Satu Nama Sebuah Kisah

Satu Nama Sebuah Kisah
Rayya dan Rayyi


__ADS_3


first story in live : Rayya Chintya Firlina


gadis yang berkarisma dalam dunia perdagangan yang harus meniti hidup nya sendirian sejak kakeknya meninggalkannya sendirian dua bulan sebelum hari kelulusannya..


setelah lulus sekolah memang rayya tak ingin melanjutkan study nya ke kuliah, sekalipun ia mendapatkan beasiswa untuk kuliah gratis..


namun pemikirannya kuliah nya gratis tapi untuk jajan, makan, dan kebutuhan lainnya pasti jadi tanggungan sendiri dan masih bibgung kemana ia cari, dan membuat pikirannya terpecah


karna ia merasa tak kan sanggup, ia pun memilih bekerja dan karna kerja juga cukup susah. ia pun menjadi pekerja yang serabutan, mulai dari kuli panggul, kurir, hingga ia sempat bekerja sebagai buruh cuci, bersih bersih dll...


dan ketika suatu hari ia menunggu cukup lama temannya yang sudah janjian untuk menginap dirumah nya, rayya melihat seorang ibu yang dusuk bersender dilantai depan toko bajunya


"bu.. ini saya ada minuman" kata rayya


"ah.. makasih ya neng, ibu ganti uangnya ya kalau ibu sudah laku" kata si ibu itu


"oh jangan bu, udah ibu minum aja gakpapa"


"terus neng minum apa?"


"saya beli dua bu, tadi sama temen saya, tapi lama gak datang macet mungkin, kalo gak keburu diminum keburu gak dingin bu"


"wah iya makasih ya neng, tapi gak manis kan neng?"


"enggak terlalu manis bu, saya juga gak begitu suka manis"


*neng adalah panggilan untuk anak perempuan muda di jawa


tak lam kemudian, mereka pun mengobrol..


ibu menceritakan jika dagangannya tidak setiap hari laku terjual karna rasa kasian, rayya berniat membantu ibu tarsih si penjual kain itu untuk memasarkan dagangannya


dan saat ia mulai bekerja.. ia mengampiri satu persatu temannya.. dan menawarkan kainnya.. dan mereka pun juga beberapa mengambil dagangan karna membantu rayya


rayya memang pribadi yang baik dan suple, ia tak malu menjajakan dagangan sekalipun dengan jalan kaki, itupun ia tak pernah mengambil untung yang banyak dari standar harga yang diberikan bu tarsih


dan sisanya ia bagi beberapa pecahan uang yang lebih kecil dan memberikan ke masjid butuh sumbangan, ke anak jalanan, yatim piatu, ke orang yang butuh bantuan pada intinya..


dari setengahnya yang ia pegang itupun ia berikan kesalah satu teman dekatnya yang berprofesi disalah satu bank tabungan, untuk kebutuhan nya dimasa depan, dan sebagian lagi peganggannya jika perlu perlu mendadak


"nak..."


"ya bu"


"mau jalan lagi?"


"ya bu.. temen ada yang butuh kain beliin buat anaknya untuk baju pesta, lumayan bu, uangnya"


"makan dulu nak"


"nanti bu"


"kalo gak makan nanti sakit nak"


"enggak bu, nanti kalo inget makan diluar"


"ah kamu, kalo gitu ya ibu yang jadi gaenak, ibu jarang buka toko kainnya kamu malah jalan keliling jajakin jualan ibu, ibu merasa bersalah "


melihat bu tarsih, rayya pun duduk dan memakan masakan bu tarsih karna tak ingin bu tarsih kecewa dan lainnya


"nah kalo gitu ibu tenang.. kamu berangkat sudah makan"


"iya bu.."


setelah makan, rayya pun berangkat..


yaa sejak mengenal bu tarsih, rayya berasa bertemu dengan neneknya yang sudah lama meninggal


pasalnya bu tarsih memiliki jiwa ketulusan, bu tarsih tak rugi memberi makan kepada rayya, dan rayya memang hampir tak pernah makan diluar sejak membantu bu tarsih berjualan kain...


sesampainya dirumah temannya


"ray.. ada kan?"


"ada dong.. coba liat, tapi pilihan dua.."


"emm.. yang mana ya.."


"dua duanya dong"


"ah kamu, mana bisa dua bahan jadi satu.. mana bahannya bertolak belakang"

__ADS_1


"itu kan liat pekerja jahit nya.. bisa bisa aja sih kalo ahli"


"iya sih.. menurut mu apa?"


"kalo aku ya dua duanya biar daganganku cepet habis"


"ah kamu"


cukup lama bimbang dengan pilihan... teman rayya pun sempat menunda untuk berfikir, tapi rayya tak mau seperti itu, karna terlalu mengulur sementara waktunya hanya untuk mencari uang


"gini deh, kamu bingung dan gak mau ambil dua kain ini, coba anak kamu bawa kesini"


"ngapain"


"ya dia suruh aja pilih, dia suka mana"


"ya dia mana tau ray, anak kecil ini"


"ya diatas duatahun, anak itu bisa kok tau mana yang ia suka dan enggak"


"yaudah coba ya, tapi aku mikirnya yang ini, kalo sama aku jadi ambil 20 meter"


"okey"


tak lama teman rayya bersama anaknya


"hay adek kecil, kamu imut sekali" ucap rayya


"dia masih umur tiga tahun ray"


"yaudah, gkpapa, emm.. adek, adek pegang deh ini kainnya, bagus yang mana?"


anak temannya itu menyentuh dan memilih kain yang sama dengan pilihan ibunya..


"adik suka yang ini?"


anak teman rayya mengangguk kepada ibunya


"wah, dia mau, yaudah ray, 20 meter"


"siap"


"bawa kan?"


"oh yaudah deh semuanya"


"serius nih?"


"iya serius"


"emang kamu buat apa?"


"bikinin baju keponakan juga sekalian kan banyak itu ponakan gue, gue nih ray lahir di keluarga besar, banyak anak krcil nya daripada orang dewasanya"


"emm.. ya kan enak, rumah gak pernah sepi, nah aku, sendiri"


"yang sabar yang.. maafin aku ya, aku gak bermaksud.."


"iya... santai"


setelah ia pulang kerumah, salah satu tetangga nya pun menghampirinya


"ray.."


"eh kamu ni"


"kamu habis pulang kerja?"


" iya nih, kenapa ya?"


"gakpapa, gabut dirumah"


"suami kemana?"


"keluar kota beli buah buat acara reuni dia"


"oh..."


menyodorkan martabak manis mini


"eh ni, kamu mau ini gak?" ucap rayya pada tetangganya itu


"kamu beli makanan ini untuk mu sendiri?"

__ADS_1


"ya enggak, palingan aku makan tiga, tadinya beliin ibu pemilik kain yang aku jualin ini. tapi dia bilang gabisa makan manis, badannya sakit sakit, jadi ketimbang mubazir, mumpung masih anget"


"wah makasih nih, lu tau ini kesukaan gue"


"iya.."


tak beberapa lama...


mereka mengobrol, nina tetangga nya itu bertanya dengan kesibukan rayya seperti tak bermanfaat


"kamu ya, dapat dari keuntungan kain ini, taru misalkan 100ribu, kamu ambil setengah 50ribu, setengah kamu bagiin kadang aku liat kamu beli makanan kucing, beliin makanan anjing, buat apa sih, mereka kan anjing jalanan, kesana sini dikit pasti dapet lah" jelas nina


"ya gakpapa, seneng aja bisa liat hewan makan karna hasil kita"


"terus kamu juga gak perna aku liat makan disini, bukannya makan di ibu penjual kain itu?"


"seringnya begitu sih"


"terus uang lu buat makanan hewan begitu? aneh lu"


rayya hanya nyerngit mendengar temannya mengatai nya aneh karna memberi makan hewan


"ya kan ray.. kenapa gitu loh, heran"


"jangan heran.. kita itu hidup kan gak sendirian, masih ada orang lain, kita butuh orang lain, dan begitu tolak baliknya.. sebagian uang yang aku dapatkan, itu ada hak milik orang lain yang dititipkan sama allah jadi harus aku kembalikan amanah itu kepada yang dimaksud allah.."


mendengar penjelasan rayya, nina yang kini nyerngit


dan setelah beberapa hari berlalu..


ia memilih untuk terus membantu bu tarsih, hingga akhirnya ibu tarsih merasakan sakit nya semakin menjajah tubuhnya dan akhirnya menghembuskan nafas nya karna tak mampu lagi menahan..


ya diabetes yang dialami nya membuat ia terenggut nyawa


dan hingga akhir nyawanya entah anak dan cucu bu tarsih tak terlihat sama sekali..


sejak itu, rayya meletakkan barang bawaan yang ia bawa dari izin bu tarsih dikamar almarhumah karna ia tak mungkin melanjutkan tanpa izin pemilik..


rayya menyerahkan kepada yang berhak menjalankan


sampai pada suatu hari, ketika salah seorang menelfon dan meminta nya datang kerumah bu tarsih


"saya.. rayya pak.. ini ada apa ya saya di telfon?"


"oh silahkan duduk bu rayya"


"oh iya terimakasih pak"


lelaki itu menjelaskan, jika ia adalah sahabat dekat sekaligus sepupu dari almarhum bu tarsih..


ia dapat menghubungi rayya karna ia teringat gadis yang pernah sekali diceritakan kepada dirinya oleh bu tarsih..


dan disana lelaki itu mengatakan Jika satu aset terpenting bu tarsih yaitu toko kain dan seluruh isi rumah ini atas nama rayya


"bapak serius?"


"iya.. tarsih menuliskan ini meminta saya mengganti wasiat terakhir beliau"


memberikan tanda bukti, rayya masih tak menyangka jika bu tarsih lebih mempercayakan ini kepada dirinya..


"apaan, saya tau dia siapa, dia cuman pegawai kecil ibu saya, mana ada ibu kasih buat dia. kami anaknya"


"maaf, tapi tulisan dan fakta seperti yang saya ceritakan baru saja"


"enggak.. kamu salah, kamu orang gak profesional, saya gak perduli kamu masih sepupu ibu saya. atau siapa saya.. kamu pasti yang ganti sertifikat itu"


"kamu bisa test keaslian jika perlu yakin lagi"


"mana saya lihat" ucap anak bu tarsih satunya..


dan cukup berbelit belit hingga kerana hukum atas wasiat itu, akhirnya rayya pun memenangkan sertifikat dan surat wasiat itu


setelah keluar dan semua selesai..


rayya menghampiri tiga anak bu tarsih


"saya orang yang tau diri, walaupun ini atas nama syaa tapi saya tau kalian lebih wajib. jadi ambillah, dan saya senang bertemu kalian, semasa hidup, ibu tarsih sering bercerita akan rindunya kepada kalian.. yaa.. ia merindukan sentuhan anak nya yang meninggalkan nya untuk membangun rumah tangga masing masing.. setelah itu kalian melupakannya tanpa berfikir, bu tarsih sudah tua, waktu nya sudah pasti tak lama, cobalah jadi diri kalian cermin, jika kalian seperti ini, apa kalian sanggup jika anak kalian nanti memperlakukan hal yang sama?" jelas rayya


raya menyodorkan beberapa dokumen dan berkas berkas dari wasiat bu tarsih..


rayya berjalan perlahan meninggalkan persidangan...


esoknya, rayya kembali berjualan, ia sadar kemampuannya berdagang, ia menawari beberapa teman dan tetangga nya jika memerlukan sesuatu bisa meminta kepadanya dan ia siap untuk mengantarkan

__ADS_1


namun ketika dihari pertamanya mendapat pesanan kebutuhan pokok dapur salah satu temannya yang tidak mendapat waktu luang untuk membeli itu setelah ia keluar dari gerbang rumah nya..


__ADS_2