Satu Nama Sebuah Kisah

Satu Nama Sebuah Kisah
ETS #5


__ADS_3

satu dengan yang lain terus bersahutan.. memaki irly secara halus


irly sadar itu


setelah semua pulang


lian memeluk irly


"ada aku, selama ada aku, jangan kuatir bahagia"


"makasih sayang" jawab irly


yaaa sejak awal pernikahannya, keluarga besar lian tak pernah suka dengan irly karna sikap ibu irly, jainun


yang frontal dan kasar..


Namun tidak dengan sofia.. justru mama lian itu sayang kepada irly karna dipikirannya, anaknya berubah karna peran irly mempengaruhi lian


beberapa hari kemudian..


ketika sedang mengurus ketiga anaknya


"mama, beli beli ke minimarket"


"beli apa sayang?"


"beli susu botol sama dorayaki"


"iya sana sama papa ya"


"enggak, sama mama"


"yaudah panggil papa, bangunin, suruh jagain adik"


shuo menarik narik papanya menuju kamar ketiga adik shuo


"kenapa ma?" tanya lian


"jagain ini pa, mau ke minimarket"


"ngapain?"


"itu ai shuo minta beli dorayaki"


"emmm.. ya udah"


"jangan tidur juga pa"


"iyaaaa maaa melek nih kan melek"


"yaudah, awas loh pa"


"hemmm.."


saat keluar dari rumahnya


"itu om, ommmm" teriak shuo


"om siapa?"


"yang kemaren"


"hai shuo"


"hai om"


"mau kemana?"


"ke minimarket om, ikut ayok"


"shuo, kan sama mama"ucap irly


"gak papa kok mbak, saya temenin"


"oh gak usah gakpapa"


"maa... biarin om ikut"


"enggak, ayo shuo, cepet"


entah mengapa, seja awal bertemu, feeling irly tak suka dengan saski


sepulangnya..


"si papa tidur, dasar kalo anak dijaga bapaknya begini, anaknya dah mainan papanya molor" gerutu irly


irly membangunkan lian


"pa.. bangun, mandi, ayo, eh libur kerja isinya molor"


"emm udah?"


"udaaaah, ayo banguuun"


"iya..."


dikira masuk keluar untuk bersih bersih, mandi kek, apa kek, justru kembali tidur


"papaaaa... bangun.." panggil irly


"em... cium dulu" ucap lian


shuo yang memberikan pipinya


"kok kecil" ucap lian


ketika membuka mata


"shuo"


"papa gak bangun sih"


"mama kemana?"


"bersih bersih tuh pa, mandiin adik adik"


"emmm... sayang.. peluk papa"


"tapi bangun ya"


"iyaaa... kamu pasti disuruh mama ya"

__ADS_1


"iya..."


setelah bangun lalu makan..


"yang.. tau gak tadi aku ke supermarket, ketemu orang bantuin shuo kemaren" ucap irly


"siapa dah, emmm saski ya"


"nah, iya. dia"


"terus?"


"risih aku, males aja, feeling sih dia ada rencana, jadi kuatir sama si shuo, kan marak yang nyulik anak"


"yaudah, jangan di gubris, gak kenal ini kan"


"iya itu"


lama kelamaan, belang saski ketahuan oleh lian dan irly..


saat ketika bibi penjual bahan masakan didepan rumahnya memberikan sebuah foto saski bersama siska


"pak, cari apa?" sapa bibi


"ini, si shuo, minta jajan"


"bapak kan orang kaya ya. tapi kok mau pak jajan begini"


"ah ibuk, kaya bukan alasan hidup bermewah mewah, saya belajar pengalaman sebelumnya saja, lebih bermanfaat lagi memanfaatkan keuangan"


"iya.. bener pak, ini pak"


"oh ya ini bu, pas ya"


"iya..."


"bibi, mana om yang disini?"


"biasanya datang jam 8 nak" ucap bibi


"emang dia orang sini ya bu?"


karna memang lian dan irly pendatang.. mereka fikir saski orang penduduk sini


"bukan.."


"loh bukan orang sini?"


"bukan pak, dia sering banget kesini sih, emang sering.. makan, nongkrong berjam jam.. gak bosen, padahal saya gak kasih tau password mifi, dia gak nanya"


"emm...."


terdiam sejenak, bibi penjual mengatakan bahwa saski ternyata memiliki adik kembar perempuan..


"emm...." jawab singkat lian


"beberapa hari lalu sih, ada cewek dateng pak, cantik, eh dilihat lihat mirip banget sama si saski ini, saya pikir istrinya, eh kata saski kembaranya, ya pantes aja kan kalo mirip" jelas bibi penjual


"oh ya?"


"ini pak, fotonya, saya ambil diam diam"


melihat foto diponsel bibi penjual, lian mengenali siapa wanita didalam foto itu namun ia tak mengatakan pada bibi


"iya itu dah, cantik kan, pantes dah orang saski ganteng"


"em... yaudah makasih ya bu"


"iya pak"


"babay bibi" ucap shuo


"bay sayang"


selama dijalan, lian memikirkan


"pantas saja seperti wajah yang tak asing, seperti familiar.. ternyata wajah yang sama dengan siska" gerutunya sepanjang jalan menuju rumahnya


terdiam sejenak, memikirkan itu, tak lama irly datang membawa segelas susu hangat


"sayang bengong, kenapa kamu?"


"yang.. ternyata saski itu kakak kembar siska" ucap nya tanpa basa basi


"ha, serius, kan yang bantuin shuo kan"


"iya..."


"kan apa kataku, pasti ada maunya dia sama shuo, kalo gak sekongkol sama siska"


"nah itu... aku bingung sih"


"darimana dapet info?"


lian menjelaskan semua tentang saski berdasarkan cerita dari bibi penjual


"makin gaenak yang perasaan ku, kepikiran shuo" ucap irly


"udah, kamu tenang aja, ada aku, selama aku kerja, ada tamu, lihat dulu, jangan keluar dulu, biar nanti perlu dan butuh apapun telfon aku, aku belikan"


"iya deh"


karna lian memang sedang bebas kantor seminggu kedepan, lian hanya datang pagi kekantor lalu cek in daftar kehadiran, dan keluar memantau beberapa sales dan MD diperusahaan yang dipimpin nya


dan terfikir.. ia mengintai gelagat saski


mulai dari mengikuti saski di warung bibi, dan bahkan benar benar berjam jam dia disana memandangi rumah lian, menjelang siang ia ke kantornya, beberapa jam ia keluar dan pulang..


"saaaaski" teriak siska


"lu pikir telinga gue kaga ada, teriak kenceng begitu"


"kapan, lu deketin dia, lu bilang lu suka.."


"lu pikir itu gampang, ditambah dia ada lakinya"


"cemen lu"


"urusan gue ini, udah mending kamu diem dan terima beres"


mendengarkan dari beberapa percakapan keduanya, ternyata saski dan siska merencanakan untuk penghancuran rumah tanggal irly dan lian

__ADS_1


mendapat info penting ini, lian memberitahu istrinya melalu telfon


"wah, parah sih, terus gimana" tanya irly


"udah, terapkan ke shuo, bahwa saski itu orang gak baik, intinya kita diam kan saja mereka.. kita harus kerahkan sayap kita.. tunjukkan kita bisa mempertahankan rumah tangga, aku jagain kamu sama anak anak"


"iya yang.. kamu juga semangat ya harus bisa kuat menjaga aku dan anak anak" ucap irly


setahun berlalu, keduanya memang mengetahui akal bulus saski dan siska, membuat keduanya tak peduli hal itu lagi...


masalah dengan mereka dianggap keduanya tak pernah ada..


dan saat sudah beranjak satu tahun ketiga anak kembarnya..


irly terasa mual dan sakit perut...


"sayang... kamu kenapa?" tanya sofia


"pusing ma, uwwwekkk, tenggorokan kering.. aduh, mual" keluh irly


"kamu hamil?"


"hamil?"


"iya, mama beli test pek, kamu test ya.. dicoba"


"mama buat apa beli test pek?"


"istrinya poni.. tetangga mama nitip, gak ada kembalian mama ambil tiga, butuh cuman satu"


"oh, yaudah ma irly test"


dan benar hasilnya positif


"dua ma"


"ya ampun kamu hamil lagi wah cucu baru mama nih makin tua" ucap sofia


"mas lian harus dikabari ma..."


"iya bener"


menghubungi lalu mengatakan jika dirinya sedang hamil, lian terburu pulang karna selain ia bebas tugas, ia pun bosan dikantor, akhirnya pulang mengantarkan irly cek kandungan


dan setelah sampai dirumah sakit, benar saja, irly tengah hamil ketiga anak kelima


saat akan pengajian seperti biasa kehamilan bulan ketiga..


seusainya irly meminta diantarkan lian pada rumah ibunya...


dan kebetulan oh kebetulan terjadi lagi..


dimana ibu nya, jainun terlihat sedang asik bercumbu di rumah nya bersama lelaki yang sempat ia jodohkan dengan irly..


yaitu eka.. yaaa.. nurdin eka yang tak bisa memiliki irly justru memacari ibu irly..


"ibuk" ucap irly


jainun menoleh  begitupun eka


"eka" ucap irly kaget


"kamu ngapain kesini lagi?" tanya jainun kasar


"aku mau kasih makanan buat ibu, sama kasih kabar aku hamil anak ke tiga" jelas irly


"pergi, sejak kamu pilih lelaki ini, kamu bukan lagi anak saya.. pergi"


"ibu, ada hubungan sama eka?"


"urusan saya... sana pergi, saya gak butuh makanan sial ini, pergi..."


jainun menarik tangan irly dan mengusirnya..


"untung saja irly bersamaku, memilihku, bukan kamu" ucap lian pada eka


"biar kamu juga irly tau, jika saya mendendam, saya lakukan semua cara" ucap eka


"lelaki ba...."


"kau juga pergi, kalian jangan pernag injak kaki kalian, saya gak sudi, pergi" ucap jainun menarik tangan eka masuk


terlihat eka sedang berada di atas kemenangannya, tapi itu tidak akan berlangsung lama..


"kan aku dari awal gak srek kamu minta dateng kesini, tapi mana mungkin aku melarang kamu menemui ibumu" ucap lian


irly menangis dipelukan lian, sembari berjalan kearah mobilnya yang terparkir lumayan jauh karna untuk mobil tak bisa masuk ke gang yang tak terlalu lebar itu


"irly" teriak beberapa ibu tetangga jainun


"irly tinggal dimana, saya belum sempat lihat anak kamu, waktu kamu hamil kemaren, saya liat kamu dipasar tapi saya takut salah, jadi saya diam aja"


"saya tinggal diujung warung bibi"


"oh daerah pasar mingguan yang..."


"iya, daerah tanya aja bu, rumah pak lian, suami saya, orang sana kenal saya sebutan bu lian"


"oh. iya nanti saya main boleh kan?"


"boleh bu"


melihat wajah yang berbeda dari irly


"kamu dari rumah ibu kamu?"


"iya bu.."


"kamu nangis karna ulah ibumu lagi?"


"enggak papa kok bu"


"kamu yang sabar ya, memang ibumu sering begitu kok, kamu sabar aja... sekarang hidupmu enak ir.. semua pasti akan ada saja hikmah" ucap bu makmur, istri dari satpol pp setempat


"ya buk.."


"makasih nak, sudah jadi suami baik buat irly, saya bertahun tahun jadi tetangga mereka, gak pernah liat irky bisa senyum sedikit, yang ada dimarahin, diomeli, di caci, dibenci, dijelekkan orangtua nya sendiri, jangan sakiti dia ya nak.." ucap bu makmur pada suami irly, lian


"ya bu, makasih perhatiannya.. nanti saya tunggu main kerumah ya" ucap lian


"oh jelas.. mungkin sabtu sore minggu depan, suami saya bebas tugas.."

__ADS_1


"oh iya..  kami permisi dulu kalau begitu bu" pamit lian dan irly


__ADS_2