Satu Nama Sebuah Kisah

Satu Nama Sebuah Kisah
ETS #10


__ADS_3

"em duduk dulu deh, yuk" ajak irly


"enggak kak, aku ngembalikan ini aja, kata teman temanku dari kakak kan? makasih kak buat semua tapi gak perlu"


melihat isi dalam bingkisan, lian turut menyambar lagi


"bener kamu, gak pantes nerimanya" jawab lian


"maaas" ucap irly


"kenapa fan?"


"gak pantes kak semahal itu kasih ke anak seperti aku"


"bagus sadar.. kamu tau yang kamu perbuat dulu menyusahkan istri saya.."


"mas..." ucap irly


"udah sayang, diem ya, kamu istriku, nurut sama suami" ucap lian


irly hanya terdiam


"kamu, taruh situ barang itu, pergi dari rumah saya"


"maaf menganggu" ucap irfan


setelah irfan pergi


"yaaang..." ucap irly


"emmm.. sori sori, bukan maksud ikut campur nih, itu tadi adik kamu kan ir, yaa aku tau kok ceritakamu dari siska, tapi kayaknya kamu gak perlu sampek segitu deh lian" ucap saski


"ya kalo kamu tau harusnya ya kamu lebih emosi dari saya, hanya saja kamu sekarang gak diposisi ini, tapi saya diposisi ini, saya gak kasar tadi untung"


irly memeluk tubuh lian berharap lian tak larut dalam emosinya...


irfan pergi dengan penuh pikiran diotaknya


"memang pantas tetangga kak iroy menyangka aku akan daftar jadi supir atau tukang kebunnya" ucap nya dalam hati...


irfan duduk dibangku taman...tak jauh dari rumah irly


"bahkan bang lian, dulu benar benar miskin, tak ada yang bisa diharapkan, tattonya, gaya slengeknya, dan image dibeberapa teman nongkrongnya tapi bisa membuat kak irly bahagia seperti sekarang, mencintai kak irly, walau bertatto dan garang. cuman dia yang peduli pada kak irly.. " ucapnya lagi dalam hati


beberapa hari setelah lama tak terlihat... irly tak lagi pernah bertemu adiknya, menurut beberapa temannya irfan pindah kekota lain


"emang dapat kerja disana?" tanya irly


"mungkin kak, kan dia harus tanggung jawab sama anak yang dikandung daniar"


"daniar?"


"itu pacarnya kak, daniar hamil sama irfan, jadi irfan harus mencari uang seabrek"


"terus daniar sekarang dimana?"


"ya ikut irfan kak..."


sejak hari itu.. irly tak pagi bertemu irfan... selang beberapa lama ketika irly menceritakan tentang perasaannya yang tak sama sekali membenci siapapun entah adiknya, kakaknya, ataupun ibunya..


irly memposting sebuah kata-kata yang benar benar menyentuh hati banyak orang pasti


saya seorang manusia biasa..


bukan manusia super, manusia hero..


tapi aku hanya berusaha bertahan dikala aku dibawa dan ketika diatas aku tak pernah membenci siapapun mereka menghinaku, mencaci, bahkan tak menghargaiku..


itu bagaikan makanan sehari hariku..


aku adik, juga kakak, bahkan anak dari mereka yang tak menginginkan aku ada..


anggaplah aku ketika aku sudah bisa memberikan yang kalian mau.. bukan justru menghilang...


dan ketika daniar membaca itu


daniar :


kak.. ini aku, daniar, maafin irfan tak memberitahumu kepergian kami, tapi kakak tenang aja, aku jagain irfan.. aku udah tau semua cerita tentang kakak dan irfan... aku sempat benci kakak jujur aja.. aku pikir kakak sainganku.. hehe.. kakak gausah kuatir sama irfan ya


irly :


kamu benar daniar? syukurlah, aku boleh menyimpan kontakmu, biar nanti aku rindu irfan aku bisa tanya padamu


urusan irfan, daniar bisa memberikan Beberapa informasi kepada irly tanpa sepengetahuan irfan...


irly :

__ADS_1


daniar, kakak boleh minta bantu kamu tanya sama irfan ada dimana ismail, kakakku juga kakak irfan yang pertama


daniar :


bisa kak.. nanti aku kabari lagi


daniar mendekati arah irfan


"yang.."


"iya"


"kenapa sih kita harus lari dari kak i


irly?"


"aku gak mau terus merepotkan dia, dia gak masalah, tapi aku yang merasakan.. aku malu sama diriku sendiri didepan kak irly"


"em.. kamu sabar ya..."


terdiam sejenak


"terus bukannya kamu punya dua kakak?"


"iya"


"lah satunya sama siapa? sama ibu?"


"enggak... kak ismail, anak pertama, kakakku pertama tinggal di kontrakan, sekarang tinggal didaerah dusun melipat.."


"oh. emang kerja apa? sama istrinya disana?"


"kerja dipenjaga bensin eceran yaa dibengkel sih, tapi dia fokus ke bensinnya emang"


"oh... em.."


dan bak kata mutiara menjadi nyata


pucuk dicinta ulam pun tiba


tak butuh waktu lama... bahkan diwaktu yang sama, irly mendapatkan kabar melalui daniar


mendapatkan alamatnya, irly menunggu waktu yang pas untuk mencari keberadaan ismail


namun sesampainya ditempat yang dimaksud, yang membuka pintu rumahnya adalah istri ismail


"kamu... bibik? kok beda" tanya mahrani..


"saya irly"


"yaa saya tau kamu irly, kamu kan pembantunya mas mail?"


"saya adiknya, saya tau yang diucap dan diakui siapa diri saya pada kamu, tapi benarnya saya keluarga mereka"


irly menunjukkan kartu keluarga lamanya


"ha.. jadi kamu"


"yaa"


merasa malu juga tak enak karna dulunya ia juga pernah menyuruh semenah menah kepada irly..


"nanti saya ceritakan tentang saya dikeluarga saya dan kak mail, ngomong ngomong kak mail disini?" tanya nya


"mail udah gak disini"


"loh kemana ya kak ran?"


"dia sama saya udah cerai"


"cerai?"


"kok daniar gak bilang apa apa?" ucapnya pelan


"iya.. cerai, jujur aja sama kamu ir.. saya gak bisa hidup susah, mana dibebani dua anak, belum juga ibu kan tua, bukan saya jahat sama kakakmu, tapi sejak kita bangkrut, dia gak mau usaha apa kek, cari itu kerjaan apa kek. enggak ir, jadi buat apa dipertahankan?"


"maafin aku ya kak, jadi menyinggung..."


"gakpapa, kamu kan adiknya juga perlu tau soal kami"


hari demi hari, irly sering berkunjung kerumah mahrani, istri kakaknya


"kamu sering kesini, sering belikan saya dan anak anak juga ibu saya makanan, baju, jajan nya anak anak.. kamu gak takut nyesel, kan aku pernah semenah menah sama kamu dulu"


"kak, itu masa lalu ada kalanya kita harus melupakan yang pahit kan, udah kak jangan dibahas aku nya juga hepi liat anak anak seneng"


terdiam sejenak melihat irly bercanda tawa dengan kedua anaknya..

__ADS_1


"kenapa kamu lakuin ini? kita orang asing" tanya rani


"kenapa saya lakuin ini? ya karna anak anaknya kak ismail juga anak aku kak... kok bisa bilang orang lain, ya enggak lah, kita tetep keluarga dengan hadirnya anak anak ini"


hari terus berjalan....


melihat kedekatan anak kembar pertama dari irly, dan irly terlihat penuh kasih sayang dengan keibuannya


"irly" ucap rani memeluk irly


"kak...."


"maafin aku ya sudah merepotkan kamu, juga maafkan ismail ngelakuin hal hal jahat dulu sama kamu"


"kakak ini, udah kak, jangan kita bahas yang sedih, yang bikin nangis.."


irly dan rani saling berpelukan dan disusul anak anak mereka


"yang penting kak, buat seorang ibu ya kebahagiaan anak kan, saya tau posisi kak rani, tapi bukannya lebih baik berdua melewati waktu mengasuh anak? daripada harus sendiri, belum lagi kalo anak anak masih tanya tanya bapaknya"


irly memberikan masukan kepada rani tentang mengalah didalam rumah tangga besar pengaruhnya, tak ada kata percuma, sekecil apapun itu akan terasa besar kepada anak anak


"gak ada yang mau perceraian kak, tapi selama bisa diselesaikan dengan kepala dingin namun dengan kehangatan keluarga kecil akan terasa bisa dijalani berat apapun itu" ucap irly


berkat masukan dan beberapa nasehat dari adik iparnya.. rani mulai menghubungi ismail...


"kamu tumben ajak aku ketemuan? anak anak gakpapa kan?" ucap ismail


rani menyentuh tangan ismail, dan meminta maaf


"maafin aku, aku gak bermaksud untuk memisahkan kamu dengan anak anak mu, tapi aku hanya berpikir pendek saat itu, aku kasih kesempatan kamu baikan sama kau, dan menjadi suami ku tapi dengan syarat... aku gak mau kamu nganggur.. aku mau kamu kerja, apapun itu..."


"kamu seriusan, beneran kan?"


"iya"


"kerja apapun ya.. aku bisa cuman kamu beneran gak malu kan apapun kerjaanku?"


"iya... kenapa? kamu mau kerja jadi supir angkot?"


"hehe iya.. gimana?"


"asalkan kamu kerja.. berusaha buat makan sehari hari anak anak aku terima"


mereka pun Berpelukan, dan kembali rujuk, untung tak sampai ke meja hijau perceraian..


beberapa hari setelah mereka kembali rujuk dan ismail kembali ke rumah bersama istrinya..


irly mendekati arah ismaip yang bersiap untuk kerja dihari pertamanya


"kak" sapa irly


melihat dengan teliti, dari atas sampau bawah kakinya, ismail tanpa berkata hanya bingung


"kerja pertama ya kak? ini aku bawain makanan, juga buat kak rani sama anak anak udah kusiapin sendiri" ucap irly


ismail melihat kearah rani, istrinya


rani yang mengerti maksud mail pun mendekati keduanya


"dia irly" jawab singkat rani pada mail


mendengar ucapan rani, ismail hanya terdiam kaget, membelalakkan matanya


"dia irly, pembantu kamu yang selama ini bantu aku dan anak anak.."


"ir..irly...." ucap ismail gagap


"dan harus kamu, irly, pembantu kamu ini yang menyadarkan aku jika aku masih butuh kamu"


mail menarik nafasnya dan mulai menanya kan apa tujuan irly


"kamu mau apa? mau rusak keluarga saya? balas dendam dengan perlakuan saya masa lalu?" tanya mail


"hei.. justru dia yang membuat kita kembali utuh seperti sekarang, harusnya kamu berterima kasih karna dia aku bisa menerima kamu" bentak rani


"oh ini rencana kamu, pengaruhi istriku, lalu menyuruh nya mendekatiku lagi supaya kamu terlihat baik didepannya?"


rani menampar pipi kanan ismail


"dia orang yang seharusnya bisa dengan mudah menghancurkan kamu menjadi benar benar hancur lebur, tapi dia merekatkan nya bukan malah Menghancurkannya.. saya tau dia sekalipun saya baru kenal siapa dia.."


"kak.. gak papa, udah, maafin aku kalo aku datang buat kalian balik tengkar, aku cuman kangen sama kak ismail, sama irfan, juga sama ibuk" ucap irly


irly berlalu meninggalkan keduanya


"kamu dengar dia? dimana hati kamu hah? saya tanya dimana hati kamu? dimana hati keluarga kamu"

__ADS_1


__ADS_2