya sendiri


"tapi aku belum tau apa aku bisa bahagiakan kamu" ucap nya


"lian, lian, lihat aku, kamu sayang sama aku?" tanya irly


"lebih dari yang kamu tau" ucap julian


"bawa aku pergi, kemana pun, bagaimana pun"


"kamu takkan bahagia bersama ku..."


"aku bahagia jika hidup dengan orang yang sayang sama aku, bukan yang bisanya marah, dan emosi"


"kamu percaya sama aku?" tanya julian


irly mengangguk


"yaudah, kamu mau nikah sama aku sekarang juga?"


"mau"


"berapapun maharnya?"


"mau..."


"tiga hari dari sekarang kita persiapkan pernikahan kita, untuk sementara kamu diam disini, biar aku di tetangga sebelah" jelas julian


"iya"


"udah sekarang kamu istirahat, udah sore, bersihin badan, sana"

__ADS_1


"iya..."


saat julian berdiri


"makasih"


"iya, sana masuk kamar ku" ucap julian


saat masuk dalam kamar, irly melihat sekelilingnya


"dasar anak lelaki" gerutunya


dan melihat di dalam lemari paling bawa. ada beberapa kaleng membuatnya mngambil beberapa kaleng itu dan Membaca tulisan


ROKOK.. NARKOBA.. IRLY...


irly membawa keluar ke tiga kaleng


"maksudnya apa?" ucap irly melempar kaleng kaleng itu


"kamu bilang, berhenti ngerokok, apalagi narkoba, tapi ini, uang simpenan buat kamu beli rokok sama narkoba? dan ini namaku, buat apa? aku gak perlu dikasihani" ucap irly


"ir, aku bisa jelasin, ya.. duduk dulu"


"enggak, kamu bohongi aku ya"


"enggak ir, dengerin dulu makanya yaa... kenapa aku kasih nama ini, uang aku sisih kan anggap saja aku keluarin uang buat rokok sama narkoba, dan maksudnya supaya aku bisa benar benar berhenti, sementara nama kamu, aku udah siapin dan sisihkan lebih banyak untuk bisa aku nikahin kamu, aku rasa cukup jadi aku siap menikahimu cepat"


"kamu gak bohong?"


"enggak, beneran, percaya ya sama aku"


"yaudah"


baru selesai mengurus untuk pernikahan ijab qobul dan hanya menunggu hari itu tiba, hanya dihadiri beberapa orang teman paling dekat dari keduanya sebagai bukti dan saksi, mereka pun dinyatakan sah..


dihari hari setelah pernikahannya..


bahkan hingga berjalan hampir satu bulan kedua nya sedang jalan untuk mencari makan malam


melihat seorang obu dengan anak kecil yang makan di warung yang sama membuat nya teringat soal ibunya


"aku paham, kamu yang sabar ya" ucap julian


"iya, semua udah kamu obati kok, dengan menjadi suami paling baik sedunia benar benar membuatku bahagia"


saat akan jalan pulang


"kamu gak nyesel?" tanya julian


"buat apa?"


"kita hidup miskin"


"sebelumnya aku lebih menderita dimana tak ada seorang pun peduli bagaimana aku"


julian memeluk erat irly sepanjang jalan malam itu, tiba tiba seorang lelaki yang cukup tua namun masih terlihat tidak terlalu tua sekali


menyapa julian


"lian ya?"


"iya pak"


"saya adik mama kamu, mama kamu sakit keras lian"


"mama, dimana sekarang?"


"dirumah saya, mari"


sesampainya...


"maa..."


"julian, kamu kenapa tau mama disini"


"aku mbak yang kasih tau, habis saya bingung, mbak bilang kangen akhir akhir ini sama lian"


"maafin mama ya"


"ma... lian minta maaf, bikin mama ninggalin lian sampek sama sakit julian gak tau"


"kamu tinggal dimana?"


"lian tinggal dikontrakan kecil, lian juga kerja ma, sekarang lian tau kesalahan lian"


"mama ngerti nak"


"mah, sembuh ya"


"iya, pasti, kamu udah berubah, udsh dewasa begini, siapa yang bantu kamu?"


"dia ma, kenalin ini istriku"


"dia istri kamu?"


"iya ma, dia yang udah merubah aku"


"makasih ya nak, maafin anak tante kalo masih menyusahkan"


"tante, lian benar benar berubah, dia suami terbaik selama saya kenal sama dia,  sekalipun dia tak membentak apalagi mengeluh"


"lian benar benar berubah?"


"iya tante.. berkat doa tante juga"


sofia, ibu julian memeluk irly


hari demi hari berlalu, kehidupan membaik, ternyata sakitnya sofia hanya karna rindu pada anaknya

__ADS_1


dan saat mengetahui istrinya ternyata sedang hamil


__ADS_2