
siapa yang mengurus kebutuhan keluarga ini?
bagaimana jadinya ketika aku tak disini?
dan disitu aku harus bangkit, aku harus bangun dari jatuhku, aku melanjutkan usaha ayahku dan setelah aku lulus kuliah. aku bisa fokus dengan keluargaku dan kerja sampingan usahaku yang aku percayakan pada sahabat sekaligus sepupu dan tetangga terdekatku yaitu Gina..
"Embun.. ini buat lampirannya" kata Gina
"oh iya bener, yaudah kamu tulis saja kelanjutannya, ini pakai tangan kan"
Gina yang akan melaporkan segala pengurusan dan keuangan kepadaku, aku hanya menunggunya dirumah sembari mengurus keluargaku..
walaupun aku terlahir di tengah mereka, aku bangga aku menjadi bagian dari mereka, bagaimana pun rumah yang tidak layak bagi orang lain yang dipandang mereka sebelah mata, aku bahagia disana
seandainya mereka normal, mereka orang orang yang peduli padaku, perhatian, juga sayang padaku, bukti kecilnya ketika aku telat makan atau bahkan lupa.. mereka mengingatkanku..
ketika sore hari, aku duduk sendiri ditaman kecil milikku didepan rumahku, aku yang mengurusinya karna Mentari, adikku pertama suka dengan bunga bunga juga tanaman lainnya
hari itu, aku diam memandangi langit sore..
kadang aku berfikir, aku tak ada waktu untuk bahagia ku, waktu ku habis untuk mereka, lalu kapan aku hidup sendiri dengan penuh ketenangan.
apa suamiku nanti akan mengerti kondisi ku?
apa aku justru tak dipandang dan dilirik karna keluargaku..
pikiran negatif mengikuti alur langkahku menginjak tanah bumi setiap hari nya...
tiba tiba suara teriakan terdengar
"kaaak Embun... kemana kucing ku? kemana kemana mpuus?" teriak Kejora
"deeek.. kan tadi udah kita bawa kesalon, udah bilang kan selesainya dua jam lagi bisa diambil"
"ha.. dimana? ayok kesana, kamu pasti boong, tadi sama aku duduk nonton tivi"
"raa.. apaan sih.. kan tadi kakak sudah bilang kepadamu"
"beneran, makanya ayok kak Embun, aku tau kamu boong kan"
"yaudah ayok"
ketika sampai salon hewan dan benar saja ada disana
"mpuus sudah kak?" tanya Embun kepada perawat disana
"sudah kak, tunggu saja 5 menit"
dan ketika perawat mengantarkan mpuus
btw. mpuus nama kucingnya ya
"mpuuus ahhh aku kuatir kemana, tadi mpuus kan disamping aku.. kenapa disini? "
Kejora berjalan menggendong mpuus, kucing nya itu, sambil bicara sendiri bak orang gila
"kak, makasih ya, maaf kakak saya memang terlalu sayang sama kucingnya" ucapku menutupi adikku
"iya kak gakpapa, sangat sayang kucing yaa adiknya"
"haha begitulah"
ketika sampai rumah, aku beristirahat..
kurasa aku tertidur beberapa menit, suara telfon terdengar
"halo" ucap ku
"emm.."
hanya terdengar suara emm ditelingaku, dia tidak mengatakan apapun, dasar iseng, aku menutupnya dan aku kembali tidur...
baru saja menjatuhkan kepala ku kebantal, suara gesekan didepan pintu kamarku terdengar...
ah itu pasti Mentari atau Kejora..
aku bangun dan membukanya, benar saja, itu Kejora yang menyodorkan botol susu kepadaku tanda ia ingin susu
aku membuatkannya, dengan mata sedikit sipit karna menahan ngantuk, ketika aku balik ke kamar ku, terlihat Kejora sudah mengangkat telfon dari ponselku
"ra siapa itu" teriakku kaget
"kakak... ini" kata Kejora dengan polosnya membuat aku tidak tega memarahinya
dan ternyata dinomor yang sama saat tadi menelfonku dengan hanya menjawab "emm"
jadi karna merasa terganggu, aku memblokir nomornya saja
beberapa hari kemudian tante ku, tante Mina dan anak nya yaitu Yana datang menjenguk ayah..
"gimana Embun, mama papa kamu?" tanya tante Mina disama
"baik kok.." jawab ku
__ADS_1
"papa gak ada perkembangan?"
"papa gitu saja lah tan, susah, diajarin, kalo gagal udah nyerah gak mau lagi"
"kebiasaan, egoisnya masih dipake aja, gak ada lah usaha buat kembali memang. masih aja dipakai keras kepala nya itu" gerutunya
enak mengobrol, tiba tiba Yanna menyapa seseorang disampingnya yang ku lihat tak ada siapapun, anak ini indigo? aku saja tidak tau, aku baru tau saja
"kamu mau main dibelakang rumah? ayok" jawab Yana anak tanteku itu
"oh bicara sendiri?" tanya ku
"iya bilang sendiri aja" jawab tante Mina
"emang apa?" tanya ku
"temen Yana bilang, kamu itu udah cantik, baik, juga tulus" jelas tante Mina
"ehmm" ucapku seketika kebingungan, antara takut dan gimana lagi, karna tidak ada lagi orang selain aku, Yanna dan tante Mina
"tapi dia mau ikut kamu, cuman gak mau nyusahin, karna kamu gak bisa liat dia, jadi dia yang susah kalo kamu ngomong" tambah tante Mina
"terus?" jawabku bingung plus takut
"cuman mau bilang dia suka sama kamu"
"makasih" jawabku
padahal dalam hatiku, aku sangat ingin teriak ketakutan bahkan tante ku dan keluarga kecilnya adalah seorang indigo
benar kan kata ku, akulah yang normal dikeluargaku
suara ketukan menyelamatkanku, aku berjalan menuju pintu, namun baru membuka pintu kamar ayah.. terdengar suara teriakan didepan teras..
aku berlari menuju teras yang ternyata sudah ada Mentari dan lelaki asing yang sudah tergeletak di lantai..
"tari?.. ada apa?" tanyaku
"dia ngetuk pintu kak"
"ya kan siapa tau tetangga, atau siapa kenapa asal pukul kamu ini?"
"kan tari gak kenal, orang gak dikenal jahat kan aku gak tau kak"
"tari... udah ah bantu kakak bawa masuk"
aku menunggu lelaki pingsan karna pukulan adikku itu sadar, cukup lama hingga ia sadar dimenit ke 30..
ia terbangun mengelus jidat nya, pasti kesakitan...
"aku?"
"yaaa.. kamu didalam rumahku!"
"kenapa tiba tiba aku diserang?"
"kamu siapa tiba tiba datang?"
"aku dari kemaren telfon, dapat info kalo ada lowongan pekerjaan untuk klining servis dikost kost.an"
"ha.. kamu bercanda?"
"masak iya bercanda?"
"bentar, bentukan kaya kamu mau kerja jadi OB di kost ku?"
"oh jadi itu milikmu?"
"iya.. kamu maksudnya mau ngekost gitu tah?"
"mau ambil kerjaan cleaning servis bukan nyari kost"
beberapa hari lalu aku memang mengirim ke pusat lowongan pekerjaan membuka pekerjaan dibagian cleaning servis untuk kost ku, jadi untuk yang ngekost bisa fokus hanya dengan membersihkan kamar masing masing..
tapi apa mungkin lelaki putih, tinggi, wangi semerbak kek mandi parfum begini kerja jadi tukang pel, tukang sapu? mana ada?
"ada kan masih?" tanyanya lagi memperjelas
"masih sih, justru kamu orang pertama yang datang kerumahku ini"
"nah, jadi gimana? saya bawa lamaran"
karna aku penasaran, aku ambillah lamaran dan riwayat pekerjaan lelaki itu yang ternyata sama sekali belum bekerja
"kamu belum perna kerja?" tanyaku
"belum, harus yang berpengalaman ya kak?"
"ya enggak sih, saya cuman liat aja riwayatmu, tapi bukan dominan yang pengalaman kok, yaudah kulai senin lusa ya datang.. ini alamat kost nya. dan kalo bisa ajak beberapa temen kamu"
"makasih kak..."
"haaaaaaaai hahahai haihai" teriak Mentari
__ADS_1
"tari.."
terlihat wajah lelaki yang bernama Ruseldi Nichole itu kaget..
"emm kamu boleh pergi deh, saya terima kamu dan besok bisa mulai bekerja" kata ku
"pakai bajunya kak?"
"bajunya bebas saja lah, kan hanya tugasmu nanti bersih bersih saja"
dan ketika Ruseldi pergi namun masih penasaran, ia berjalan pelan memperhatikan ku dan aku tak perduli, aku mengangkat Mentari dan membawa nya ke kursi tamu ku
dua hari berlalu, tepat hari ini Ruseldi hari pertama bekerja, ia yang datang pagi mengetuk pintu utama di kost kosan
"bukain dong Gin.. itu Ruseldi kataku yang kemarin" ucapku kepada Gina
"iya kak"
"selamat pagi" sapa Ruseldi kepada Gina
"pagi, masuk kak, kak Embun sudah menunggu" jawab Gina
"kamu kan masih kurang sejam" sambar ku kepadanya
"iya gini kak.. saya bawa adik saya.. dia berhenti kerja karna atasanya semenah menah" jawab Ruseldi
"ya terus?"
"bekerja sama saya boleh ya? biarkan saja uang bayarannya setengah setengah dari saya"
"oh boleh, masuk, sejam lagi langsung kerja, jadi duduk saja dulu disini ya santai"
ketika mereka sudah mulai kerja..
"kak.. kenapa gak tanya pengalaman saya langsung diterima?" tanya adik Ruseldi disana
"ya kakak kamu yang melamar pertama jadi saya percaya setiap orang berhak dapat kesempatan"
"kakak namanya Embun ya?"
"iya.. kamu siapa?"
"saya Lusina"
"oh salam kenal ya Lusina"
"ya kak"
hari tentu terus berjalan..
Lusina dan Ruseldi bekerja di kost ku selama delapan bulan hingga suatu ketika Lusina menyisihkan uangnya untuk membelikan martabak telor untuk ku.l
sebagai ucapan terima kasihnya karna dipercaya, selain itu tak jarang Lusina mendapat perhatian dari ku melebihi kakaknya, itu kata nya sih waktu curhat kepadaku
dan saat Lusina menuju rumah ku, diteras sudah ada kak Sinar
"permisi" ucap Lusina
"ya"
"emm... kak Embun nya?"
"Embun? siapa kamu?"
"saya kerja di kostnya"
"kost apa?"
"kost milik kak Embun"
"bukan punya Embun, punya papa.. karna papa sakit aja jadi diurusin sama Embun"
"oh iya itu kak maksud saya"
"hayo siapa kamu" tanya Kejora
dan seketika Lusina semakin kaget..
"kak.. makannya sudah siap.. dimeja ya, raa ayo belajar... kakak udah siapin yang akan kamu kerjakan" ucapku
setelah keduanya pergi..
aku berusaha menutupi.. namun Lusina adalah orang yang sangat peka akan situasi..
ia meyakinkan aku jika ia bisa menjadi tempat curhatku...
seiring berjalannya waktu, Lusina mampu menjadi partner terbaik bagi ku..
Lusina tau betul bagaimana posisi ku saat ini, itulah alasannya selalu memasakkan makanan dan membawakan untuk ku walaupun tak setiap hari..
kukira aku hanya beruntung mendapat teman baru sepertinya.. tapi keberuntungan ku berlipat ganda.. ketika aku tau Ruseldi mengatakan menyukai ku sejak lama.. dan bahkan ia berani mengatakannya karna bilang kalau aku tidak seperti bersikap kepada bawahanku
aku berpikir semua orang sama kan? sama semua dimata Tuhan
__ADS_1
dan suatu ketika rahasia keluarga terbongkar..
mereka mengaku dari orang miskin, namun sebenarnya mereka memiliki keluarga utuh namun semua sibuk dengan duniawi dan menjadi kaya raya tapi situasi itu membuat ayah ibu mereka kelolosan terus memperdulikan urusan duniawi saja