Satu Nama Sebuah Kisah

Satu Nama Sebuah Kisah
DI #13


__ADS_3

"eh bang, ini jalan tadi sama pak hakim, kenalin bang ini pak hakim"


"dean" ucap dean


"hakim, guru olahraga Dindri"


"guru?" ucap dean dengan ekspresi heran bercampur kaget


"oh enggak, cuman anterin kok, kan gaenak ditinggal sendirian jadi saya anter aja" jelas hakim


"oh, okeh"


"masuk pak hakim" ajak Dindri


"oh udah langsung pulang"


"eh gak ada masuk, atau enggak duduk sini deh, kan janji tadi mau ngopi bentar dirumah"


"emm yaudah"


dean dan hakim duduklah disana


"univ mana mas?"


"gunadarma mas, kamu lulus atau"


"saya kerja mas"


"oh"


"saya kakak ketemu gede dari Dindri"


"kakak ketemu gede, em maksudnya gimana nih?"


"saya teman biasa, cuma Dindri udah anggep saya abangnya, begitupun saya, Dindri kan jauh sama orang tua, jadi saya bantu orang tua aja sih jagain, gak sendirian mas, ada lagi sunan"


"oh... iya iya"


dan setelah Dindri membuatkan minum


"eh nel, gue pamit deh" ucap dean


"apaan bang, ini aku buatin minum"


dean dengan cepat meminum


"bang, kebiasaan, untung anget, kalo panas, ngepul tuh bibir" ucap Dindri


"haha bisa aja, yaudah gue cab, yuk bro" ucap dean berpamitan


dan saat itu juga dean berpamitan pulang..


"dia bukan abang biologis ya?" tanya hakim


"lah kok tau pak?"


"tadi, baru aja dia cerita"


"oh, haha iya sih, jagain aku dia pak, dia sama satu lagi bang sunan, nanti deh aku kenalin"


"oh, emang orang tua kamu kemana?"


"bokap ke hokaido jepang, nyokab jelas ngikut dong"


"terus kamu pernah kesana?"


"pernah sih, udah lama, pas kelas satu"


"oh"


hingga tiba pukul tujuh malam dan hakim masih tak ingat ia ada janji dengan temannya kalo tidak Dindri yang mengingatkan


"pak, ini udah jam tujuh, katanya ada janji sama temennya?" ucap Dindri mengingatkan


"astaga iya, jam tujuh ya? aduh telat setengah jam"


"yaudah pak, sana, kasian tau"


dengan terburu buru ia berpamitan kepada Dindri hingga dompetnya tertinggal


Dindri yang baru menyadari dompet hakim tertinggal ketika hakim sudah cukup jauh


Dindri pun membawa masuk dompetnya


sementara hakim yang sudah janji bertemu hevi pun terlambat


"hev" sapa hakim


"kak, kemana sih kok lama?"


ternyata hakim adalah senior di kampus hevi dulu

__ADS_1


"iya nih, tadi sama temen kakak yang kakak sering cerita kekamu itu loh, yang kakak berharap sama dia tapi gak ada harapan, dan sekarang dia udah mulai terbuka, jadi seneng banget saya" ucap hakim


maksud hakim berbagi kebahagiaan dengan hevi, namun justru hevi mendapatkan kesakitan karna hevi berharap ada lelaki yang mengharapkan wanita lain


"oh.. jadi dia udah mulai bisa menerima kakak" tanya hevi dengan nada rendah


"iya, bener bener kayak yang mau balik arah dan pulang eh gak jadi, cuman butuh balik badan.."


"emmm.. syukurlah"


"yaaa... eh kamu udah pesen makan?" tanya hakim


"gak makan kak, cuman minum aja sih, kakak gak pesen?"


"kalo makan kurang malem"


"ya minum, ngopi atau ngees"


"udah ngopi dirumah temenku yang aku ceritain"


"dia lagi dia lagi, hemm kamu gak ngerti perasaan aku banget, terus apa coba maksudnya, astaga kenapa gak berfikir sampai sejauh ini sih hevi, kenapa malah make hati" ucap hevi dalam hati


"oh iya, menurut kamu nih, aku kan jadi guru, terus aku suka sama muridku, gimana?"


"murid? oh jadi murid kamu kak?"


"iya, gimana"


"gakpapa sih, kalo cocok mah, em kak, aku pamit ya"


"loh kemana?"


"lupa ngerjain tugas makalah"


saat akan beranjak, ponsel hakim berdering


"halo" sapa Dindri


"pak, dompetnya ketinggalan nih"


"ah masak iya, aduh gimana ya, yaudah deh besok aja kali ya, ini saya udah mau pulang, capek juga kesana lagi"


"oh yaudah pak gakpapa"


"ya makasih ya"


"bahkan sampai dompet pun tertinggal dirumah cewek itu dia biasa, kalo dirumahku, dia benar rela dateng lagi jauh jauh kerumahku, tapi kan cuman untuk dompetnya.." ucap hevi dalam hati


hevi berjalan menuju kearah monas, dan duduk dibangku taman sekitar, sembari menatap pucuk monas paling atas


hevi menutup kedua matanya dengan kedua tangannya mencoba menahan lagi air mata tak lagi jatuh namun sulit..


hingga akhirnya seseorang menyodorkan sapu tangan ke arahnya, dan saat ia membuka mata sudah terlihat sapu tangan didepan wajahnya..


hevi menatap kearah si pemberi yang ternyata Dindri


yaa Dindri memberikan sapu tangannya memang, sengaja


malam itu Dindri memang sedang keluar malam, bersama kedua temannya, hanya cindy dan bela yang menemani Dindri malam itu


namun kedua nya sibuk berselfi ria


"kamu" ucap hevi sedikit kesal


"ambil nih, apus tuh muka, hidup sekali dibikin nangis rugi, apalagi karna kesalahan sendiri" ucap Dindri


hevi pun berdiri


"kamu mau menghina aku lagi, iya?" tanya hevi


"aku kasih ini kok"


"kamu belum puas, ha, iya, kamu rebut semua nya, aku benar benar sendiri, ditengah keluargaku aku orang asing bagi mereka, lalu kamu masih mau merebut apa lagi dari ku?" teriak hevi


Dindri memeluk hevi dan mengelus punggungnya


"maafin aku, aku gak mau sejahat itu, aku cuman ingin kamu tau rasanya jadi aku"


"udah, aku udah tau, rasanya sakit, iya emang sakit banget" ucap hevi


"iya maka dari itu kita dipertemukan malam ini, aku berharap bisa bertemu kamu jika aku diizinkan bisa memperbaiki semuanya"


"terlambat" ucap hevi


"oh, no no, gak ada kata terlambat dalam kamus ku, kamu mulai lagi, dan aku membantumu mendapatkan semuanya lagi"


"kenapa kamu tiba tiba baik sama aku"


"terakhir aku jelaskan, aku hanya ingin mencari teman, kamu membutuhkan saya.. dan sekarang saya aka membantumu"


hevi kembali memeluk neli dengan menangis..

__ADS_1


"udah, kamu mau nginep dirumahku? atau pulang? besok aku telfon kamu"


"pulang Dindri, makasih sapu tangannya"


"iyaaa"


esoknya, sepulang sekolah Dindri, Dindri menuju rumah hevi


"kamu ada dimana?" tanya Dindri ditelfon


"saya dirumah"


"okeh, saya meluncur kesana"


"mo ngapain kamu"


"udah tunggu aja"


tak lama Dindri sampai


"mau ngapain Dindri"


"udah.. ajak kali aku masuk gitu"


"oh iya"


bang ivan keluarlah


"Dindri?" sapanya


"bang" ucap Dindri mencium tangan ivan


"sama siapa?"


"sendiri bang, oh iya"


Dindri sengaja berada dirumah hevi hingga malam, karna kata hevi, ayahnya, kedua abangnya, dan adiknya akan berkumpul saat malam..


dan Dindri memasak untuk makan malam, dengan bahan seadanya menjadi masakan endeus


tepat pukul 7.30 malam, masakan Dindri selesai dan daru keluar dari kamarnya karna mencium aroma masakan, yang lama tak pernah ia cium sejak istrinya meninggal


"Dindri" ucap ayah hevi, daru


"om, apa kabar?"


"sehat sehat, kamu kenapa disini?"


"ada yang mau saya bicarakan duduk om"


Dindri berhasil mengumpulakan semua anggota keluarga dimeja makan disana


hanya menunggu raden pulang


saat raden sampai.. ia kaget kenapa dengan formasi lengkap bersama Dindri pula sudah stay


"yah, kenapa nih?" tanya raden


"duduk den, nah sekarang lengkap, udah kumpul pas, disini saya sengaja masak dan mengumpulkan kalian, termasuk ayah daru.. karna saya ingin menyatuhkan perpecahan yang terjadi karna ulah saya.." ucap Dindri


"saya disini, meminta maaf kepada hevi, saya sudah menghancurkan keluarga kamu, mulai dari ayah, abang, dan adikmu, maaf buat hevi, om saya mohon, jangan benci anak om, hevi anak om kan, hevi juga adik bang dondi bang ivan tentu jelas kakak dari raden, tolong ini keluarga kalian, jangan dimusuhi, saya mohon, maafkan saya" lanjut Dindri


Dindri terus merayu, dan memohon untuk keluarga menerima dan menyapa kembali hevi..


"saya hanya bantu ini, ini yang saya bisa, karna saya tau apa yang saya perbuat harus saya tanggung jawabkan, dan saya harap ayah, bang ivan, bang dondi, raden bisa memaafkan hevi.. saya permisi terimakasih"


sejak itu keluarga hevi kembali saling menyapa hevi, menyayangi hevi kembali


berjalan seminggu hevi ingin menemui Dindri, dan pucuk dicinta ulam tiba, justru Dindri menelfonnya dan menyuruhnya datang ke resto


sesampainya sudah ada gandi, asraf, sunan, dan dean


Dindri yang awalnya bermuka ceria ingin mengatakan rasa terima kasihnya pada Dindri sudah mengembalikan keluarganya utuh menyayanginya, tiba tiba berubah masam..


melihat sejumlah lelaki disana


"duduk sini" tarik Dindri


"em iya"


"disini, saya kenapa kumpulin mereka, didepan mereka saya ingin meminta maaf pada kamu juga mereka, sudah menghancurkan hubunganmu dengan mereka, maaf hevi, dan kalian" ucap Dindri


"dan buat gandi, saya tau kamu lebih bahagia dengan hevi, saya tau, dan saya yakin hevi sama, jadi saya mohon gandi, jangan lagi sakiti dia, kamu pantas dengannya, kamu bersama ku hanya karna aku cantik bukan tulus" ucap Dindri kepada gandi


"buat asraf, kamu itu sahabat paling dekat dari Dindri kan, dan kamu akhir akhir ini jarang bersama hevi, saya tau sejak kejadian dimana kita putus itu, tapi saya kembali ingatkan, dia sahabat mu, bukan aku" ucap Dindri kepada asraf


"bang sunan, kamu tempat terakhir ia berteduh, dia bukan memanfaatkanmu, saya sebagai wanita tau betul, dia membutuhkan mu, jadilah mantan yang baik" ucapnya kepada sunan


"dan bang dean, kamu sempat dekat dengannya hanya karna membantuku menyakiti nya, makasih bang, tapi maaf hev, dean gak salah, ia hanya ingin menunjukkan rasa sayangnya padaku.. dan kini, bang sunan bang dean, udah jadi abangku, dia yang menjaga aku saat mama sama ayahku sedang tak ada" jelas Dindri


"jadi sekarang saya minta sama kalian, saya minta jangan jauhi hevi, terutama kamu asraf.. saya mohon, ini salah saya, kamu benci saya, bahkan kalian benci saya silahkan itu memang pantas untuk saya" ucap Dindri

__ADS_1


"Dindri, saya maafkan kmu, juga saya maafkan hevi, maafkan aku juga" ucap dean..


merekapun berteman baik


__ADS_2