Satu Nama Sebuah Kisah

Satu Nama Sebuah Kisah
IGGK #3


__ADS_3

"Baik kak"


Tak lama pesanan siap dan aku mengantar, saat aku keluar dapur, aku berpapasan dengan Pras


"Kumala?" Panggil nya


"Wait, one second" ucapku


"Okay"


Aku menuju pelanggan komplain tadi


"Silahkan bapak, maaf terlalu cepat satu menit" ucapku menyodorkan pesanan


"Okay, saya cicip"


Setelah mencicipi, aku berharap pas


Dan akhirnya pas juga


"Okay, ini baru, saya suka, kamu siapa?" Tanya customer


"Saya Kumala pak" ucapku


"Oh baik, saya agung, salam kenal, oh iya ini kartu nama saya, perlu apa-apa bilang, karna saya suka masakan dan service mu"


"Baik pak"


"Bayar ke kasir depan?"


"Iya pak"


"Okeh, ini tips untukmu"


"Oh gak usah pak gak papa"


"Udah terima lah"


"Baik pak makasih"


Tak lama Pras mendatangiku


"Udah, yang beresin lainnya, ini sudah jam tiga lebih kenapa masih belum pulang?" Tanya pras


"Iya pak tadi ada pelanggan kan saya juga bantu biar nama baik kafee juga terjaga"


"Yaudah biar dimas yang beresin kamu pulang, istirahat, saya nantik pulang jam 4 soalnya"


"Baik pak"


"Dimas" ucap Pras panggil Dimas


"Iya pak"


"Beresin ini, bawa ke belakang, nanti selesai shif kamu bilang sama shif lain tolong jika ada pelanggan lagi jangan libatkan pegawai lain yang harusnya pulang"


"Baik pak"


"Pak Pras, ini mau ku pak" ucapku bisik


"Udah kamu sana pulang"


"Baik"


Aku pun pulang, beristirahat sejenak..


Capek sekali dirasa hari ini, dimana pelanggan penuh, dan banyak service yang membutuhkan aku, lelah Hayati rasanya


Aku menuju rumahnya Pras..


Sesampainya.. pak Pras belum pulang ternyata, hanya ada keponakan Pras yang seumuran aku disana, Frans namanya


"Om mana kak mal" tanya frans


"Mungkin dijalan"


"Oh"


Frans keponakan Pras yang tinggal dengan Pras karna keluarga mereka yang tersisa hanya Pras dan Frans karna yang lain korban dari kecelakaan dan beberapa lainnya pembantaian perampok


Miris memang, itu alasan ku mau membantu Pras juga


Tak lama Pras datang..


"Kumala" panggil nya


"Iya pak"


"Tadi siapa?"


"Yang mana pak?"


"Yang terakhir"


"Itu pelanggan, tadi komplain sama Anjani, saya bantu kebetulan dia suka masakan saya dan service dari saya, jadi saya diberi kartu nama nya"


"Kenapa kamu mau bukannya sudah waktumu pulang"


"Kewajiban ku pak membuat nama baik kafee dan resto mild terjaga, coba saya tadi tidak unjuk Gigi bukannya customer pulang dengan kecewa akhirnya tak mau lagi datang dan banyak yang tak lagi jadi pelanggan"


Mendengar penjelasan ku, Pras terdiam, mungkin merasa aku benar, makanya dia diam


"Pak.. saya lanjut bersih-bersih nya" ucapku


"Oh iya"


Sekitar pukul delapan malam..


"Mal, kamu beres beres saya mau cari makan di luar aja kamu temeni" ucap Pras


"Oh okeh pras"


Setelah bersiap-siap


"Mau kemana pras"


"Cari makan, di langganan nasi goreng mu gimana?"

__ADS_1


"Diyon?"


"Iya, gimana"


"Bisa, boleh boleh"


Setelah sesampainya, aku pesan, dan setelah makan Pras mengantar kan ku pulang


"Loh kok kerumah saya pras, kan besok pagi saya baru pulang" ucapku


"Kamu istirahat aja untuk malam ini, jangan dirumah, biar gak drop, saya tidak mau kamu kenapa-napa"


"Oh makasih Pras"


Sejak aku bekerja dengan Pras, memang aku membatasi keakraban ku dengan sedikit kesopanan, karna memang harusnya begitu, sesampainya dirumah, beberapa warga melihatku turun dari mobil mewah..


Jelas besoknya pasti akan ramai sudah..


Esok pagi nya saat aku belanja untuk sarapan ibu dan ayah dirumah, bertemu warga


"Neng, semalem pulang sama siapa?" Tanya salah satu warga


"Bos saya buk, nganter saya pulang semalam" jawabku santai


Beberapa lainnya saling berbisik yang ku heran sampai sedikit terdengar di telingaku, apa itu disebut berbisik?


"Bos nya, ya bener sudah artinya, si Kumala jadi simpanan, yang kita liat semalam kan gagah begitu, ya mungkin dipelihara" bisik beberapa tetangga


"Pak ini aja, berapa jadi totalnya" ucapku


"Oh iya neng, 300 ribu ajah"


Aku membuka dompet yang ternyata diintip tetangga yang berdiri disebelah ku


"Iya duitnya banyak pula, masak nya banyak, kan Bu mistin kalo masak sama belanjanya biasa aja gak sampek 300 an" bisik beberapa lagi


"Mari pak, makasih" ucapku


Aku berlalu, terserah mereka bilang apa, aku tidak seperti mereka tuduh..


Aku langsung masuk dapur dan mulai memasak..


Tiba-tiba ibu menghampiriku


"Kamu belanja banyak sekali Mala?" Ucapnya


"Iya buk, ini kan buat sarapan kita, kerja Mala juga udah mulai mengangkat ekonomi, jadi gak papa kan buk"


"Iya, tapi beberapa hari lalu, ibu di hujani banyak pertanyaan warga soal kamu kerja malam, kamu beneran kerja kan mal, dimana kerjanya?"


"Ibu, ibuk tenang aja ya, Mala beneran kerja buk, kerjaan Mala bersih kok buk"


"Lalu yang semalam?"


"Itu bos Mala buk di kafee"


"Oh,ya kapan-kapan suruh masuk lah"


"Mana mau buk, dia itu orang kaya, gakkan mau masuk rumah kita yang kecil ini"


"Gitu ya, orang kaya, oh"


"Yaudah ibu ke meja ya"


Karna keadaan rumahku yang terlalu kecil, padahal tanah ke belakang masih lebar, membuat makan dan ruang tamu jadi satu, terkadang juga kamar pun jadi ruang makan kami, televisi tak ada, radio pun tak ada, berinisiatif mencicil untuk membenahi rumah, aku menyisihkan uang dari hasil ku kerja..


Beberapa bulan kemudian, aku mulai merenovasi lantai ku yang hanya terbuat dari tanah, lalu mrngkramik, lalu membenahi toilet, menambah ruangan seperti ruang makan sendiri, ruang tivi sendiri, dan dapur, dan kamar satu lagi dan masih banyak lainnya..


"Kamu kerja rajin sekali nak, kita benar-benar sudah berubah" ucap ibu


Tapi saat mulai merintis ekonomi, ayah meninggalkan aku dan ibu berdua, Sanghyang Widhi sedang menguji kami sekaligus menyayangi ayah dengan cara ini


Lagi dan lagi melihat perubahan ekonomi ku, membuat tetangga semakin yakin aku bekerja menjadi simpanan pejabat, pengusaha, dll


Terserah mereka beranggapan apa saja, aku hanya menjalani hidup yang keras dengan keras pula, jika tidak mau sampai kapan aku berputar dalam keadaan ini


Tak lama ponselku berdering


"Kumala, jangan ke kafee langsung kerumah saja, aku baru pulang dari luar kota" ucap pras


"Oh iya Pras, aku langsung ke rumahmu"


"Yaudah"


Hari ini Pras baru pulang dari Jogja, ada meeting disana dengan beberapa klien nya, dan aku harus datang ke rumahnya tanpa harus ke kafee..


Itulah enak nya pekerjaanku


Saat sedang jalan, aku bertemu dengan frans.. keponakan Pras


"Mala" panggilnya


"Frans, kok disini?"


"Iya tadi dari rumah temen, mau kemana"


"Kerumahmu, kan Pras pulang jadi aku gak perlu ke kafee katanya"


"Iyaa iyaa, yaudah naik motor ku aja, kita bareng"


"Gak papa nih"


"Ya lah, kan kamu mau ke rumahku juga"


"Yaudah"


Aku menuju rumah Pras dengan frans


"Sepedamu kemana?" Tanya frans


"Gak tau, lagi rewel"


"Oh, udah dibawa bengkel"


"Belum"


"Kenapa?"

__ADS_1


"Belum ada waktu"


"Oh"


Sesampainya dirumah pras..


"Aku datang telat?" Tanyaku kepada pras


"Gak, pas, naik apa"


"Bareng aku Om" sambar frans


"Kok bisa"


"Iya tadi dari rumah Reni, ketemu dia, ya bareng"


"Oh"


"Yaudah aku ke dapur"


"Eh masakin telor ayam aja ya, dua biji, yang matang, aku gak suka yang meler mal" ucap Pras


"Oh iya deh"


"Mala, aku juga deh, di lemari es ada sosis kan, masak juga buat aku" ucap frans


"Iya" jawabku


Aku pun mulai memasak, dan menyediakan makanan, aku panggil Pras dan Frans lalu kutinggal..


"Mau kemana" tanya Pras


"Nyiram tanaman Pras"


"Loh kamu gak masak untuk mu sendiri?"


"Enggak Pras, tadi udah sarapan"


"Oh yaudah"


"Ku tinggal ya"


"Ya ya"


Aku menuju taman samping rumah terletak beberapa bunga peninggalan ibu Pras disana, aku yang menggantikan ibu nya merawat beberapa tanaman nya


Tak lama aku melihat frans duduk di teras depan rumah dengan secangkir kopi buatan ku tadi


"Udah sarapan frans" tanyaku


"Udah mal, tinggal Om Pras tuh"


"Oh yaudah"


Berjam-jam frans duduk disana, dari aku menyiram sampai aku sudah membersihkan seluruh isi rumahnya


"Frans, gak kuliah?" Tanyaku


"Gak, lagi malas" jawab frans


"Jam kosong ya"


"Maybe, selama dua hari, jenuh gak kalo gitu" ucap frans


"Oh"


"Mala"


"Ya frans"


"Aku pengen soto, itu yang diujung jalan perempatan depan pasar"


"Oh disitu, yaudah sini aku belikan" ucapku


"Minta gih sama Om Pras, bilang aku yang suruh" ucap frans


"Oh yaudah"


Aku menuju ke arah Pras yang sedang sibuk dengan laptop nya


"Eh Mala, ini kamu belikan aku selotip, disamping penjual es campur, belikan. Juga ni es campur nya tiga deh" ucap Pras


"Oh ya Pras.. em Pras, makan siang sama apa?" Tanyaku


"Terserah sudah kamu mau masak apa"


"Frans minta soto tadi"


"Soto?"


"Iya, yang ada diujung perempatan depan pasar"


"Oh yaudah belikan, nih uangnya, sekalian buat makan siang dah sotonya"


"Okeh"


Aku berangkat dengan berjalan kaki, karna jarak tidak terlalu jauh,


Sesampainya di warung..


"Pak" ucapku


"Eh mbak nya, cari apa mbak?"


"Ini pak, soto kuah gak usah pakai nasi, kuahnya aja beli 20ribu ya" ucapku


"Oh iya mbak, tunggu nggeh"


Karna datang akhir maka harus bersabar menunggu giliran dibikin kan pesanan


Terlihat ada seorang lelaki yang memesan makan melirik ke arah ku, tapi saat aku liat dia memalingkan wajahnya, begitu seterusnya sampai akhirnya si bapak penjual bertanya lauk apa yang akan dipesan untuk nasi pecelnya ia tak hiraukan dan terkaget dengan sendirinya


Membuatku ingin tertawa tapi aneh sih, jadi aku diam saja dari pada aku salah


"20 ribu ya neng" tanya bapak penjual


"Ya pak"

__ADS_1


Setelah di racik sotonya dan selesai lalu ku bayar dan pulang tinggal membeli selotip dan es campur nya


__ADS_2