Satu Nama Sebuah Kisah

Satu Nama Sebuah Kisah
LA #10


__ADS_3

"lidi? anak dito itu? kamu mikir afan, kamu menikah sama dia, mau dijadikan apa kamu? lebih bisa kamu urusin rumah kan"


"ah.. itu hanya spekulasi bikinan tante"


"spekulasi gimana, orang benar adanya, dia gak bisa masak, gak bisa cuci piring"


"itu ka bisa belajar, mungkin karna egois nya tante aja karna masa lalu yang lama, diungkit dihari sekarang"


"kamu ini, tante cuman mau ajak kamu temui anak temen tante, nyambar kemana mana"


"yaudah ayok, kalau mau ketemu dan kenalin aku"


"ah males.. nanti malah kamu kasarin, cuekin, parahnya kamu sinisin"


"apaan, gak bakalan te, cuman ya itu tadi.. gak akan ada yang bisa gantikan posisi lidi sebagai wanita pertama dan satu satunya yang pernah kucinta dalam hidup ku" jelas afan


afan pun berjalan menuju kamarnya..


"afan" teriak tante am


"apa lagi tante?"


"kamu bikin rumah selesai belum?"


"oh selesai, nantik tante Sama om juga bawa mama pindahan"


"oh terus kasih tunjuk tante kapan?"


"besok aja deh, sekarang afan capek"


yaa afan memang membangun rumah untuk tantenya yang mau merawat ibu afan, daripada harus ke panti jompo


esoknya setelah melihat rumah yang hanya tinggal ditempati saja..


"nah tante udah hapal jalannya, sekarang ketemuan sama laura ya"


"laura?"


"iya, laura anaknya temen tante"


"oh okeh"


sesampainya..


"inget, jangan cuek" ucap tante afan


"iya ah"


dan mereka pun sampai..


"hai laura" sapa tante am


"hai tante.. apa kabar"


"baik, mama keluar kota ya"


"iya nih, ada meeting kantor"


afan dan laura pun berkenalan


"oh, emm sehabis makan tante pulang dulu, nanti kamu dianter ponakan tante ya"


dan tinggallah afan bersama laura..


"kamu gak mau nonton? aku pengen lihat film, bagus bagus sih tadi lihat stiker nya" ucap laura


"enggak" jawab afan


afan menarik ponselnya..


iya senyum senyum sendiri melihat isi chat nya bersama lidi


"pacar kamu ya?" tanya laura


"oh iya.."


"orang mana?"


"orang sini juga kok, oh iya ini fotonya.. cantik gak? atau manis? tapi dia smart" jelas afan menunjukkan fotonya bersama lidi


"emmm.. oh.. iya iya"


dan ketika beberapa menit berlalu..


"kamu mau nonton apa gimana?" tanya afan


"iya nonton"


"yaudah kalau gitu aku pulang dulu ya"


"haa.."


"bye"


dan ketika afan pergi..


"gak peka ih, kirain nanya gitu mau nonton taunya eh..." gerutunya pelan


dan ketika beberapa hari berlalu..


"gimana hari itu sama afan?" tanya tante am ke laura


"gimana apanya, afan nemenin aku gak sampek sejam tante"


"ah.. iya kah?"

__ADS_1


dan ketika menelfon ponakannya itu


"haloo.."


"iya tante, ada apa tan?"


"kamu ini gimana sih, di tanya kemaren kamu bilang laura udah pulang, tapu lli kan kamu tinggal laura"


"lah kapan bilang tante, aku bilangnya kan disana bukan udah pulang"


"ya kenapa gak anterin pulang?"


"dia bilang mau nonton, kan ada urusan dikantor afan te"


"urusan kantor urusan kantor, hari itu minggu"


"yaaa maksudnya kan ngobrol satpam yang gak libur"


"emm... lain kali jangan terlalu fokus sama kantor atau kerjaan, kamu udah harus cari pendamping"


"halo tante, iya halo, tante disini lagi sibuk, udah dulu ya"


karna malas, afan pun berkelak menutup telfonnya karna sibuk..


"gimana tante?" tanya laura


"oh dia kan dikantor jadi sibuk, ditutup deh, eh terus terus"


"tante kok gak bilang sih tan kalau afan punya cewek?"


"ya itu gak penting.. penting itu jodoh, pacar kan belum berarti jodoh"


"tapi aku dikasih lihat fotonya sama afan, cantik kok, tante gak pernah ketemu emang?"


"aduh laura, bukan soal cantik atau tajir sih, wanita itu harus bisa urusin rumah kalau udah nikah yakan?"


"oh emang dia gak bisa gitu tan?"


"bener bener nol, dia gak bisa apa apa, eh lebih bisa afan ngurusin rumah"


"emang dia dimanja ya sama orang tuanya?"


"bukan dimanja lagi, ya kan orang kaya, apa apa ya gak perlu dia yang ngerjain"


"kaya banget tan? sampek masak nyuci piring pun gak bisa?"


"banget banget, tapi tante gak setuju, udah tepat kalau sama kamu"


"terus pacarnya?"


"udah lah, masih pacar ini, kan bisa saja berpaling"


dan akhirnya laura melanjutkan perkenalannya dengan afan..


jika ia yakin cuek nya afan suatu saat akan jadi cinta kepadanya


suatu hari..


ketika duduk berdua dengan afan..


"kamu geser geser sedikit, aku jaga perasaan pacar ku" ucap afan


"ya tuhan, pacarmu gak disini kan fan"


"iya.. tapi aku dikasih kepercayaan harus dilaksanakan lah"


"tapi aku sayang banget sama kamu" ucap laura


afan kaget dan melirik kearah laura heran


"apaan sih" ucap afan


afan menarik ponsel disakunya


ia menelfon lidi


"hallo, lagi dimana?" tanya afan


"dikantor, kenapa fan"


"emm.. makan siang aku belikan ya"


"iya.. eh aku pengen nasi gorengnya mak jena"


"oh disana, yaudah aku beliin"


"makasih fan"


"iya"


"love u" ucap lidi


"love u" jawab afan


dan sejenak terdiam..


"kamu bisa gak hargai aku?"


"hargai kamu gimana?" tanya afan


"ya tadi, ada aku disini malah nelfon cewek lain"


"itu kewajiban aku, rutinitas setiap jam segini nanya pacarku mau makan apa, lagian ini bukan orang lain laura, dia pacar aku"


"ya tapi kan kasih aku harga sedikit lah"

__ADS_1


"udah ya aku mau nyari makan siangnya pacarku"


"afan, tante kamu itu gak restuin kamu sama dia, tante pilih aku"


"urusan ku, bukan urusan tante ku, lagian yang mau jalanin hidup ya aku, bukan tanteku, mama ku aja netral, gak space aku sama pacarku"


"tapi fan"


afan terus berjalan pergi..


dan ketika afan meminta kepada tante nya untuk stop membuat laura mendekatinya..


"mana ada fan? udah laura itu tepat untukmu"


"gini deh, tante kenalkan aku sama yang lain aja, karna percuma sama laura, dia bukan tipe aku, aku sangat benci wanita percaya diri yang over"


dan akhirnya dengan cepat, tante am mengenalkan lagi afan kepada salah satu anak temannya..


waktu berjalan bergitupula cerita yang yang terjadi diantara afan dan beberapa wanita yang selalu gagal dekati afan karna kerasnya hati afan mematenkan untuk lidi..


"kamu kenapa sih keras banget, udah berapa kali tante kenalin, kamu masih aja kaku, coba sikapmu itu seperti sikap mu didepan lidi.. tante malu fan kenalin kamu, kamunya snagar"


"kan sudah pernah kubilang sebelum tante kenalin aku ke wanita pertama, emm si laura itu lah, aku udah bilang seribu kali wanita jauh standar diatas lidi, bagiku lidi paling atas. udah jelas kan apa maksudnya"


"kenapa sih sekeras itu, kamu sama wanita selain dia, apa lebihnya dia? oh karna dia kaya? iya kan?" tanya am


"oh bukan itu hal yang membuat aku kekeh cuman ada dia dihati aku, tapi karna aku cinta, cinta sama dia, karna dia adalah winita yang hebat, kerja keras, gak mudah menyepelehkan orang, tante tau, dia tidak pernah memandang tante itu rendah.. juga karna dia pernah berjuang untuk aku, untuk dapat restu dari ayah nya, om dito sangat menolak hubungan kami, jauh sebelum kejadian lamaran malam itu, dan akhirnya dengan perjuangan, lidi berhasil dan om dito kasih restu ke kami, tapi sekarang, justru tante yang membuat kondisi itu kembali membuat aku dan lidi harus berjuang.."


"apa.. dito kasih restu?" tanya tante am


"iya.. sejak pertemuan lamaran itu, tante rira dan om dito kasih kepercayaan ke lidi memilih aku, dan perjuangan dia demi aku berakhir, kini tinggal perjuangan aku demi dia, semua urusan hanya ada ditangan tante.. tante terus bersikeras berlarian kenalkan aku sama wanita diluaran sana, sama, aku juga akan bersikeras untuk berdiri disini untuk lidi" jelas afan


am terdiam seketika..


ia bingung harus memutuskan apa....


am sedang berada di ambang jalan dimana ada dua arah berbeda tujuan..


apakah ia harus menghentikan perjuangan afan dan merestuinya atau tetap kuat untuk afan memilih wanita lain walaupun tau itu percuma..


dan beberapa hari berlalu, setelah iya merenung bersama suaminya, suaminya meminta untuk memberikan saja restu untuk afan tapi justru am marah, tak terima, seperti suaminya tidak menghargainya sama dengan afan dan terutama dito..


"ya terus gimana? kamu mau kekeh minta afan kenal cewek lain? percuma juga lah, iya kalau lidi, dia cewek, pasti akan terima saja diminta orangtuanya untuk lepaskan afan, tapi ponakan kamu afan buk, afan itu laki, dengan atau tanpa restu kamu kalau hatinya keras, ya akan tetap terjalin dengan lidi" jelas suami am


beberapa hari berjalan, selama itu pula am sedang diambang keputusannya sendiri..


ia benar benar bingung..


suatu hari..


ketika ia dan suami juga anak anaknya dan tentu juga ibu afan sudah tinggal dirumah baru yang tak jauh dari rumah afan..


ketika hari itu am sedang ada janji makan bersama laura dirumah itu..


tapi diperjalanan, laura melihat afan sedang bersiap tanpa baju kantor.. terliat casual dengan kaos dan celana jeans panjang dan juga topi..


tentu penampilan seperti itu bukan arah ke kekantor..


"hallo tante" ucap laura menelfon am


"sudah sampek mana sayang?" tanya tante am


"emm.. tadinya hampir sampek, tapi laura lihat afan rapi tapi gak pakai baju untuk ke kantor, jadi nanti tak kabari lagi te ya, tapi ini langsung ngikutin afan" ucap laura


"gausah ra, biarin sudah"


belum mendengarkan ucapan tante am, laura sudah mematikan telefonnya..


sesampainya disalah satu tempat bioskop...


afan turun setelah memarkirkan motor ninja yang dipakainya..


dan bertemu dengan lidi..


"hai" sapa afan


"iyaa... sudah pesan tiket?"


"iya, sisa dua menit"


"yaudah yuk"


mereka pun masuk, dan dua jam berlalu, laura masih mantengin motor afan..


tak lama afan dan lidi keluar bersama bergandengan tangan..


lidi naik ke motor afan dan berjalan ke salah satu restoran bernuansa alam


salah satu restoran yang terbilang menu mahal, takkan ada orang biasa masuk resto itu kecuali benar benar ada uang..


berlokasi di hutan buatan untuk menunjang view restoran, laura pun ikut turun..


ia sedikit lebih dekat jadi sedikit lebih jelas dengan wajah asli lidi..


"emm.. pantes aja gak lepas si afan.. gak pake sihir sih


setelah memesan makanan..


keduanya mengobrol...


"gimana kabar tante kamu? baik kan dia?" tanya lidi


"baik, yaa masih kekeh aja sih kenalin aku ke cewek"


"ya gkpapa, kamu kenal aja dulu, siapa tau aja cocok"

__ADS_1


__ADS_2